web analytics
  

Urgensi Integrasi Data

Jumat, 26 Februari 2021 15:52 WIB Netizen Isti Larasati Widiastuty
Netizen, Urgensi Integrasi Data, PPKM,Integrasi data,BPS Jabar

Warga melintas didekat spanduk ajakan mematuhi protokol kesehatan di RW 05, Kelurahan Cihaurgeulis, Kecamatan Cibeunying Kaler, Kota Bandung, Jumat (26/2/2021). Pemerintah resmi memperpanjang kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) skala mikro mulai 23 Februari hingga 8 Maret 2021. Pemerintah mengklaim kebijakan ini cukup efektif ketimbang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Pemerintah juga mengklaim bahwa secara nasional, jumlah kasus aktif turun hingga -17,27% dalam sepekan. (Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)

Isti Larasati Widiastuty

Stastisi Madya BPS Jabar

AYOBANDUNG.COM--“Kita harus ngomong apa adanya, ini tidak efektif”. Kegundahan Presiden Joko Widodo atas progres Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) pada akhir Januari lalu. 

Walaupun sudah dua kali periode, PPKM belum mampu menekan laju konfirmasi kasus positif Covid-19. Di 17 Februari 2021, kasus positif telah melewati 1,2 juta orang. Kasus makin banyak, mobilitas masyarakat pun tak menunjukkan penurunan. 

Pemerintah Daerah sendiri, bukannya tak ada upaya. Berbagai gerakan dilakukan untuk menekan lonjakan kasus. Namun, dengan pandemi Covid-19 yang juga semakin menyebar, berbagai persoalan pun seolah semakin tidak ada habisnya.

Berbagai persoalan yang terkuak, seringkali bermuara pada satu hal, data.  Semua berujung pada permasalahan data yang dijadikan acuan. Ya, dalam pengambilan suatu kebijakan, seyogyanya semua bersandar pada data yang mutakhir, terpadu, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Integrasi Data

Terbitnya Perpres Nomor 39 Tahun 2019 tentang Satu Data Indonesia, membawa angin segar bagi upaya penanganan kekisruhan data selama ini. Satu Data Indonesia adalah kebijakan tata kelola data pemerintah untuk menghasilkan data yang akurat, mutakhir, terpadu, dan dapat dipertanggungjawabkan. 

Data yang dihasilkan mudah diakses dan dibagi pakaikan antar instansi pusat dan instansi daerah. Data yang dihimpun telah melalui pemenuhan standar data, metadata, interoperabilitas data, menggunakan kode referensi dan data induk.

Upaya mewujudkan satu data Indonesia ini tengah diperjuangkan oleh pemerintah. Hal krusial untuk mewujudkannya adalah adanya kolaborasi antarpihak. Menurut KBBI, kolaborasi adalah suatu perbuatan kerjasama. Maka roh kolaborasi adalah semangat gotong royong, bukan kompetisi.  Lalu, kaitannya dengan data?

Tengoklah keberhasilan kolaborasi antarlembaga pemerintah dalam menyukseskan Sensus Penduduk 2020 (SP2020). Pertama kali dalam sejarah perjalanan sensus di Indonesia, kolaborasi data dilakukan.

Pertama kalinya, dalam SP2020 Badan Pusat Statistik selaku lembaga yang diamanahi melaksanakan sensus penduduk berkolaborasi dengan Ditjen Adminduk Kementerian Dalam Negeri. Pada SP2020 BPS memanfaatkan data administrasi kependudukan sebagai data dasar pelaksanaan sensus. Yang dilakukan BPS dikenal dengan istilah metode kombinasi.

Hasil kolaborasi tersebut telah dirilis pada 21 Januari 2021. Data hasil SP2020 September sebanyak 270,20 juta jiwa. Adapun data adminduk posisi Desember 2020 sebanyak 271,35 juta jiwa.  Acara rilis Bersama BPS dengan Ditjen Adminduk Kemendagri idealnya memberi tambahan semangat berbagai pihak dalam mewujudkan Satu Data Indonesia.

Lalu, apa yang bisa diadaptasi bagi penanganan data Covid-19? Urgen dilakukan kolaborasi dan integrasi dalam memproduksi dan memanfaatkan data. 

Bukannya tidak ada upaya yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan data ini. Pemerintah telah berupaya mempermudah pelaporan data dengan membangun sistem. Namun, seringkali yang terjadi adalah terlalu banyaknya sistem aplikasi yang dibangun. Para stakeholders membangun sistemnya sendiri, sesuai kebutuhannya sendiri. Dampaknya di level daerah, terlalu banyak sistem pelaporan dan banyak yang harus dikerjakan. Belum lagi, penanganan kesehatan lainnya juga butuh perhatian. 

Lagi-lagi, kendala keterbatasan SDM menjadi dalih keterlambatan pelaporan. Tidak hanya kuantitas SDM, skill pun seringkali jadi kendala. Belum lagi, tidak semua wilayah memiliki infrastruktur yang mumpuni sebagaimana halnya pemerintah pusat. Kapasitas dan kapabilitas sering dikeluhkan. Walaupun, saat ini  penguasaan teknologi informasi merupakan suatu keniscayaan. 

Oleh karena itu, sudah saatnya memperkuat kolaborasi data Covid-19. Pemerintah Pusat memiliki aplikasi sendiri. Pemerintah Provinsi punya aplikasi sendiri. Pun demikian dengan Pemerintah Kabupaten/Kota. Saatnya melakukan integrasi data.

Integrasi data Covid-19 adalah suatu keniscayaan. Inovasi wajib dilakukan. Rasanya kebutuhan ini sudah mendesak. Bangun sistem utama pelaporan data. Manfaatkan sistem yang sudah ada, perkuat. Sebagai best practices, beberapa sistem aplikasi terintegrasi yang dibangun pemerintah daerah bisa dilirik. 

Selain kuatnya sistem yang dibangun, yang penting adalah melakukan identifikasi data prioritas. Lalu sepakati referensi waktu pelaporan. Hingga tidak ada lagi perbedaan rilis data antara pemerintah pusat dan daerah.  Ini juga seringkali menjadi masalah.

Semua pihak perlu memiliki semangat yang sama. Semangat untuk memperkuat kolaborasi, melakukan integrasi  menuju satu data. Tentunya, yang perlu diperhatikan dalam integrasi data adalah tentukan prioritas data. Kemudian standar dan metadata prioritas tersebut harus jelas. Wajib dipedomani semua pihak yang berkolaborasi, utamanya produsen data. Yang tidak kalah penting adalah memperkuat verifikasi dan validasi data. Disini, peran pengampu data memegang peran penting. Integrasi antarlembaga perlu diperkuat.

Urgensi integrasi data penanganan Covid-19 di Indonesia suatu keniscayaan. Hal krusial yang perlu segera dilakukan. Tidak hanya kewajiban pemerintah atau pihak terkait penanganan Covid-19 saja. Dalam hal ini, pelibatan masyarakat memegang peranan penting. 

Partisipasi aktif masyarakat untuk turut serta dalam penanganan Covid-19 di Indonesia harus digiatkan. Setidaknya yang bisa kita sama-sama lakukan adalah memperkuat protokol kesehatan. Walaupun hasil Survei Perilaku Masyarakat di Masa Pandemi Covid-19 (BPS) pada  September 2020 lalu menunjukkan hasil yang baik. Namun seiring bertambahnya kasus konfirmasi positif Covid-19 di Indonesia, tingkat kepatuhan harus ditingkatkan. 

Covid-19 semakin memperluas penyebaran kasusnya di Indonesia. Penanganan Covid-19, kolaborasi wajib! Penguatan data Covid-19, integrasi data urgen! Lawan Covid-19 di Indonesia, lakukan integrasi, patuhi protokol kesehatan, siap vaksinasi!

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Adi Ginanjar Maulana

terbaru

Daftar Terbaru Badan / Lembaga Penerima Zakat yang Diakui Ditjen Pajak

Netizen Senin, 19 April 2021 | 19:02 WIB

Direktorat Jenderal Pajak telah menetapkan Badan/Lembaga sebagai penerima zakat atau sumbangan keagamaan yang sifatnya w...

Netizen, Daftar Terbaru Badan / Lembaga Penerima Zakat yang Diakui Ditjen Pajak, Ditjen Pajak,Lembaga Penerima Zakat,Badan Penerima Zakat,Penitipan Zakat

Menakar Geliat Ekonomi di Bulan Ramadan 2021

Netizen Senin, 19 April 2021 | 11:32 WIB

Pandemi Covid-19 sudah setahun lebih membayang banyangi kehidupan kita

Netizen, Menakar Geliat Ekonomi di Bulan Ramadan 2021, Ekonomi,COVID-19,BPS

Bapak Ideologi Muhammadiyah Itu Menjadikan Puasa sebagai 'Kanopi Diri'

Netizen Minggu, 18 April 2021 | 19:10 WIB

Prof. Dr. K.H. Haedar Nashir, M.Si., Ketua Umum PP. Muhammadiyah, adalah kader otentik Muhammadiyah yang tidak ada irisa...

Netizen, Bapak Ideologi Muhammadiyah Itu Menjadikan Puasa sebagai 'Kanopi Diri', Prof. Dr. K.H. Haedar Nashir, M.Si.,Bapak Ideologi Muhammadiyah,Muhammadiyah

Merenungi Hikmah Puasa Ramadan

Netizen Jumat, 16 April 2021 | 10:35 WIB

Puasa akan melahirkan rasa cinta, kasih sayang, dan kelembutan kepada orang miskin.

Netizen, Merenungi Hikmah Puasa Ramadan, Puasa,Ramadan,Salat Tarawih,Hikmah Puasa,Merenungi Hikmah Puasa,puasa ramadan

Mengubah Peringatan Waspada Menjadi Rencana Tindakan

Netizen Jumat, 16 April 2021 | 09:16 WIB

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Rabu, 14 April 2021 sudah mengingatkan kepada masyarakat untuk...

Netizen, Mengubah Peringatan Waspada Menjadi Rencana Tindakan, BMKG,Cuaca ekstrem,cekungan bandung,Bencana Alam

Mural Sebagai Media Pembelajaran Efektif dan Menyenangkan

Netizen Kamis, 15 April 2021 | 18:30 WIB

Mural sekolah memberikan suasana yang “segar” dan membuat suasana di sekolah menjadi tidak monoton.

Netizen, Mural Sebagai Media Pembelajaran Efektif dan Menyenangkan, Mural Sebagai Media Pembelajaran Efektif,Media Pembelajaran Efektif dan Menyenangkan,SDN Mustikajaya VII,Kota Bekasi,Mural,Pendidikan,Sekolah

Harga Gabah dan Beras di Tengah Polemik Impor

Netizen Kamis, 15 April 2021 | 17:50 WIB

Ada faktor lain yang menyebabkan turunnya harga komoditas padi di tahun 2020.

Netizen, Harga Gabah dan Beras di Tengah Polemik Impor, Polemik Impor,Beras,Petani,komoditas padi,Gabah kering panen (GKP),gabah kering giling (GKG),Jawa Barat,Badan Pusat Statistik (BPS)

Menyusun Kamus Belanda-Sunda

Netizen Rabu, 14 April 2021 | 10:05 WIB

Untuk penyusunan kamus Belanda-Sunda dapat dibilang Kartawinata adalah orang Sunda pertama yang berhasil menyusun dan me...

Netizen, Menyusun Kamus Belanda-Sunda, Kamus Belanda-Sunda,Hollandsch-Soendaasch Woordenboek,Raden Kartawinata,P. Blusse

artikel terkait

dewanpers