web analytics
  

Situ Aksan, Rumah Bagi Beragam Burung

Jumat, 19 Februari 2021 13:24 WIB Netizen T Bachtiar
Netizen, Situ Aksan, Rumah Bagi Beragam Burung , Situ Aksan,burung situ aksan,manuk piit,manuk bondol,manuk cipeung,sejarah bandung baheula

Manuk piit Lonchura leucogastroides ( John Mackinnon (1993))

T Bachtiar

Anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung.

AYOBANDUNG.COM--Situ Aksan, tujuan wisata air yang dikelilingi rimbunnya pepohonan yang tinggi dengan batangnya yang besar-besar.

Kawasan Situ Aksan ini terbagi dua tapi menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan, berupa situ dan daratan. Keliling situnya 737 m, luas situnya 29.619 m persegi.

Situ ini dikelilingi daratan, keliling pagar terluarnya sepanjang 1.040 m, luas lahan daratnya saja 32.005 m persegi. Kalau dibandingkan dengan ukuran luas lapangan sepakbola 105 x 68 m = 7.140 m persegi, maka luas Situ Aksan ini empat kali lapangan sepak bola.

Sedangkan daratan yang mengelilingi situ, luasnya 4 kali lapangan sepakbola. Bila disatukan, luas keseluruhan situ dan daratan yang mengelilinginya mencapai 8,5 kali lapangan sepak bola.

Daratan seluas lapangan sepakbola itu ditumbuhi beragam jenis pohon, yang menjadi rumah bagi beragam burung.

Menurut pak Anton, setidaknya ada 10 jenis burung teramati olehnya pada saat kecil, yaitu: manuk piit, peking, cileuw, caladi, manuk sikinangka, ungkutungkut, manuk hurang, galatik, manyar, dan tikukur.

Atas bantuan Yusron Saaroni dari Yayasan Pribumi Alam Lestari Bandung, kesepuluh jenis burung itu dicarikan nama dalam bahasa Indonesia dan nama ilmiahnya, yang disesuaikan dengan habitat situ, rawa, sawah, dan pengalaman lapangan survei burung di berbagai daerah di Jawa Barat. 

Kesepuluh jenis burung itu adalah:

Manuk piit, pipit, bondol Jawa (Lonchura leucogastroides),

Peking, Bondol Peking (Lonchura punctulata),

Manuk cipeuw, cipoh (Aegithina tiphia),

Caladi ulam, burung pelatuk, caladi ulam (Dendrocopos macei),

Manuk siki nangka, burung kacamata (Zosterops palpebrosus),

Ungkutungkut, ungkutungkut (Megailima haemachepalus),

Manuk hurang, cekakak gunung (Halcyon cyanoventris),

Gelatik, gelatik Jawa (Padda oryzivora),

Manyar, manyar jambul (Ploceus manyar), dan

Tekukur, tekukur (Streptopelia chinensis).

Keterangan tentang burung, diambil dari buku John Mackinnon Panduan lapangan pengenalan Burung-burung di Jawa dan Bali (Gajah Mada University Press, cetakan ke 3, 1993), dan sumber-sumber lainnya. Dalam tulisan ini hanya diuraikan tiga jenis burung.

Manuk piit, pipit, bondol Jawa

Burung kecil ini ukurannya, mulai dari paruh hingga ujung ekor panjangnya 11 cm. Pemakan padi dan biji-bijian banyak namanya, sesuai dengan suara yang terdengar di berbagai daerah, seperti pipit bondol, piit bondol, emprit bondol. Bulunya setelah dewasa didominasi warna coklat tua di punggung, sayap, dan sisi atas tubuhnya, tanpa coretan-coretan.

Muka, leher, dan dada atas berwarna hitam, dada bawah, perut, dan sisi tubuh putih bersih, tampak kontras dengan bagian atasnya. Sisi bawah ekor kecoklatan. Burung muda dengan dada dan perut coklat kekuningan kotor. Jantan tidak berbeda dengan betina dalam penampakannya. Iris mata coklat, paruh bagian atas kehitaman, paruh bawah abu-abu kebiruan, kaki keabu-abuan. 

Manuk piit (Lonchura leucogastroides), John Mackinnon (1993). 

Burung piit ini banyak dilihat di lingkungan persawahan, padang rumput, lapangan terbuka bervegetasi dan kebun. Burung ini sering berjalan di atas tanah atau berayun-ayun pada tangkai sambil memakan bulir biji-bijian. 

Umumnya hidup berpasangan atau dalam kelompok kecil, termasuk bercampur dengan jenis bondol lainnya seperti dengan bondol peking (L. punctulata). Pada musim panen padi, kelompoknya mencapai ratusan ekor. Tampak mencolok di sore hari pada saat terbang dan hinggap bersama-sama di pohon tempat tidurnya, dengan suaranya yang bising. 

Burung ini sering bersarang di pohon-pohon yang bertajuk rimbun, pada ketinggian 2 – 10 m di atas tanah. Berbiak sepanjang tahun, setiap kali bertelur sebanyak 4-5 butir telur yang berwarna putih, dengan besar telur 14 x 10 mm. Di Pulau Jawa, burung ini tersebar hingga ketinggian 1.500 m dpl. 

Peking, Bondol Peking

Jenis burung kecil pemakan padi dan biji-bijian. Nama punctulata karena warna bulu-bulu di dadanya berbintik-bintik. Nama lainnya emprit peking, prit peking, ukurannya dari paruh hingga ujung ekor 11 cm. Burung dewasa berwarna cokelat di leher dan sisi atas tubuhnya, dengan coretan-coretan agak samar berwarna muda dengan tangkai bulu putih.

Tenggorokan coklat kemerahan. Sisi bawah putih, dengan lukisan serupa sisik berwarna coklat pada dada dan sisi tubuh. Perut bagian bawah sampai pantat berwarna putih. Burung muda, dada dan perutnya kuning tua sampai agak coklat kotor, tanpa sisik. Jantan tidak berbeda dengan betina dalam penampakannya. 

Peking (Lonchura punctulata), John Mackinnon (1993) 

Iris mata coklat gelap, paruh berwarna abu-abu kebiruan, kaki hitam keabu-abuan. Bondol peking sering dilihat di persawahan dan tegalan. Makanan utamanya aneka biji rerumputan termasuk padi.

Hidup berpasangan atau dalam kelompok kecil, bergerombol, dan mencapai ratusan pada saat panen padi di persawahan. Burung kecil ini memakan bulir biji-bijian di semak rerumputan, turun ke atas tanah. Bergerak lincah, bersama-sama, sambil terus bersuara. 

Penyebaran burung ini mulai dari pantai hingga ketinggian 1.800 m dpl. Berbiak sepanjang tahun, telurnya berwarna putih sebanyak 4-6 butir, dengan ukuran 15 x 11 mm. 

Manuk cipeuw, cipoh

Burung kecil yang banyak ditemui di semak-semak. Warna bulunya sangat terang, dengan suara siulannya yang keras dan lantang namun tenang, ciiiiii…. peuw. Burung ini mempunyai nama lain, seperti burung kunyit kecil, cipo, cito, sirpu, sirtu, cipoh.

Cipoh tinggal di habitat seperti di hutan sekunder, kebun, padang terbuka, hutan mangrove, di tepi pantai, di tepian hutan yang tidak terlalu lebat, dan biasanya bersarang di pinggiran hutan pada cabang-cabang pohon yang rendah, di semak,, di ladang. Tersebar di perbukitan hingga ketinggian 1.500-2.000 m dpl.

Manuk cipeuw, cipoh (Aegithina tiphia), John Mackinnon (1993). 

Manuk cipeuw berkumpul di semak-semak, di dahan tumbuhan agar memudahkan mendapatkan serangga, telur serangga, biji-bijian, dan nektar bunga. Burung ini kadang menirukan suara burung lain, seperti burung srigunting. 

Selama musim kawin, antara bulan Maret-Juni, pada musim penghujan, burung jantan akan melakukan peragaan percumbuan yang akrobatis, mengembangkan bulu-bulunya dan berputar di udara, menyerupai bola hijau, hitam, kuning, dan putih yang berputar. Terbang ke udara menegakkan bulu-bulunya, sampai bulu pantatnya terlihat hijau pucat. Setelah pamer gerakan itu, manuk cipeuw akan berputar balik ke sarangnya. 

Sarangnya dibangun di ujung percabangan ranting, mulai dari yang paling rendah pada ketinggian setengah meter, sampai yang dibangun pada ketinggian delapan meter dari tanah. Telurnya penuh warna, perpaduan warna putih, warna merah jambu, abu-abu, dan berbercak merah.

Setiap musim bertelur hanya 2-3 butir saja yang diletakkan dalam sarang kecil berbentuk cawan yang dibuat dari rerumputan. Jantan dan betinanya akan bergantian mengerami telur, yang akan menetas setelah 14 hari dierami

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Adi Ginanjar Maulana

terbaru

Urgensi Integrasi Data

Netizen Jumat, 26 Februari 2021 | 15:52 WIB

“Kita harus ngomong apa adanya, ini tidak efektif”. Kegundahan Presiden Joko Widodo atas progres Pemberlakuan Pembatasan...

Netizen, Urgensi Integrasi Data, PPKM,Integrasi data,BPS Jabar

Acara Hiburan di Situ Aksan Tahun 1950-an dalam Iklan Koran

Netizen Jumat, 26 Februari 2021 | 09:29 WIB

Acara Hiburan di Situ Aksan Tahun 1950-an dalam Iklan Koran

Netizen, Acara Hiburan di Situ Aksan Tahun 1950-an dalam Iklan Koran, Situ Aksan,Sejarah Situ Aksan,Sin Ming,Iklan Situ Aksan,Sin Ming Hui Bandung

Penerjemah Sunda Pertama

Netizen Kamis, 25 Februari 2021 | 10:00 WIB

Raden Kartawinata menduduki posisi yang sebelumnya tidak ada dalam birokrasi kolonial di Tatar Sunda, menjadi penerjemah...

Netizen, Penerjemah Sunda Pertama, Penerjemah Sunda,raden kartawinata,K.F. Holle

Mengapa Orang India Sukses di Negara Lain?

Netizen Senin, 22 Februari 2021 | 15:08 WIB

Cerita ini terinspirasi dari pertanyaan, mengapa orang India mampu menduduki posisi-posisi penting di perbankan,  lembag...

Netizen, Mengapa Orang India Sukses di Negara Lain?, India,sukses,ekonomi

Problem Sampah yang Membuat Kita Sengsara

Netizen Sabtu, 20 Februari 2021 | 17:59 WIB

Beberapa waktu lalu, Indonesia disebut-sebut sebagai produsen sampah nomor dua terbesar di dunia.

Netizen, Problem Sampah yang Membuat Kita Sengsara, Sampah,Indoensia,Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN),Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK)

Sekolah di Sumedang

Netizen Sabtu, 20 Februari 2021 | 14:54 WIB

Pada 5 Juli 1867, Bupati Sumedang R.A. Soeria Koesoema Adinata alias Pangeran Sugih membuka sekolah yang diupayakan oleh...

Netizen, Sekolah di Sumedang, pengeran sugih,sekolah di sumedang,sejarah sekolah,kartawinata,pendopo sumedang,kabupaten sumedang

Menanti Internasionalisasi Persaingan Tajam Amerika Serikat-China

Netizen Sabtu, 20 Februari 2021 | 14:17 WIB

Manfaat Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) mulai diragukan setelah Uni Soviet bubar, juga ketika negara-negara pecah...

Netizen, Menanti Internasionalisasi Persaingan Tajam Amerika Serikat-China, NATO,Pakta Pertahanan Atlantik Utara,Joe Biden,Amerika Serikat,Australia,china,Presiden Cina Xi Jinping

Mencegah Kebakaran Sejak Dini

Netizen Sabtu, 20 Februari 2021 | 10:54 WIB

Mencegah Kebakaran Sejak Dini

Netizen, Mencegah Kebakaran Sejak  Dini, mencegah kebakaran,dinas kebakaran,cara mencegah kebakaran
dewanpers