web analytics

RESENSI BUKU: Lika-Liku Kaum Merah di Bandung

clockRabu, 3 Maret 2021 15:46 WIB userCecep Hasannudin
Bandung Baheula - Baheula, RESENSI BUKU: Lika-Liku Kaum Merah di Bandung, Bandung di Persimpangan Kiri Jalan,Hafidz Azhar,Resensi Buku,aktivis komunis di Bandung,pergerakan kaum komunis di Bandung,Sarekat Islam,Wiranatakoesoemah V

Bandung di Persimpangan Kiri Jalan (istimewa)

Judul buku: Bandung di Persimpangan Kiri Jalan
Penulis: Hafidz Azhar
Penerbit: ProPublic.info, Bandung
cetakan: Februari 2021
Tebal: 131 halaman

S. GOENAWAN naik pitam. Ia dituduh tak bertuhan oleh Padmawiganda, redaktur koran Kaoem Moeda. Tak tanggung-tanggung, pengelola koran yang berafiliasi dengan pemerintah tersebut juga memaki salah satu pengurus besar Sarekat Islam Merah itu tiga hingga empat kali yang ditulis lewat media yang dikelolanya.

Ternyata, tak hanya Padmawiganda yang menuduh S. Goenawan tak bertuhan dan mencacinya. B. Daum, pengurus koran Preangerbode pun berbuat serupa, yang juga ia tulis di media yang dikembangkannya. Kontan saja, sang tertuduh geram dan membuat perhitungan.

Ia menganggap, cacian, olok-olokan, dan tuduhan yang dialamatkan kepadanya oleh dua pengelola media tersebut tak berdasar dan hanya akan menimbulkan perpecahan. Pun tuduhan itu atas dasar kebencian personal. Karena itu, Si Petjoet, nama lain S. Goenawan menantang mereka untuk berdebat di muka umum.

Ajakan berdebat ia utarakan melalui koran Matahari, yang tak lain merupakan koran kaum merah, tempat S. Goenawan bernaung atau media yang dikelola oleh aktivis komunis di Bandung kala itu, kira-kira seabad lalu sebagai penyeimbang atas media-media penyokong pemerintah.

"Jangan dari belakang! Marilah kita berhadap-hadapan, setjara laki-laki baik siang maoepoen malam, mari lekas kita adakan sadja Openbare debat vergadering, oendanglah semoea poeblik Bandoeng boeat toeroet menjaksikan, biar tahoe siapakah di antaranja empat orang..."

"(Padmawiganda, Soendanees, Keok dan S. Goenawan) jang tidak bertoehan dan tida beragama Islam! Sebab ini ada mengenai perkara agama, baik kita adakan di masigit sama sekali! Toean Padma lekaslah djawab biar saja ada tempo membikin bulletin mengondang sekalian poeblik Bandoeng" (Matahari, tahun 1922).

Itulah ajakan S. Goenawan yang tayang di koran Matahari yang ditujukan kepada Padmawiganda untuk berdebat. Ajakan yang sama pun ia sampaikan kepada B. Daum. Namun, hingga kini tak ada keterangan yang menyatakan bahwa kedua pengelola media itu menerima/menolak debat terbuka.

Sebagian kisah itu tersaji di buku Bandung di Persimpangan Kiri Jalan karya Hafidz Azhar. Dengan apik, sang penulis menelusuri keberadaan pergerakan kaum komunis di Bandung sekitar tahun 1920-an melalui studi pustaka, terutama dari koran-koran yang terbit pada masa itu, baik koran bentukan pemerintah maupun koran yang dikelola oleh kaum merah sendiri.

Kaum merah adalah sebutan bagi aktivis komunis atau mereka yang pro terhadap Partai Komunis Indonesia. Selain kaum merah, mereka memiliki julukan lain, yakni Sarekat Islam (SI) merah dan Sarekat Rakyat. Di Bandung, komunitas ini cukup progresif dan kerap berpolemik dengan bupati Bandung Moeharam Wiranatakoesoemah V.

Akar polemik atau konflik bermacam-macam, mulai hal sepele hingga menyangkut ideologi. Ketika terjadi kelaparan di Rancaekek, misalnya kelompok kaum merah menuding orang-orang nasionalis dan sang bupati acuh tak acuh dan tak bertanggungjawab atas kejadian tersebut.

Tentang hal itu, kaum merah membuat laporan dan memuatnya di koran Sapoedjagat, yang juga berhaluan kiri. Berdasarkan hasil reportase mereka, kelaparan di Rancaekek mengakibatkan korban meninggal, bahkan lebih dari satu orang. Tentu hal ini membuat telinga bupati dan para pendukungnya 'merah'.

Tak lama, Wiranatakoeseomah melancarkan serangan balik terhadap kelompok merah. Uniknya, 'serangan' balasan itu tak mereka tunjukkan di ranah fisik, melainkan mereka utarakan di media yang mereka kelola: Obor, Kaoem Moeda, Preangerbode. Mereka menganggap laporan kaum merah sebagai penghinaan yang membuat polemik itu terus belangsung.

Saking tak senang terhadap pergerakan kaum merah, bahkan ketika ada salah satu warga yang meninggal, dan si mayit tak dibacakan tahlil, maka ia anggap komunis! Padahal, setelah ditelusuri ternyata warga yang meninggal tersebut adalah salah seorang jemaah Persatuan Islam (Persis), ormas Islam berpengaruh di Jawa Barat saat ini.

Saat itu, tak semua warga Bandung, barangkali tak memahami perbedaan ajaran Persis dan komunis. Padahal, seperti tertuang di  buku ini, jelas beda ajaran keduanya. Persis ingin mengembalikan ajaran Islam pada yang murni, artinya jauh dari bid'ah atau khurafat. Sementara komunis antituhan.

Masih banyak lagi cerita menarik tentang kehidupan kaum merah di buku ini. Ini penting dipelajari, terutama bagi mereka yang memiliki minat pada sejarah pergolakan kaum kiri di Bandung. Referensi yang digunakan penulis pun memadai dan patut diapresiasi, sebab tak banyak anak muda yang tekun mempelajari sepak terjang aktivis kiri.

Kendati buku ini merupakan kumpulan tulisan, isinya cukup memberikan gambaran dan informasi seputar pergerakan kaum merah alias komunis di Bandung. Sebab, aku penulisnya, sebagaimana terdapat di kata pengantar belum ada studi komprehensif mengenai aktivitas komunis di ibukota Jawa Barat ini.

Sebagaimana kumpulan tulisan, pembaca bisa membaca secara random. Tak harus dibaca dari awal sampai akhir. Asal setiap judul tulisan di buku ini dibaca tuntas, maka akan ditemukan benang merahnya, bahwa karya Hafidz, alumnus Magister Kajian Budaya ini membahas pergerakan kaum merah di Bandung.

Satu hal yang  mengganggu saat membaca buku ini, yaitu berhamburan typo. Juga terdapat beberapa penggunaan kata yang tak konsisten. Barangkali hal itu akan membuat bingung pembaca. Namun, hal itu tak membuat buku ini tak bermakna sama sekali. Justru, hadirnya buku ini menjadi pemantik untuk membuat karya lebih mendalam dari yang sudah ada.

Selamat membaca!

Editor: Dudung Ridwan

terbaru

Sejarah Paguyuban Pasudan, Wajah Sunda Boedi Oetomo

Baheula Jumat, 23 Juli 2021 | 19:40 WIB

Paguyuban Pasundan didirikan atas inisiatif para siswa Sunda STOVIA yang bertujuan menyejahterakan masyarakat Indonesia.

Bandung Baheula - Baheula, Sejarah Paguyuban Pasudan, Wajah Sunda Boedi Oetomo, Sejarah,Paguyuban Pasudan,Sunda,Pendidikan,Gerakan,Organisasi,Boedi Oetomo

Tugu Juang Siliwangi, Simbol Semangat Rakyat Bandung Selatan Melawan P...

Baheula Minggu, 18 Juli 2021 | 06:15 WIB

Tugu Juang Siliwangi ini diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat saat itu, Aang Kunefi dan Pangdam VI/Siliwangi Letnan Jendr...

Bandung Baheula - Baheula, Tugu Juang Siliwangi, Simbol Semangat Rakyat Bandung Selatan Melawan Penjajah, Tugu Juang Siliwangi,Simbol Semangat Rakyat,Bandung Selatan,Melawan Penjajah,Sejarah,Kabupaten Bandung

Taman Musik Centrum dan Tragedi Sabtu Kelabu AACC 2008

Baheula Kamis, 15 Juli 2021 | 16:40 WIB

Taman Musik Centrum dibuat untuk mengenang tragedi memilukan Sabtu Kelabu.

Bandung Baheula - Baheula, Taman Musik Centrum dan Tragedi Sabtu Kelabu AACC 2008, Taman Musik Centrum,Tragedi,Sabtu Kelabu,AACC,Kota Bandung

Sudah 2 Abad di Kota Bandung, Toko Herbal Babah Kuya Makin Laris sejak...

Baheula Rabu, 14 Juli 2021 | 21:50 WIB

Toko Babah Kuya telah menjual obat dan ramuan herbal sejak tahun 1838.

Bandung Baheula - Baheula, Sudah 2 Abad di Kota Bandung, Toko Herbal Babah Kuya Makin Laris sejak Pandemi, obat herbal,Kota Bandung,Obat tradisional,Bandung Raya,Ramuan Obat,Babah Kuya,Toko Herbal

4 Tugu Sister City yang Ikonik di Kota Bandung

Baheula Rabu, 14 Juli 2021 | 18:30 WIB

Sister City atau Kota Kembar adalah bentuk konsep kerjasama dua kota yang berbeda lokasi dan administrasi politik.

Bandung Baheula - Baheula, 4 Tugu Sister City yang Ikonik di Kota Bandung, Tugu Sister City,Ikonik,Kota Bandung,Tugu Lizhou,Tugu Braunscheweig,Tugu Forth Worth

Riwayat Panjang Melawan Penjajah dalam Monumen Perjuangan Rakyat Jawa...

Baheula Senin, 12 Juli 2021 | 16:00 WIB

Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat merupakan bukti sejarah perjuangan rakyat Jawa Barat mempertahankan kemerdekaan pad...

Bandung Baheula - Baheula, Riwayat Panjang Melawan Penjajah dalam Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat, Monumen Perjuangan Rakyat,Jawa Barat,Kota Bandung,Sejarah,Penjajah,Monju,Dipatiukur

Mengenang Kembali Sejarah Pertempuran Lengkong di Kota Bandung

Baheula Jumat, 9 Juli 2021 | 17:45 WIB

Pertempuran Lengkong berlangsung hingga malam hari, tepatnya pukul 21.00 tanggal 2 Desember 1945.

Bandung Baheula - Baheula, Mengenang Kembali Sejarah Pertempuran Lengkong di Kota Bandung, Sejarah,Pertempuran Lengkong,Kota Bandung,Monumen Pertempuran Lengkong

Sejarah Banceuy dari Kuburan, Penjara Sukarno, dan Pasar Onderdil

Baheula Rabu, 7 Juli 2021 | 11:55 WIB

Banceuy pernah disebut Jalan Kuburan Lama, menadi penjara untuk Sukarno, sampai sekarang jadi Pasar Onderdil.

Bandung Baheula - Baheula, Sejarah Banceuy dari Kuburan, Penjara Sukarno, dan Pasar Onderdil, Sejarah Banceuy,banceuy,Jalan Banceuy,Kuburan,penjara banceuy,Penjara Sukarno,Kota Bandung,Jalan Kuburan Lama
dewanpers
arrow-up