web analytics
  

Sekolah di Sumedang

Sabtu, 20 Februari 2021 14:54 WIB Netizen ATEP KURNIA
Netizen, Sekolah di Sumedang, pengeran sugih,sekolah di sumedang,sejarah sekolah,kartawinata,pendopo sumedang,kabupaten sumedang

Pendopo Kabupaten Sumedang sebelum tahun 1880. Barangkali di sinilah Sekolah Bupati Sumedang itu berada. (KITLV 3465)

ATEP KURNIA

Peminat literasi dan budaya Sunda.

AYOBANDUNG.COM--Pada 5 Juli 1867, Bupati Sumedang R.A. Soeria Koesoema Adinata alias Pangeran Sugih membuka sekolah yang diupayakan oleh dirinya sendiri, sehingga disebut sebagai “School van den Regent” (Sekolah Bupati).

Sekolah yang didirikan Pangeran Sugih ini dikelompokkan sebagai “Particuliere Scholen” atau sekolah swasta, seperti sekolah misi yang didirikan di Cianjur oleh C. Albers dan S. Coolsma.

Pada saat bersamaan, sebagaimana yang saya baca dari Verslag van het inlandsch onderwijs in Nederlandsch-Indie over 1867 (1870: 143-157) sebagai bahan acuan di atas, di Hindia Belanda sudah ada beberapa jenis sekolah untuk pribumi. Ada Kweekschool di Surakarta, Bandung, Fort De Kock, Tanah Batu, Tanawangko, Ambon, dan Kupang.

Kemudian ada sekolah untuk anak-anak pemuka masyarakat pribumi di Minahasa dan Tondano. Ada Volkscholen yang di Pulau Jawa terdiri atas Regentschaps-scholen (di Karesidenan Banten, Karawang, Priangan, Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang, Jepara, Rembang, Surabaya Pasuruan, Basuki, Banyumas, Bagelen, Kedu, Madiun, dan Kediri); Districts-scholen (di Batavia, Karawang, Cirebon, Pekalongan, Banyumas, Kedu, Madiun, dan Kediri), dan “Particuliere Scholen” (di Priangan, Semarang, Jepara, Surabaya, Surakarta, dan Yogyakarta). 

Demikian pula sekolah rakyat yang ada di Pulau Madura, Sumatra, Bangka, Kalimantan, Sulawesi, dan pulau-pulau lainnya, dengan kekhasan di Manado yang dibagi menjadi Gouvernements-scholen, Negorij-scholen, dan Genootschaps-scholen. Sementara di Pulau Roti terdiri atas Gouvernements-scholen dan Negorij-scholen.

Ini adalah cermin dari kebijakan yang lama dirumuskan pihak orang Belanda, sebagaimana yang dinyatakan H. Kroeskamp (Early Schoolmasters in a Developing Country: A story of experiments in school education in 19th century Indonesia, 1974: 297-299).

Ringkasnya, pada 1838, ahli filologi Gericke mengajukan petisi kepada raja Belanda agar Perhimpunan Injil Belanda dapat mendirikan sekolah untuk orang Jawa. Meski dikabulkan pada 1839, tetapi pelaksanaannya tidak berjalan mulus. Kemudian, pada 1845, Menteri Tanah Jajahan J.C. Baud mengajukan hal yang sama, dengan pertimbangan butuh tenaga pribumi yang terdidik. 

Akhirnya terbit Keputusan Raja Belanda no. 95 tanggal 30 September 1848 yang memberi wewenang kepada gubernur jenderal untuk menyediakan dana sebesar 25.000 gulden per tahun guna pendirian sekolah pribumi di Jawa, dengan tujuan mendidik calon-calon pegawai negeri. Lalu terbit pula Keputusan Raja Belanda no. 1 tanggal 30 Agustus 1851, yang berisi kerangka pendidikan untuk orang-orang Jawa.

Melanjutkan keterangan dari Verslag 1867, untuk “Particuliere Scholen” di Priangan, ada tiga sekolah, yakni Zending-school no 1 dan Zending-school no 2 di Cianjur dan “School van den Regent” di Sumedang. Zending-school no 1 didirikan oleh perhimpunan misionaris Rotterdam (Rotterdamsche zending-vereeniging) pada September 1865 dan dikepalai oleh C. Albers. Pada Desember 1866 ada 43 murid dan pada Desember 1867 ada 50 murid. Sementara Zending-school no 2 didirikan pada Januari 1867 untuk anak-anak perempuan. Pada Desember 1867, jumlah muridnya sebanyak 19 orang.

Sekolah Bupati Sumedang yang dikepalai oleh pendidik swasta Gerrit Warnar (1816-1875) ini mempunyai murid 12 orang, yang terdiri atas 9 orang anak Pangeran Sugih, 1 orang cucunya, 1 orang anak Bupati Galuh R.A.A. Kusumadiningrat dan 1 orang lagi sepupu bupati tersebut. Semuanya anak laki-laki.

Sekolah tersebut ditujukan sepenuhnya pada pendidikan dasar dalam bahasa Belanda, agar muridnya dapat berpikir, berbicara, dan menulis dalam bahasa tersebut. Ke-12 murid dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama atau kelas satu berumur 16 dan 17 tahun, dan telah bisa bahasa Belanda lumayan, dengan tanda dapat membaca dan menulis esai dalam bahasa Belanda.

Dalam matematika, mereka menguasai 4 kemampuan dasar, dan mengetahui operasi desimal serta pembagian ordiner. Mereka diajari geografi Jawa dan Hindia Belanda dan peta geografi. Dalam bagian ini ada 2 orang murid dan sebelum sekolah sudah belajar bahasa Belanda, tetapi pengucapannya masih kurang.

Bagian kedua terdiri atas 4 murid, yakni 2 orang berumur 15 tahun, 1 orang 13 tahun, dan 1 orang 10 tahun. Dua orang di antaranya sudah bisa menulis aksara Latin tetapi tidak tahu bahasa Belanda.

Pada akhir Desember 1867, keduanya sudah dapat membaca bahasa Belanda dan menerjemahkan kalimat-kalimat dari bahasa Belanda ke bahasa Melayu dan sebaliknya. Untuk matematika, pengajarannya terbatas pada empat aturan (vier hoofdregelen) dan menulis serta mengucapkan angka-angka hingga jutaan. Di bidang geografi terbatas pada Jawa dan Hindia Belanda.

Bagian ketiga ada 6 murid, yang berumur 7 hingga 9 tahun dan masing-masing terdiri atas 2 orang. Pengajaran pada bagian ini terbatas pada belajar berbicara dalam bahasa Belanda, dengan bantuan perkakas visual. Mereka juga dapat menyebutkan angka hingga jutaan, pertambahan, pengurangan, bahkan pengalian.

Dua murid dari Ciamis yang tinggal di rumah Warnar menunjukkan keistimewaan, bukan saja karena dapat lebih memahami bahasa Belanda, tetapi juga lebih rapi tampilannya dibandingkan dengan murid yang lainnya.

Kapan Raden Kartawinata masuk sekolah dan bagaimana perkembangannya? Jawabannya dapat dibaca dari Verslag van het inlandsch onderwijs in Nederlandsch-Indie over 1869 (1872: 118-132). Namun, sebelum membahas Kartawinata, ada baiknya pula melihat perkembangan sekolah swasta itu pada 1869.

Dalam laporan tersebut, selain yang telah disebutkan pada 1867, sekolah swasta di Tatar Sunda bertambah dengan yang didirikan di Bogor pada 1 September 1869 dan Cirebon. Sementara dalam perkembangannya, Zending-school no 2 di Cianjur ditutup oleh S. Coolsma pada Desember 1868, dibuka lagi oleh Geerdink pada Februari 1869 dengan jumlah murid 13 orang, tetapi akhirnya ditutup lagi setelah Geerdink dipindahkan ke Bandung pada Januari 1870. 

Mengenai Kartawinata pada bahasan Sekolah Bupati Sumedang. Pada 1869, jumlah muridnya ada 13 orang yang dibagi ke dalam tiga bagian seperti 1867. Pada tahun 1869, ada beberapa orang yang lepas sekolah, yaitu 2 murid dari kelompok pertama, yakni anak-anak Pangeran Sugih; Tiga murid kelas kedua atau menengah, terdiri atas anak Pangeran Sugih, sepupu bupati Galuh, dan anak bupati Sukapura; dan seorang murid kelas tiga, anak bupati Sukapura.

Di antara anak Pangeran Sugih yang meninggalkan sekolah pada 1869 tersebut adalah Raden Sadeli yang nantinya menjadi Pangeran Aria Suriaatmaja atau Pangeran Mekah (1851-1921) dan menjabat sebagai bupati Sumedang antara 1883-1918. Kariernya yang pertama-tama adalah menjadi kaliwon di Kabupaten Sumedang sejak 1 Agustus 1869 dan pada 7 Februari 1871 diangkat menjadi wedana Ciawi. Menurut Verslag 1869, meski sudah menjadi kaliwon, Raden Sadeli masih tetap belajar dengan jalan menghadiri kelas sore.

Saudara sepupu bupati Galuh yang saat meninggalkan sekolah berumur 18 tahun itu adalah Raden Kusumadibrata, yang kemudian atas rekomendasi J.A. Uilkens, kemudian belajar melukis kepada Raden Saleh (1814-1880).

Ini terbukti dengan terbitnya Keputusan Pemerintah tanggal 18 September 1873, mengenai adanya beasiswa bagi Kusumadibrata selama belajar kepada Raden Saleh, yakni antara 1873-1875. Karena Raden Saleh pada pertengahan 1875 berangkat lagi ke Eropa. Selanjutnya sejak 9 November 1878, Kusumadibrata diangkat menjadi guru gambar di Kweekschool Bandung.

Kembali ke Verslag 1869, pengajaran di Sekolah Bupati Sumedang itu diberikan antara pukul 8 pagi hingga 12 siang untuk kelas pertama. Untuk kelas kedua dari pukul 1 hingga 3 sore, dan untuk murid-murid kelas satu antara pukul 7 hingga 8 malam. 

Pada 1869, ada kenaikan kelas dari kelas kedua ke kelas pertama, yaitu Raden Wira Antaredja (16 tahun, anak bupati Sumedang), Raden Gada (12 tahun, anak bupati Galuh), dan Raden Brata Koesoema (18 tahun, anak Penghulu Besar Garut). Dengan catatan, Raden Brata Koesoema naik kelas dari kelas ketiga ke kelas pertama dalam setahun. Ia juga dicatat sangat bagus dalam pengucapan bahasa Belanda, demikian pula membaca dan menulis. 

Sementara yang naik kelas dari kelas tiga ke kelas dua pada 1869 adalah Isa, Ushman, Kamar dan Achmad. Semuanya berumur 11 tahun. Tiga yang pertama anak bupati Sumedang dan yang terakhir adalah cucunya. Sedangkan yang baru masuk ke kelas tiga pada 1869 adalah Raden Prawira Nagara (16 tahun, anak bupati Garut); Ibrahim (11 tahun), Saleh (8 tahun), Mohamed (8 tahun), Joenus (7 tahun), semuanya cucu bupati Sumedang; dan Goenirang (7 tahun, anak bupati Galuh).

Nah, penulis Verslag 1869 mengulangi lagi catatan mengenai Raden Brata Koesoema. Saat laporan tersebut diterbitkan, yakni pada 1872, Brata Koesoema sudah berganti nama menjadi Raden Karta Winata (Kartawinata). Penulis laporan ini menggarisbawahi keistimewaan murid tersebut. Katanya, Kartawinata masuk Sekolah Bupati Sumedang pada Agustus 1868 saat berusia 16 tahun. Ini mengandung arti pada Agustus 1869, Kartawinata sudah berumur 17 tahun, dan bulan-bulan selanjutnya menjelang 18 tahun, sehingga dalam laporan tersebut dikatakan pada 1869, Kartawinata berumur 18 tahun. Ini juga mengandung arti tahun kelahirannya adalah 1852.

Selanjutnya, penulis Verslag 1869 menyatakan Kartawinata dapat dibilang bintang pelajar di bidang bahasa Belanda. Kemampuan korespondensinya dalam bahasa Belanda, kemampuannya menerjemahkan ke dalam bahasa Sunda dan Jawa, membuktikan bahwa dia akan sangat berguna bila terus belajar lagi selama beberapa tahun. Kartawinata diharapkan dapat berguna bagi pendidikan di Tatar Sunda.

Semuda itu, dia pasti dapat menjadi penulis buku-buku dalam bahasa Sunda (“Zijne correspondentie in het Nederlandsch, de vertalingen, die hij uit onze taal in het Soendaasch en Javaansch heeft gemaakt, getuigden van hem, dat hij, nog een paar jaar het onderwijs blijvende genieten, zeer bruikbaar zoude worden. Van Raden Karta Winata is te verwachten, dat hij voor het onderwijs in de Soenda-landen van groot nut kan worden. Uit jongelingen, gelijk hij is moeten de schrijvers van schoolboekjes in de Soendasche taal voortkomen”).

Soalnya, kemudian, apa yang menyebabkan Kartawinata demikian terang dalam bahasa Belanda? Jawabannya saya temukan dalam buku Tom van den Berge (Karel Frederik Holle, Theeplanter in Indie 1829-1896, 1998). Menurut Berge (1998: 99), ini berasal dari pengaruh K.F. Holle kepada ayah Kartawinata, R.H. Moesa.

Holle meyakinkan Moesa agar anak-anaknya belajar bahasa Belanda dengan jalan tinggal pada keluarga Belanda. Kartawinata sendiri sejak berumur 12 tahun belajar bahasa Belanda kepada Holle. Itu sebabnya Kartawinata sering bersama Holle di perkebunan teh Waspada, belajar menerjemahkan, mengawani gurunya bila melakukan perjalanan, dan belajar mencintai tanah airnya (“Kartawinata, Moesa’s tweede zoon bij zijn eerste vrouw, kreeg vanaf zijn twaalfde jaar een Nederlandse opvoeding. Hij was vaak bij Holle op Waspada, leerde daar vertalen, ging met hem mee op reis en leerde van hem de liefde voor de grond”).

Dari keterangan di atas, saya jadi bisa menyimpulkan bahwa sejak 1864 atau dua tahun sejak Holle mendirikan perkebunan Waspada hingga 1868 saat Kartawinata masuk sekolah di Sumedang, Kartawinata terus belajar bahasa Belanda di bawah bimbingan Holle. Oleh karena itu, ketika masuk sekolah di Sumedang, Kartawinata menjadi bintangnya dalam pelajaran bahasa Belanda, dan nantinya memang terbukti dia menjadi penerjemah andal dari bahasa Belanda ke bahasa Sunda dan Jawa sejak 1872 hingga 1905.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Adi Ginanjar Maulana

terbaru

Acara Hiburan di Situ Aksan Tahun 1950-an dalam Iklan Koran

Netizen Jumat, 26 Februari 2021 | 09:29 WIB

Acara Hiburan di Situ Aksan Tahun 1950-an dalam Iklan Koran

Netizen, Acara Hiburan di Situ Aksan Tahun 1950-an dalam Iklan Koran, Situ Aksan,Sejarah Situ Aksan,Sin Ming,Iklan Situ Aksan,Sin Ming Hui Bandung

Penerjemah Sunda Pertama

Netizen Kamis, 25 Februari 2021 | 10:00 WIB

Raden Kartawinata menduduki posisi yang sebelumnya tidak ada dalam birokrasi kolonial di Tatar Sunda, menjadi penerjemah...

Netizen, Penerjemah Sunda Pertama, Penerjemah Sunda,raden kartawinata,K.F. Holle

Mengapa Orang India Sukses di Negara Lain?

Netizen Senin, 22 Februari 2021 | 15:08 WIB

Cerita ini terinspirasi dari pertanyaan, mengapa orang India mampu menduduki posisi-posisi penting di perbankan,  lembag...

Netizen, Mengapa Orang India Sukses di Negara Lain?, India,sukses,ekonomi

Problem Sampah yang Membuat Kita Sengsara

Netizen Sabtu, 20 Februari 2021 | 17:59 WIB

Beberapa waktu lalu, Indonesia disebut-sebut sebagai produsen sampah nomor dua terbesar di dunia.

Netizen, Problem Sampah yang Membuat Kita Sengsara, Sampah,Indoensia,Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN),Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK)

Sekolah di Sumedang

Netizen Sabtu, 20 Februari 2021 | 14:54 WIB

Pada 5 Juli 1867, Bupati Sumedang R.A. Soeria Koesoema Adinata alias Pangeran Sugih membuka sekolah yang diupayakan oleh...

Netizen, Sekolah di Sumedang, pengeran sugih,sekolah di sumedang,sejarah sekolah,kartawinata,pendopo sumedang,kabupaten sumedang

Menanti Internasionalisasi Persaingan Tajam Amerika Serikat-China

Netizen Sabtu, 20 Februari 2021 | 14:17 WIB

Manfaat Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) mulai diragukan setelah Uni Soviet bubar, juga ketika negara-negara pecah...

Netizen, Menanti Internasionalisasi Persaingan Tajam Amerika Serikat-China, NATO,Pakta Pertahanan Atlantik Utara,Joe Biden,Amerika Serikat,Australia,china,Presiden Cina Xi Jinping

Mencegah Kebakaran Sejak Dini

Netizen Sabtu, 20 Februari 2021 | 10:54 WIB

Mencegah Kebakaran Sejak Dini

Netizen, Mencegah Kebakaran Sejak  Dini, mencegah kebakaran,dinas kebakaran,cara mencegah kebakaran

Di Jalan Pungkur, Isa Anshary Kritik Marxisme

Netizen Sabtu, 20 Februari 2021 | 10:45 WIB

Bila kita berjalan-jalan di daerah alun-alun kota Bandung dan sedikit bergeser ke arah Jalan Lengkong kemudian menuju Ja...

Netizen, Di Jalan Pungkur, Isa Anshary Kritik Marxisme, Isa Anshary,jalan pungkur,marxisme,anti komunis,Komunis,Persatuan Islam
dewanpers