web analytics
  

Profil Solihin GP, Tokoh Jabar, Tempat Sowan Capres dan Calon Gubernur

Kamis, 28 Januari 2021 17:28 WIB A. Dadan Muhanda
Bandung Baheula - Baheula, Profil Solihin GP, Tokoh Jabar, Tempat Sowan Capres dan Calon Gubernur, solihin GP,Profil Solihin Gautama Purwanegara,Tokoh Jabar,Ridwan Kamil,Jokowi,Biodata Solihin GP,Mang Ihin

Solihin Gautama Purwanegara (Tangkapan Layar Youtube Setneg)

AYOBANDUNG.COM—Salah satu tokoh Jawa Barat yang melegenda dan paling berpengaruh hingga kini adalah Solihin GP atau dikenal dengan nama Mang Ihin.

Solihin GP lahir pada 21 Juli 1926 di Tasikmalaya, pada 2021 usianya menginjak 95 Tahun pada petengahan tahun ini. Usia yang sudah senja. Saat ini, Mang Ihin beberapa kali dilarikan ke rumah sakit untuk dirawat karena menderita berbagai penyakit.

Nama lengkap Mang Ihin adalah Letnan Jenderal TNI Purn. H. Solihin Gautama Purwanegara. Solihin dikenal sebagai Gubernur Jawa Barat ke-10 dengan jabatan periode 1970 – 1974.

Setelah jadi Gubernur Jabar pada 1974, Solihin masih sangat peduli terhadap pembangunan Jawa Barat. Dia kemudian aktif di DPKLTS atau Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan tatar Sunda.

Tempat Sowan dan Minta Restu

Ada satu kebiasaan yang hingga kini masih dilakukan para tokoh nasional, yakni sowan ke Solihin GP saat bertarung dalam pemilihan presiden maupun kepala daerah. Selain sowan meminta doa restu kepada Solihin sebagai sesepuh, mereka tentunya ingin meraih simpati dan dukungan warga Tatar Sunda.

Sowan ke Solihin GP sudah dilakukan sejak Susilo Bambang Yudhoyono mencalonkan diri sebagai Capres bersama Jusuf Kalla. SBY sowan ke Solihin GP pada masa pilpres tanggal  15 Mei 2004 lalu. SBY kemudian memenangkan pertarungan, termasuk meraih suara tinggi di Jabar.

Entah ada hubungan atau tidak dengan kunjungannya ke Solihin GP, yang jelas faktanya demikian. Pada periode kedua, SBY juga lagi-lagi berkunjung ke rumah Solihin GP di Cisitu Indah, Bandung.

Pun yang dilakukan Joko Widodo. Saat mengikuti pilpres periode pertama pada 2014, Jokowi melakukan Sowan ke kediaman Mang Ihin pada 29 Mei 2014. Jokowi yang saat itu berpasangan dengan Jusuf Kalla kemudian memenangkan Pilpres. Setelah jadi Presiden, Jokowi juga rutin menyambangi rumah Solihin GP.

Puncaknya, pada Pilpres 2019 lalu, Jokowi bahkan menunjuk Solihin GP sebagai Ketua Tim Pemenangan di Jabar. Lagi-lagi Jokowi berhasil menjadi Presiden.

Di level kepala daerah juga demikian. Sowan ke rumah Solihin GP seperti menjadi rutinitas yang harus dilewati jika ingin memenangkan pertarungan di Jawa Barat. Ridwan Kamil saat mencalonkan menjadi gubernur juga meminta wejangan dari mang Ihin dan berhasil terpilih.

Senioritas, pengalaman panjang, dan ketokohan Solihin GP di Jawa Barat memang kuat. Sejarah Solihin GP sama degan sejarah mendiang Gubernur Jakarta yang legendaris Ali Sadikin.

Bersaing dengan Ali Sadikin

Dalam buku berjudul The Trouble Shooter, 80 Tahun Solihin GP karya Forum Diskusi Wartawan Bandung (FDWB) disebutkan Solihin GP tercatat pernah bersaing bersama Ali Sadikin saat itu dalam membangun daerah. Persaingan yang membawa dampak positif tentunya bagi Jakarta maupun Jabar yang memang berbatasan.

Menjadi kepala daerah di dua wilayah yang berbatasan memang memerlukan kerjasama untuk membangun kawasan. Namun, tak jarang karenanya justru perselisihan terjadi. Misalnya saja, Gubernur Jawa Barat periode 1970 - 1974, Solihin GP, yang pernah merasa dilecehkan oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin.

Bagaimana ini bisa terjadi?
Kisah ini berawal saat Mang Ihin, sapaan akrab Solihin, hendak sowan ke Ali Sadikin di Jakarta. Sebagai Gubernur Jawa Barat yang baru, Mang Ihin merasa perlu berkonsultasi dengan Bang Ali, sapaan Ali, tentang bagaimana membangun wilayah. Saat Mang Ihin menjadi Gubernur Jawa Barat pada 1970, Bang Ali sudah empat periode memimpin Jakarta. Prestasi-prestasi Bang Ali membangun Jakarta itulah yang membuat Mang Ihin merasa perlu berkonsultasi dengan gubernur ibu kota negara itu.

Nah, pada saat berbincang-bincang itu Mang Ihin merasa dilecehkan. Dalam 'Cendramata 80 Tahun Solihin GP' diceritakan, Mang Ihin tersinggung karena Bang Ali ingin 'mengambil' wilayah perbatasan yang menurutnya tidak bisa diurus oleh Jawa Barat.

"Jawa Barat tidak bisa melakukan pembangunan, sedangkan saya didesak oleh masyarakat agar memperluas daerah perbatasan antara DKI Jakarta dan Jawa Barat. Untuk itu, agar diikhlaskan saja saya membangun daerah perbatasan itu. Apalagi kan kita sama-sama dilahirkan di Jawa Barat," kata Bang Ali sambil menunjuk peta Kabupaten Bekasi, Tangerang dan sebagian wilayah Kabupaten Bogor.

"Wah ini kurang ajar banget," kata Mang Ihin dalam hati. Meski merasa dilecehkan oleh Bang Ali, Mang Ihin tetap tersenyum. Alih-alih naik pitam, dia justru menyindir balik Bang Ali kenapa dia tidak sekalian saja menyatukan Provinsi DKI Jakarta dan Jawa Barat.

"Kalau Bang Ali ahli strategi yang ulung dan hebat, jadikan saja Jawa Barat dan DKI Jakarta satu provinsi," sindir Mang Ihin kepada Bang Ali. Tidak jelas, bagaimana selanjutnya kisah saling sindir itu. Namun, yang jelas perbincangan itu membawa kebaikan bagi dua provinsi. Baik Mang Ihin, maupun Bang Ali kemudian saling berlomba-lomba untuk membangun wilayahnya. Saat itulah, terjadi istilahnya 'perang daerah' atau 'perang wilayah' di perbatasan Jawa Barat dan DKI Jakarta.

Setelah itu, wilayah Jawa Barat tak kalah maju. Industri semen Kaisar dan Tiga Roda dibangun di Bekasi. Kemudian pabrik tekstil di Tangerang. Menyadari cuaca Puncak yang sejuk, Mang Ihin juga membangun tempat rekreasi Taman Safari.

Setelah berhasil membangun wilayah perbatasan, Mang Ihin pun mengajak Bang Ali ke Puncak. Dia memperlihatkan bagaimana arus lalu lintas dari Jakarta ke Jawa Barat juga tidak kalah dari arah sebaliknya. Artinya, tiap provinsi sudah punya magnet masing-masing sebagai hasil dari pembangunan. Sungguh persaingan yang positif bagi kemajuan rakyat.

Mengatasi Rawan Pangan Indramayu

Salah satu prestasi Solihin GP yang banyak dicatat adalah perhatian yang besar untuk mengatasi rawan pangan di wilayah Indramayu pada saat menjabat sebagai gubernur Jabar. Saat itu, Mang Ihin konsisten memasyarakatkan padi gogo rancah dan berhasil dikembangkan.

Penyerahan Mesin Huller Kepada Bekas Pejuang Pembantu Logistik

Presiden Soeharto menyerahkan mesin Huller (penggiling padi) kepada Hudori dari desa Cikoneng, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Hudori adalah bekas pejuang yang memberikan makanan kepada pasukan yang dipimpin oleh Gubernur Solihin dan Pangdam Siliwangi, Mayjen. A.J. Witono, dalam perang kemerdekaan.

Hudori kini menjadi petani, dan ketika ditemui Presiden dalam kunjungan incognito-nya beberapa waktu lalu, keadaannya sangat menyedihkan. Penyerahan dilakukan melalui Gubernur Jawa Barat, Solichin GP, di Bina Graha hari Rabu, 06 Mei 1970, Sementara itu sebuah “padi traktor” akan diserahkan kepada desa Karang Luas Lor, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah melalui Residen Banyumas.

Kisah Petani Jawa Barat tidak Mengenal Presiden Soeharto

Presiden Soeharto memulai kunjungan incognito ke Jawa Barat dan Jawa Tengah tanggal 06 April 1970. Kunjungan yang diadakan bertepatan dengan awal pelaksanaan tahun kedua Pelita I ini, merupakan inspeksi langsung Presiden Soeharto di daerah pedesaan.

Tempat-tempat yang ditinjau adalah desa-desa Binong, Subang, Sindang, dan Kertasmaya, semuanya di Provinsi Jawa Barat. Di tempat-tempat tersebut Jenderal Soeharto berdialog dengan para petani, disamping melihat secara langsung pembangunan jalan, pengairan dan irigasi di pedesaan Jawa Barat itu. Satu hal yang perlu dicatat, tak satu pejabat pun di setiap tempat yang ia kunjungi, yang mengetahui kehadiran Pak Harto.

Entah dari mana informasinya, keesokan paginya ketika Pak Harto sedang berdialog dengan salah seorang petani, muncul Gubernur Jawa Barat Solihin G. P. Sesaat setelah berdialog, petani mempersilahkan rombongan Pak Harto untuk singgah di rumahnya. Setiba di rumah petani, Pak Solihin menanyakan, siapa yang sedang berbicara dengan dirinya itu? Petani menjawab, petugas pertanian. Pak Solihin kemudian menunjukkan gambar Presiden Soeharto yang kebetulan dipasang di dinding rumah petani. Dengan perasaan malu, kikuk dan salah tingkah, petani memohon maaf, karena tidak mengenali wajah Presiden Soeharto.

 

Profil dan Biodata Letnan Jenderal TNI Purn. H. Solihin Gautama Purwanegara

Gubernur Jawa Barat ke-10, Masa jabatan: 1970 – 1974

Informasi pribadi

  • Lahir: Solihin Gautama Purwanegara 21 Juli 1926 Tasikmalaya, Jawa Barat, Hindia Belanda
  • Kebangsaan: Indonesia
  • Istri: Maryam Harmain
  • Orangtua: Abdul Gani Poerwanegara (Ayah), Siti Ningrum (Ibu)
  • Profesi: Militer
  • Agama: Islam

Pendidikan

  • Europeesche Lagere School (ELS).
  • Meer Uitgebreid Lager Oderwijs (MULO).
  • Sekolah Menengah Pertama.
  • Sekolah Menengah Tinggi.
  • Sekolah Staf Komandan Angkatan Darat, 1954.
  • US Army Infantry School, 1957.
  • Sekolah Staf dan Komando TNI AD, 1969.

Jabatan

  • Guru SSKAD, 1954-1956, Bandung
  • Panglima Kodam XIV Hasanuddin, 1965-1968, Makassar
  • Gubernur Akabri Umum dan Darat, 1968-1970, Magelang.
  • Gubernur Jabar, 1970-1975
  • Sekretaris Pengendalian Operasional Pembangunan, 1977-1992
  • Anggota DPA, 1992-1997.
  • Anggota MPR, 1998.
  • Pangkat terakhir: Letnan Jenderal, 1978.

Penghargaan

  • Bintang Jasa Pratama
  • Bintang Dharma
  • Bintang Gerilya
  • Bintang Ekapaksi Kelas IV
  • Medali Sewindu Angkatan Perang
  • Satya Lencana Perang Kemerdekaan I
  • Satya Lencana Perang Kemerdekaan II
  • Bintang Kongo
  • Heung In (Korea Selatan)
  • Satya Lencana Kesetiaan XXIV Tahun.
Editor: A. Dadan Muhanda

terbaru

Kemeriahan KAA 1955 di Mata Para Saksi Sejarah

Baheula Sabtu, 6 Maret 2021 | 09:02 WIB

Kemeriahan KAA 1955 di Mata Para Saksi Sejarah

Bandung Baheula - Baheula, Kemeriahan KAA 1955 di Mata Para Saksi Sejarah, saksi sejarah KAA 1955,konferensi asia-afrika 1955,Konferensi Asia-Afrika,Inen Rusnan,fotografer KAA,Landung,Abah Landung

R.A. Wiranatakusumah II (Dalem Kaum I) “Pendiri Kota Bandung”

Baheula Kamis, 4 Maret 2021 | 10:07 WIB

Sebagai pendiri Kota Bandung, R.A. Wiranatakusumah II mengubah kawasan hutan dan rawa menjadi pusat kota.

Bandung Baheula - Baheula, R.A. Wiranatakusumah II (Dalem Kaum I) “Pendiri Kota Bandung”, mengenal tokoh pendiri bandung,siapa saja tokoh pendiri bandung,tokoh terkenal pendiri bandung,R.A. Wiranatakusumah II,Dalem Kaum I,Bapak Pendiri Kota Bandung

RESENSI BUKU: Lika-Liku Kaum Merah di Bandung

Baheula Rabu, 3 Maret 2021 | 15:46 WIB

Masih banyak lagi cerita menarik tentang kehidupan kaum merah di buku ini. Ini penting dipelajari, terutama bagi mereka...

Bandung Baheula - Baheula, RESENSI BUKU: Lika-Liku Kaum Merah di Bandung, Bandung di Persimpangan Kiri Jalan,Hafidz Azhar,Resensi Buku,aktivis komunis di Bandung,pergerakan kaum komunis di Bandung,Sarekat Islam,Wiranatakoesoemah V

17 Februari: Lahirnya Inggit Garnasih, Tulang Punggung Soekarno

Baheula Rabu, 17 Februari 2021 | 13:49 WIB

Dalam kaidah roman sejarah, ia adalah pendamping yang menuntun pembentukan karakter pemimpin dari Soekarno.

Bandung Baheula - Baheula, 17 Februari: Lahirnya Inggit Garnasih, Tulang Punggung Soekarno, Sejarah Hari Ini,Inggit Garnasih,Ir. Soekarno,Bandung

Tabir Sejarah Pecinan, Mula Pembatasan terhadap Tionghoa

Baheula Kamis, 11 Februari 2021 | 15:51 WIB

Setelah tahun 1740, setelah keadaan tentram kembali, dikeluarkan peraturan yang mengharuskan orang Tionghoa tinggal di k...

Bandung Baheula - Baheula, Tabir Sejarah Pecinan, Mula Pembatasan terhadap Tionghoa, Pecinan,Bandung,Tionghoa,Kolonial Belanda,Orang Eropa,Pribumi,Jakarta

Sejarawan Singkap Trik Jago Dagang Orang Tionghoa kepada Pribumi

Baheula Rabu, 10 Februari 2021 | 16:30 WIB

Orang Tionghoa punya faktor yang tidak dimiliki oleh Eropa terhadap Pribumi. Hal inilah yang membuat mereka jago dalam d...

Bandung Baheula - Baheula, Sejarawan Singkap Trik Jago Dagang Orang Tionghoa kepada Pribumi, Sejarawan,Trik jago dagang orang Tionghoa,Sejarah,Historis,Tionghoa,Bandung,Orang Eropa,Pribumi,Kolonialis Belanda

Abattoir Tjimahi, Rumah Jagal Peninggalan Belanda

Baheula Kamis, 4 Februari 2021 | 17:05 WIB

Abattoir Tjimahi, Rumah Jagal Peninggalan Belanda

Bandung Baheula - Baheula, Abattoir Tjimahi, Rumah Jagal Peninggalan Belanda, Abettoir Tjimahi,Rumah Potong Hewan (RPH),rumah jagal Hindia Belanda,rumah jagal Cimahi,Bandung Baheula,rumah jagal Belanda di Cimahi

Mengenal Swara dalam Aksara Sunda

Baheula Jumat, 15 Januari 2021 | 10:35 WIB

Sebetulnya belajar aksara bahasa sunda itu mudah dan praktis. Pasalnya aksara sunda memiliki huruf-huruf yang cara menul...

Bandung Baheula - Baheula, Mengenal Swara dalam Aksara Sunda, Aksara Sunda,belajar aksara sunda,aksara sunda swara,Bahasa Sunda

artikel terkait

dewanpers