web analytics

Brand Legendaris Alpina, Raja Perlengkapan Outdoor di Era 90-an

clockJumat, 19 Februari 2021 19:30 WIB userNur Khansa Ranawati
Gaya Hidup - Fashion, Brand Legendaris Alpina, Raja Perlengkapan Outdoor di Era 90-an, Alpina,Perlengkapan Outdoor,Perlengkapan Camping,peralatan berkemah,ransel,Eiger,EIGER ADVENTURE

Paidjan Adriyanto, pemilik produsen perlengkapan outdoor Alpina. (Ayobandung.com/Nur Khansa)

COBLONG, AYOBANDUNG.COM -- Paidjan Adriyanto masih berusia 30 tahun ketika ia memutuskan untuk keluar dari tempat kerjanya, dan mendirikan toko penyedia berbagai peralatan berkemah. Pria asal Madiun tersebut sebelumnya sempat bekerja di toko serupa selama empat tahun.

Merasa memiliki ilmu yang cukup memadai untuk membuka usaha sendiri, Paidjan bersama dua rekannya kemudian membangun brand yang kemudian sempat booming di era 1990-an, yakni Alpina. Awalnya, toko yang namanya merupakan singkatan dari Alam Pegunungan Indonesia tersebut berfokus menjual berbagai perlengkapan berkemah dan kegiatan alam bebas lainnya.

"Tapi lama kelamaan jadi tren di kalangan anak sekolahan. Waktu itu, tahun 90-an, belum ada anak sekolah yang pakai ransel atau daypack. Produk ransel untuk para pecinta alam saya laku keras oleh anak-anak sekolah dan jadi tren baru," ungkap Paidjan saat ditemui Ayobandung.com di kediamannya belum lama ini.

Alpina didirikan Paidjan di Kota Bandung pada 1 Agustus 1985. Merk tersebut sebenarnya bukanlah perintis awal di dunia perlengkapan outdoor di Indonesia. Merk Jayagiri dan Eiger telah muncul lebih dulu.

"Duluan Eiger sebenarnya, tapi waktu itu kesalip saya. Saya melihat ada peluang bagus, karena belum ada produsen di Indonesia yang membuat macam-macam ransel. Ketika ada ide dan kesempatan, akhirnya saya buat," ungkapnya.

Ransel yang dibuat Alpina kala itu menjadi ikon 'anak sekolah kekinian' pada masanya. Bentuk ranselnya yang sederhana dengan gantungan ritsleting khas Alpina banyak digemari anak muda.

Bahkan, pada masa itu, banyak anak sekolah yang berebut mencopot gantungan ritsleting dengan logo Alpina yang kemudian dijadikan aksesori seperti gelang.

"Ritsletingnya saat itu jadi ikon, banyak yang mengincar sampai dijadikan gelang," kenangnya.

Selain tas ransel, Alpina juga memiliki produk andalan "D-01", yakni tas pinggang yang juga dapat dijadikan tas selempang. Ada pula celana kargo, berbagai macam jaket, jas hujan, sepatu, dan sebagainya.

"Waktu itu juga pernah produk-produk saya dipakai syuting salah satu episode Dono Kasino Indro (Warkop DKI), saya lupa judulnya yang mana, tapi ceritanya mereka sedang camping dan propertinya pakai Alpina. Dari sana semakin booming," ungkapnya.

Siapa sangka, produk-produk tas terutama ransel Alpina adalah hal yang dapat membuat bisnisnya bertahan hingga 20 tahun kemudian. Sebelum akhirnya penjualan menurun perlahan bersamaan dengan kehadiran akses internet dan media sosial yang meluas.

Di puncak masa kejayaannya, Alpina sempat mengekspor berbagai produknya hingga ke mancanegara. Dia mengatakan, jaket Alpina banyak dipesan oleh Belanda dan negara di Timur Tengah memesan berbagai produk tas Alpina.

"Setelah tahun 2000, setelah krisis 1998, (penjualan) kita sudah mulai turun. Negara lain sudah mulai produksi massal, karena mereka bisa bikin berbagai produk mulai dari harga yang murah sampai mahal dengan kuantitas yang banyak. Mereka punya kawasan industri tersendiri, jadi maju-nya cepat. Barang-barang dari luar negeri membanjiri Indonesia, di sana produsen lokal mulai banyak kewalahan," paparnya.

Meski penjualan mulai menurun dan tidak seramai tahun-tahun sebelumnya, Paidjan mengatakan, secara umum penjualan berbagai produk Alpina masih stabil. Produsen perlengkapan outdoor sejenis mulai bermunculan, namun hal tersebut belum sampai membuat toko pusat Alpina di Komplek Dago Asri, Kota Bandung, jadi sepi pelanggan.

"Itu berlangsung sampai 2010. Setelah itu, internet mulai muncul. Di 2015, orang mulai belanja lewat internet. Pesan barang semakin mudah, pilihan orang makin banyak dan tidak terbatas pada produk dalam negeri saja. Gaya belanja orang sudah berubah di tahun itu," ungkapnya.

Dia tidak menampik tersebut membuat bisnisnya ikut goyang. Selama 20 tahun sejak 1990, Alpina memiliki setidaknya 150 cabang toko offline yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia, yang disebut sebagai 'Agen Alpina'. Mulai 2010, beberapa agen tersebut mulai gulung tikar. Sebagian beralih ke penjualan daring lewat media sosial seperti Facebook dan 

Instagram.

"Agen terakhir itu ada di Banjar, Pangandaran, Jogja dan Malang. Di Malang itu 2015 baru tutup. Setelah itu semua dialihkan jadi berjualan online. Turunnya penjualan memang dirasakan oleh semua agen," ungkapnya.

Hingga saat ini, Alpina masih terus bertahan memproduksi berbagai perlengkapan outdoor sebagaimana yang dilakukannya sejak awal berdiri. Tidak banyak inovasi barang yang dihasilkan, karena prinsip Paidjan adalah mempertahankan produk yang sejak lama memiliki banyak penggemar.

"Apalagi di masa pandemi seperti ini, bikin inovasi itu beresiko, lebih baik saya fokus memproduksi dan menjual barang-barang yang dari dulu selalu banyak penggemarnya. Sekarang saya punya reseller di berbagai daerah seperti di Malang, Jogja dan Bali. Itu sangat membantu," ungkapnya.

Editor: Dadi Haryadi

terbaru

Favorit Putri Diana, Gucci Rilis Ulang Koleksi Tas Ini setelah 20 Tahu...

Fashion Senin, 12 Juli 2021 | 13:10 WIB

Tas versi baru ini memiliki tambahan hiasan sabuk warna neon di bagian pegangan tangan. Sementara, nama koleksi tas ters...

Gaya Hidup - Fashion, Favorit Putri Diana, Gucci Rilis Ulang Koleksi Tas Ini setelah 20 Tahun, Putri Diana,Tas Putri Diana,Tas Favorit Putri Diana,Tas Gucci Putri Diana,Harga Tas Gucci Putri Diana,tas ikonik Putri Diana,tas Gucci favorit,tas Gucci favorit Putri Diana

5 Warna Cat Tembok Ini Bikin Kamu Semakin Betah di Rumah

Fashion Jumat, 2 Juli 2021 | 14:52 WIB

Tahukah kamu ada warna cat tembok yang membuat penghuninya semakin betah ? Tanpa warna, tidak akan ada pelangi yang inda...

Gaya Hidup - Fashion, 5 Warna Cat Tembok Ini Bikin Kamu Semakin Betah di Rumah, warna cat,warna cat bikin betah,warna cat bagus,cat rumah,Cat Kamar,warna cat bikin betah di rumah

Rekomendasi Fashion Brand Lokal Bandung, Yakin Tak Mau Coba?

Fashion Rabu, 23 Juni 2021 | 14:30 WIB

Tinggal di Bandung Raya memang punya kenyamanan tersendiri dalam soal fashion.

Gaya Hidup - Fashion, Rekomendasi Fashion Brand Lokal Bandung, Yakin Tak Mau Coba?, Produk,Fashion,Brand,lokal,Bandung,Visval,Oclo,Matoa,TVF

Tren 'Thrifting', Tampil Keren Tak Harus Mahal

Fashion Senin, 21 Juni 2021 | 14:10 WIB

Thrifting adalah kegiatan berburu atau mencari barang bekas, unik, dan langka, tentunya dengan harga yang murah.

Gaya Hidup - Fashion, Tren 'Thrifting', Tampil Keren Tak Harus Mahal, Thrifting,barang bekas,thrift shop

Peter Nation Bawa Fashion Pria dari Grosir ke Go Digital

Fashion Selasa, 8 Juni 2021 | 16:24 WIB

Pemasaran digital kian relevan bagi industri fashion untuk menjangkau konsumen secara langsung di masa pandemi. Kemudaha...

Gaya Hidup - Fashion, Peter Nation Bawa Fashion Pria dari Grosir ke Go Digital, Peter Nation,Fashion Pria,Fashion,Produk Peter Nation

Pesta Pernikahan Bergaya Bangsawan Eropa Bakal Jadi Tren

Fashion Senin, 7 Juni 2021 | 14:18 WIB

Banyak paket pernikahan yang ditawarkan selama masa Pandemi Covid-19. Tapi bagaimana dengan menikah bergaya bangsawan Er...

Gaya Hidup - Fashion, Pesta Pernikahan Bergaya Bangsawan Eropa Bakal Jadi Tren, Pesta pernikahan,pesta pernikahan bergaya bangsawan,pernikahan bergaya bangsawan,pernikahan bergaya bangsawan eropa,paket pernikahan,paket pernikahan modern

Harganya Jutaan, Aksesoris Bibir Ini Bikin Warganet Heran

Fashion Minggu, 6 Juni 2021 | 21:38 WIB

Sebuah aksesoris bibir dengan bentuk unik membuat pengguna media sosial terheran-heran. Produk tersebut dirancang oleh b...

Gaya Hidup - Fashion, Harganya Jutaan, Aksesoris Bibir Ini Bikin Warganet Heran, Aksesoris Bibir,Mundstuck,MYL Berlin,Harga Mundstuck

Inovasi UMKM Bandung di Tengah Pandemi, Produksi Celana Hanya 30 Menit

Fashion Jumat, 4 Juni 2021 | 09:48 WIB

Bergelut dengan pandemi tak membuat Pride n Joy kehilangan arah. UMKM asal Bandung yang bergerak di bidang fesyen ini ju...

Gaya Hidup - Fashion, Inovasi UMKM Bandung di Tengah Pandemi, Produksi Celana Hanya 30 Menit, Pride n Joy,Fast Pants,UMKM Bandung,umkm bangkit di masa pandemi,UMKM Bandung Terdampak Pandemi,produksi celana 30 menit,Fesyen Bandung,Industri Fesyen Bandung,fashion Bandung,Brand fashion Bandung

artikel terkait

dewanpers
arrow-up