web analytics
  

Nasib Bisnis Perhotelan di Tengah Pandemi

Kamis, 4 Februari 2021 15:43 WIB
Netizen, Nasib Bisnis Perhotelan di Tengah Pandemi, Bisnis,Hotel,Pandemi,Indonesia,Perhotelan

Ilustrasi hotel semasa pandemi (Pixabay/Markus Distelrath )

Resesi ekonomi dan krisis kesehatan masih melanda dunia, termasuk Indonesia. Pertumbuhan ekonomi nasional masih mengalami kontraksi. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi nasional kuartal III/2020 tercatat masih mengalami kontraksi sebesar 3,49 persen.

Hal ini menandai Indonesia memasuki fase resesi ekonomi. Setelah pada kuartal II/2020 mengalami kontraksi terdalam dengan 5,32 persen. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memprediksikan pertumbuhan ekonomi kuartal IV di level nasional masih terkontraksi di angka 2 persenan. Sementara prediksi Bank Indonesia (BI), pertumbuhan ekonomi di kuartal IV tahun 2020 masih terkontraksi di angka 1 persenan.

Jawa Barat sebagai provinsi penyangga ekonomi nasional juga mengalami hal yang sama. Menurut data BPS, laju pertumbuhan ekonomi Jawa Barat pada kuartal II/2020 mengalami kontraksi 5,98 persen. Sedangkan di kuartal III/2020 masih mengalami kontraksi dengan 4,08 persen.

Meskipun kondisi ekonomi masih resesi, namun indikasi ke arah perbaikan mulai terlihat. Pertumbuhan ekonomi yang mulai membaik meningkatkan optimisme pelaku usaha tahun 2021, walau pandemi covid-19 belum berakhir. Berharap di kuartal I/2021 pertumbuhan ekonomi sudah beranjak positif sebagai sinyal adanya pemulihan ekonomi.

Salah satu sektor yang paling terdampak akibat pandemi yakni sektor parawisata, khususnya perhotelan dan restoran/rumah makan. Ketua Tetap Hubungan Industrial Kadin Indonesia, Soeprayitno, pada bulan Agustus menyatakan lebih dari 1600 hotel di Indonesia tutup akibat pandemi covid-19.

Dalam kesempatan lain,Hariyadi B. Sukamdani, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) sekaligus Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menyebutkan ada sekitar 2.000 hotel dan restoran yang tutup dengan menelan kerugian sekitar 40-45 trilyun rupiah.

Tingkat okupansi hotel akibat pandemi menurun drastis. Data BPS menggambarkan Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang dan non bintang di Jawa Barat mengalami keterpurukan. Pada awal tahun 2020, bulan Januari, TPK tercatat sebesar 45,96 persen. Sejak kasus pertama covid-19 melanda Indonesia di awal maret, TPK bulan Maret mengalami penurunan drastis ke angka 28,73 persen. Puncak terendahnya dicapai oleh TPK bulan April hanya sebesar 8,02 persen. Penurunan okupansi hotel ini juga disebabkan karena menurunnya tren kunjungan wisatawan mancanegara dan domestik.

Namun, pasca-pemberlakuan new normal, bisnis dunia perhotelan mulai menggeliat. Hal ini terlihat dari angka TPK yang sudah mulai membaik. Rilis BPS mencatat angka TPK bulan November 2020 sudah menyentuh angka 41,31 persen. Meskipun angka ini belum mencapai okupansi hotel terbaik yang pernah mencapai angka 56,67 persen pada tahun 2018.

Begitu juga mulai terjadi peningkatan jumlah penumpang angkutan udara penerbangan domestik. Pada bulan November 2020 mengalami kenaikan sebesar 35,35 persen dibandingkan bulan oktober 2020. 

Semenjak munculnya pandemi, para pelaku bisnis perhotelan membagi perjalanan bisnis mereka menjadi tiga fase.

Pertama, fase sebelum datang pandemi covid-19 yaitu sebelum bulan Februari 2020. Pada fase ini pelayanan berjalan normal (normal servicing).

Kedua, fase antara bulan Maret-Juni 2020, selama pandemi covid-19 melanda Indonesia. Pada fase ini para pelaku bisnis perhotelan melakukan strategi bertahan dengan mengelola bisnis di tengah krisis. Pelaku bisnis hotel mulai mengoptimalkan penjualan berbagai produk-produk hotel. Di antaranya frozen food, ready to eat food dan produk lainnya dengan mengoptimalkan strategi pemasaran. Termasuk mengurangi cost leadership untuk tetap bertahan di masa krisis.

Ketiga, fase antara bulan Agustus hingga akhir tahun 2020. Semua hotel berlomba mengoptimalkan momentum dengan membuat paket-paket yang atraktif. Di antaranya seperti program staycation, safecation, wedding, tunangan dengan mengimplementasikan protokol kesehatan covid-19 secara ketat. Upaya ini dilakukan untuk merawat pelanggan secara maksimal agar bisnis bisa tumbuh dan tetap bertahan.

Kontribusi sektor pariwisata sangat penting terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Pemerintah menaruh perhatian besar terhadap pemulihan ekonomi di sektor parawisata terutama di tahun 2021. Kebijakan pemulihan dengan mengembangkan aspek 3A dan 2P, yakni Atraksi, Aksesibilitas dan Amenitas serta Promosi dan Partisipasi pelaku usaha swasta. Pulihnya sektor ini akan memulihkan pula bisnis penyangganya yakni perhotelan dan restoran/rumah makan. Dalam publikasi Produk Domestik Bruto (PDB) Triwulanan, BPS melaporkan pada triwulan I/2020, kontribusinya terhadap PDB mencapai 2,80 persen. Pandemi covid-19 telah menekan kontribusi sektor ini menjadi 2,28 persen di triwulan II/2020. 

Beberapa strategi yang dilakukan oleh pelaku bisnis perhotelan agar tetap tumbuh di tahun 2021 diantaranya:

Pertama, menambah investasi dengan aktivitas online. Konsumen bisa memilih dan memesan layanan hotel sesuai tarif dan fasilitas yang diinginkan hanya melalui smart phone mereka. Bagaimanapun pandemi covid-19 menjadi katalisator proses digitalisasi.

Kedua, alokasi anggaran iklan yang bisa memberikan high impact opportunity. Anggaran iklan yang efisien tapi memberikan dampak keuntungan optimal.

Ketiga, mengkombinasikan pemasaran dan pencitraan melalui aktivitas daring dan luring.

Keempat, Berorientasi kepada customer retention. Meningkatkan penjualan dengan memuaskan konsumen agar kembali menggunakan layanan hotel yang sama.

Memperhatikan indikasi membaiknya pertumbuhan ekonomi dan okupansi hotel melahirkan secercah harapan pelaku bisnis perhotelan di tahun 2021.

Ditambah dengan modal pergerakan penduduk Indonesia yang besar mencapai 270,20 juta jiwa di tingkat nasional, dan Jawa Barat khususnya dengan 48,27 juta jiwa (Sensus Penduduk, September 2020). Diperkuat juga dengan prediksi pemulihan ekonomi di tahun 2021, bisnis di bidang perhotelan optimis bisa kembali pada kondisi yang lebih baik.

Meskipun di tengah bayang-bayang perpanjangan PSBB. Mau tidak mau pelaku bisnis perhotelan dipaksa untuk membuat strategi pemasaran baru di masa krisis agar tetap bisa survive. Pelaku bisnis ini harus bisa melihat perubahan perilaku konsumen di era krisis. Adaptip terhadap perubahan yang ada, tetap produktif, lebih kreatif dan inovatif dalam meningkatkan pelayanan dan kepuasan kepada konsumen.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Aris Abdulsalam

terbaru

Lebaran yang Indonesia Banget dalam Lagu Pop

Netizen Selasa, 11 Mei 2021 | 12:01 WIB

Salah satu lagu yang lumayan utuh mendeskripsikan perayaan Lebaran adalah lagu karya komponis masyhur negeri ini, Ismail...

Netizen, Lebaran yang Indonesia Banget dalam Lagu Pop, Selamat Hari Lebaran,Ismail Marzuki,Lebaran,Lagu Lebaran,Lagu Selamat Hari Lebaran,Jangan Korupsi

Ramai Konten Family Issues di Tiktok, Wajarkah?

Netizen Senin, 10 Mei 2021 | 16:30 WIB

Hal tersebut dapat terjadi karena ada pergeseran norma atau perilaku masyarakat.

Netizen, Ramai Konten Family Issues di Tiktok, Wajarkah?, Family Issues,Masalah Keluarga,TikTok,pergeseran norma,perilaku masyarakat

Menguatkan Literasi Ramadan

Netizen Senin, 10 Mei 2021 | 16:05 WIB

Di bulan Ramadan pula, kita membaca Al-Qur’an dengan tujuan agar kita kembali menguatkan literasi kita.

Netizen, Menguatkan Literasi Ramadan, Al-Qur'an,Islam,Literasi,Ramadan

Hobi Bagaikan Harta Karun

Netizen Jumat, 7 Mei 2021 | 15:40 WIB

Setiap pekerjaan pasti merasakan suka dan duka. Tetapi, dengan dasar hobi, pekerjaan jadi terasa lebih menyamankan.

Netizen, Hobi Bagaikan Harta Karun, Hobi,Harta Karun,Pekerjaan,Menulis

Confident Humility, Hal yang Rumpang pada Masa Kini

Netizen Jumat, 7 Mei 2021 | 15:10 WIB

Jika kita terlalu percaya diri maka akan nampak arogan. Di lain sisi, jika tidak punya kepercayaan diri sama sekali maka...

Netizen, Confident Humility, Hal yang Rumpang pada Masa Kini, Confident Humility,Hal yang Rumpang,Masa Kini,Filosofi  Hidup,Kepercayaan Diri,Kerendahan Hati

Sawahkurung, Sawah Terakhir di Pusat Kota Bandung

Netizen Jumat, 7 Mei 2021 | 14:30 WIB

Bila ditelusuri, nama-nama geografi itu mengabadikan perkembangan kota, seperti halnya yang terjadi di Kota Bandung.

Netizen, Sawahkurung, Sawah Terakhir di Pusat Kota Bandung, Sawahkurung,Sawah Terakhir,Pusat Kota Bandung,Sejarah,Geografis

Pendidikan Seksual Bukan Hanya Tentang Seks dan Kontrasepsi

Netizen Kamis, 6 Mei 2021 | 15:36 WIB

Berbicara soal seks memang selalu menuai kontroversi dan selalu menjadi topik yang sensitif.

Netizen, Pendidikan Seksual Bukan Hanya Tentang Seks dan Kontrasepsi, Pendidikan Seksual,Seks,kontrasepsi,Oran Tua,Anak,Sex education

Ketika Rumahku Bukan Istanaku

Netizen Kamis, 6 Mei 2021 | 15:00 WIB

Apakah rumah memang tempat yang aman?

Netizen, Ketika Rumahku Bukan Istanaku, Rumahku Bukan Istanaku,Catatan Kelam Perempuan,Stress,KDRT,KDRT Secara Seksual,Perceraian

artikel terkait

dewanpers