web analytics
  

Pemecatan Guru Honorer Tanpa Alasan Kuat adalah Bentuk Nyata Diskriminasi

Kamis, 18 Februari 2021 16:06 WIB Netizen Joko Awal Suroto
Netizen, Pemecatan Guru Honorer Tanpa Alasan Kuat adalah Bentuk Nyata Diskriminasi, Guru Honor,Pemecatan,Bone,Sekolah,Pendidikan

Ilustrasi papan tulis di dalam ruang kelas sekolah. (Pixabay/Malen Monteleone)

Joko Awal Suroto

Guru SD Negeri Mustikajaya VII Kota Bekasi

Seandainya benar apa yang dialami oleh salah satu guru honorer di Bone, Sulawesi Selatan, sangat prihatin dengan apa yang dialami salah seorang guru honorer yang mengalami pemecatan dari satuan pendidikan tempat tugasnya mengajar gegara mem-posting honornya di salah satu media sosial.

Tidak manusiawi yang dilakukan oleh oknum kepala sekolah dengan tega memecat guru honorer tersebut. Bukankah tenaga, pikiran, dan pengabdian guru honorer sangat dibutuhkan oleh sekolah (?). Jika dibandingkan dengan pengabdiannya, sangat tidak setara hanya karena masalah sepele mengunggah honor mereka, yang hanya ratusan ribu per bulan atau bahkan sampai tiga bulan sekali dibayarkan.

Kemungkinan besar guru honorer tersebut hanya merefleksikan perasaannya sebagai salah satu upaya dari ratusan ribu bahkan sekian juta guru honorer yang ingin mengalami perubahan untuk dapat meningkatkan kesejahteraan yang lebih layak dan manusiawi.

Sangat ironis, sebagai guru atau tenaga pendidik sebuah pekerjaan yang mulia, namun masih menerima gaji yang minim dan tidak cukup untuk membiayai kebutuhan hidup sehari-hari. Masih beruntung guru honorer yang pemerintah daerahnya memperhatikan keberadaan guru honorer dengan mengalokasikan anggaran di APBD.

Seharusnya sebelum mengambil keputusan pemecatan ada tahapan-tahapan yang harus diambil, misalkan dengan teguran lisan, teguran tertulis, dan pernyataan tidak puas secara tertulis. Sebaiknya kan tabayun atau klarifikasi dahulu, bukan langsung eksekusi ambil keputusan pemecatan, ini kan tindakan sewenang-wenang yang menunjukkan arogansi kekuasaan.

Kepala sekolah layaknya adalah menjadi sosok orang tua (ayah, ibu) untuk setiap guru di sekolah. Seyogyanya kepala sekolah bertindak manusiawi terhadap semua guru, apalagi dengan guru honorer. Mereka sebelum ada pandemi Covid-19 pun telah mengalami pandemi finansial (keuangan) selama pengabdian mereka yang puluhan bahkan belasan tahun.

Apalagi sudah hampir setahun ini, bangsa kita terpapar pandemi Covid-19, bukannya simpati dan turut prihatin malah dipecat. Seharusnya hal seperti ini tidak perlu terjadi, karena hal ini mencerminkan adanya arogansi kekuasaan pihak sekolah. Selain itu, saat sekarang ini negeri kita Indonesia masih kekurangan guru, mengapa harus dipecat hanya karena posting gaji di medsos, sungguh memprihatinkan.

Selama ini entitas guru honorer memang mengalami berbagai diskriminasi dari berbagai penjuru. Pertama, diskriminasi dari pemerintah. Kedua, dari dalam (internal) satuan pendidikan tersebut. Ketiga, dari rekan sejawat, dan keempat dari masyarakat. Keempat penjuru negatif ini menerpa nasib dan martabat entitas guru honorer, kemanakah guru honorer mengadu, haruskah ke PBB? Kelihatannya kurang elok.

Kejadian pemecatan guru honorer ini seharusnya dapat menyentil pemangku jabatan dan pemerintah untuk segera menuntaskan masalah guru honorer untuk segera diangkat martabatnya sebagai seorang pendidik

Sudahi dan hentikan diskriminasi terhadap guru honorer. Sekarang saatnyalah kepala sekolah, rekan sejawat, masyarakat, dan pemerintah khususnya untuk lebih peduli pada pengabdian dan entitas mereka.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Aris Abdulsalam

terbaru

Bersyukurlah, Jangan Mudah Mengeluh

Netizen Jumat, 9 April 2021 | 19:05 WIB

Bagaimana caranya agar kita tak mudah mengeluh saat ditimpa cobaan atau ujian hidup?

Netizen, Bersyukurlah, Jangan Mudah Mengeluh, Mengeluh,Masalah Hidup,bersyukur,Renungan

Penataan Dua Jalan Poros di Kota Bandung

Netizen Jumat, 9 April 2021 | 09:20 WIB

Penataan Dua Jalan Poros di Kota Bandung

Netizen, Penataan Dua Jalan Poros di Kota Bandung, Penataan Poros Bandung,Jalan Poros Bandung,Kota Bandung,Jalan di Bandung

Polemik Ketersedian Beras dan Kebijakan Presiden

Netizen Kamis, 8 April 2021 | 16:10 WIB

Tidak akan ada impor beras jadi polemik karena cadangan beras di gudang Bulog mulai menipis.

Netizen, Polemik Ketersedian Beras dan Kebijakan Presiden, Beras,impor beras,cadangan beras,Bulog,Presiden Joko Widodo,COVID-19

Menambah Penghasilan dari Budi Daya Tanaman Porang

Netizen Kamis, 8 April 2021 | 15:50 WIB

Tanaman porang atau Amorphophallus oncophyllus menjadi salah satu alternatif tanaman yang bisa beradaptasi di semua jeni...

Netizen, Menambah Penghasilan dari Budi Daya Tanaman Porang, Tanaman Porang,Amorphophallus oncophyllus,Badan Pusat Statistik,Produk Domestik Broto (PBD)

Surat Berbahasa Sunda Abad ke-19

Netizen Rabu, 7 April 2021 | 16:55 WIB

Surat Berbahasa Sunda Abad ke-19

Netizen, Surat Berbahasa Sunda Abad ke-19, raden kartawinata,kartawinata,Sunda,Bahasa Sunda

Vaksinasi Massal dan Pemulihan Ekonomi Bangsa

Netizen Selasa, 6 April 2021 | 14:35 WIB

Salah satu game charger yang dicanangkan pemerintah adalah intervensi dibidang kesehatan.

Netizen, Vaksinasi Massal dan Pemulihan Ekonomi Bangsa, Pemulihan Ekonomi Bangsa,vaksinasi massal,Pandemi Covid-19,Badan Pusat Statistik (BPS)

Cara Santai Dapatkan Uang Total Rp1,5 Juta dari Ayobandung.com

Netizen Senin, 5 April 2021 | 15:15 WIB

Sambil duduk santai dan ngopi, kamu bisa mendapatkan uang dari Ayobandung.com.

Netizen, Cara Santai Dapatkan Uang Total Rp1,5 Juta dari Ayobandung.com, Cara Santai Dapatkan Uang,Uang Total Rp1,5 Juta,Ayobandung.com,Ayo Netizen,netizen,facebook,Twitter,Instagram,Redaksi

Mengapa Melupakan Sejarah?

Netizen Senin, 5 April 2021 | 15:06 WIB

Mengapa Melupakan Sejarah?

Netizen, Mengapa Melupakan Sejarah?, sejarah,statistik,ilmu sejarah

artikel terkait

dewanpers