web analytics
  

Nasib Muslim Rohingya Semakin Mencekam Setelah Kudeta Myanmar

Selasa, 23 Februari 2021 15:25 WIB
Umum - Internasional, Nasib Muslim Rohingya Semakin Mencekam Setelah Kudeta Myanmar, Muslim Rohingya,Kudeta Militer Myanmar

Orang-orang Rohingya di Rakhine. (Wikimmedia Commons/Foreign and Commonwealth Office)

NAYPYIDAW, AYOBANDUNG.COM — Kudeta Militer terhadap pemerintahan demokratis di Myanmar sejatinya bukanlah kabar yang ingin didengar oleh Muslim Rohingya.

Kekhawatiran pun meningkat atas nasib Muslim Rohingya setelah kudeta militer pada 1 Februari 2021 itu. Para pengungsi cemas jika akan dipaksa dikembalikan ke Myanmar dan merasakan penganiayaan lebih lanjut.

"Jenderal Min Aung Hlaing mengatakan membersihkan desa Rohingya adalah urusan yang belum selesai dari Perang Dunia Kedua. Jadi kami khawatir jika kami kembali ke Myanmar akhirnya dia akan menyelesaikan masalah ini," kata seorang pengungsi Rohingya dan salah satu pendiri dari Koalisi Bebas Rohingya, Ro Nay San Lwin, dilansir dari The New Arab, Senin (22/2).

"Kami sudah tahu bagaimana kami akan menderita jika kami kembali. Kami sudah tinggal di penjara terbuka, kami tidak diakui sebagai warga negara, kami tidak dapat bepergian, kami tidak dapat bekerja untuk mata pencaharian kami, kami memiliki akses terbatas ke perawatan kesehatan. Mereka ingin kami kembali sehingga kami dapat bekerja di pabrik yang dibangun oleh China dan investor lain — itu akan seperti Auschwitz," ujar salah satu anggota Rohingya itu. 

Rohingya adalah kelompok minoritas Muslim yang telah dianiaya di bawah pemerintahan militer yang brutal di Myanmar sejak tentara mengambil alih kekuasaan pada 1962. Sekjen PBB Antonio Guterres bahkan menggambarkan etnis itu sebagai salah satu dari orang yang paling terdiskriminasi di dunia.

Myanmar memiliki sekitar 140 kelompok etnis yang tinggal di dalam perbatasannya, hasil dari pemerintahan Inggris, yang baru berakhir pada 1948 dan masih memiliki konsekuensi hingga hari ini. 

"Salah satu hal yang dapat dicapai oleh pemerintah demokratis adalah membuka negosiasi damai dengan mayoritas kelompok itu. Kudeta mungkin memicu kebangkitan kembali konflik ini karena pembicaraan damai masih belum selesai," ujarnya.

Amnesty International melaporkan militer memerkosa dan melecehkan wanita dan gadis Rohingya. Médecins Sans Frontières melaporkan sekitar 6.700 orang dewasa dan setidaknya 730 anak-anak terbunuh selama periode ini.

Karena alasan ini, lebih dari 700 ribu orang Rohingya terpaksa melarikan diri ke negara tetangga Bangladesh demi keselamatan, menetap di kamp Kutupalong di Cox's Bazaar-kamp pengungsi terbesar di dunia. Untuk saat ini, upaya yang didukung PBB untuk memulangkan pengungsi Rohingya kembali ke Myanmar telah terhenti dengan kelompok-kelompok hak asasi yang memperingatkan bahaya yang meningkat bagi mereka.

"Suatu kondisi yang diperlukan untuk pemulangan yang aman dan sukarela telah meminta pertanggungjawaban militer," kata Presiden organisasi hak asasi manusia internasional Pusat Keadilan Global, Akila Radhakrishnan. 

"Jenderal Senior Min Aung Hlaing, salah satu arsitek utama genosida terhadap Rohingya, sekarang berkuasa. Jadi, saya pikir, sangat sulit membayangkan bagaimana bisa ada pemulangan yang aman ke Myanmar. Risiko kekejaman pasti meningkat," katanya.

PBB sudah menyebut serangan 2017 terhadap Rohingya sebagai genosida. Tetapi, Radhakrishnan yakin, pemerintahan militer perlu dihentikan dengan cara sanksi.

Ro Nay San Lwin mengarahkan upaya Koalisi Bebas Rohingya dan Kampanye Boikot Myanmar untuk menggalang negara-negara di seluruh dunia untuk tidak hanya mengecam kudeta, tetapi juga untuk menuntut pengakuan atas penderitaan yang tidak dapat diatasi. 

Kekhawatiran lainnya adalah pembicaraan repatriasi ini dipelopori oleh China yang dituduh melakukan genosida di wilayahnya sendiri karena penganiayaan terhadap warga Uighur di Xinjiang. China juga telah menghentikan upaya Dewan Keamanan PBB untuk mengecam kudeta militer di Myanmar, sehingga penderitaan Rohingya berada di tangan kekuatan politik regional dan global. 

"Tanpa China, militer tidak akan melakukan kudeta. Kami menginginkan hak kewarganegaraan dan hak kembali ke desa kami dengan perlindungan yang ditegaskan, terutama oleh komunitas internasional. Tanpa ini kami kembali dalam bahaya karena siklus kekerasan telah terjadi. Berulang kali melawan Rohingya," kata Ro Nay San Lwin. [*]

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Republika.co.id.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

Editor: Aris Abdulsalam

terbaru

Arab Saudi Putuskan Kuota Haji 2021 Hanya 60.000 Jamaah

Internasional Sabtu, 12 Juni 2021 | 20:09 WIB

Arab Saudi Putuskan Kuota Haji 2021 Hanya untuk 60.000 Jamaah

Umum - Internasional, Arab Saudi Putuskan Kuota Haji 2021 Hanya 60.000 Jamaah, Kuota Haji 2021,haji,Arab Saudi

El Salvador Resmikan Bitcoin sebagai Alat Pembayaran Sah, Ini Kumpulan...

Internasional Jumat, 11 Juni 2021 | 14:45 WIB

Keputusan El Salvador resmikan bitcoin sebagai alat pembayaran sah menimbulkan banyak kekaguman sekaligus pertanyaan.

Umum - Internasional, El Salvador Resmikan Bitcoin sebagai Alat Pembayaran Sah, Ini Kumpulan Faktanya, El Salvador,Bitcoin,Alat Pembayaran Sah,Mata Uang

Moderna Ajukan Penggunaan Vaksin Covid-19 Anak, Berapa Batas Usianya?

Internasional Jumat, 11 Juni 2021 | 13:40 WIB

Para ahli mengatakan anak-anak harus tetap mendapatkan vaksin ketika mereka bisa. Vaksin Covid-19 Moderna saat ini diizi...

Umum - Internasional, Moderna Ajukan Penggunaan Vaksin Covid-19 Anak, Berapa Batas Usianya?, vaksin covid-19 anak,Penggunaan Vaksin Covid-19 Anak,Batas usia Vaksin Covid-19 Anak,Moderna,vaksin Covid-19 untuk anak,syarat vaksin Covid-19 anak,aturan vaksinasi covid-19 anak,Vaksin Covid-19 Moderna

Permainkan Harga Uang Kripto, Elon Musk Diancam Anonymous

Internasional Rabu, 9 Juni 2021 | 23:39 WIB

CEO Tesla Elon Musk dilaporkan telah menjadi sasaran kelompok hacker Anonymous. Hal ini disebabkan lantaran cuitannya me...

Umum - Internasional, Permainkan Harga Uang Kripto, Elon Musk Diancam Anonymous, Elon Musk,Tesla,Anonymous,hacker Anonymous,Mata uang kripto

Badak Putih Utara Punah Secara Fungsional? Begini Penjelasan Ilmiahnya

Internasional Rabu, 9 Juni 2021 | 16:25 WIB

Isu punahnya Badak Putih Utara, baru-baru ini viral di media sosial.

Umum - Internasional, Badak Putih Utara Punah Secara Fungsional? Begini Penjelasan Ilmiahnya, Badak Putih Utara,Badak Putih Utara Punah Secara Fungsional,Badak Putih Utara Punah,Punah Secara Fungsional

Pandemi Covid, Karbon Dioksida di Atmosfer Tetap Tinggi

Internasional Selasa, 8 Juni 2021 | 22:52 WIB

Jumlah karbon dioksida di atmosfer pada Mei lalu dilaporkan mencapai tingkat tertinggi. Hal ini menunjukkan bahwa pandem...

Umum - Internasional, Pandemi Covid, Karbon Dioksida di Atmosfer Tetap Tinggi, Karbon Dioksida,Karbondioksida Atmosfer,Karbon Dioksida di Atmosfer,emisi CO2

Karyawan Apple Tolak Kembali Bekerja di Kantor

Internasional Selasa, 8 Juni 2021 | 22:23 WIB

Karyawan Apple menolak rencana untuk kembali bekerja di kantor. Mereka telah meluncurkan kampanye untuk melawan rencana...

Umum - Internasional, Karyawan Apple Tolak Kembali Bekerja di Kantor, apple,Karyawan Apple,Bekerja di Kantor,Google,facebook

WHO Enggan Paksa Cina Bocorkan Data Asal Usul Covid-19, Kenapa?

Internasional Selasa, 8 Juni 2021 | 11:19 WIB

Anggota tim WHO awal tahun ini mengunjungi China untuk mencari asal-usul Covid-19. Usai kunjungan ke China mereka mengat...

Umum - Internasional, WHO Enggan Paksa Cina Bocorkan Data Asal Usul Covid-19, Kenapa?, Asal Usul Covid-19,Pengungkapan Asal Usul Covid-19,Data Asal Usul Covid-19,Bocorkan Data Asal Usul Covid-19,Data Covid-19,COVID-19,WHO,Penyelidikan Asal Usul Covid-19
dewanpers