web analytics
  

Pindah ke Bandung dan Vaksin Kering

Minggu, 31 Januari 2021 10:41 WIB Netizen ATEP KURNIA
Netizen, Pindah ke Bandung dan Vaksin Kering, Atep Kurnia,netizen ayobandung,vaksin kering, bandung baheula,Pasteur,otten,bandung tempo dulu,Sejarah Bandung

Perkakas yang digunakan oleh Otten untuk membuat vaksin kering. (Sumber: Otten (1932))

ATEP KURNIA

Peminat literasi dan budaya Sunda.

AYOBANDUNG.COM -- Tahun 1922 dan 1923 menjadi masa-masa sibuk bagi de Landskoepokinrichting en het Instituut Pasteur. Karena pada 1922 terjadi pembangunan untuk menjadi kantor kedua lembaga tersebut di Bandung, dan pada 1923 terjadi perpindahan kantor pencacaran dan Pasteur tersebut dari Weltevreden (Batavia) ke Bandung.

Namun, sebenarnya gagasan kepindahan tersebut sudah direncanakan sejak lama. Bila membuka-buka koran lama, misalnya Het Vaderland (12 Februari 1917) dan Algemeen Handelsblad (13 Februari 1917), disebutkan bahwa kepindahan dari Weltevreden ke Bandung itu telah dikeluarkan aturannya dalam surat keputusan gubernur jenderal Hindia Belanda pada Desember 1916. Dengan mengutip keterangan koran De Preangerbode, disebutkan bahwa “beweert da teen gouvernementsbesluit van eind December beslist dat de landskoepokinrichting en het instituut Pasteur naar Bandoeng overbrcaht worden”.

Pelaksanaan kepindahannya ke Bandung dapat disimak dalam “Jaarverslag van de Landskoepokinrichting en het Instituut Pasteur te Bandoeng over het jaar 1923” (GTvNI deel LXIV, 1924) dan “Jaarverslag van den Burgerlijken Geneeskundigen Dienst Ned.Indie, over 1923” (dalam MDVG deel IV, 1925).

Dari dua keterangan tersebut, kita jadi tahu bahwa pada paruh kedua 1922, bangunan-bangunan untuk de Landskoepokinrichting en het Instituut Pasteur sudah hampir selesai dan dapat dianggap bila kepindahan ke Bandung diperkirakan terjadi pada awal 1923. Pemindahan barang-barang dari Weltevreden berjalan lancar. Vaksin secara simultan dikirim kepada jurucacar selama tiga minggu, sehingga pengiriman vaksin yang sudah teratur tidak terjadi selama kepindahan administrasi dan barang-barang ke Bandung. Pengiriman bibit cacar, vaksin, dan sera tidak terganggu, sebab ada administrateur dengan persediaan di Weltevreden, sementara adjunct-administrateur dan yang lainnya pindah ke Bandung.

Karena sakit, Wasch tidak dapat pergi karena sakit, sehingga pekerjaannya ditangani oleh direktur. Sementara mejuffrouw Hoven van Genderen pindah ke Bandung pada pertengahan Januari 1923 untuk mendirikan Institut Pasteur agar dapat menangani para pasien. Sementara pasien yang berada di Weltevreden kemudian akan dipindahkan ke Bandung. Demikian pula dengan dokter, mantri, calon mantra, perkakas dan meubel dibawa pindah ke Bandung.

Pada 27 Januari 1923, semua kuda dan hewan lain sudah dibawa ke dalam gerbong kereta api yang sudah disemprot disinfektan. Pada 28 Januari, semua hewan tersebut tiba di Bandung pada sore hari, dan kandang serta pakannya sudah tersedia sebelumnya. Pada 24 Februari 1923, kerbau pertama mulai diinokulasi dengan bibit cacar dan pada 2 Maret 1923 kuda mulai divaksinasi dengan perkakas serum setelah lama tidak dilakukan. Pengiriman kerbau sudah mulai berlangsung secara teratur. Persediaan rumput dan gabah untuk kuda mula-mula menghadapi kesukaran, tetapi kemudian dapat ditangani dengan baik. Sementara, pasien-pasien pertama mulai ditangani di Institut Pasteur sejak 20 Januari 1923.

Setahun kemudian, Dr. F. J. Noordhoek Hegt, direktur De Landskoepokinrichting en het Instituut Pasteur yang telah membawa pindah dari Weltevreden ke Bandung, memasuki masa pensiun. Ini berdasarkan keputusan pemerintah nomor 5, pada 12 April 1924. Sementara penggantinya adalah Dr. L. Otten yang diangkat berdasarkan keputusan pemerintah nomor 4, pada 10 Mei 1924 (“Jaarverslag van de Landskoepokinrichting en het Instituut Pasteur te Bandoeng over het jaar 1924” dalam GTvNI deel LXV, 1925).

Dari laporan tahunan yang sama, kita juga mengetahui produksi vaksin cacar berikut jumlah vaksinasi dan revaksinasi yang dilakukan pada 1924 oleh Landskoepokinrichting en het Instituut Pasteur di Bandung. Untuk produksi vaksinnya ada 5 kelinci (masing-masing mendapatkan 3,35 gr), 10 anak sapi (192 gr), dan 71 kerbau yang mampu menghasilkan 24.661 kilogram pulpa vaksin. Vaksin cacar yang dikirimkan selama 1924 cukup untuk memvaksinasi 12 juta orang. Di kantor lembaga ini sendiri pada tahun tersebut telah berhasil memvaksinasi 2.708 orang, yang terdiri dari 245 orang Eropa, 2.463 orang pribumi, dan sisanya orang Tionghoa.

Pada gilirannya, sebagai kepala Landskoepokinrichting en het Instituut Pasteur yang baru L. Otten berupaya melakukan penyelidikan untuk penyempurnaan pembuatan vaksin cacar. Upayanya tersebut, antara lain nampak dari yang didedahkannya dalam tulisan bertajuk “Droge vaccine” (dalam GTvNI deel LXVI, 1926), “Dry Lymph (2nd Communication)” (dalam MDVG No. 4, 1932). Intinya dalam kedua tulisan tersebut, Otten berhasil menyempurnakan pembuatan vaksin, dari larutan dalam gliserin menjadi vaksin kering di dalam vakum.

Dalam tulisan pertama (1926), ia menyatakan antara lain bahwa dengan mengeringkan vaksin dan menyimpannya dalam vakum, dimungkinkan memperoleh vaksin yang punya resistensi yang tinggi terhadap virus: dalam suhu 360C dapat bertahan berbulan-bulan, pada suhu 41-450C bisa berminggu-minggu, dan pada 580C bisa beberapa hari. Bila vaksin kering tersebut disimpan pada suhu normal seperti di Bandung, vaksin dapat efektif digunakan selama setahun atau lebih.

Kemudian, dia menyatakan bahwa mempertahankan vacuum berarti pula perawatan terhadap kualitas vaksinnya, bila vakumnya tidak berfungsi atau hilang maka hilang pula efektivitas vaksinnya. Dari pelbagai metode preparasinya, pada suhu ruangan sangatlah mudah, sementara untuk produknya (kamer-vaccine), metode yang digunakannya lebih rumit (frigolo- en vries-vaccine). Otten juga menyebutkan bahwa vaksin kering dapat digunakan ke daerah-daerah terpelosok dan terluar di kepulauan Nusantara.

Selanjutnya dalam tulisan kedua (1932), Otten menyatakan lebih jauh ihwal vaksin kering. Pertama, ia menyatakan bahwa preparasi untuk kelenjar getah bening kering (dry lymph), meskipun secara teknis lebih rumit dan memakan waktu daripada kelenjar gliserin, dapat dilakukan di mana-mana. Kedua, katanya, perkembangan vaksin yang diinokulasikan pada kerbau telah dapat dilakukan dengan kecapatan bermacam-macam tetapi biasanya maksimalnya tercapai setelah 3 hari.

Ketiga, vaksin kering bila disimpan dalam vakum dimungkinkan punya resistensi yang tinggi terhadap virus yang lama: 580C untuk selama beberapa hari, 370C dan 420C untuk berbulan-bulan dan dalam suhu ruangan, bahkan di daerah tropis bisa bertahan bertahun-tahun. Sehingga aktivitasnya dapat dianggap tidak terbatas. Keempat, sekalinya dipersiapkan untuk digunakan dengan gliserin, aktivitasnya akan cepat berkurang, sehingga aplikasi bagi kelenjar getah bening yang mencair hanya terbatas maksimal pada 3 hari tanpa jeda.

Kabar selanjutnya terkait pengembangan vaksin kering oleh Otten dapat disimak dalam “Jaarverslag van den Dienst der Volksgezondheid over 1934” (dalam MDVG deel XXIV, 1935). Di situ disebutkan bahwa Landskoepokinrichting en het Instituut Pasteur Bandung sedang melanjutkan penyiapan vaksin kering secara besar-besaran, dan juga melakukan penyelidikan uji coba dengan acuan pada aktivitias antigenik virus tertentu dalam berbagai modifikasinya.

Sementara aplikasinya yang pertama kali, saya mendapati hal menarik. Dari tiga tulisan W. A. Collier paling tidak saya jadi punya dua titik berangkat. Pada dua tulisan awalnya (“Over de houdbaarheid van droge pokstof” dan “De houdbaarheid van verdunde koepokstof” dalam Medisch Maandblad, deel II, 3, 1949) disebutkan bahwa vaksin kering dibuat oleh Otten pada Maret 1930 kemudian disimpan di Batavia dan Bandung. Sementara pada tulisan ketiganya (“Dried Smallpox Vaccine. Preparation of Otten's Vaccine at the Pasteur Institute, Bandoeng, Indonesia” dalam Bulletin of the World Health Organization Vol.5 No.2, 1952) disebutkan bahwa vaksin kering yang dibuat berdasarkan metode Otten di Bandung telah digunakan di Indonesia sejak 1931.

Dalam tulisan pertama Collier juga ada informasinya menarik, yakni terkait jumlah vaksin cacar kering yang telah disediakan oleh Landskoepokinrichting en het Instituut Pasteur di Bandung antara tahun 1931-1948. Beberapa datanya dapat diungkapkan lagi sebagai berikut: Pada 1931, dosis yang diberikan sebanyak 147.000 untuk 13 distrik vaksin; 1932 sebanyak 149.775 untuk  16 distrik; 1933 sebesar 356.800 vaksin untuk 32 distrik; 1934 sebesar 452.800 vaksin untuk 37 distrik; 1935 sebanyak 420.900 vaksin untuk 44 distrik; dan 1936 sebanyak 539.600 vaksin untuk 47 distrik. Data-data tersebut menunjukkan peningkatan jumlah vaksin yang diproduksinya sebagaimana yang diungkapkan dalam “Jaarverslag van den Dienst der Volksgezondheid over 1934” sekaligus distrik vaksinnya – yang termasuk ke dalam konsep sistem pencacaran – meningkat terus setiap tahunnya.

Dengan peningkatan-peningkatan tersebut tidak aneh bila Collier (“Over de houdbaarheid van droge pokstof”, 1949) mengatakan bahwa di Hindia Belanda tidak mungkin lagi memberantas wabah cacar tanpa menggunakan secara ekstensif vaksin kering yang dikembangkan oleh Otten. Sebab-sebabnya, sudah jelas seperti yang dinyatakan oleh Otten dalam kedua tulisannya, dan juga diulangi oleh Collier dalam tulisannya: ketahanan vaksin kering pada suhu tropis.

Kesuksesan pemberantasan dengan menggunakan vaksin kering dapat dilihat dari terus menurunnya kejadian wabah cacar di Hindia Belanda, terutama di Pulau Jawa dan Madura. Pada “Jaarverslag van den Dienst der Volksgezondheid over 1935” (dalam MDVG deel XXV, 1936) dinyatakan bahwa kasus cacar yang terjadi pada 1935 di Jawa dan Madura berjumlah 10 kasus, sebelumnya pada 1934 ada 4 kasus. Sementara di luar Jawa-Madura, ada 32 kasus pada 1935, dan 5 pada 1934.

Pada laporan yang sama untuk tahun 1936 (“Jaarverslag Dienst der Volksgezondheid in Nederlandsch-Indië 1936” dalam MDVG deel XXVII, 1938) disebutkan hanya ada satu kasus cacar yang dilaporkan terjadi di Jawa dan Madura. Di luarnya, pada 1936 ada 79 kasus cacar, meningkat lebih dari dua kali lipat dari 1935.  Setahun kemudian, dilaporkan bahwa pada 1937 tidak ada kasus cacar yang terjadi di Jawa dan Madura, kecuali satu kasus impor fatal yang terjadi di Surabaya (“Jaarverslag van den Dienst der Volksgezondheid over 1937” dalam MDVG deel XXVIII, 1939).

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Ananda Muhammad Firdaus

terbaru

Hobi Bagaikan Harta Karun

Netizen Jumat, 7 Mei 2021 | 15:40 WIB

Setiap pekerjaan pasti merasakan suka dan duka. Tetapi, dengan dasar hobi, pekerjaan jadi terasa lebih menyamankan.

Netizen, Hobi Bagaikan Harta Karun, Hobi,Harta Karun,Pekerjaan,Menulis

Confident Humility, Hal yang Rumpang pada Masa Kini

Netizen Jumat, 7 Mei 2021 | 15:10 WIB

Jika kita terlalu percaya diri maka akan nampak arogan. Di lain sisi, jika tidak punya kepercayaan diri sama sekali maka...

Netizen, Confident Humility, Hal yang Rumpang pada Masa Kini, Confident Humility,Hal yang Rumpang,Masa Kini,Filosofi  Hidup,Kepercayaan Diri,Kerendahan Hati

Sawahkurung, Sawah Terakhir di Pusat Kota Bandung

Netizen Jumat, 7 Mei 2021 | 14:30 WIB

Bila ditelusuri, nama-nama geografi itu mengabadikan perkembangan kota, seperti halnya yang terjadi di Kota Bandung.

Netizen, Sawahkurung, Sawah Terakhir di Pusat Kota Bandung, Sawahkurung,Sawah Terakhir,Pusat Kota Bandung,Sejarah,Geografis

Pendidikan Seksual Bukan Hanya Tentang Seks dan Kontrasepsi

Netizen Kamis, 6 Mei 2021 | 15:36 WIB

Berbicara soal seks memang selalu menuai kontroversi dan selalu menjadi topik yang sensitif.

Netizen, Pendidikan Seksual Bukan Hanya Tentang Seks dan Kontrasepsi, Pendidikan Seksual,Seks,kontrasepsi,Oran Tua,Anak,Sex education

Ketika Rumahku Bukan Istanaku

Netizen Kamis, 6 Mei 2021 | 15:00 WIB

Apakah rumah memang tempat yang aman?

Netizen, Ketika Rumahku Bukan Istanaku, Rumahku Bukan Istanaku,Catatan Kelam Perempuan,Stress,KDRT,KDRT Secara Seksual,Perceraian

Sony Xperia, 'Limbah Jepang' yang Tak Pernah Sepi Peminat

Netizen Rabu, 5 Mei 2021 | 14:23 WIB

Walaupun secara resmi Sony sudah menarik peredaran ponselnya di tanah air, peminat dari ponsel ini justru tidak pernah s...

Netizen, Sony Xperia, 'Limbah Jepang' yang Tak Pernah Sepi Peminat, Sony Xperia,Ponsel,Teknologi,smartphone,Jepang

Anggota Perhimpunan Batavia Menulis Adat Bengang

Netizen Rabu, 5 Mei 2021 | 10:18 WIB

Apa saja kontribusi yang diberikan oleh Kartawinata selama menjadi anggota Perhimpunan Batavia?

Netizen, Anggota Perhimpunan Batavia Menulis Adat Bengang, Anggota Perhimpunan Batavia,Adat Bengang,Raden Kartawinata,Bataviasch Genootschap voor Kunsten en Wetenschappen (BGKW)

Mengapa Mudik?

Netizen Selasa, 4 Mei 2021 | 12:55 WIB

Meski kini pemerintah melarang mudik. tradisi mudik ini tidak akan pernah berhenti pada satu generasi.

Netizen, Mengapa Mudik?, Mudik,Larangan Mudik,Mengapa Mudik?

artikel terkait

dewanpers