web analytics
  

Kisah Sedih di Balik Desa Miliarder Kuningan yang Bakal Ditenggelamkan

Senin, 8 Maret 2021 16:41 WIB Erika Lia
Umum - Regional, Kisah Sedih di Balik Desa Miliarder Kuningan yang Bakal Ditenggelamkan, Desa Kawungsari Kuningan,Bendungan Kuningan,Berita Kuningan Hari ini,desa miliarder kungan,desa miliarder

Kepala Desa Kawungsari, Kusto (Ayocirebon.com/Erika Lia)

KUNINGAN, AYOBANDUNG.COM--Hiruk pikuk desa miliarder di Kabupaten Kuningan menyimpan kisah sedih. Uang ganti rugi berarti konsekuensi meluapnya sebuah masa, seiring rencana penenggelaman Desa Kawungsari.

Desa Kawungsari di Kecamatan Cibeureum belakangan viral setelah warganya berbondong-bondong membeli sepeda motor hingga mobil. Sebutan desa miliarder pun melekat.

Aksi borong barang dilakukan setelah 362 KK warga Desa Kawungsari menerima uang ganti rugi dari pemerintah. Uang itu diberikan untuk mengganti kerugian warga demi suksesi Bendungan Kuningan.

"Iya, bendungan itu proyek strategi nasional," kata Kepala Desa Kawungsari, Kusto saat ditemui, Senin (8/3/2021).

Berdasarkan keterangan pada website Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas, kppip.go.id, Bendungan Kuningan diketahui merupakan proyek Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) RI.

Proyek bernilai investasi Rp519 miliar itu dimulai sejak 2013 dan diagendakan beroperasi pada 2020. Namun, rencana itu diketahui mundur.

Rencananya, Bendungan Kuningan berkapasitas 25,96 m3. Selain mengairi lahan seluas 3.000 ha, bendungan ini ditarget menyediakan pasokan air baku 0,30 m3/detik dan menghasilkan listrik sebesar 0,50 MW.

Kusto menyebut, uang ganti rugi telah diterima warga Desa Kawungsari sejak sekitar 2015. Sedianya, pemberian uang ganti rugi telah berjalan sejak 2013.

Dia menyebutkan, dari 2013 sudah diberikan uang ganti rugi, tapi tidak termasuk bagi warga Desa Kawungsari, melainkan desa yang lain.

Selain Kawungsari, desa lain di Kecamatan Cibeureum yang pula terdampak bendungan yakni Randusari dan Sukarapih, serta 3 desa di Kecamatan Karangkancana masing-masing Cihanjaro, Simpayjaya, dan Tanjungkerta.

Pada 2015, kembali berlangsung pencairan uang ganti rugi, kali ini warga Desa Kawungsari yang sawahnya terdampak bendungan termasuk salah satu penerima.

"Malahan itu termasuk besar juga pencairannya. Cuma kan dulu mah tidak begitu viral karena memang tidak ada berita yang dari Tuban (kampung miliarder di Tuban) itu," tutur pria yang juga merupakan guru SDN Kawungsari.

Total setidaknya 54 ha sawah milik warga Desa Kawungsari yang terdampak bendungan. Saat itu, nilai ganti rugi berkisar Rp100.000-Rp120.000 per meter persegi, tergantung lokasinya.

Menurut Kusto, nilai ganti rugi yang diterima kala itu tergolong besar, malahan melebihi ganti rugi bangunan yang terjadi saat ini. Setidaknya 70% warga Desa Kawungsari sejatinya memiliki sawah, mengingat pertanian merupakan potensi terbesar desa tersebut.

Kusto termasuk salah satu penerima ganti rugi pada 2015. Seluas 100 bata (1 bata sama dengan sekitar 14 m2) sawah miliknya hilang dan dia berhak atas ganti rugi sekitar Rp140 juta.

Namun, pada pencairan ganti rugi tahun ini, tepatnya 4-5 Februari 2021, Kusto termasuk salah satu dari sekitar 107 KK warga Kawungsari yang belum memperolehnya.

Berbeda dengan 2015, ganti rugi yang diberikan pada 2021 diperuntukkan bagi warga yang rumahnya terdampak proyek bendungan. Kusto menyebut, dari 386 bidang tanah dan pemukiman yang terdampak bendungan, ganti rugi baru diberikan bagi sekitar 279 bidang tanah dan pemukiman di Kawungsari dengan total ganti rugi Rp134 miliar.

"Jumlah warga Desa Kawungsari 362 KK. Tapi 1 KK bisa punya 2-3 bidang tanah dan bangunan," bebernya menjelaskan selisih bidang tanah dan pemukiman yang berhak atas ganti rugi dengan jumlah KK di Kawungsari.

Nilai ganti rugi tanah dan pemukiman sendiri serentang Rp320.000-Rp360.000 per meter persegi, tergantung letak dan posisi tanah. Pada pencairan ganti rugi kali inilah, semua warga Desa Kawungsari memperolehnya.

"Lain dengan waktu 2015, kan ada warga yang punya sawah, ada yang tidak. Yang punya sawah otomatis dapat ganti rugi pada 2015, yang tidak punya sawah ya tidak dapat," cetusnya.

Pencairan ganti rugi pada 2021 sendiri, imbuhnya, telah dinanti warga sejak 2015. Hampir 6 tahun lamanya mereka menanti kabar ihwal pencairan ganti rugi lanjutan sejak rencana bendungan dicetuskan di hadapan mereka pada 2013.

Maka, kala akhirnya uang ganti rugi itu diberikan, dia menilai pembelanjaan yang dilakukan warga sebagai luapan kegembiraan. Setidaknya 30 warga setempat membeli mobil, sedangkan lebih dari 200 unit sepeda motor pun diborong sebagian besar penduduk.

"Memang cairnya itu ditunggu-tunggu juga, dari 2015. Ketika cair ya otomatis gembira juga, apalagi dalam kondisi negara gini (pandemi Covid-19). Keinginan yang dipendam akhirnya ya bisa diwujudkan, ada yang beli kendaraan, sebetulnya itu kan kebutuhan," ungkapnya.

Dia meyakinkan, warga membeli barang produktif yang menunjang pemenuhan kebutuhan dalam keseharian mereka. Sepeda motor salah satunya, menjadi alat transportasi yang paling dibutuhkan warga guna mendukung mobilitas mereka.

Karakter geografis Desa Kawungsari yang berada di kawasan pegunungan, membuat tak sedikit warga harus memanfaatkan alat transportasi berupa sepeda motor untuk menjangkau kawasan lain.

Ditenggelamkan

Saat sebagian besar warga Desa Kawungsari membelanjakan uangnya, Kusto dan seratusan warga lainnya belum dapat melakukan itu sebab uang ganti rugi mereka belum cair.

"Masih ada sisa yang belum dicairkan, saya salah satunya. Rencana sih katanya Maret ini," ujarnya.

Secara umum, dia menilai besaran ganti rugi yang diberikan telah mumpuni sehingga menyebutnya sebagai ganti untung. Sekalipun begitu, Kusto mengakui, ganti rugi yang diperolehnya tak bisa mengambil alih rasa nyaman atas tempat tinggal di mana setengah masa hidupnya berlangsung.

Dari 6 desa di 2 kecamatan yang terdampak Bendungan Kuningan, Desa Kawungsari menjadi satu-satunya desa yang kelak akan ditenggelamkan seluruhnya karena terletak di dataran paling rendah dibanding desa lain di sekitarnya. 

"Paling berdampak mah Desa Kawungsari ini, semua ditenggelamkan," kemukanya.

Imbas penenggelaman, pemerintah menargetkan Juli mendatang seluruh warga harus pindah ke lokasi lain. Warga Kawungsari selanjutnya akan menempati lahan di area Desa Sukarapih.

Di sana, telah disiapkan kawasan pemukiman penduduk, dilengkapi balai desa, sekolah, maupun balai pertemuan. Menurut Kusto, nama desa kelak tetaplah Kawungsari.

Sejauh ini, jarak pemukiman warga yang baru sekitar 15 km sebab harus memutar mengelilingi bendungan akibat belum ada jalan tembus dari Desa Kawungsari saat ini.

"Kalau sudah ada jalan tembus, jaraknya sekitar 5 km," tambahnya.

Area pemukiman di desa baru belum selesai, perkembangannya disebut Kusto masih sekitar 50% yang dimungkinkan terhambat akibat musim penghujan kini. Di sana, pemerintah menyiapkan total 444 unit rumah.

Dari jumlah itu, 361 unit diperuntukkan bagi warga Desa Kawungsari. Sementara, 83 unit rumah lain bagi warga Desa Randusari, di mana 23 unit bagi warga yang terdampak Bendungan dan 60 unit bagi warga yang terdampak bencana tanah longsor pada 2018.

Rencana penenggelaman Desa Kawungsari, menurutnya, telah didengar warga sejak lama. Bahkan, desas desus itu muncul sejak zaman Belanda yang diteruskan dari mulut ke mulut sampai kini.

"Kata orang tua mah, dari zaman Belanda juga katanya sudah ada rencana mau dibendung. Cuma pas awal 2012 mulai ada perencanaan untuk bendungan," kata Kusto yang baru menjabat Kuwu Kawungsari pada 2017 ini.

Semula, warga menolak rencana tersebut. Mereka gelisah sebab rencana itu berarti pula penenggelaman sebagian masa hidup mereka.

Kusto salah satunya, tak menampik keberatan atas situasi itu. Dia bahkan mengalami kegundahan selama sepekan.

Dia tak bisa membayangkan, kelak hanya dapat mengenang momen-momen bersejarah dalam hidupnya di desa tempat dia lahir dari atas bendungan. Dia mengkhayalkan, suatu saat mendatangi bendungan dan mencari-cari titik rumah yang pernah ditinggali bersama keluarga, atau memperkirakan sekolah tempat dia mengajar, balai desa tempatnya pula mengabdi, hingga jalan-jalan yang selama ini diakrabinya.

"Huuhh, rasanya mah gimana ya, enggak bisa diungkapkan. Walaupun kita dikatakan dapat ganti untung juga, namanya bebetah (kenyamanan) mah enggak bisa dibeli, enggak bisa diuangkan," ungkapnya seraya menghela nafas.

Kendati demikian, proyek itu tak dapat dibendung. Lama kelamaan, warga pun menerimanya, mengingat kepentingan lebih besar harus didahulukan. Namun, mereka mensyaratkan pemerintah dapat merelokasi ke pemukiman baru.

Sambil menunggu instruksi pemerintah dan menanti terselesaikannya kawasan pemukiman baru, hampir seluruh warga Desa Kawungsari masih bertahan. Mereka tetap beraktivitas seperti biasa, sementara di atas kepala mereka proyek Bendungan Kuningan terus berjalan.

Rerata warga masih dapat mengabaikan gundah gulana mereka, meski perpindahan diagendakan tahun ini. Dengan perencanaan hampir 1 dekade, perasaan warga nyaris kebal setiap kali disinggung rencana penenggelaman desa.

"Sekarang mah (kegelisahan) masih diabaikan warga, rata-rata sibuk sama urusan sehari-hari," tukasnya.

Masa Depan Baru

Di antara warga kebanyakan yang masih bertahan seraya menanti area pemukiman baru rampung dibangun, sejumlah warga diketahui telah meninggalkan rumah mereka. Kusto mengatakan, sekitar 1% penduduk telah pindah.

Perpindahan disertai pembongkaran rumah, yang akan diratakan dengan tanah. Mereka bukan ke pemukiman baru sebab belum selesai, melainkan ke desa lain, rata-rata di sekitar Desa Kawungsari.

Dengan kata lain, tak sedikit pula warga yang memanfaatkan uang ganti rugi untuk membangun rumah di desa lain. Selain rumah, tak sedikit pula yang membeli lahan pertanian.

Hingga kini, Kusto sendiri pun belum dapat menggambarkan persis seperti apa rencananya ke depan ketika seluruh isi rumahnya kini berpindah ke tempat tinggal baru.

Rencana besarnya sendiri hampir tak jauh berbeda dengan kebanyakan warga lain, mencari lahan baru di desa tetangga untuk membangun rumah sebagai investasi.

Langkah itu dilakukan mengingat rumah pengganti di area pemukiman baru tak seluas rumah mereka saat ini. Kusto berujar, luas bidang tanah pemukiman baru hanya sekitar 95 m2. 

Bandingkan dengan bidang pemukiman warga di desa saat ini yang paling kecil luasnya sekitar 150 m2. Terlebih, warga hanya beroleh hak guna pakai.

"Statusnya nanti sementara hak guna pakai dulu," cetusnya tanpa dapat memastikan lamanya status itu berlaku.

Kendati demikian, pihaknya tetap merasa bersyukur dan memandang Bendungan Kuningan berbeda dengan proyek lain. Menurutnya, hanya pada proyek inilah warga yang terdampak beroleh pengganti yang layak, mulai harga ganti rugi yang pantas, pemukiman, hingga fasilitas publik lain.

Di sisi lain, dia kembali mengingatkan warga untuk bijak memanfaatkan ganti rugi yang diperoleh. Belakangan, ungkapnya, selain kedatangan agen-agen dealer kendaraan bermotor, berita Desa Kawungsari sebagai desa miliarder pula telah mengundang agen-agen investasi yang dikhawatirkan bodong.

"Ada imbauan juga dari bupati kepada masyarakat agar warga enggak tergoda sama tawaran investasi. Lebih aman uangnya diinvestasikan pada tanah atau rumah untuk anak-anak nanti kalau sudah besar," katanya.

Migrasi warga pascapenenggelaman diakui akan berdampak pada kehidupan sosial dan ekonomi mereka. Pascapembebasan lahan pertanian, hanya sekitar 95 ha tanah Desa Kawungsari berupa sawah yang tersisa dan tak dibebaskan dalam proyek Bendungan Kuningan.

Dengan kata lain, tak sedikit warga yang harus beralih profesi dari menggarap sawah. Karena itu, pihaknya berharap Bendungan Kuningan dapat membuat penghidupan warga sekitar lebih baik.

Walaupun desa tempat mereka tumbuh dan berkembang akan tenggelam, masa depan layak disambut dengan optimisme.

"Nanti kan Bendungan Kuningan akan jadi objek wisata seperti Bendungan Jatigede atau Jatiluhur, jadi warga bisa mencoba profesi baru, seperti memelihara ikan di bendungan, beternak, juga melahirkan usaha mikro kecil menengah yang mendukung sektor pariwisata," pungkasnya.

Editor: Adi Ginanjar Maulana

terbaru

Warga Tasik Heran Temukan Kukang Liar di Pemukiman Padat Penduduk

Regional Minggu, 16 Mei 2021 | 16:15 WIB

Semula, kukang ini dikira kucing karena tingkahnya memang seperti anak kucing.

Umum - Regional, Warga Tasik Heran Temukan Kukang Liar di Pemukiman Padat Penduduk, Kukang Liar,Nycticebus,Penemuan Kukang,Kota Tasikmalaya,Cempaka Warna,Kecamatan Cihideung,Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA),Polsek Cihideung

Ini Alasan Objek Wisata Purwakarta Ditutup Sementara

Regional Minggu, 16 Mei 2021 | 13:55 WIB

Pemerintah Kabupaten Purwakarta memutuskan menutup semua objek wisata terhitung dari tanggal 17 sampai 22 Mei 2021 menda...

Umum - Regional, Ini Alasan Objek Wisata Purwakarta Ditutup Sementara, objek wisata,Purwakarta,Pemerintah Kabupaten Purwakarta,Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika,Objek Wisata Purwakarta Ditutup Sementara,objek wisata purwakarta

Mantan Bupati Bekasi Sa'duddin Meninggal Dunia

Regional Minggu, 16 Mei 2021 | 13:39 WIB

Pria yang sempat mencalonkan diri untuk menjadi bupati Bekasi pada Pilkada Kabupaten Bekasi 2017 ini meninggal dunia di...

Umum - Regional, Mantan Bupati Bekasi Sa'duddin Meninggal Dunia, Mantan Bupati Bekasi Sa'duddin meninggal dunia,Sa'duddin meninggal dunia,Mantan Bupati Bekasi meninggal dunia,Bekasi

Perang Bedil Lodong, Tradisi Unik Lebaran di Tasikmalaya

Regional Minggu, 16 Mei 2021 | 10:29 WIB

Berbagai cara dilakukan warga dalam memeriahkan hari kemenangan setelah sebulan berpuasa. Warga di Kampung Sukaruji, Des...

Umum - Regional, Perang Bedil Lodong, Tradisi Unik Lebaran di Tasikmalaya, Perang Bedil Lodong,Tradisi Lebaran Tasikmalaya,Tasikmalaya,Lodong,tradisi bermain lodong

Wisata Palabuhanratu dan Geopark Sukabumi Ditutup!

Regional Minggu, 16 Mei 2021 | 09:21 WIB

Membeludaknya pengunjung yang masuk ke kawasan wisata pantai Palabuhanratu dan Geopark Ciletuh disikapi dengan penutupan...

Umum - Regional, Wisata Palabuhanratu dan Geopark Sukabumi Ditutup!, Palabuhan Ratu ditutup,Ciletuh Geopark ditutup,Pantai Palabuhanratu,Ciletuh Geopark

Wisatawan di Gunung Galunggung Jadi Sasaran Tes Antigen Acak

Regional Minggu, 16 Mei 2021 | 09:12 WIB

Mengantisipasi penyebaran Covid-19 di objek wisata Gunung Galunggung, Puskesmas Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya menggelar...

Umum - Regional, Wisatawan di Gunung Galunggung Jadi Sasaran Tes Antigen Acak, Rapid Test Antigen Acak,Gunung Galunggung,Objek Wisata Galunggung,Wisata Galunggung Dibuka,Wisata Tasikmalaya,Tasikmalaya

Viral Salat Id Membludak di Bekasi, Jadi Sorotan Media Asing

Regional Minggu, 16 Mei 2021 | 07:35 WIB

Kepala Bagian Humas Setda Pemkot Bekasi Sajekti Rubiah membenarkan foto itu menggambarkan Salat Id di Masjid Annur Kranj...

Umum - Regional, Viral Salat Id Membludak di Bekasi, Jadi Sorotan Media Asing, salat id Bekasi,kerumunan salat Id Bekasi,Bekasi,Masjid Jami Annur Kranji

Hampir Dua Bulan Dirawat, Korban Ledakan Pertamina Balongan Meninggal

Regional Minggu, 16 Mei 2021 | 05:47 WIB

Satu korban ledakan tangki Pertamina Balongan, Kabupaten Indramayu, kembali dilaporkan meninggal dunia. Korban bernama K...

Umum - Regional, Hampir Dua Bulan Dirawat, Korban Ledakan Pertamina Balongan Meninggal, kilang balongan indramayu meledak,korban ledakan kilang minyak balongan,korban ledakan kilang Pertamina Balongan,balongan
dewanpers