web analytics
  

Khawatir Kini Kina Tinggal Nama

Selasa, 2 Maret 2021 15:00 WIB Netizen Kuswandi Md
Netizen, Khawatir Kini Kina Tinggal Nama, Kina,Pohon,Bandung,Chincona,Chincon,Franz Wilhelm Junghuhn,Karl Justus Hasskarl

Taman Junghuhn Lembang (Kuswandi Md.)

Kuswandi Md

Kuswandi Md

Aki Kina

Asa rempan, Kina kiwari tinggal ngaranna

Kina, kiwari atuh kamana…

Bait-bait sisindiran itu dilantunkan oleh grup kesenian tradisional reog Perkebunan Batulawang PTP XIII, sekarang digabungkan dengan PT Perkebunan XI dan XII menjadi PT Perkebunan Nusantara VIII (PTPN VIII). Sisindiran sebagai ungkapan rasa kekhawatiran tersebut mempertanyakan keberadaan akina kina yang semula masih ada di Cinyiruan, Perkebunan Kertamanah PTPN VIII, kini sudah tiada. Pohon kina peninggalan tahun 1855 itu sudah sangat tua, keadaannya sudah dalam posisi bungkuk atau miring. Pantas bila pohon kina itu sudah kakek-kakek dan disebut “Akina Kina”.

Krisbiantoro, artis dan presenter tersohor saat itu, ketika berkunjung ke Kebun Cinyiruan tahun 1995, masih menemukan pohon kina tua yang semula lima pohon, tinggal satu pohon. Namun sayang, menurut penuturan wartawan senior Her Suganda dalam bukunya “Kisah Para Preanger Planters”, satu pohon kina tua itu sekarang sudah tidak ada.

“Parantos teu aya, dituar!” (Sudah tidak ada, ditebang!), tutur seorang petugas keamanan Pabrik Teh Pasir Junghuhn kepada Her Suganda sepulang kunjungan terakhirnya ke Cinyiruan tahun 2013.

Her Suganda adalah penulis dan wartawan senior yang menaruh perhatian terhadap sejarah perkebunan. Her kini sudah tiada, meninggal dunia tahun 2015. Deudeuh teuing, sungguh sayang, kina tua yang merupakan pohon langka yang seharusnya dilindungi, kisahnya berakhir menyedihkan.

Dari Peru ke Jayagiri dan Cinyiruan

Ditemukannya pohon kina sebagai penyembuh penyakit malaria dimulai dari kisah keluarga di Peru, bernama Chincon, yang menderita sakit panas. Karena merasa haus, dalam keadaan sakit dan suhu badan yang panas, ia merangkak ke sebuah danau untuk mengambil air minum. Tidak berapa lama setelah minum air danau yang rasanya pahit, ia merasa sembuh dari sakitnya.

Namun ia merasa penasaran mengapa air danau itu rasanya pahit. Ternyata ada sebatang pohon yang jatuh dan terendam air danau. Pohon itu kemudian disebut kina yang nama latinnya Chincona. Nama Chincona berasal dari Chinchon, penemu pohon tersebut.

Di Indonesia sekarang ditanam beberapa jenis pohon kina, di antaranya Chincona succirubra, Chincona calisaya, Chincona pahudiana, dan Chincona ledgeriana.

Sebelum Perang Dunia II, 90 persen kebutuhan kina dunia berasal dari Indonesia dan sebagian besar berasal dari tanah Parahyangan, Jawa Barat. Waktu itu kina sangat terkenal dan manjur untuk menyembuhkan penyakit malaria.

Lalu bagaimana kisah kedatangan tanaman kina dari Peru ke Indonesia dan sampai ke Jayagiri, Lembang dan Cinyiruan? Kisahnya berawal dari saat Karl Justus Hasskarl, seorang botanikus bangsa Belanda, yang datang ke Peru lalu membawa pohon kina untuk diteliti. Namun, karena sakit, ia tidak melanjutkan penelitiannya. Selanjutnya ditunjuklah Franz Wilhelm Junghuhn untuk menyelesaikan penelitiannya.

Franz Wilhelm Junghuhn lahir di Mansfeld, Prusia, pada tanggal 26 Oktober 1809. Ia sebenarnya seorang pencinta alam, tetapi dipaksa orang tuanya belajar di fakultas kedokteran di Halle dan Berlin, yang sebenarnya bertentangan dengan hasratnya sebagai pencinta alam. Dengan seragam wajib militer, Junghuhn meninggalkan negaranya menuju Afrika Selatan dan tiba di Batavia pada tahun 1835. Selama tiga belas tahun ia melampiaskan hasratnya menjelajahi hutan, danau, kawah, lembah, puncak gunung termasuk candi, patung serta flora dan fauna Indonesia.

Junghuhn juga mengunjungi Sumatera Utara. Di Pulau Jawa ia meneliti Gunung Merapi dan Merbabu. Di Jawa Barat ia meneliti Gunung Tangkubanparahu, Papandayan, Galunggung, Ciremai, Patuha, dan Kawah Putih. Pada tahun 1848 ia mengambil cuti ke Belanda; dan sekembalinya ke Jawa ia menyelesaikan penelitian kina yang dibawa oleh Hasskarl.

Pada tahun 1852 ia mulai melakukan penelitian kina di Indonesia. Di antara tempat penelitiannya adalah di Lembang, sekitar Jayagiri sekarang. Sejak tahun 1885, kina mulai ditanam di dataran tinggi Priangan, di antaranya di Pegunungan Malabar, selatan Bandung. Selanjutnya kina ditanam di lingkungan PTPN VIII. Selain di perkebunan khusus kina seperti di Cinyiruan, Kertamanah, Cikembang, Bukittunggul, kina juga ditanam berdampingan dengan perkebunan teh PTPN VIII.

Di antara perkebunan teh PTPN VIII yang berdampingan dengan perkebunan kina terdapat Perkebunan Pasir Junghuhn, sekarang bergabung dengan Perkebunan Purbasari. Nama Junghuhn diabadikan menjadi nama perkebunan kina dan Rumah Sakit Pasir Junghuhn. Dulu sisa-sisa pohon kina di Pasir Junghuhn masih terdapat di belakang bekas rumah dinas kepala rumah sakit, sekarang sudah tidak ada lagi. Demikian juga perkebunan khusus kina Cikembang sekarang bergabung dengan perkebunan Talun-Santosa, kebun kinanya sudah tidak ada, diganti dengan tanaman kopi.

Dulu, di jalan masuk emplasemen rumah adminstratur Perkebunan Kina Cikembang terdapat pohon-pohon kina yang waktu itu mendapat sebutan “Museum Kina”, beruntung sekarang masih ada. Pohon-pohon kina tersebut perlu dilindungi, sebagai monumen hidup sisa-sisa peninggalan sejarah pohon kina.

Demikian juga tanaman kina yang tersisa dan bangunan-bangunan maupun puing-puing bangunan di Perkebunan Kina Cinyiruan, Kertamanah, selatan Bandung dan Perkebunan Bukittunggul, utara Bandung perlu diselamatkan, untuk dapat diberdayakan sebagai objek wisata agro perkebunan kina.

Dengan demikian, tidak saja perkebunan teh yang dijadikan objek wisata agro perkebunan dengan program “Tea Tour”. Namun peninggalan sejarah kina juga bisa dijadikan objek wisata agro dengan program “Quinine Tour”. [*]

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Aris Abdulsalam

terbaru

Merenungi Hikmah Puasa Ramadan

Netizen Jumat, 16 April 2021 | 10:35 WIB

Puasa akan melahirkan rasa cinta, kasih sayang, dan kelembutan kepada orang miskin.

Netizen, Merenungi Hikmah Puasa Ramadan, Puasa,Ramadan,Salat Tarawih,Hikmah Puasa,Merenungi Hikmah Puasa,puasa ramadan

Mengubah Peringatan Waspada Menjadi Rencana Tindakan

Netizen Jumat, 16 April 2021 | 09:16 WIB

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Rabu, 14 April 2021 sudah mengingatkan kepada masyarakat untuk...

Netizen, Mengubah Peringatan Waspada Menjadi Rencana Tindakan, BMKG,Cuaca ekstrem,cekungan bandung,Bencana Alam

Mural Sebagai Media Pembelajaran Efektif dan Menyenangkan

Netizen Kamis, 15 April 2021 | 18:30 WIB

Mural sekolah memberikan suasana yang “segar” dan membuat suasana di sekolah menjadi tidak monoton.

Netizen, Mural Sebagai Media Pembelajaran Efektif dan Menyenangkan, Mural Sebagai Media Pembelajaran Efektif,Media Pembelajaran Efektif dan Menyenangkan,SDN Mustikajaya VII,Kota Bekasi,Mural,Pendidikan,Sekolah

Harga Gabah dan Beras di Tengah Polemik Impor

Netizen Kamis, 15 April 2021 | 17:50 WIB

Ada faktor lain yang menyebabkan turunnya harga komoditas padi di tahun 2020.

Netizen, Harga Gabah dan Beras di Tengah Polemik Impor, Polemik Impor,Beras,Petani,komoditas padi,Gabah kering panen (GKP),gabah kering giling (GKG),Jawa Barat,Badan Pusat Statistik (BPS)

Menyusun Kamus Belanda-Sunda

Netizen Rabu, 14 April 2021 | 10:05 WIB

Untuk penyusunan kamus Belanda-Sunda dapat dibilang Kartawinata adalah orang Sunda pertama yang berhasil menyusun dan me...

Netizen, Menyusun Kamus Belanda-Sunda, Kamus Belanda-Sunda,Hollandsch-Soendaasch Woordenboek,Raden Kartawinata,P. Blusse

Ruang Kelas Tanpa Batas untuk Vani Antika

Netizen Selasa, 13 April 2021 | 17:30 WIB

Layaknya kanvas bagi pelukis, dalam dunia per-makeup-an pun dikenal istilah muse.

Netizen, Ruang Kelas Tanpa Batas untuk Vani Antika, Makeup,Makeup Artist,MUA

Muktamar XIII Pemuda Persis, Semangat Baru Peradaban

Netizen Selasa, 13 April 2021 | 12:57 WIB

Tidak hanya tentang pergantian kepemimpinan, Muktamar ke-13 ini juga melahirkan berbagai produk perjuangan yang baru.

Netizen, Muktamar XIII Pemuda Persis, Semangat Baru Peradaban, Persis (Persatuan Islam),Muktamar XIII Pemuda Persis,Pimpinan Pusat Pemuda Persatuan Islam,Ibrahim Nasrulhaq al-Fahmi

Merawat Tradisi Munggahan, Meneguhkan Harmoni 'Sunda-Islam'

Netizen Senin, 12 April 2021 | 18:20 WIB

Suatu bangsa yang besar itu tidak akan melupakan tradisi, pun tidak lupa budaya sendirinya.

Netizen, Merawat Tradisi Munggahan, Meneguhkan Harmoni 'Sunda-Islam', Munggahan,Tradisi Munggahan,Munggahan Ramadan,Sunda,Islam

artikel terkait

dewanpers