web analytics
  

Belajar Daring sambil Mencari Uang, Dilema Siswa di Bandung

Rabu, 3 Februari 2021 13:58 WIB Netizen Deffy Ruspiyandy
Netizen, Belajar Daring sambil Mencari Uang, Dilema Siswa di Bandung, Belajar Daring,siswa,Bandung,Pandemi Covid-19

Tita sedang melayani pembeli ketika berjualan kuliner selama pembelajaran daring ini, Selasa (2/2-2021). ((Deffy Ruspiyandy))

Deffy Ruspiyandy

Penulis Artikel dan Penulis Ide Cerita di SCTV.

Sejatinya, kalau tidak ada pandemi melanda negeri ini, tentu saja para pelajar akan terus bersekolah secara tatap muka. Namun dikarenakan ada kekhawatiran terpapar virus covid 19, maka diputuskanlah untuk belajar di rumah atau dikenal dengan sekolah daring.

Sekolah dengan sistem seperti itu sudah berjalan hampir satu tahun lamanya. Tentu saja hal itu malah membuat kejenuhan di kalangan pelajar itu sendiri.

Namun, bagi beberapa orang siswa, untuk menyiasati kejenuhan ini, mereka ternyata memilih untuk bekerja atau berjualan. Jelas, saat mereka bekerja, para siswa itu sambil belajar pula.

Dengan begitu, sejumlah siswa yang melakukan hal itu, selain masih bisa belajar daring juga bisa mendapatkan sejumlah uang. Hal ini menandakan jika mereka yang mau berpikir dari sebuah peristiwa maka ada hikmah baik yang bisa didapatkannya.

Seperti yang dilakukan oleh Tita Nirmalasari, siswi kelas XI AP1 SMK Pasundan 3 Bandung. Adanya belajar daring membuatnya bisa belajar berjualan juga bersama rekannya, Chumaidy Ismail. Tita sendiri tinggal di Jalan Industri Dalam, Kecamatan Cicendo, tetapi ia berjualan di kediaman rekannya di Kelurahan Ciroyom, Kecamatan Andir Kota Bandung.

”Awalnya sih sewaktu covid-19 ini mulai melanda dan mulanya coba-coba. Tetapi ternyata itu malah membuat aku jadi suka dan ternyata berjualan itu menyenangkan, biarpun ada lakunya ada pula tidak lakunya,” terangnya yang ditemui di tempat jualan spageti tulang, roti bakar, dan minuman juice (2/2) siang

Dari hasil jualannya ini, Tita pun mampu membeli sebuah handphone yang bisa digunakan untuk sekolah daring sekitar empat bulan lalu. Sementara sebelumnya, untuk hal itu ia sering pinjam ke rekannya. Bahkan dari keuntungan yan didapatnya setiap hari, sekitar Rp 50.000,- setelah dibagi dua, bisa juga ia berikan kepada orang tuanya untuk meringankan beban mereka.

”Kebetulan jika berjualan kuliner ini kan dimulainya jam 12 siang. Karenanya kalau ada pelajaran saya lakukan sampai selesai. Kecuali ada yang belum, maka aku kerjakan  di sela-sela jualan pada saat malam hari. Kalaupun nanti sekolah normal kembali tatap muka maka saya akan bergantian saja jualannya usai pulang sekolah,” ungkap Tita yang setelah lulus nanti ingin mengembangkan usahanya dengan menetap di sebuah tempat sejenis kafe.

Sementara Resa Fauzan, Siswa Kelas XII di SMKN 12 Bandung justru ia lebih melihat potensi menjadi tukang parkir. Saat itu kira-kira satu tahun yang lalu dia melihat ada peluang di depan toko plastik dekat Pasar Ciroyom. Resa yang biasa dipanggil Uno langsung meminta kepada pemiliknya untuk bisa menjadi tukang parkir; dan sang pemilik mengizinkannya.

Saya kerja di sini 4 hari dalam seminggu bergantian dengan  teman saya. Lumayan sehari-hari bisa dapat uang sekitar Rp 80.000,- dan bisa dibelikan kuota untuk belajar daring. Tapi kadang-kadang belajar daring keganggu juga sih akibatnya saya mengerjakan tugas jadi belakangan. Tetapi saya yakin saya bisa lulus tahun ini apalagi sepertinya tahun ini takkan ada ujian,”

Masih menurutnya, kendati lulus sekolah kelak beberapa bulan lagi, maka selagi belum bekerja anak remaja pria ini tetap akan menjalani profesi ini. Baginya, kebaikan pemilik toko plastik membuatnya bersemangat untuk menggunakan waktu setelah sekolah daring dilaksanakan dan ia bekerja dari jam sepuluh pagi sampai jam enam sore – toko tutup pukul sembilan malam.

“Dari hasil parkir ini juga saya bisa beli motor bekas untuk trek-trekkan karena saya punya hobi itu. Sementara untuk urusan biaya sekolah saya tidak perlu memikirkannya karena sewaktu masuk menggunakan jalur KETM (Keluarga Ekonomi Tidak Mampu) sehingga ada bantuan dari Pemerintah,” tambanya.

Sementara itu, Rohimah Maulidi justru memilih bekerja  di sebuah toko pakaian anak di Pasar Andir, Kota  Bandung, untuk membantu perekonomian orang tua. Kendati demikian, remaja wanita ini tetap melaksanakan sekolah daring karena dilakukan pagi dan malam hari.

”Kalau soal pendapatannya lumayan-lah bisa dapat 50.000 sehari. Hitung-hitung nyari pengalaman karena kalau nanti lulus belum bekerja maka bisa bekerja di toko ini dulu,” katanya yang sekolah di SMK Citra Pembaharuan jurusan otomotif, di kawasan Jalan Pajajaran, Kota Bandung.

Berbeda dengan Ardi Ahmad Rojabi, dia berjualan di sela-sela belajar daringnya untuk sekadar membantu ayahnya agar tidak terlalu capek karena kadang ayahnya jualan sampai pukul sembilan malam. Hal itu dilakukannya karena ayahnya kadang sering terkantuk-kantuk saat berjualan karena kurang tidur. Semua itu terjadi karena mempersiapakan cireng dan cilor yang hendak dijualnya sejak dini hari.

“Makanya kalau pagi jam enam sampai jam sembilan aku bantu ayah jualan dulu di jalan Rajawali Timur dan jika sudah datang ayah maka ia menggantikan aku dan aku langsung belajar daring sampai jam dua belas siang,” katanya yang kini sekolah di SMKN 12 Bandung.

Ardi justru melakukan itu semua bukan untuk mencari uang, namun sekadar membantu orang tuanya yang berjualan. Namun begitu, ia pun tak memungkiri jika dirinya dapat uang pula dari kerja membantu ayahnya.

Menurutnya, kalau hari biasa ia mendapatkan uang sepuluh ribu tetapi kalu hari minggu, karena jualan di tempat lain dan lebih ramai, makanya sering diberi sampai dua puluh ribu rupiah.

”Nanti kalau sudah  lulus pun tadinya ingin kuliah, tapi karena belum ada biayanya dan kalau ada modal aku sih inginnya jualan juga seperti ini namun jualannya kelililing,” tandas pria remaja yang biasa dipanggil  Ade ini.

Tentu saja, ini realita yang tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian siswa yang kini sekolah daring mencoba  mencari pengalaman dan bukan sekadar mencari uang. Mereka tetap belajar karena bagi mereka sekolah tetap nomor satu, namun begitu mereka harus tetap menjaga protokol kesehatan selama berinteraksi dengan orang-orang di luar rumah.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Aris Abdulsalam

terbaru

Merenungi Hikmah Puasa Ramadan

Netizen Jumat, 16 April 2021 | 10:35 WIB

Puasa akan melahirkan rasa cinta, kasih sayang, dan kelembutan kepada orang miskin.

Netizen, Merenungi Hikmah Puasa Ramadan, Puasa,Ramadan,Salat Tarawih,Hikmah Puasa,Merenungi Hikmah Puasa,puasa ramadan

Mengubah Peringatan Waspada Menjadi Rencana Tindakan

Netizen Jumat, 16 April 2021 | 09:16 WIB

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Rabu, 14 April 2021 sudah mengingatkan kepada masyarakat untuk...

Netizen, Mengubah Peringatan Waspada Menjadi Rencana Tindakan, BMKG,Cuaca ekstrem,cekungan bandung,Bencana Alam

Mural Sebagai Media Pembelajaran Efektif dan Menyenangkan

Netizen Kamis, 15 April 2021 | 18:30 WIB

Mural sekolah memberikan suasana yang “segar” dan membuat suasana di sekolah menjadi tidak monoton.

Netizen, Mural Sebagai Media Pembelajaran Efektif dan Menyenangkan, Mural Sebagai Media Pembelajaran Efektif,Media Pembelajaran Efektif dan Menyenangkan,SDN Mustikajaya VII,Kota Bekasi,Mural,Pendidikan,Sekolah

Harga Gabah dan Beras di Tengah Polemik Impor

Netizen Kamis, 15 April 2021 | 17:50 WIB

Ada faktor lain yang menyebabkan turunnya harga komoditas padi di tahun 2020.

Netizen, Harga Gabah dan Beras di Tengah Polemik Impor, Polemik Impor,Beras,Petani,komoditas padi,Gabah kering panen (GKP),gabah kering giling (GKG),Jawa Barat,Badan Pusat Statistik (BPS)

Menyusun Kamus Belanda-Sunda

Netizen Rabu, 14 April 2021 | 10:05 WIB

Untuk penyusunan kamus Belanda-Sunda dapat dibilang Kartawinata adalah orang Sunda pertama yang berhasil menyusun dan me...

Netizen, Menyusun Kamus Belanda-Sunda, Kamus Belanda-Sunda,Hollandsch-Soendaasch Woordenboek,Raden Kartawinata,P. Blusse

Ruang Kelas Tanpa Batas untuk Vani Antika

Netizen Selasa, 13 April 2021 | 17:30 WIB

Layaknya kanvas bagi pelukis, dalam dunia per-makeup-an pun dikenal istilah muse.

Netizen, Ruang Kelas Tanpa Batas untuk Vani Antika, Makeup,Makeup Artist,MUA

Muktamar XIII Pemuda Persis, Semangat Baru Peradaban

Netizen Selasa, 13 April 2021 | 12:57 WIB

Tidak hanya tentang pergantian kepemimpinan, Muktamar ke-13 ini juga melahirkan berbagai produk perjuangan yang baru.

Netizen, Muktamar XIII Pemuda Persis, Semangat Baru Peradaban, Persis (Persatuan Islam),Muktamar XIII Pemuda Persis,Pimpinan Pusat Pemuda Persatuan Islam,Ibrahim Nasrulhaq al-Fahmi

Merawat Tradisi Munggahan, Meneguhkan Harmoni 'Sunda-Islam'

Netizen Senin, 12 April 2021 | 18:20 WIB

Suatu bangsa yang besar itu tidak akan melupakan tradisi, pun tidak lupa budaya sendirinya.

Netizen, Merawat Tradisi Munggahan, Meneguhkan Harmoni 'Sunda-Islam', Munggahan,Tradisi Munggahan,Munggahan Ramadan,Sunda,Islam

artikel terkait

dewanpers