web analytics
  

Tiga Terjemahan Pertama

Kamis, 4 Maret 2021 10:20 WIB Netizen ATEP KURNIA
Netizen, Tiga Terjemahan Pertama, raden kartawinata,Sunda,Jawa,Bahasa,Penerjemah,Belanda,R.H. Moeh. Moesa,K.F. Holle,buku,Literatur,Literasi

Terjemahan Sunda dan Jawa untuk Geschiedenis van den Kapitein Marion yang dikerjakan oleh Raden Kartawinata. Keduanya diterbitkan pada 1872. (Google Books)

ATEP KURNIA

Peminat literasi dan budaya Sunda.

Selama setahun ketika Raden Kartawinata diangkat sebagai magang atau siswa juru bahasa dan penerjemah bahasa Sunda (“eleve-tolk tevens translateur voor de Soendasch Taal”), yakni 1872, dia telah menerbitkan tiga buku hasil terjemahannya. Ketiganya adalah Carijos Toewan Kapitan Marion, Poenika Tjariyosipoen Kapitan Mariyon, dan Poenika Tjariyosipoen Wiliam Okele toewin tiyang koemed kasam.

Buku pertama berbahasa Sunda. Menurut Moriyama (2005: 283), buku ini ditulis dalam aksara Cacarakan, diterbitkan sebanyak 5015 eksemplar oleh Landsdrukkerij di Batavia. Saat saya menengok buku aslinya, ternyata ada keterangan “Geschiedenis van den Kapitein Marion vertaald uit het Nederlandsch in het Soendaasch door Raden Kartawinata, Elève-Tolk Tevens Translateur voor de Soendasche Taal, te Limbangan” (Geschiedenis van den Kapitein Marion, diterjemahkan dari bahasa Belanda ke dalam bahasa Sunda oleh Raden Kartawinata, magang juru bahasa dan penerjemah untuk bahasa Sunda, di Limbangan).

Buku kedua Poenika Tjariyosipoen Kapitan Mariyon berbahasa Jawa. Buku ini pun ditulis dalam aksara Cacarakan atau Jawa, dengan keterangan “Geschiedenis van den Kapitein Marion overgebracht uit het Nederlandsch in het Javaansch [prosa] door Raden Kartawinata te Limbangan” (Geschiedenis van den Kapitein Marion, diterjemahkan dari bahasa Belanda ke dalam bahasa Jawa [prosa] oleh Raden Kartawinata di Limbangan). Mengenai jumlah yang diterbitkannya saya tidak tahu, tetapi penerbitnya sama, Landrukkerij.

Demikian pula dengan buku ketiga, Poenika Tjariyosipoen Wiliam Okele toewin tiyang koemed kasam, berbahasa Jawa. Di dalam keterangan judulnya disebutkan demikian: “William Okeleij en de Schoenen van den Ouden Kasam, vertaald uit het Nederlandsch in het Javaansch door Raden Kartawinata te Limbangan” (William Okeleij en de Schoenen van den Ouden Kasam, diterjemahkan dari bahasa Belanda ke dalam bahasa Jawa oleh Raden Kartawinata di Limbangan). Buku ini pun ditulis dalam aksara Jawa dan diterbitkan oleh Landsdrukkerij.

Dari ketiga buku tersebut, kita sama-sama jadi mengetahui beberapa hal. Pertama, ternyata Kartawinata bisa berbahasa Jawa, sekaligus barangkali menuliskan dalam aksara tersebut. Bahkan ia mampu mengalihbahasakan teks bahasa Belanda ke dalam bahasa Jawa. Jadi, saya duga bahwa baik Carijos Toewan Kapitan Marion maupun Poenika Tjariyosipoen Kapitan Mariyon dikerjakan oleh Kartawinata pada saat bersamaan. Namun, besar kemungkinan Carijos Toewan Kapitan Marion yang pertama kali diterjemahkannya sangat besar, mengingat dia diangkat sebagai magang juru bahasa Sunda, bukan Jawa.

Kedua, fakta-fakta bahwa dari kedua buku terjemahan ke dalam bahasa Jawa tersebut tidak disebutkan kedudukannya sebagai magang penerjemah, melainkan langsung saja diberi keterangan diterjemahkan oleh Kartawinata. Ini saya pikir mengandung arti ada kemungkinan terjemahan dalam bahasa Jawa itu adalah pekerjaan sampingan yang dikerjakan oleh Kartawinata.

Ketiga, dari ketiga terjemahan tersebut kata Limbangan digunakan sebagai tempat Kartawinata menerjemahkan. Ini artinya, sejak diangkat sebagai magang juru bahasa dan penerjemah ke dalam bahasa Sunda itu, Kartawinata tetap tinggal di Limbangan (Garut sekarang). Jadi, kemungkinan besar dipengaruhi lingkungan di sekitar rumahnya sangatlah besar, yaitu oleh ayahnya, R.H. Moeh. Moesa yang terlebih dulu menulis dan menerbitkan buku cetak dalam bahasa Sunda, dan gurunya, K.F. Holle, orang yang pertama mengusahakan penerbitan dan menerbitkan buku cetak dalam bahasa Sunda.

Soalnya kemudian, mengapa Kartawinata menerjemahkan teks berbahasa Belanda ke dalam bahasa Jawa, bukankah para juru bahasa dan penerjemah Jawa sudah ada sejak lama dan sudah mapan, dan ia sendiri ditugaskan sebagai magang juru bahasa dan penerjemah dalam bahasa Sunda? Kemudian bagaimana prosesnya sehingga dalam waktu singkat, Kartawinata dapat menerjemahkan ketiga buku tersebut?

Untuk menjawab pertanyaan pertama, ada baiknya kita melihat posisi bahasa Jawa dalam kehidupan dan kebudayaan orang Sunda pada abad ke-19. Keberadaan bahasa Jawa dan tradisi tulisnya di Tatar Sunda memang menarik. Menurut Emuch Hermansoemantri (Sajarah Sukapura: Sebuah Telaah Fil0l0gis, 1979: 195), bahasa Jawa di Priangan merupakan pengaruh dari Mataram, karena sempat dikuasai, terutama sejak kuartal pertama abad ke-17. Bahasa Jawa dipakai sebagai bahasa dinas di kalangan pemerintahan dan sebagai bahasa tulisan.

Setelah Priangan terlepas dari Mataram, bahasa Jawa masih tetap dipakai juga dalam urusan dinas pemerintahan. Emuch, misalnya, menunjukkan buktinya berupa surat-surat berbahasa Jawa dari Bupati Sukapura, Wiradadaha, yang ditujukan kepada Residen Cirebon A.K. Mom (1776-1778); piagam dari Tumenggung Wiradadaha untuk Anggasuta pada 10 Maret 1724; surat Tumenggung Wiradadaha untuk Wiragantaka, 1 Februari 1802; surat dari Wiradadaha untuk Suranggana, 13 Maret 1809; surat Sacadiguna untuk bupati Sukapura, 17 Januari 1812. Namun, selanjutnya pada pertengahan abad ke-19 bahasa Jawa sudah bukan “mode” lagi, kecuali di kalangan para pejabat pemerintahan.

Sementara menurut temuan Tom van den Berge (Van Kennis tot Kunst: Soendanese Poezie in de Koloniale Tijd, 1993: 13-17) dan Mikihiro Moriyama (Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19, 2005: 16-18), sejak abad ke-17 hingga abad ke-19 orang-orang Eropa masih mengalami kebingungan untuk menempatkan bahwa bahasa Sunda. Mereka menganggap bahasa di barat Pulau Jawa adalah salah satu dialek bahasa Jawa, sehingga disebut sebagai bergjavaans (bahasa Jawa gunung), karena banyak dituturkan oleh orang-orang yang berada di pegunungan. Sementara bangsawannya menggunakan bahasa yang lebih halus atau lebih terpengaruh bahasa Jawa.

Selanjutnya Moriyama (2005: 34) menyatakan aksara Jawa diperkenalkan sejak abad ke-17 bersama datangnya pengaruh Mataram, dan kaum menak Sunda mengikuti tradisi literasi yang digunakan bangsawan Jawa. Aksara Jawa digunakan untuk menulis korespondensi di kalangan menak, menulis laporan resmi kepada penguasa Mataram, lalu VOC dan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Oleh karena itu, tidak heran bila bahasa dan aksara Jawa lama menjadi bahasa formal di Tatar Sunda, sementara bahasa Sunda dianggap sebagai bahasa informal, sehari-hari.

Akibatnya, bila menak menerima surat dalam bahasa Sunda itu bisa diartikan sebagai penghinaan (Berge 1993: 16-17). Memang menurut Roorda (dalam Wilde 1841: x-xi), para bupati di wilayah Sunda lebih suka menggunakan bahasa Jawa dalam korespondensi di antara mereka, termasuk alamat sepucuk surat yang biasa ditulis dalam bahasa Sunda, bila ditujukan kepada seorang bupati harus ditulis dalam bahasa Jawa. Memang menurut De Haan (1912: vol.4, 513), bagi kaum menak Sunda, bahasa Jawa lebih ‘tinggi’ dan lebih ‘halus’ daripada bahasa mereka sendiri.

Bahkan setelah paruh kedua abad ke-19, setelah tradisi cetak dalam bahasa Sunda diperkenalkan dan diproduksi pun, bahasa dan aksara Jawa tetap digunakan oleh kalangan menak, termasuk di lingkungan R.H. Moeh. Moesa, ayahnya Kartawinata. Ini terbukti dalam buku kumpulan surat yang disusun oleh Danoeredja, Serat-Sinerat Djaman Djoemenengna Raden Hadji Moehamad Moesa (1929).

Di dalamnya disajikan 17 tulisan yang terdiri dari 3 pidato, 2 tulisan lepas, 1 catatan perjalanan, dan 11 surat dari Moeh. Moesa dan anggota keluarganya beserta balasannya. Kesemuanya ditulis dalam bentuk dangding atau guguritan, sehingga mengingatkan saya pada judul buku Berge (1993), “Van Kennis tot Kunst”, yang artinya memang genre puisi pertama-tama dan terutama membawa pengetahuan, bukan seni. Puisi atau sastra sebagai seni bagi orang Sunda barulah berkembang kemudian, setelah terpengaruh oleh kesusastraan Barat (baca: Belanda), melalui sekolah modern.

Dari 17 tulisan dalam buku Serat-Sinerat, ada 4 tulisan yang menggunakan bahasa Jawa meskipun judul-judulnya menggunakan bahasa Sunda, yaitu “Serat Ka Kangdjeng Dalem Soemedang (Pangeran Aria Soeriaatmadja), ti Raden Rangga Soeriadiningrat Hoofddjaksa Besar di Garoet”, “Serat ti Raden Hadji Moehamad Moesa ka Kangdjeng Dalem Blora, Raden Adipati Tjakranagara”, “Serat keur ka Raden Adjeng Retnaningsih (Enden Ratoe) Tjiandjoer ti Dalem Istri Garoet (Raden Ajoe Lasminingrat)”, dan “Lalampahan Wadana Kota Soemedang Raden Rangga Natakoesoema, Djadi Saksi ka Batawi”. Dengan catatan, “Serat keur ka Raden Adjeng Retnaningsih”, hanya 3 bait pengantarnya saja yang menggunakan bahasa Jawa, dan sisanya menggunakan bahasa Sunda. Sementara “Lalampahan Wadana Kota Soemedang” merupakan catatan perjalanan.

Ke-17 tulisan dalam Serat-Sinerat, semuanya dapat dikatakan ditulis pada tahun 1884. Dan keempat tulisan yang mengandung bahasa Jawa tersebut jelas membuktikan bahwa kalangan menak Sunda masih terbiasa dengan literasi beraksara dan bahasa Jawa bahkan hingga menjelang akhir abad ke-19. Untuk perkembangan literasi di Tatar Sunda, hal tersebut juga sekaligus saya kira dapat kita baca sebagai peralihan penggunaan bahasa dan aksara tulis Jawa ke dalam bahasa tulis Sunda. Ini jelas dapat dilihat dari perbandingan 4 tulisan yang mengandung berbahasa Jawa dengan 13 tulisan yang menggunakan bahasa Sunda.

Jadi bila dikaitkan dengan pertanyaan mengapa Kartawinata menerjemahkan teks berbahasa Belanda ke dalam bahasa Jawa? Ini saya kira masih adanya pasar bagi buku-buku berbahasa Jawa di tengah-tengah orang Sunda pada tahun 1872. Sehingga Kartawinata menerjemahkannya dan percetakan pemerintah kolonial (Landsdrukkerij) yang menerbitkannya. Meskipun memang tidak menutup kemungkinan bahwa buku-buku berbahasa Jawa hasil terjemahan Kartawinata juga disebarkan ke tengah-tengah khalayak berbahasa Jawa.

Selanjutnya untuk menjawab pertanyaan kedua, saya antara lain beroleh keterangan dari tulisan “Javaansche Zang” yang ditulis oleh Van Limburg Brouwer dan dimuat dalam De Gids: Een en Veertigste Jaargang, Derde Serie, Vijftiende Jaargang [tweede deel] (1877: 286-311). Di dalam tulisan tersebut disajikan tinjauan 12 buku berbahasa Jawa, yang dua di antaranya berupa terjemahan Kartawinata di atas.

Di dalam tulisan tersebut antara lain ada pernyataan berikut ini (1877: 309-310): “De schrijver van de javaansche vertaling van een bekend kinderboekje over de reis van kapitein Bontekoe is volgens den aanhef van het boekje een soendaneesche jongeling, die nog te Soemedang op school is bij den heer Warnar om Hollandsch te leeren” (Penulis terjemahan bahasa Jawa untuk perjalanan Kapten Bontekoe sebagai bacaan anak-anak, menurut sebuah buklet, adalah pemuda Sunda, yang masih bersekolah di Sumedang dan belajar bahasa Belanda kepada Tuan Warnaar).

Selanjutnya, Brouwer menyebutkan bahwa pemuda tersebut bernama Raden Karta Winata, yang secara salah dianggap sebagai keponakan (neef) Penghulu Limbangan Raden Moehamad Moesa. Disebutkan pula bahwa Warnar adalah guru privat bagi anak-anak dan keluarga besar Bupati Sumedang Pangeran Soeria Koesoema Adi Nata. 

Dari pernyataan tersebut dapat ditarik asumsi bahwa kedua buku berbahasa Jawa tersebut sudah dikerjakan oleh Kartawinata saat dia belajar di bawah bimbingan Gerrit Warnar di Sumedang antara 1868 hingga 1871. Meskipun tidak juga menutup kemungkinan adanya kekeliruan dari Brouwer, seperti tadi dikatakan bahwa Kartawinata adalah keponakan Raden Moehamad Moesa.

Tapi yang menarik untuk ditelusuri lebih lanjut adalah ihwal Warnar yang menjadi guru Kartawinata di Sumedang. Saya sudah melakukan penelusuran terhadap tokoh ini. Menurut keterangan dari www.elsinga-s.nl (diakses pada 20 Februari 2020), Gerrit Warnar (1816-1875) lahir di Leeuwarden pada 24 Januari 1816, meninggal di Gadok (Bogor) pada 8 Oktober 1875, dan dimakamkan di Weltevreden (Tanah Abang). Dalam Javasche courant (10 Juni 1846) disebutkan bahwa pada 4 Juni 1846, Gerrit menikahi Maria Helena Woesthoff di Meester Cornelis.

Dari berita-berita sejak 1852 dapat diketahui bahwa Warnar sudah bekerja sebagai guru privat. Dalam Algemeen verslag van den staat van het schoolwezen in Nederlandsch-Indië Onder ultimo December 1852 (1853) disebutkan bahwa G. Warnar bekerja sebagai guru pertama di sekolah asrama untuk anak yatim di Parapattan, Rijkswijk, Batavia (“De Parapattan-weeshuisschool te Rijswijk”). Demikian pula dalam Algemeen verslag van den staat van het Schoolwezen in Nederlandsch-Indie (afsloten onder ultimo 1863 (1864), disebutkan bahwa G. Warnar bersama W.H. Snethlage mendirikan dan mengusahakan sekolah berasrama di Batavia (“De dag- en kostschool van G. Warnar en W.H. Snethlage”). Ini mengandung arti bahwa antara 1852-1863, Warnar masih bekerja sebagai guru privat di Batavia. Ditambah dengan berita dari De Locomotief (28 Juni 1867) yang berisi mengenai penghentian Warnar dari Komissie tot Ondersteuning van Behoeftige Christenen in den Bataviasche Afdeeling.

Karena Sekolah Bupati Sumedang didirikan pada 5 Juli 1867, saya kira pengunduran diri Warnar dari komisi tersebut bertalian dengan pekerjaannya yang baru di Sumedang. Dari koran-koran berbahasa Belanda dapat diketahui bahwa selama di Sumedang, Warnar pernah aktif sebagai sebagai anggota (leden van Eer) De Ster in het Oosten te Batavia (Maconniek Weekblad, No. 40, Zeventiende Jaargang, 1868), yakni organisasi Freemason yang ada di Batavia. Selain itu, selama di sana ia tercatat sebagai sekretaris Preanger Wedloop-Societeit (Java-Bode, 2 Juni 1869), itulah organisasi para penyuka kuda dan balap kuda di Priangan. Masih di Sumedang, pada 1871, ia memperingati pernikahannya yang ke-25 dengan Maria Helena Woesthoff (De Locomotief, 9 Juni 1871).

Tiga tahun kemudian, Warnar yang berprofesi sebagai “particulier onderwijzer aldaar” (guru swasta) diberitakan diangkat sebagai anggota Inlandsche Schoolcommissie te Tangerang (Batavia) atau Komisi Sekolah Pribumi di Tangerang (De Locomotief, 16 Mei 1874). Dua bulan kemudian dia diberhentikan dari komisi tersebut (De Locomotief, 25 Juli 1874). Setahun lebih kemudian, ia diberitakan meninggal pada 8 Oktober 1875 dalam usia 59 tahun di Gadok oleh P.W. Warnar, J.C.W. Coert, dan M. Coert (Bataviaasch Handelsblad, 3 November 1875).

Dari pelbagai berita tersebut, saya kira Warnar tinggal dan mengajar di Sekolah Bupati Sumedang antara Juli 1867-Mei 1874 atau sekitar tujuh tahun. Selama di Sumedang itu, antara 1868-1871 ia antara lain mengasah dan mengembangkan kemampuan Raden Kartawinata dalam bahasa Belanda, termasuk tentu saja cara menerjemahkan. Bukankah sudah disebutkan bahwa Kartawinata adalah bintang pelajarnya bagi pelajaran bahasa Belanda.

Barangkali selama dalam pengarahan dan pengawasan Warnar inilah, Kartawinata sudah mulai menerjemahkan teks-teks berbahasa Belanda ke dalam bahasa Sunda dan Jawa, yang kemudian ia selesaikan saat sudah kembali ke Limbangan, dengan bantuan ayahnya dan Holle. Bila benar demikian, jadi dapat dimengerti bila pada 1872, Kartawinata sudah bisa menerbitkan tiga judul terjemahan dari bahasa Belanda itu. [*]

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Aris Abdulsalam

terbaru

Menilik Tradisi Tahlilan dari Perspektif Sosiologis

Netizen Selasa, 20 April 2021 | 14:23 WIB

Tahlil berasal dari kata hallala-yuhallilu, yang artinya membaca kalimat "laailaaha illallah".

Netizen, Menilik Tradisi Tahlilan dari Perspektif Sosiologis, Tradisi Tahlilan,Tradisi,Tahlilan,Nahdhatul Ulama

Momen Ramadan Semasa Kecil yang Selalu Dirindukan Generasi Z

Netizen Selasa, 20 April 2021 | 13:12 WIB

Hadir satu kali dalam setiap tahun, kedatangan bulan Ramadan selalu ditunggu oleh umat Muslim.

Netizen, Momen Ramadan Semasa Kecil yang Selalu Dirindukan Generasi Z, Ramadan,Muslim,generasi z

Menikah Bukan Kompetisi Ibadah

Netizen Selasa, 20 April 2021 | 11:42 WIB

Menikah merupakan ibadah terlama yang akan dijalan oleh dua insan. Jadi, persiapkan dengan baik.

Netizen, Menikah Bukan Kompetisi Ibadah, Menikah,Islam,Anjuran Menikah,Menikah menurut empat ulama mazhab,Alasan Utama Menikah,Ibadah

Daftar Terbaru Badan / Lembaga Penerima Zakat yang Diakui Ditjen Pajak

Netizen Senin, 19 April 2021 | 19:02 WIB

Direktorat Jenderal Pajak telah menetapkan Badan/Lembaga sebagai penerima zakat atau sumbangan keagamaan yang sifatnya w...

Netizen, Daftar Terbaru Badan / Lembaga Penerima Zakat yang Diakui Ditjen Pajak, Ditjen Pajak,Lembaga Penerima Zakat,Badan Penerima Zakat,Penitipan Zakat

Menakar Geliat Ekonomi di Bulan Ramadan 2021

Netizen Senin, 19 April 2021 | 11:32 WIB

Pandemi Covid-19 sudah setahun lebih membayang banyangi kehidupan kita

Netizen, Menakar Geliat Ekonomi di Bulan Ramadan 2021, Ekonomi,COVID-19,BPS

Bapak Ideologi Muhammadiyah Itu Menjadikan Puasa sebagai 'Kanopi Diri'

Netizen Minggu, 18 April 2021 | 19:10 WIB

Prof. Dr. K.H. Haedar Nashir, M.Si., Ketua Umum PP. Muhammadiyah, adalah kader otentik Muhammadiyah yang tidak ada irisa...

Netizen, Bapak Ideologi Muhammadiyah Itu Menjadikan Puasa sebagai 'Kanopi Diri', Prof. Dr. K.H. Haedar Nashir, M.Si.,Bapak Ideologi Muhammadiyah,Muhammadiyah

Merenungi Hikmah Puasa Ramadan

Netizen Jumat, 16 April 2021 | 10:35 WIB

Puasa akan melahirkan rasa cinta, kasih sayang, dan kelembutan kepada orang miskin.

Netizen, Merenungi Hikmah Puasa Ramadan, Puasa,Ramadan,Salat Tarawih,Hikmah Puasa,Merenungi Hikmah Puasa,puasa ramadan

Mengubah Peringatan Waspada Menjadi Rencana Tindakan

Netizen Jumat, 16 April 2021 | 09:16 WIB

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Rabu, 14 April 2021 sudah mengingatkan kepada masyarakat untuk...

Netizen, Mengubah Peringatan Waspada Menjadi Rencana Tindakan, BMKG,Cuaca ekstrem,cekungan bandung,Bencana Alam

artikel terkait

dewanpers