web analytics
  

Berkhidmat kepada Guru

Rabu, 10 Maret 2021 11:00 WIB Netizen ATEP KURNIA
Netizen, Berkhidmat kepada Guru, raden kartawinata,K.F. Holle,Hindia Belanda,Pertanian,Sawah,Padi,Takhayul,Sunda,Petani,Kebodohan,Literasi

Jilid edisi pertama Mitra noe Tani (1874), karya K.F. Holle (guru Raden Kartawinata). (Google Books.)

ATEP KURNIA

Peminat literasi dan budaya Sunda.

Pada 1871, Landsdrukkerij, percetakan pemerintah kolonial Hindia Belanda, antara lain menerbitkan De Vriend van den Javaanschen Landman karya tuan kebun dan penasihat kehormatan urusan pribumi K.F. Holle. Di dalamnya dimuat tulisan-tulisan yang berkisar di sekitar pertanian, terutama padi, yakni “Bijdrage tot de kennis der padikultuur. Muizen en ratten”, “Bijdrage tot de kennis der mais-kultuur”, “Mishandeling van de klapper en arenplant”, dan “Bevruchting van de waloeh en andere tot de orde cucurbitacea behoorende planten”.

Dua tahun kemudian (1873), Ogilvie & Co di Batavia menerbitkan De Vriend van den Javaanschen Landman (2de Stukje) masih karya Holle. Isinya tetap sekitar pertanian, yakni tulisan bertajuk “Handleiding voor den aanleg van terassen op droege velden” dan “Verkrijging van goed zaad”.

Menurut Tom van den Berge (Karel Frederik Holle: Theeplanter in Indie, 1829-1896, 1998: 65) memang sejak 1862, yakni tahun saat dia membuka perkebunan teh Waspada di lereng Gunung Cikuray, hingga menjelang kematiannya pada 1896, Holle menulis banyak artikel yang berkaitan dengan padi dan budidayanya. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh Berge (1998: 58-72), latar belakang yang menjadi titik berangkat untuk mengurusi pertanian orang Sunda, khususnya, adalah ihwal kelaparan di Hindia Belanda; pemerintah kolonial yang kurang memperhatikan pertanian pribumi; dan pandangan kolonial Holle yang menganggap orang Sunda (dan umumnya pribumi) mengolah tanah pertaniannya dengan penuh kepercayaan takhayul, sehingga ia perlu “mengajari” cara bertani modern ala Eropa.

Kelaparan konon biasa terjadi di Hindia Belanda, termasuk Pulau Jawa. Pada 1844, penduduk Cirebon, Tegal, Rembang, dan Surabaya kelaparan. Pada 1846 hampir seluruh Jawa mengalami kelaparan. Antara 1844-1847 harga beras melambung tinggi dan jumlah penduduk meledak. Sementara pemerintah kolonial yang memerintahkan agar para kepala pribumi memperluas lahan tani padi sejak awal 1800-an tidak berbuah banyak.

Menurut Berge (1998: 65), baru pada masa Gubernur Jenderal Rochussen yang konsisten pada pertanian padi. Pada 18 Juni 1847, Rochussen menerbitkan edaran yang isinya memerintahkan kepada para residen untuk lebih memperhatikan budidaya padi. Tetapi edaran tersebut tampak tidak bergayung sambut, sehingga ia menerbitkan lagi edaran 15 September 1848. Rochussen menyatakan dengan mengurusi pertanian pribumi berarti mendukung budidaya milik pemerintah. Kata Berge, dengan menyitir pendapat Holle, orang Jawa terlalu banyak tersita waktunya pada budidaya kopi atau kewajiban lainnya dari pemerintah, sehingga sawah mereka terbengkalai. Padahal dari salah satu motto dari Holle adalah “Een slecht gevoed volk kan niet nijver zijn” (Orang yang kurang makan tidak dapat bekerja dengan rajin).

Dalam kondisi inilah pada 1862, Holle menerbitkan artikel pertamanya mengenai budidaya padi pada Tijdschrift voor Nijverheid en Landbouw in Nederlandsch-Indie (TNL). Dalam tulisan berjudul “Mededeelingen omtrent den rijstbouw op Java” antara lain Holle menganggap orang Jawa tidak pandai mengurus padi, dan dianggapnya sebagai petani buruk. Sebab mereka tidak tahu cara membajak atau memberi pupuk yang baik, sehingga panennya sedikit dan ditanam pada lumpur yang tidak dalam. Hasil panen jelek tersebut karena kebodohan dan takhayul petani. Seharusnya budidaya harus diuji-coba dengan ilmu pertanian, bukan hanya mengandalkan tradisi.

Setahun kemudian, 1863, Holle menerima benih padi Carolina dari Amerika Serikat. Dia hendak menaburkan padi tersebut di sawah kawan karibnya, Penghulu Kepala Garut, R.H. Moehamad Moesa. Metode penyemaian benihnya berbeda dengan kebanyakan petani Sunda. Bila umumnya orang Sunda menanam padi yang sudah bertangkai dan ditempatkan saling berdekatan, Carolina ditaburkan begitu saja selebar mungkin. Konon hasilnya bagus. Demikian pula setelah mencoba dengan padi Limbangan, Holle dan Moesa mendapatkan hasil memuaskan, sehingga dari sana mereka menjadi paham bahwa menebarkan butir padi lebih baik daripada sesudah bertangkai. Itulah yang kemudian dikenal sebagai methode-Holle (Berge, 1998:63).

Berbekal pengetahuan tersebut, Holle terus menyebarkan metode barunya ke seluruh Jawa dan mulai mendorong pemerintah kolonial dan pribumi untuk mempraktikkannya. Namun, pejabat Eropa tidak antusias, dan bagi Holle kehendak untuk mengubah pribumi kian meninggi, karena katanya, “… dengan tekad kuat, di Hindia banyak hal yang dapat dibuat dan pada beberapa hal tertentu, kemajuan-kemajuan dapat dicapai sesegara mungkin, diimpor, atau diciptakan daripada di Eropa yang lebih beeradab” (Holle, “Bijdragen tot de kennis der ziekten en plagen van het padi-gewas”, 1864).

Dengan kata lain, menurut Holle, orang Eropa harus menjadi pandu bagi orang Jawa menuju pengetahuan Barat (Berge, 1998: 62). Di antara caranya adalah membebaskan petani pribumi dari belenggu takhayul dan orang Eropa harus mendidiknya. Holle menegaskan bahwa “saya bersikeras bahwa orang pribumi harus dan akan belajar dari orang-orang Eropa dan yang pertama-tama adalah dari para pejabat budidaya” (“Ik beweer dat de inlander van den Europeaan en in de eerste plaats van den kultuur-ambtenaar moet en zal leeren”) (Holle, “De toekomst der rijst-kultuur”, 1866).

Tidak heran bila Holle mendorong kawan karibnya, Moesa, untuk menulis dan menerbitkan tulisan ihwal pertanian padi dalam bahasa Sunda. Ini dapat dilihat dari daftar buku Sunda yang diterbitkan sebelum 1908 (Mikihiro Moriyama, Semangat Baru, 2005: 278, 279, 283). Di dalam daftar tersebut saya ada beberapa buku karya Moesa yang berkaitan dengan budidaya padi, yakni Wulang-tani (1862), Elmu Nyawah (Handleiding voor de kultuur van padi op natte velden) (1864), Wawatjan Lampah Sebar (1872) dan Katrangan Lampah Sebar (1874).

Lebih jauhnya, Berge (1998: 85, 281) menyebutkan sudah sejak 1850-an, yang terbukti dari surat yang dikirim Holle dan adiknya A.W. Holle kepada gubernur jenderal pada 14 Februari 1853, keduanya telah mulai mengumpulkan bahan-bahan karangan untuk buku panduan pertanian. Adapun yang dipilih Holle untuk judul buku De Vriend van den Landman, menurut Berge, bisa jadi diambil dari nama majalah yang terbit sejak 1837 di Brabant Utara, Belanda, dengan tajuk yang sama dan mengedepankan upaya promosi dan peningkatan bidang pertanian, hortikultura, peternakan, dan boomkwekerij. Itu pula yang diniatkan Holle untuk buku seri taninya, yakni mempromosikan sikap peduli petani bagi lahannya, tanaman dan ternak.

Dalam konteks orang Sunda, Holle hendak mengajari para petani dengan buku tersebut. Para petani seharusnya tidak tetap dibiarkan bodoh dan percaya takhayul, tidak selalu mengandalkan obat ajaib dan dukun lepus saat tanaman sakit. Karena katanya, penyakit yang paling parah adalah kebodohan, kemalasan, dan keacuhan mereka. Oleh karena itu, para petani haruslah menggunakan pikirannya, menuntut pengetahuan, dan menggerakkan cangkulnya (Holle, De vriend van der Javaanschen landman, 1871 dalam Berge, 1998: 87).

Dengan maksud agar keterbacaan buku tersebut lebih luas, Holle berusaha menerjemahkannya ke beberapa bahasa pribumi yang utama, antara lain Jawa, Sunda, Madura, Melayu, Makassar, dan Bugis. Untuk edisi Jawa H.K.H. Wilkens yang bekerja sebagai penerjemah di Surakarta diminta untuk menceritakan kembali isi buku tersebut, bukan menerjemahkannya. Pada 12 Februari 1872, Holle mengirimi sahabatnya yang menjadi direktur Binnenlands Bestuur, Levyssohn Norman, dua edisi De vriend pertamanya yang berbahasa Belanda dan Jawa. Ia sekaligus juga memohon agar Norman mendesak para pejabat pribumi, terutama yang berbahasa Jawa, untuk membaca buku tersebut (Berge, 1998: 96).

Wilkens juga menerjemahkan buku tersebut ke dalam bahasa Madura pada 1875 dengan judul Among Taneh. Holle lalu mendapatkan penerjemah sekaligus pengisah yang lebih baik dalam bahasa Jawa pada diri Raden Mas Oetojo. Sementara untuk edisi Melayu menimbulkan masalah, karena harus memilih versi Ternate, Ambon, Batavia, tetapi akhirnya diterjemahkan oleh guru sekolah calon guru di Minangkabau, D. Gerth van Wijk, pada 1876. Pada 18 Oktober 1878, Holle juga mencoba meyakinkan gubernur Celebes untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa Makassar dan Bugis. Permohonan Holle tersebut baru bersambut pada 1879 saat gubernur Celebes memintanya dan Holle menyatakan setuju pada Januari 1880 (Berge, 1998: 96-98).

Sebelum edisi Madura dan Melayu, edisi Sunda lebih dahulu terbit. Tadinya Holle menjagokan Moesa untuk menjadi kandidat bukunya, tetapi sayangnya Moesa tidak dapat berbahasa Belanda. Sebagaimana yang diakui Holle kepada dewan Perhimpunan Batavia pada 21 September 1868, dengan menyatakan bahwa “Betapa bagusnya apabila Panghulu Garut dapat memahami bahasa kita! Betapa sering dia mengeluh tidak dapat mengakses kesusastraan kita! Salah satu anaknya, anak lelaki cekatan, sekarang sedang belajar di sekolah Belanda Bupati Sumedang. Bupati tersebut memberikan teladan dan dorongan, juga dari sisi pemerintah, yang dapat mengambil keuntungan lebih dari kepala-kepala tercerahkan ketimbang orang bodoh dan fanatik (Berge, 1998: 98-99).

Jadilah buku De Vriend edisi Sunda diterjemahkan oleh anaknya Moesa, Raden Kartawinata, yang sekaligus murid terkasih Holle, selain kakaknya Kartawinata, Suria Nata Ningrat, yang kelak menjadi bupati Lebak. Dalam suratnya yang bertitimangsa 2 September 1873 kepada direktur Onderwijs, Eredienst en Nijverheid (OEN), Holle menyatakan telah memeriksa hasil terjemahan Kartawinata dan merasa puas. “Hasilnya lebih merupakan terjemahan bebas dan pengisahan kembali ketimbang penerjemahan, sehingga berani saya katakana buku ini dapat dipahami kalangan kecil” (Berge, 1998: 99).

Dari pernyataan tersebut, saya paling tidak dapat mempelajari dua hal. Pertama, draf edisi Sunda De vriend van der Javaanschen landman yang pertama dan diberi tajuk Mitra noe Tani sudah selesai diterjemahkan oleh Kartawinata paling tidak sebelum 2 September 1873, saat Holle menulis surat kepada direktur OEN. Ini jadi mengandung arti setelah Kartawinata menerjemahkan tiga buku berbaasa Belanda antara tahun 1871 hingga 1872, ia kemudian diminta Holle untuk menerjemahkan De Vriend. Yang mungkin terjadi, Kartawinata yang saat itu masih bekerja sebagai magang juru bahasa dan penerjemah Sunda dan bertempat tinggal di Limbangan, dipanggil oleh gurunya dan diminta menerjemahkan ke dalam bahasa Sunda. Dalam hal tersebut, sebagai murid yang berkhidmat kepada guru, Kartawinata tentu saja langsung mengiyakannya. Apalagi Holle sebelumnya bisa jadi turut pula memeriksa hasil-hasil terjemahan yang dilakukan Kartawinata, sehingga sudah tahu betapa besar potensinya.

Kedua, karena berangkat dari kehendak Holle untuk menyalin bukunya ke dalam bahasa pribumi yang lebih dari sekadar menerjemahkan tetapi lebih pas penerjemahan bebas atau saduran, maka upaya Kartawinata dapat dikatakan berhasil. Kartawinata dapat memenuhi standar yang dikehendaki oleh gurunya, karena ingin agar hasil terjemahannya dapat dibaca dan dipahami oleh kalangan luas orang Sunda. Dengan demikian pula, ada kemungkinan, karya-karya terjemahan lainnya yang dikerjakan Kartawinata lebih merupakan terjemahan bebas ketimbang bersetia pada sumbernya, karena memang sasarannya adalah pemahaman yang dapat diraih para pembacanya.

Dalam perkembangannya, Kartawinata menerjemahkan delapan jilid dari 14 jilid Mitra noe tani atau MnT (Berge, 1998: 99). Dari daftar buku yang disusun Moriyama (2005: 283-284), jilid pertama diterbitkan pada 1874 oleh Landsdrukkerij dengan menggunakan aksara Cacarakan. Dari jilid ke-2 (1877) hingga ke-7 (1879) masih menggunakan Cacarakan, sedangkan sejak jilid ke-8 (1892) hingga ke-14 (1899) menggunakan aksara Latin. Dari jilid pertama hingga ke-12 disunting oleh Holle, kemudian setelah dia meninggal dua jilid selanjutnya disunting oleh H. de Bie.

Dari amatan langsung pada jilid-jilid MnT yang dapat saya akses, dari jilid pertama hingga ke-8 itu daftar isinya adalah sebagai berikut: jilid I (1874) berisi “Piwoeroek hal njieun sengked”, “Hal make binih hade”, “Njieun mantega”, “Hal Maehan hileud djeung sapapadana”; II (1877) isinya “Hal melak pare, soerat ideran kandjeng Toean Directeur Paprentahan nagara tanggal 28 November 1875 no. 11027 (Padikultuur)”; III (1877) berisi “Hal soeoek”, “Hal parabot noe gede gawena”, “Paranti njingsieunan manoek”, “Hal leumpang ka pasar”, “Hal patjoel hade djeung noe goreng”.

Selanjutnya untuk jilid IV (1878) berisi “Hal sobat djeung moesoeh noe tani”, “Hal njangkok tatangkalan noe geutahan”, “Pepelakan rantja noe boewahan beunang dihakan”, “Nambahan hade bangsana boeboewahan (sina djadi gede djeung amis)”,Noemboe pepelakan”, “Hama bokor”; V (1878) berisi “Hal kesemek”, “Miara meri”, “Hal kawoeng”, “Hal haramaj djeung migawena”, “Hal kiraj djeung njieun sagoe”; VI (1879) isinya “Hal melak pare, tandoer djajar djeung satoeloejna”; VII (1879) berisi “Wangkongan hal kopi (kopi noe ngora keneh boewahanana, njeblok kopi, kamalir, hal tangkal panedoeh, hal ngabiri kopi)”, “Hal sengked”, “Melak tatangkalan toeroet-toeroet djalan”, “Mitjeunan doeit (boeloe hajam)”,Kalapa djenggi, haremis, letji, sawo manila, parahoeloe”, “Hal mijara sato hewan”, “Hal pakakas”; dan VIII (1892) berisi “Hal njieun sengked”.

Pada 1893, saat jilid IX terbit, Kartawinata sudah setahun diangkat menjadi patih Sukabumi dan namanya sudah bergelar Raden Rangga Soeria Nata Legawa. Pada jilid IX dimuat tulisan “Lampah Sebar” karya R.H. Moehamad Moesa, “Panambah” karangan Raden Rangga Soeria Nata Legawa, dan “Piwoeroek Sebar Tjarang”. Selanjutnya, mulai jilid X (1893), selain Kartawinata yang menjadi penerjemah untuk MnT bertambah dengan Raden Soeria Nata Madenda (djoeroetoelis Wadana Tjimahi Soekaboemi) yang menerjemahkan tulisan Holle, “Hal tjaoe-tali”; Raden Soema di Pradja (Djoeroe basa Soenda) yang menerjemahkan tulisan Holle, “Hal ngome goela aren, kalapa djeung goela lontar”. Sementara Kartawinata sendiri menerjemahkan karya bupati Demak, “Hal melak Balingbing”.

Yang menarik adalah jilid XI (1894). Di di dalamnya ada dua orang anak Kartawinata sebagai penerjemah untuk MnT, yaitu Raden Soeria Karta Legawa yang saat itu bekerja sebagai “Djoeroetoelis Assistent-Resident Soemedang” dan Raden Soeria Karta Nagara (Djoeroetoelis Assistent-Resident Garoet). Hasil terjemahan Soeria Karta Legawa adalah “Hal sengked dina kebon kopi”, “Hal rejana binih pare djeung legana pabinihan”, “Hal njieun minjak boeoek hade”, “Ngingoe njiroean”, semuanya karya Holle. Sementara hasil terjemahan Soeria Karta Nagara adalah “Hal ngabagi tjai tjowal djalan” karya Holle, “Hal sampeu” karya H.J. van Swieten, dan “Hal njieun tipoeng sampeu di Bandoeng” karya J.C. Keller van Hoorn.

Demikianlah, barangkali secara sadar Kartawinata mengajari anak-anaknya untuk juga mempelajari dan mendalami bahasa Belanda, untuk dapat digunakan sebagai sumber terjemahan ke dalam bahasa Sunda, sekaligus bisa jadi menjadi titian rintisan untuk menaiki jenjang karier yang lebih tinggi, sebagaimana yang dialami oleh dirinya sendiri, dari penerjemah, patih Sumedang, dan patih Sukabumi. Dan memang terbukti, beberapa anak Kartawinata yang juga menjadi para pejabat pemerintahan kabupaten, seperti Soeria Karta Legawa yang kemudian menjadi bupati Garut. Keterlibatan anak-anaknya dalam bidang penerjemahan dari bahasa Belanda ke dalam bahasa Sunda juga membuktikan pengamalan yang diberikan oleh Holle kepada Kartawinata. Dengan kata lain, sebagai tanda khidmat murid yang mengamalkan ilmu yang diperoleh dari gurunya.

Tanda khidmat kepada Holle ditunjukkan pula oleh Kartawinata saat gurunya meninggal dunia. Dalam MnT jilid XIII (1897) yang diterbitkan setahun setelah Holle meninggal, dimuat dua nekrologi tentang Holle yang ditulis oleh Raden Aria Brata di Widjaja (“Karangan panggagas”) dan Raden Demang Soeria Nata Legawa (“Pangeling-ngeling ka Padoeka Toewan Karel Frederik Holle, Adviseur-Honorair voor Inlandsche Zaken, enz”). Dalam nekrologi yang ditulis di Sukabumi, 10 Januari 1897, itu Soeria Nata Legawa antara lain menyatakan demikian, “Sakoemaha noe dilahirkeun di loehoer, saestoena pisan: pangoeninga koela pribadi oge noe sasarengan sapopowena ti boedak dongkap ka kolot, lamina langkoeng ti tiloe poeloeh taoen, nja kitoe pisan” (Sebagaimana yang sudah saya sebutkan di atas, memang demikian adanya: pengetahuan saya pribadi yang bersama dengannya sehari-hari dari sejak masa kanak hingga dewasa, selama lebih dari 30 tahun lebih, demikian pula).

Dengan demikian, sejak berumur 12 tahun (1864) Kartawinata belajar bahasa Belanda kepada Holle hingga meninggalnya Holle (1896) memang terentang waktu 32 tahun, yang memang cocok dengan pernyataan Kartawinata di atas. Benar lebih dari 30 tahun ia berada dalam pengasuhan, bimbingan, dan pengarahan gurunya tersebut. Bahkan pantas belaka bila Berge (1998: 101) menyebut Holle adalah ayah kedua bagi Kartawinata (Holle was zijn tweede vader). [*]

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Aris Abdulsalam

terbaru

Jalan Lintas Klasik di Ci Tarum Tersempit

Netizen Jumat, 25 Juni 2021 | 15:28 WIB

Jalan Lintas Klasik di Ci Tarum Tersempit

Netizen, Jalan Lintas Klasik di Ci Tarum Tersempit, Ci Tarum,jalan sempit,guha pawon,Sejarah Bandung

Godaan Perjudian Era Digital

Netizen Jumat, 25 Juni 2021 | 11:30 WIB

Perjudian online di era digital masihlah pertaruhan antara kemenangan dan kekalahan yang tidak menguntungkan.

Netizen, Godaan Perjudian Era Digital, Perjudian,Era digital,Judi Online

Manajemen Kualitas Terpadu untuk Wajah Baru Pariwisata Indonesia

Netizen Jumat, 25 Juni 2021 | 10:35 WIB

Di tengah situasi pandemi Covid-19, pariwisata menjadi sektor yang paling terdampak.

Netizen, Manajemen Kualitas Terpadu untuk Wajah Baru Pariwisata Indonesia, Manajemen Kualitas Terpadu,Wajah Baru,Pariwisata,Indonesia,COVID-19

Pandemi, Pendidikan Secara Daring, Lupa Sejarah

Netizen Kamis, 24 Juni 2021 | 11:02 WIB

Pandemi, Pendidikan Secara Daring, Lupa Sejarah

Netizen, Pandemi, Pendidikan Secara Daring, Lupa Sejarah , Pendidikan,Pandemi,COVID-19

Almarhum Markis Kido, Christian Eriksen, dan Buaian Indeks Pembangunan...

Netizen Kamis, 24 Juni 2021 | 09:35 WIB

Beberapa saat sebelum Markis Kido menghembuskan nafas terakhir, terdengar kabar kolapsnya Christian Eriksen.

Netizen, Almarhum Markis Kido, Christian Eriksen, dan Buaian Indeks Pembangunan Manusia, Markis Kido,Christian Eriksen,Indeks Pembangunan Manusia,IPM,Henti Jantung,Cardiac Arrest

Gelembung Renang Ikan Tuna Sirip Kuning: Bermanfaat untuk Manusia?

Netizen Kamis, 24 Juni 2021 | 09:25 WIB

Ikan Tuna begitu populer dikalangan masyarakat, karena memiliki banyak manfaat bagi kelangsungan hidup manusia.

Netizen, Gelembung Renang Ikan Tuna Sirip Kuning: Bermanfaat untuk Manusia?, Gelembung Renang,Ikan Tuna Sirip Kuning,Kesehatan,asam amino

Trend Minum Kopi di Indonesia dan Manfaat Gizinya

Netizen Rabu, 23 Juni 2021 | 15:39 WIB

Eksistensi kopi di Indonesia bermula dari budaya minum kopi pada masa kedatangan bangsa Belanda pada abad ke-17, ke Ind...

Netizen, Trend Minum Kopi di Indonesia dan Manfaat Gizinya, Minum Kopi,manfaat  minum kopi,sejarah kopi,trend minum kopi

Perokok Terburuk Adalah yang Orang Merokok Saat Berkendara

Netizen Rabu, 23 Juni 2021 | 13:05 WIB

Banyak orang masih melakukan tindakan yang mengganggu orang disekitarnya. Salah satunya dengan merokok saat mengendarai...

Netizen, Perokok Terburuk Adalah yang Orang Merokok Saat Berkendara, Rokok,Merokok,Perokok,Berkendara,mengendarai sepeda motor,pasal 283 UU Nomor 22 Tahun 2009

artikel terkait

dewanpers