web analytics
  

Kapan Situ Aksan Ada?

Kamis, 4 Maret 2021 14:25 WIB Netizen T Bachtiar
Netizen, Kapan Situ Aksan Ada?, Sejarah,Kota Bandung,Topografi,Desa,Abad ke-20,Bandung Baheula

Peta tahun 1905, Dunguscariang masih dikelilingi persawahan. (Peta koleksi Leiden University)

T Bachtiar

Anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung.

Batas barat Kota Bandung awal abad ke-20 itu sampai perempatan Jl. Sudirman dengan Jl. Kelenteng. Dari batas itu ke arah barat sudah termasuk “luar kota”.

Dalam Peta Topografi tahun 1904-1905, tempat yang kemudian menjadi Situ Aksan, masihlah perkampungan kecil yang dikelilingi persawahan yang sangat luas. Jalan Pagarsih dari arah timur ke arah barat baru sampai perempatan Jl. Jamika (lama). Dari ujung jalan itu ke barat dan berbelok ke arah selatan sudah tergambar, tapi masih berupa jalan setapak.

Perkampungan kecil-kecil di antara persawahan yang luas, yaitu: Dunguscariang, Andir, Citepus, Ciroyom, Sukahji, Sukapakir, Bojongloa, Sukabirus, Bojonggaok, Pasirkoja, Babakan Ciparay, Cibuntu, Maleber, Cibeureum, Cijerah, Melong, Cibodas, Mancong, Cikendal, Cibiuk, Cisegel, Pasantren, Leuweunggede, Cimindi, Cibaligo, Rancabentang, Hujung, dll.

Menangkap ikanmas di sawah, Andir 1923. (Foto koleksi Leiden University)

Keadaan lingkungan kawasan Andir terekam dalam foto koleksi Leiden University yang berjudul Menangkap ikanmas di kolam, Andir 1923. Sangat mungkin, ini sesungguhnya bukan kolam ikan, melainkan sawah yang digenang setelah dipanen. Sambil menunggu dicangkul, dipetakan-petakkan sawah itu, dan dilepas benih ikanmas selama beberapa bulan.

Foto ini menggambarkan suasana pada saat ngabedahkeun, membobol pematang di bagian terendah selebar dua jengkal, agar air dapat dengan mudah surut. Di tengah petakan dibuat saluran yang lebih dalam, agar ikan berkumpul di sana. Dengan cara itu ikanmas dapat dengan mudah digiring dan ditangkap untuk dipindahkan ke kolam, atau untuk dijual bibit ikannya. Keriuhan warga sekitar yang turun ke petakan untuk menangkapi ikan yang tersisa.

Perkembangan pembangunan Kota Bandung sangat pesat dimulai tahun 1910. Gedung-gedung dan rumah-rumah semakin banyak di bangun sesuai rencana tata ruang. Pembangunan gedung dan perumahan itu di anataranya memerlukan bata merah dalam jumlah yang banyak. Peluang itu ditangkap oleh M. Aksan, sebagai pengusaha yang maju saat itu.

Nama M. Aksan tercatat dalam Buku Peringan 30 Tahun Himpoenan Soedara 1906-1936 bersama pengusaha Bandung lainnya. Dalam buku itu dituliskan, “Yang dapat tercatat di antara kaum saudagar batikan, dan terutama menjadi tangkulaknya perdagangan batikan, ialah tuan-tuan: Haji Pahroerodji, Haji Idjadji, Haji Idris, Haji Aksan, Haji Soedja, Hadji Abdoelrachman, Haji Ajoeb, Masdoeki, H. Oesman, Parta, Madrais, Haji Pagih, Haji Oemar, Haji Sobandi, Wiriaatmadja, Haji Maksoedi, Haji Soeeb, Haji Boekri, Haji Soleh Katam, Haji Sarip, Soemarta, dan M. Radi”.

Selain sebagai pengusaha kain batikan, M. Aksan menjadi pembuat dan pemasok bata merah dalam pesatnya pembangunan gedung dan rumah, dengan jalan mendirikan lio bata merah di kampung Dunguscariang, Andir. Ia pun menjual bata merah untuk kebutuhan masyarakat yang akan membangun rumah tembok, seperti dapat dibaca dalam iklan berbahasa Sunda di koran Padjadjaran tahun 1919 dan 1920.

***

AKSAN

Bouwmaterialen en Brand-houthandel. Kebondjati Bandoeng Telef. No. 34.

Ngagingsirkeun bata sareng suluh. Sapaosna sajagi prabot ngadamel boemi tembok, oge sajagi kadjang bilik, kajang hateup kiraj, sareng balok djati. Manawi joeragan-joeragan perloe nganggo eta barang, moegi oelah lali kersa barempag sareng pribados. (Padjadjaran, 18-01-1919).

(Menjual bata dan kayubakar. Selalu tersedia perlengkapan untuk membuat rumah tembok. Juga tersedia dinding “bilik” dan atap kiray, serta balok jati. Barangkali juragan-juragan memerlukan barang itu, semoga tidak lupa untuk membicarakannya dengan saya).

M Aksan

Handel in bouwmaterialen. Pasirkalikiweg Bandoeng, Telf. No. 314.

Ngitjal oebin tegel (tegel cement) noe parantos sajagi seueur ajeuna noe oekoeran 20x20 roepina polos. Tijasa nampi pamoendoet roepi-roepi oekoeran atanapi anoe nganggo kembang. Manawi djoeragan-djoeragan perloe nganggo, mugia kersa soemping barempag ka kantoor sim koering noe diserat di loehoer. Noe ngantos pamoendoet. (Padjadjaran, 02-02-1920).

(Menjual ubin tegel (tegel semen), yang sekarang sudah tersedia dalam jumlah banyak berukuran 20 x 20 cm polos. Menerima permintaan berbagai ukuran atau memakai motif. Barangkali juragan-juragan memerlukannya, semoga berkenan datang dan membicarakannya ke kantor dengan alamat di atas. Yang menunggu permohonan).

***

Sebagai gambaran, luas bangunan rumah yang dibangun saat itu umumnya 200 meter persegi, dengan tinggi dinding tembok empat meter. Untuk satu rumah dibutuhkan bata merah ukuran 20 cm x 10 cm x 5 cm sebanyak 20.000. Jumlah bata merah yang dibutuhkan akan berlipat-lipat bila yang dibangun adalah gedung-gedung yang lebih luas lagi. Sebagai gambaran, dalam peta tahun 1950, luas Situ Aksan adalah 29.619 m persegi. Bila tanah yang digali untuk bata merah itu sedalam 1,5 m, maka dari lahan itu menghasilkan bata merah sebanyak 44.428.500.

Tampaknya M. Aksan tidak membuat bata merah di seluruh lahannya, tapi membiarkan lahan seluas 32.005 m persegi, yang dikemudian hari menjadi lahan darat yang mengelilingi situ. Untuk mereklamasi lahan yang sudah digali, M Aksan membuat situ, yang luasnya sama dengan empat kali lapangan bola.

Peta Situ Aksan Tahun 1931. (Peta koleksi Leiden University)

Rencana membuat balong, situ, yang sangat luas itu, terintegrasi dalam Rencana Pembangunan Kota Bandung Tahun 1931. Dalam peta rencana pembangunan jalan, misalnya, sudah tergambar menyambungkan Jl. Pagarsih ujung barat ke arah situ, lalu berbelok ke selatan, persis membatasi kawasan Situ Aksan sisi timur, selatan, dan barat, seperti yang ada dalam peta saat ini.

Dalam Peta Topografi Bandoeng-Zuid yang direvisi oleh Dinas Topografi pada tahun 1931 dan dicetak tahun 1934, Situ Aksan sudah tergambar, dan Jl Pagarsih sudah tersambung sampai ke arah barat, lalu menyerong ke selatan-barat membatasi kawasan Situ Aksan, begitu pun jalan di sisi baratnya sudah tersambung.

Pada tahun 1932, Situ Aksan sudah ramai dikunjungi, dan sudah membuat acara-acara yang banyak dikunjungi, seperti Festifal Air, yang dimuat dalam berita koran De Koerier tangga 04 Juni 1932.

Festival air yang akan berlangsung besok dalam rangka Peh Cun di Situ Aksan, Andir, menjanjikan banyak hal. Berbagai atraksi dari orang “Pribumi” dan Cina, termasuk lomba dayung, panjat pinang, lomba keroncong, dll. Loket akan dibuka pada Minggu, Senin, Selasa, dan Rabu, dari pukul tujuh pagi hingga enam sore.

Sebagai gambaran Situ Aksan tahun 1938, ada cerita perjalanan enam remaja Belanda yang tinggal di Bandung, Agnes, Wim, Cor, Meta, Meg, dan Theo (keenam remaja ini namanya ditulis dalam kisah yang dimuat dalam koran De Koerier, 22-10-1938). Mereka mengadakan perjalanan wisata menggunakan kereta api dari Bandung, berhenti di stasiun kereta api Cimahi. Dari sana mereka berjalan kaki ke Curug Cisarua (sekarang namanya Curug Cimahi, yang berlokasi di Jalan Kolonel Masturi, Desa Kertawagi, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat). Di tengah perjalanan, mereka menumpang truk tentara yang lewat. Puas bermain air, dari Curug Cisarua mereka kembali berjalan kaki sejauh 13 km menuju stasiun Cimahi. Dari Stasiun Cimahi, mereka menggunakan kereta api menuju Bandung, berhenti di stasiun Andir. Dilanjutkan dengan berjalan kaki tiga kilometer menuju Situ Aksan.

Inilah sepenggal catatan perjalanan mereka yang ditulis oleh Th. B., kemungkinan singkatan nama “Theo”. Catatan perjalanan berperahu di Situ Aksan ini diambil dari rubrik surat yang menceritakan perjalanan mereka berenam. Inilah penggalan catatan pelesiran  tahun 1938, yang diterjemahkan oleh Karguna Purnama Harya.

Di Cimahi kami kembali harus naik kereta. Kemudian kami pun turun di Andir, lalu perjalanan pun kami lanjutkan untuk menuju ke Situ Aksan.

Setibanya di sana kami langsung menyewa dua perahu.

"Ayo!" seru Agnes, "Ayo kita ke perahu yang besar!" Serentak kami pun setuju. Sementara itu Wim sendirian naik perahu yang satunya lagi, yang ukurannya lebih kecil.

Saat kami berada di dalam perahu, rasanya sangat menyenangkan. Lalu, Cor dan aku mulai mendayung dengan keras. (Tentu saja dengan sengaja).

Semakin lama perahu pun semakin melaju ke tengah-tengah danau.

"Ngomong-ngomong, danau ini dalam nggak?" tanya Meta.

"Cukup dalam", jawabku. Dalam hati aku pun tertawa karena sebenarnya danau itu tidak dalam sama sekali.

"Ai," seru Meg cemas, "Kalau perahu ini tenggelam, aku berenang saja."

Tiba-tiba Cor berteriak, "Perahunya tenggelam! Awas!"

Seketika kami pun melompat keluar dari perahu.

Sementara Meta, dia langsung berdiri di atas bangku tempatnya mendayung. Kemudian dia membungkuk lalu melompat seperti atlit renang dan kemudian dia pun mendarat ... di atas lumpur.

"Theo, menyebalkan kamu ya, gara-gara kamu, nih, lututku kena dasar danau!"

Serentak kami semua menertawakannya. Hari itu adalah hari yang indah dan menyenangkan. Th. B. [*]

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Aris Abdulsalam

terbaru

Daftar Terbaru Badan / Lembaga Penerima Zakat yang Diakui Ditjen Pajak

Netizen Senin, 19 April 2021 | 19:02 WIB

Direktorat Jenderal Pajak telah menetapkan Badan/Lembaga sebagai penerima zakat atau sumbangan keagamaan yang sifatnya w...

Netizen, Daftar Terbaru Badan / Lembaga Penerima Zakat yang Diakui Ditjen Pajak, Ditjen Pajak,Lembaga Penerima Zakat,Badan Penerima Zakat,Penitipan Zakat

Menakar Geliat Ekonomi di Bulan Ramadan 2021

Netizen Senin, 19 April 2021 | 11:32 WIB

Pandemi Covid-19 sudah setahun lebih membayang banyangi kehidupan kita

Netizen, Menakar Geliat Ekonomi di Bulan Ramadan 2021, Ekonomi,COVID-19,BPS

Bapak Ideologi Muhammadiyah Itu Menjadikan Puasa sebagai 'Kanopi Diri'

Netizen Minggu, 18 April 2021 | 19:10 WIB

Prof. Dr. K.H. Haedar Nashir, M.Si., Ketua Umum PP. Muhammadiyah, adalah kader otentik Muhammadiyah yang tidak ada irisa...

Netizen, Bapak Ideologi Muhammadiyah Itu Menjadikan Puasa sebagai 'Kanopi Diri', Prof. Dr. K.H. Haedar Nashir, M.Si.,Bapak Ideologi Muhammadiyah,Muhammadiyah

Merenungi Hikmah Puasa Ramadan

Netizen Jumat, 16 April 2021 | 10:35 WIB

Puasa akan melahirkan rasa cinta, kasih sayang, dan kelembutan kepada orang miskin.

Netizen, Merenungi Hikmah Puasa Ramadan, Puasa,Ramadan,Salat Tarawih,Hikmah Puasa,Merenungi Hikmah Puasa,puasa ramadan

Mengubah Peringatan Waspada Menjadi Rencana Tindakan

Netizen Jumat, 16 April 2021 | 09:16 WIB

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Rabu, 14 April 2021 sudah mengingatkan kepada masyarakat untuk...

Netizen, Mengubah Peringatan Waspada Menjadi Rencana Tindakan, BMKG,Cuaca ekstrem,cekungan bandung,Bencana Alam

Mural Sebagai Media Pembelajaran Efektif dan Menyenangkan

Netizen Kamis, 15 April 2021 | 18:30 WIB

Mural sekolah memberikan suasana yang “segar” dan membuat suasana di sekolah menjadi tidak monoton.

Netizen, Mural Sebagai Media Pembelajaran Efektif dan Menyenangkan, Mural Sebagai Media Pembelajaran Efektif,Media Pembelajaran Efektif dan Menyenangkan,SDN Mustikajaya VII,Kota Bekasi,Mural,Pendidikan,Sekolah

Harga Gabah dan Beras di Tengah Polemik Impor

Netizen Kamis, 15 April 2021 | 17:50 WIB

Ada faktor lain yang menyebabkan turunnya harga komoditas padi di tahun 2020.

Netizen, Harga Gabah dan Beras di Tengah Polemik Impor, Polemik Impor,Beras,Petani,komoditas padi,Gabah kering panen (GKP),gabah kering giling (GKG),Jawa Barat,Badan Pusat Statistik (BPS)

Menyusun Kamus Belanda-Sunda

Netizen Rabu, 14 April 2021 | 10:05 WIB

Untuk penyusunan kamus Belanda-Sunda dapat dibilang Kartawinata adalah orang Sunda pertama yang berhasil menyusun dan me...

Netizen, Menyusun Kamus Belanda-Sunda, Kamus Belanda-Sunda,Hollandsch-Soendaasch Woordenboek,Raden Kartawinata,P. Blusse

artikel terkait

dewanpers