web analytics
  

Kenapa Orang Indonesia Lebih Bangga Berbahasa Asing?

Kamis, 18 Februari 2021 16:24 WIB Netizen Sam Edy Yuswanto
Netizen, Kenapa Orang Indonesia Lebih Bangga Berbahasa Asing?, Indonesia,Bahasa,Inggris

Ilustrasi anak-anak di desa. (Pixabay/Sasin Tipchai)

Sam Edy Yuswanto

Penulis lepas, tulisannya tersebar di berbagai media, lokal hingga nasional.

Kenapa banyak orang Indonesia lebih bangga menggunakan bahasa asing, bahasa Inggris misalnya, ketimbang berbahasa Indonesia? Padahal mereka bukan sedang berkomunikasi dengan orang asing. Misalnya, banyak kita jumpai orang-orang melalui media sosial seperti Facebook dan Instagram yang membuat status dengan menggunakan bahasa Inggris. Padahal, teman-temannya yang rata-rata orang Indonesia tersebut belum tentu bisa memahaminya.

Saya (mau tak mau) kadang sampai berpikir begini; jangan-jangan mereka yang gemar membuat status di media sosial dengan bahasa asing tersebut karena ingin menunjukkan (memamerkan) kepintarannya. Tapi segera saya tepis pikiran semacam itu, khawatir termasuk berburuk sangka terhadap sesama. Yang (juga) menjadi ganjalan saya adalah: apakah orang Indonesia yang gemar berbahasa asing itu sudah begitu memahami bagaimana berbahasa Indonesia dengan baik dan benar?

Saya jadi teringat perkataan Nur Adji dalam buku karya Ivan Lanin (Xenoglosofilia, Kenapa Harus Nginggris? 2018). Dalam kata pengantarnya, Nur Adji menulis: orang Indonesia cenderung Xenoglosofilia, lebih senang menggunakan bahasa asing, khususnya Inggris, daripada bahasa ibunya, bahasa Indonesia, yang tidak pada tempatnya.

Meminjam pendapat Ivan Lanin, orang Indonesia cenderung merasa kurang gaya kalau tidak menggunakan atau menyelipkan bahasa Inggris dalam percakapan atau tulisannya. Kalau dari praktik penggunaan sehari-hari saja kita tidak menggunakan bahasa Indonesia, kata Ivan, bagaimana mungkin kita berharap bahasa Indonesia bakal berkembang?

Beberapa waktu lalu saya iseng mengomentari status Facebook teman saya yang baru menerbitkan sebuah buku. Jadi ceritanya, buku teman saya tersebut sudah dibaca oleh seseorang. Lalu seseorang yang merupakan orang asli Indonesia tersebut memberi komentar (cukup panjang) dengan bahasa Inggris. Iseng dan sambil bercanda, saya pun ikut mengomentari status teman saya itu. Intinya saya menanyakan arti (terjemahan) komentar berbahasa Inggris tersebut. Saya pun berpikir, kenapa sih harus komentar dengan bahasa asing sementara teman-temannya (saya yakin) banyak yang kebingungan dengan komentarnya yang “sok nginggris” itu? Tentu hanya Tuhan dan orang tersebut yang mengetahui maksud dan tujuannya, he-he-he.

Saya sangat mengerti bahwa mempelajari berbagai bahasa itu penting. Terlebih bagi mereka yang akan berkunjung atau bermukim dalam waktu lama di luar negeri. Namun, ketika kita sedang berkomunikasi dengan sesama orang Indonesia, masihkah kita merasa perlu untuk menggunakan bahasa yang bukan menjadi ciri khas kita? Apakah kita merasa begitu malu berbahasa Indonesia? Kalau malu, kenapa kita masih tinggal di Indonesia? Kenapa tak berganti kewarganegaraan saja, he-he-he.

Bila dicermati dengan saksama, kebiasaan orang-orang Indonesia yang lebih bangga berbahasa asing rupanya telah mewabah ke mana-mana. Perguruan tinggi, instansi, para pelaku bisnis, penulis, penerbit, hingga orang-orang yang berkecimpung di jagat pertelevisian. Banyak kita saksikan, acara-acara televisi Indonesia yang lebih memilih menamakan acaranya dengan bahasa Inggris daripada menggunakan bahasa Indonesia. Tentu realitas ini adalah sebuah ironi.

Ivan Lanin (2018) pernah mengkritisi hal tersebut. Tepatnya ketika Metro TV meluncurkan acara lawakan dengan nama “Stand-up Comedy Show” dan Kompas TV yang saat itu juga berencana menayangkan acara senada, “Stand Up Comedy Indonesia”.

Menurut Ivan, sebelum istilah asing stand up comedy ini telanjur lebih dikenal luas, ada baiknya kita pikirkan apa padanan bahasa Indonesia yang pas untuk istilah ini. Langkah pertama untuk membuat istilah adalah memahami maknanya. Secara singkat, makna leksikal stand-up comedy adalah lawakan atau komedi yang dilakukan di atas panggung oleh seorang pelawak atau komedian (comedy performed on stage by a single comedian).       

Singkat kata, Ivan mengusulkan untuk menggunakan padanan lawakan tunggal untuk stand-up comedy dan pelawak tunggal untuk stand-up comedian. Namun bila ternyata komedi tunggal dan komedian tunggal lebih disukai khalayak, tak apalah. Saya sangat sependapat dengan usulan Ivan tersebut, seraya berharap para pengelola pertelevisian di negeri ini membaca dan memahami pendapat Ivan agar ke depan berusaha menamai program acara televisi dengan menggunakan bahasa Indonesia

Saya berharap mudah-mudahan tulisan singkat dan sederhana ini dapat menjadi bahan renungan bersama. Lewat tulisan ini pula, saya mengajak para pembaca agar lebih bangga berbahasa Indonesia, bahasa yang menjadi pemersatu bangsa. (*)

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Aris Abdulsalam

terbaru

Urgensi Integrasi Data

Netizen Jumat, 26 Februari 2021 | 15:52 WIB

“Kita harus ngomong apa adanya, ini tidak efektif”. Kegundahan Presiden Joko Widodo atas progres Pemberlakuan Pembatasan...

Netizen, Urgensi Integrasi Data, PPKM,Integrasi data,BPS Jabar

Acara Hiburan di Situ Aksan Tahun 1950-an dalam Iklan Koran

Netizen Jumat, 26 Februari 2021 | 09:29 WIB

Acara Hiburan di Situ Aksan Tahun 1950-an dalam Iklan Koran

Netizen, Acara Hiburan di Situ Aksan Tahun 1950-an dalam Iklan Koran, Situ Aksan,Sejarah Situ Aksan,Sin Ming,Iklan Situ Aksan,Sin Ming Hui Bandung

Penerjemah Sunda Pertama

Netizen Kamis, 25 Februari 2021 | 10:00 WIB

Raden Kartawinata menduduki posisi yang sebelumnya tidak ada dalam birokrasi kolonial di Tatar Sunda, menjadi penerjemah...

Netizen, Penerjemah Sunda Pertama, Penerjemah Sunda,raden kartawinata,K.F. Holle

Mengapa Orang India Sukses di Negara Lain?

Netizen Senin, 22 Februari 2021 | 15:08 WIB

Cerita ini terinspirasi dari pertanyaan, mengapa orang India mampu menduduki posisi-posisi penting di perbankan,  lembag...

Netizen, Mengapa Orang India Sukses di Negara Lain?, India,sukses,ekonomi

Problem Sampah yang Membuat Kita Sengsara

Netizen Sabtu, 20 Februari 2021 | 17:59 WIB

Beberapa waktu lalu, Indonesia disebut-sebut sebagai produsen sampah nomor dua terbesar di dunia.

Netizen, Problem Sampah yang Membuat Kita Sengsara, Sampah,Indoensia,Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN),Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK)

Sekolah di Sumedang

Netizen Sabtu, 20 Februari 2021 | 14:54 WIB

Pada 5 Juli 1867, Bupati Sumedang R.A. Soeria Koesoema Adinata alias Pangeran Sugih membuka sekolah yang diupayakan oleh...

Netizen, Sekolah di Sumedang, pengeran sugih,sekolah di sumedang,sejarah sekolah,kartawinata,pendopo sumedang,kabupaten sumedang

Menanti Internasionalisasi Persaingan Tajam Amerika Serikat-China

Netizen Sabtu, 20 Februari 2021 | 14:17 WIB

Manfaat Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) mulai diragukan setelah Uni Soviet bubar, juga ketika negara-negara pecah...

Netizen, Menanti Internasionalisasi Persaingan Tajam Amerika Serikat-China, NATO,Pakta Pertahanan Atlantik Utara,Joe Biden,Amerika Serikat,Australia,china,Presiden Cina Xi Jinping

Mencegah Kebakaran Sejak Dini

Netizen Sabtu, 20 Februari 2021 | 10:54 WIB

Mencegah Kebakaran Sejak Dini

Netizen, Mencegah Kebakaran Sejak  Dini, mencegah kebakaran,dinas kebakaran,cara mencegah kebakaran

artikel terkait

dewanpers