web analytics
  

Mengapa Orang India Sukses di Negara Lain?

Senin, 22 Februari 2021 15:08 WIB Netizen Sjarifuddin Hamid
Netizen, Mengapa Orang India Sukses di Negara Lain?, India,sukses,ekonomi

Ilustrasi kesuksesan (Pixabay)

Sjarifuddin Hamid

Lulusan Jurusan Hubungan Internasional, FISIP-UI. Pernah bekerja pada beberapa surat kabar nasional.

AYOBANDUNG.COM--Cerita ini terinspirasi dari pertanyaan, mengapa orang India mampu menduduki posisi-posisi penting di perbankan,  lembaga keuangan,  perusahaan-perusahaan dan lembaga-lembaga internasional? Mengapa mereka juga begitu mumpuni di ilmu keuangan-perbankan dan  science?

Beberapa belas tahun lalu pada sebuah acara di Hotel Mandarin, Jakarta saya berkenalan dengan suami istri asal India. Suaminya menjabat kepala perwakilan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Indonesia.

Saya sempat menanyakan pertanyaan di atas kepada istri pejabat tersebut. Jawabnya, ibu-ibu di India sangat berperan membantu mengembangkan intelektualitas dan pendidikan anak. 

Mereka mendampingi anak belajar tidak hanya membahas mata pelajaran yang didapat di sekolah pada  siang harinya, tetapi juga memberi penjelasan tentang mata pelajaran yang akan disampaikan guru  pada esok hari. Inilah yang membuat pelajar-pelajar India unggul, katanya.

Terkait keunggulan itu, secara kebetulan saya pernah menumpang  bis kota yang melewati Parramatta Road, dekat Universitas Sydney,  Sydney, Australia. Beberapa mahasiswa masuk bis, salah seorang diantaranya berwajah khas India.    

Kontan mata terpaku kepada buku setebal roti tawar yang dibawanya. Judulnya... Nuclear  Physics alias Fisika Nuklir. Luar biasa!

Ada fenomena sepertinya para intelektual India ini suka dengan ilmu yang sulit, seperti matematika, fisika, teknologi informasi komputer, keuangan, perbankan dan lainnya. Maka tersebutlah Sundar Pichar yang sekarang menjadi CEO Google . Lalu, CEO Microsoft Satya Nadella bahkan Menteri Keuangan Kerajaan Inggris Rishi Sunak yang berlatar belakang  keuangan-perbankan.

Akhir-akhir muncul nama Dr.Swati Mohan. Ia memainkan peran sentral dalam pendaratan Perseverance di Mars pada 18 Februari 2021. Mohan sebelumnya terlibat dalam pengiriman wahana angkasa Cassini ke planet Saturnus.

Ada pula kabar tentang Anika Chebrolu, blasteran India-Amerika, berusia 14 tahun yang menemukan terapi virus Corona. Metodenya, menemukan molekul yang secara selektif dapat mengikat protein spike dari virus corona.

Ia terpilih sebagai pemenang dalam kontes Ilmuwan Muda yang diselenggarakan perusahaan 3M setahun lalu. 

Menurut data setidaknya terdapat hampir empat juta expatriate di AS Mereka bekerja di berbagai bidang, mulai ritel, teknologi informasi hingga teknologi melanglang ke ruang angkasa.   

Keberhasilan orang India di AS ini juga berkat keterbukaan Amerika Serikat terhadap perantau dari seluruh dunia, terutama mereka yang memiliki keahlian. Tentu kita masih ingat bagaimana almarhum BJ Habibie sangat dihormati di Jerman khususnya, dan Eropa pada umumnya. 

Almarhum hebat dalam industri penerbangan dan kedirgantaraan. Dewan Eksekutif Lembaga Penerbangan Sipil Internasional (International Civil Aviation Organization/ICAO) menganugerahi penghargaan "Edwar Warner Award" kepada Habibie pada 1994. 

Dua tahun sebelumnya,  ICAS. Dewan Internasional Ilmu Aeronautika atau International Council of the Aeronautical Sciences (ICAS) memberikan penghargaan "Theodore Von Karman Award"1992. 

Sayang kehebatan dan jasanya  mulai dilupakan. Padahal BJ Habibie layak menjadi inspirator bangsa.

Banyak Faktor Penentu

Bila Mohan pindah ke Amerika Serikat ketika berusia setahun, eksekutif India lainnya merantau setelah selesai S-1 di negaranya. Mereka kemudian melanjutkan pendidikan hingga jenjang S-2 atau S-3 alias Doktor.

Manggi Taruna Habir yang mendapat pendidikan di Universitas Michigan dan Universitas Harvard menyebut  lembaga pendidikan di India berkualitas tinggi. Bahasa Inggris, bagi kalangan tertentu, sudah menjadi bahasa sehari-hari. Oleh sebab itu ketika pindah ke Amerika Serikat atau Inggris, mereka tak banyak menemui kesulitan.

Mereka sudah mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Memahami cara berpikir dan mengetahui budaya Barat. Secara pribadi, orang-orang India itu juga berdaya juang tinggi untuk bersaing. Kebetulan masyarakat di negara-negara Barat bersifat terbuka apalagi bagi para pendatang yang potensial, lanjutnya. 

Alhasil lantaran bisa berbahasa Inggris. Berotak encer. Mampu menyesuaikan diri dengan kultur Barat, maka generasi  muda India seperti Mohan mudah melalap ilmu-ilmu yang ‘aneh’ seperti   mechanical and aerospace engineering di Universitas Cornell dan MIT. 

Sebetulnya kehebatan orang India tak hanya di bidang science, ekonomi-perbankan tetapi juga masyhur di bidang kesusastraan. Ahmed Salman Rushdie,  kelahiran Bombay tahun 1947, menggemparkan dunia dengan karya Satanic Verses atau Ayat-ayat Setan. Ada lagi Rabindranath Tagore, pemenang hadiah Nobel untuk kesusasteraan pada tahun 1913.

 Menurut data Kementerian Seberang Lautan India pada  tahun 2017, jumlah perantau India di luar negeri mencapai hampir 25 juta jiwa.  Terbanyak tinggal di Mauritius, Trinidad-Tobago, Guyana, Fiji dan Uni Emirates Arab.

 Di AS setidaknya terdapat hampir empat juta dengan rata-rata pendapatan US$100.000 setahun. Jumlah yang cukup besar sebab rata-rata memiliki gelar kesarjanaan, beda dengan yang tinggal di Mauritius cs.

Jumlah remitansi ke 35 juta perantau India ke negaranya mencapai US$63,258 miliar sedangkan yang dikirim ke luar India sejumlah US$ 5,710 miliar.

Keberhasilan orang-orang India di rantau terjadi berkat daya juang pribadi yang bersangkutan, dukungan keluarga dan faktor budaya serta bahasa. Mereka jarang kembali ke negaranya karena mampu melakukan penyesuaian diri, sedangkan orang China lebih suka pulang sebab faktor bahasa dan budaya.

Apakah perantau India tak punya nasionalisme? Kalau ukurannya didasarkan kepada besaran perhatian ke dalam negeri, maka orang India jelas masih punya rasa nasionalisme.  

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Redaksi AyoBandung.Com

terbaru

Acara Hiburan di Situ Aksan Tahun 1950-an dalam Iklan Koran

Netizen Jumat, 26 Februari 2021 | 09:29 WIB

Acara Hiburan di Situ Aksan Tahun 1950-an dalam Iklan Koran

Netizen, Acara Hiburan di Situ Aksan Tahun 1950-an dalam Iklan Koran, Situ Aksan,Sejarah Situ Aksan,Sin Ming,Iklan Situ Aksan,Sin Ming Hui Bandung

Penerjemah Sunda Pertama

Netizen Kamis, 25 Februari 2021 | 10:00 WIB

Raden Kartawinata menduduki posisi yang sebelumnya tidak ada dalam birokrasi kolonial di Tatar Sunda, menjadi penerjemah...

Netizen, Penerjemah Sunda Pertama, Penerjemah Sunda,raden kartawinata,K.F. Holle

Mengapa Orang India Sukses di Negara Lain?

Netizen Senin, 22 Februari 2021 | 15:08 WIB

Cerita ini terinspirasi dari pertanyaan, mengapa orang India mampu menduduki posisi-posisi penting di perbankan,  lembag...

Netizen, Mengapa Orang India Sukses di Negara Lain?, India,sukses,ekonomi

Problem Sampah yang Membuat Kita Sengsara

Netizen Sabtu, 20 Februari 2021 | 17:59 WIB

Beberapa waktu lalu, Indonesia disebut-sebut sebagai produsen sampah nomor dua terbesar di dunia.

Netizen, Problem Sampah yang Membuat Kita Sengsara, Sampah,Indoensia,Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN),Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK)

Sekolah di Sumedang

Netizen Sabtu, 20 Februari 2021 | 14:54 WIB

Pada 5 Juli 1867, Bupati Sumedang R.A. Soeria Koesoema Adinata alias Pangeran Sugih membuka sekolah yang diupayakan oleh...

Netizen, Sekolah di Sumedang, pengeran sugih,sekolah di sumedang,sejarah sekolah,kartawinata,pendopo sumedang,kabupaten sumedang

Menanti Internasionalisasi Persaingan Tajam Amerika Serikat-China

Netizen Sabtu, 20 Februari 2021 | 14:17 WIB

Manfaat Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) mulai diragukan setelah Uni Soviet bubar, juga ketika negara-negara pecah...

Netizen, Menanti Internasionalisasi Persaingan Tajam Amerika Serikat-China, NATO,Pakta Pertahanan Atlantik Utara,Joe Biden,Amerika Serikat,Australia,china,Presiden Cina Xi Jinping

Mencegah Kebakaran Sejak Dini

Netizen Sabtu, 20 Februari 2021 | 10:54 WIB

Mencegah Kebakaran Sejak Dini

Netizen, Mencegah Kebakaran Sejak  Dini, mencegah kebakaran,dinas kebakaran,cara mencegah kebakaran

Di Jalan Pungkur, Isa Anshary Kritik Marxisme

Netizen Sabtu, 20 Februari 2021 | 10:45 WIB

Bila kita berjalan-jalan di daerah alun-alun kota Bandung dan sedikit bergeser ke arah Jalan Lengkong kemudian menuju Ja...

Netizen, Di Jalan Pungkur, Isa Anshary Kritik Marxisme, Isa Anshary,jalan pungkur,marxisme,anti komunis,Komunis,Persatuan Islam

artikel terkait

dewanpers