web analytics
  

Malaysia Pulangkan Warga Myanmar saat Kudeta Militer, EU dan AS Kecewa

Jumat, 26 Februari 2021 11:25 WIB
Umum - Internasional, Malaysia Pulangkan Warga Myanmar saat Kudeta Militer, EU dan AS Kecewa, Myanmar,Kudeta Militer,Malayasia,Uni Eropa (UE),Amerika Serikat

Ilustrasi orang-orang Chin, dari Myamar. (Wikimmedia Commons (CC)/Corto Maltese 1999)

KUALA LUMPUR, AYOBANDUNG.COM — Uni Eropa (EU) bergabung dengan Amerika Serikat (AS) menyatakan prihatin atas deportasi massal yang dilakukan Malaysia terhadap warga negara Myanmar. Deportasi dilakukan di tengah kudeta militer di Myanmar

EU mengaku sangat menyesal dengan langkah otoritas Malaysia untuk melanjutkan deportasi meskipun ada perintah pengadilan. Mereka juga prihatin dengan penggunaan kapal angkatan laut Myanmar

"Kami berharap pihak berwenang Malaysia menghormati keputusan pengadilan Malaysia, dan kami menekankan pentingnya menghormati hukum internasional dan prinsip non refoulement," kata juru bicara Uni Eropa kepada Reuters, Kamis.

Non refoulement adalah asas larangan suatu negara untuk menolak atau mengusir pengungsi ke negara asalnya atau ke suatu wilayah lokasi pengungsi tersebut akan berhadapan dengan hal-hal yang dapat mengancam serta membahayakan kehidupan maupun kebebasannya karena alasan ras, agama, kebangsaan, atau karena opini politiknya. Blok tersebut mengatakan sebelumnya telah mendesak Malaysia untuk membatalkan rencana tersebut.

Malaysia pada Selasa (23/2/2021) mengirim 1.086 warga Myanmar kembali pulang dengan ke tiga kapal angkatan laut yang dikirim oleh Myanmar. Kelompok hak asasi menilai langkah itu dapat membahayakan nyawa orang yang dideportasi.

Para aktivis mengatakan pencari suaka yang akan dideportasi, termasuk dari Chin, Kachin, dan orang-orang yang datang ke Malaysia untuk melarikan diri dari konflik dan penganiayaan di negara asalnya. Malaysia mengatakan tidak mengirim kembali pencari suaka atau pengungsi Rohingya.

Sebelumnya, AS meminta negara-negara di kawasan Asia Tenggara untuk menunda pemulangan apapun sehubungan dengan kudeta militer 1 Februari di Myanmar. Demikian disampaikan juru bicara Departemen Luar Negeri Ned Price pada Rabu (24/2/2021).

AS dan sejumlah negara Barat telah berusaha menghalangi Malaysia untuk melanjutkan deportasi dan mendesak pemerintah untuk mengizinkan badan pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk mewawancarai para tahanan.

"Mereka juga mengatakan Malaysia melegitimasi pemerintah militer Myanmar dengan bekerja sama dengan junta," kata sumber tersebut.

Beberapa anggota parlemen oposisi Malaysia pada Rabu mengatakan pembangkangan pemerintah terhadap perintah pengadilan bisa berarti penghinaan terhadap pengadilan. [*]

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Republika.co.id.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

Editor: Aris Abdulsalam

terbaru

Selundupkan Narkoba ke Lapas, Kucing Ini Ditangkap Polisi

Internasional Senin, 19 April 2021 | 15:03 WIB

Seekor kucing putih ditangkap kepolisian Panama. Kucing tersebut diamankan setelah mencoba menyeludupkan narkoba ke dala...

Umum - Internasional, Selundupkan Narkoba ke Lapas, Kucing Ini Ditangkap Polisi, narkoba,kucing selundupkan narkoba,kucing pengedar narkoba,kucing selundupkan narkoba ke lapas

India Alami Krisis Covid-19, RS Penuh Hingga Oksigen Langka

Internasional Senin, 19 April 2021 | 11:25 WIB

Kementerian Kesehatan India mengatakan akan ada lebih banyak tempat tidur di rumah sakit yang diprioritaskan bagi pasien...

Umum - Internasional, India Alami Krisis Covid-19, RS Penuh Hingga Oksigen Langka, covid-19,covid-19 india,india krisis Covid-19,India

11 Orang Tewas Akibat Kereta Anjlok di Mesir

Internasional Senin, 19 April 2021 | 08:40 WIB

Kereta yang melintas di desa Sandahour, Provinsi Qalyubiya, Mesir, anjlok pada Ahad, 18 April 2021. Akibatnya 11 orang d...

Umum - Internasional, 11 Orang Tewas Akibat Kereta Anjlok di Mesir, Kereta anjlok Mesir,Kereta Anjlok,Kecelakaan Kereta,kecelakaan kereta di mesir

Kematian Covid-19 Global Tembus 3 Juta Jiwa

Internasional Minggu, 18 April 2021 | 07:30 WIB

Amerika Serikat (AS) menempati posisi pertama sebagai negara yang mencatatkan kematian terbanyak, yakni mencapai 566.863...

Umum - Internasional, Kematian Covid-19 Global Tembus 3 Juta Jiwa, Kematian Covid-19,Angka kematian Covid-19,Jumlah kematian Covid-19,kematian Covid-19 dunia,COVID-19

Kerajaan Inggris Gelar Prosesi Pemakaman Pangeran Philip

Internasional Minggu, 18 April 2021 | 06:00 WIB

Ratu duduk terpisah dari anggota keluarga pada upacara sederhana namun suram di Kastil Windsor, sesuai dengan aturan jar...

Umum - Internasional, Kerajaan Inggris Gelar Prosesi Pemakaman Pangeran Philip, Pangeran Philip meninggal,Pangeran Philip dimakamkan,Ratu Elizabeth II,Kerajaan Inggris

Syekh Yusuf Al-Qardhawi Positif Covid-19

Internasional Sabtu, 17 April 2021 | 21:48 WIB

Ulama kenamaan Syekh Yusuf al-Qardhawi dikabarkan terpapar Covid-19. Lewat jejaring sosial twitter resmi. Pendiri Persat...

Umum - Internasional, Syekh Yusuf Al-Qardhawi Positif Covid-19, Yusuf Alqardhawi,Yusuf Alqardhawi positif covid,COVID-19,corona

Proses Pemakaman Pangeran Philip Tertutup dan Terapkan Prokes

Internasional Sabtu, 17 April 2021 | 14:16 WIB

Ratu Elizabeth II akan mengucapkan selamat tinggal terakhir kepada suaminya, Pangeran Philip, pada upacara pemakaman pad...

Umum - Internasional, Proses Pemakaman Pangeran Philip Tertutup dan Terapkan Prokes, Pangeran Philip,Pemakaman Pangeran Philip,Upacara Pemakaman Pangeran Philip,Pangeran Philip dimakamkan

Picu Kontroversi, Ilmuwan Kembangka Sel Manusia dalam Embrio Monyet 

Internasional Sabtu, 17 April 2021 | 08:07 WIB

Mereka mengembangkan embrio monyet yang mengandung sel manusia di laboratorium. 

Umum - Internasional, Picu Kontroversi, Ilmuwan Kembangka Sel Manusia dalam Embrio Monyet , embrio,manusia,monyet,Penelitian

artikel terkait

dewanpers