web analytics
  

Relevansi Penerapan Merdeka Belajar terhadap Pandemi Covid-19

Minggu, 24 Januari 2021 19:07 WIB Netizen Fathima Tazkiyyanisa
Netizen, Relevansi Penerapan Merdeka Belajar terhadap Pandemi Covid-19, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim,Merdeka Belajar,Pandemi Covid-19,pendidikan di masa pandemi covid 19,kebijakan merdeka belajar

Merdeka belajar di Perguruan Tinggi Teknik yang relevan terhadap masa Pandemi Covid-19, ) (Ilustrasi oleh Fathimah)

Fathima Tazkiyyanisa

Mahasiswa Prodi S1 Sistem Telekomunikasi di Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Purwakarta

AYOBANDUNG.COM -- Suka duka pandemi ini terlihat sangat beragam. Hampir semua orang merasakan dampaknya, baik dampak baik maupun dampak buruknya.

Dengan perintah pertamanya yang berasal dari Bapak Presiden Republik Indonesia, yaitu Bapak Joko Widodo ketika itu pada tanggal 15 Maret 2020, saat konferensi pers yang dilakukan di Instana Bogor. Beliau dengan tegas menyampaikan pesan untuk tetap tenang dan imbauan bekerja dari rumah, belajar dari rumah, dan ibadah dari rumah.

Seketika semua harus mematuhi dan menerimanya karena belum ada yang mengenali Covid-19 ini. Semua di rumah, sekolah ditutup, perkantoran ditutup, hingga tempat ibadah pun ditutup. Indonesia juga menetapkan kebijakan PSBB atau Pembatasan Sosial Berskala Besar yang menghasilkan perubahan besar pada bidang ekonomi, pendidikan maupun kesehatan.

Sekolah dari rumah sudah menjadi pengalaman yang dirasakan oleh penulis, berlanjut ketika menaiki jenjang berikutnya, yakni pendidikan tinggi, khususnya pendidikan tinggi teknik.

Keluh kesah sebagai mahasiswa yang berada di pendidikan tinggi teknik sedikit banyak sudah mendapat solusinya. Seperti kuota Kemendikbud yang mulai berlaku di bulan Oktober lalu yang sangat berguna ketika demo praktikum rangkaian logika berlangsung secara online melalui zoom meeting bersama ibu dosen aljabaar boolean.

Kemudian hadir kebijakan baru dari pemerintah, lebih tepatnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang memunculkan sebuah pertanyaan akankah adanya kebijakan merdeka belajar--kampus merdeka relevan untuk diterapkan pada pendidikan tinggi teknik, khususnya sekarang ini di tengah masa pandemi Covid-19.

Hampir setahun sudah Indonesia terguncang dengan adanya pandemi COVID-19. Virus yang berasal dari Wuhan China ini membuat semua orang kebingungan akan apa yang harus dilakukan. Menjadi ancaman ketika pasalnya bahwa setiap jarak tanpa diketahui akan menjadi sumber penyebaran virus tersebut. Sehingga muncullah himbauan yang mengharuskan menjaga jarak, menjauhi kerumunan, sampai #dirumahaja, work from home bahkan school from home.

Belajar dari rumah harus segera mungkin dilaksanakan, dengan pembelajaran daring misalnya, yang tentunya bertujuan untuk memenuhi standar pendidikan dengan pemanfaatan dari teknologi informasi yang ada. Semua orang memutar otak untuk bagaimana mengatasinya, semua sektor yang ada di Indonesia pun kembali berpikir bagaimana membuat regulasi-regulasi yang dapat mengatasi pandemi ini agar kegiatan sehari-hari masih dapat berlangsung.

Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan dapat Indonesia lewati dengan berbagai kebijakan-kebijakan baru yang telah dibuat, bisa beradaptasi mengatasi pandemi yang belum juga tersudahi. Dampak yang telah disebutkakn oleh Budi Indrawati dalam salah satu jurnal karya ilmiahnya di antaranya, pada perekonomian yang menurun di mana timbul banyak PHK dan pengangguran.

Dampak lain yang dirasakan mahasiswa adalah kendala riset di lapangan yang akan menghambat waktu kelulusannya. Pandemi bermunculan satu demi satu, mulai dari para orang dewasa yang dibekerjakan dari rumah, para pedagang pinggiran yang kehilangan pembelinya karena harus di rumah saja, para pelajar yang juga dirumahkan unuk belajar dari rumah.

Kebijakan yang membuat teknologi terpanggil untuk turut hadir dalam memudahkan segala yang hal baru tersebut. Pandemi yang menuntut kepada semua sektor, tanpa pengecualian yang ada untuk menggunakan teknologi yang berguna untuk berkomunikasi, mendapatkan informasi, dan memenuhi kebutuhan hidup lainnya. Membuat sadar para pembelajar teknik yang ada di perguruan tinggi teknik di Indonesia ikut memikirkannya agar dapat dengan segera menghasilkan teknologi-teknologi bermanfaat yang akan bermanfaat untuk dipergunakan pada masa pandemi ini.

Beruntungnya pandemi hadir di saat kemajuan teknologi yang juga sedang berlangsung, layaknya jembatan yang roboh Indonesia yang terbingungkan itu tertolong dengan hadirnya teknologi sebagai alternatif dari segala kebijakan yang dibuat. Tidak hanya orang dewasa yang kini membutuhkan teknologi, anak usia dini pun sudah saatnya dipertemukan oleh teknologi, seperti sebuah kemajuan untuk menyambut revolusi industri baru.

Saat ini teknologi informasi dan komunikasi sudah mulai bermunculan untuk mengatasi pandemi Covid-19 ini, dominannya pada dunia pendidikan yang penulis ketahui dari kesehariannya. Namun, teknologi tak hanya eksis pada dunia pendidikan, ada banyak teknologi yang hadir untuk mengatasi pandemi Covid-19 ini. Butir penting yang semestinya diterapkan oleh pemerintah sebagai peran regulator dan pendidikan tinggi teknik sebagai eksekutornya harus beriringan satu sama lain. Karena keilmuan yang harus dipertahankan oleh mahasiswa dapat dihilangkan stereotype ini.

Teknologi juga sering hanya diartikan sebagai alat elektronik oleh banyak orang. Tapi nyatanya tidak, seperti yang dikatakan oleh Dosen Universitas Tapanuli Utara, pada jurnalnya. Teknologi tepatnya sebagai mekanisme usaha untuk memecahkan masalah manusia. Dapat dilihat dari hasil kajian dari empat negara yang dilakukan oleh Hammam Riza dan kawan-kawannya, menunjukkan bahwa keempat negara tersebut, yakni Tiongkok, Korea Selatan, Italia, dan Amerika Serikat dapat memerangi pandemi Covid-19 ini dengan dukungan teknologi yang digunakan. Teknologi yang telah menjadi keterpaduan yang harmonis akan menjadi suatu inovasi baru untuk memecahkan berbagai masalah yang ada.

Menunggu pendidikan tinggi teknik yang akan mengombinasikan alat elektronik dengan mahasiswa-mahasiswanya yang bertalenta dan berintelektual dipadukan dengan proses dan manajemen sehingga menghasilkan perubahan yang efektif. Pengembangan teknologi pun akan terus diupayakan dengan tujuan menghasilkan teknologi baru yang kini sangat diperlukan, proses pembelajaran yang terhambat, riset-riset yang memerlukan lapangan yang nantinya untuk manfaat kepada pendidikan tinggi tekniknya.

Sehingga pendidikan tinggi teknik tidak hanya akan menghasilkan talenta dari masing-masing mahasiswanya. Pendidikan tinggi teknik ini akan, harus mampu menghasilkan talenta dan juga teknik dari apa yang telah dipelajarinya selama menjadi mahasiswa teknik.

Perubahan pendidikan tinggi teknik untuk menghadapi dunia global yang kini berdampingan dengan pandemi covid-19 dikatakan harus siap mulai dari sumber daya manusia yang berkualitasnya. Sesuai yang dikatakan juga, bahwa perubahan pendidikan tinggi teknik untuk menghadapi dunia global yang kini bersamaan dengan pandemi Covid-19 harus mempersiapkan dari unsur sumber daya manusia yang berkualitas, sehingga nantinya dapat berfikir untuk membuat desain pendidikan, kiat manajemen yang baik serta tidak gagap akan pendidikan. Pendidikan tinggi teknik juga perlu mengupayakan kebijakan merdeka belajar-- kampus merdeka untuk reformasi kelak dari pendidikan tinggi teknik terkait.  

Seperti yang dikatakan Pak Pratikno sebagai narasumber pada acara webinar yang diselenggarakan melalui zoom dan disiarkan secara langsung pada youtube Dirjen dikti pada hari Minggu, 21 Juni 2020 pukul 09.00 -11.30 WIB. Yaitu saat ini, ketika Indonesia menghadapi  pandemi Covid-19, pendidikan tinggi teknik mendapat tantangannya tambahan, di mana sebelumnya telah memasuki abad XXI di mana terjadi revolusi industry 4.0 yang pastinya menuntut untuk pendidikan tinggi teknik ini mempelajari keteknikannya untuk kelak menghasilkan pribadi yang menguasai teknologi juga menghasilkan teknologi yang dapat membuktikan Indonesia maju dalam teknologi, kini hadir kebijakan baru yaitu merdeka belajar-- kampus merdeka di tengah huru hara pandemi Covid-19. Hal ini akan berdampak pada timbulnya perubahan di pelaksanaan kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Setelah Desember 2019 lalu, pemerintah melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan menyampaikan kebijakannya dalam penyampaian pidato saat Perayaan Hari Guru Nasional Pak Nadiem selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia menyebutkan akan berlakunya kebijakan konsep merdeka belajar yang di dalamnya terdapat empat poin utama:

1) Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) yang disesuaikan dengan penilaian sekolah; 2) Ujian Nasional (UN) yang akan diganti menjadi Asesmen Kompetensi Minimum daan Survey Karakter; 3) Rencana Pelaksanaan Pembelajaan (RPP) bagi guru, dan 4) Peraturan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) zonasi yang memudahkan daerah 3T. Kebijakan ini pun bermaksud unuk menggali potensi para pengajar dan pelajarnya agar berinovasi sehingga meningkatkan kualitas dari pembelajaran juga individu terkaitnya.

Selanjutnya, konsep tersebut dilanjutkan untuk jenjang pendidikan tinggi yang ada menjadi merdeka belajar--kampus merdeka dimulai dengan kutipan pesan dari Bapak Menteri Nadiem Anwar Makarim beliau mengatakan, “Memberi kebebasan dan otonomi kepada Lembaga Pendidikan, dan merdeka dari birokratisasi, dosen dibebaskan dari birokrasi yang berbelit serta mahasiswa diberikan kebebasan untuk memilih bidang yang mereka sukai.”

Kebijakan ini dilata belakangi dalam rangka Indonesia yang ingin menyiapkan mahasiswanya dalam menghadapi perubahan-perubahan yang akan terjadi kelak layaknya perubahan sosial, budaya, dunia kerja serta kemajuan bidang teknologi yang sangat pesat ini dirasakan, ditambah dengan keadaan pandemi yang Indonesia maupun dunia hadapi, di mana keberadaan teknologi sangatlah dibutuhkan dan dirasa perkembangannya akan semakin cepat.

Merdeka belajar--kampus merdeka dirasa akan sangat relevan dengan keadaan Indonesia sekarang, salah satunya sektor pendidikan, yakni pendidikan tingggi teknik. Pendidikan tinggi teknik harus mampu membalik keadaan hambatan di masa pandemi Covid-19 ini dengan menganggapnya sebagai sesuatu yang positif dan akan berdampak baik sehingga dapat memunculkan solusi terbaik dalam menghadapi kenyataan pandemi ini, sepanjang mampu menggunakan potensi- potensi yang kreatif dari sumber daya yang telah ada.

Pendidikan dan teknologi juga akan menjadi kesatuan yang tak dapat dipisahkan keberadaannya, pasalnya kini mereka selalu bersama. Inovasi yang merupakan suatu objek dan juga teknologi menjadi subjeknya. Keberadaan teknologi semestinya dimaknai sebagai suatu upaya yang digunakan untuk meningkatkan keefektifan dan keefisiensian.

Dengan menyadari betapa sulitnya keadaan di tengah pandemi Covid-19 yang tak kunjung mereda atau bahkan hilang dan bahkan dihadapkan dengan fakta yang meningkat di akhir tahun 2020 ini, membuat banyak orang maupun organisasi atau lembaga di Indonesia ini kesulitan. Hingga seiring berjalannya waktu semua dapat memulai beradaptasi, dengan hadirnya teknologi semua berubah pula, yang dahulu saat pertama kali Covid-19 hadir serba tidak boleh dan tidak bisa, kini dengan teknologi satu per satu yang serba tidak boleh tadi menjadi boleh, yang tidak bisa tadi menjadi bisa.

Inilah yang diharapkan dari dibuatnya kebijakan merdeka belajar--kampus merdeka yang akan bahkan sudah diterapkan pada jejnang pendidikan tinggi, salah satunya pada pendidikan tinggi teknik untuk nantinya menghasilkan lebih banyak talenta dan juga teknologi seperti yang dipaparkan sebelumnya.

Untuk itu, kebijakan merdeka belajar--kampus merdeka telah relevan penerapannya pada pendidikan tinggi teknik di masa pandemi Covid-19 ini, namun harus disayangkan belum terjadinya keefektifan sebab adaptasi yang belum merata di Indonesia ini.    

 

 

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Dudung Ridwan

terbaru

Urgensi Integrasi Data

Netizen Jumat, 26 Februari 2021 | 15:52 WIB

“Kita harus ngomong apa adanya, ini tidak efektif”. Kegundahan Presiden Joko Widodo atas progres Pemberlakuan Pembatasan...

Netizen, Urgensi Integrasi Data, PPKM,Integrasi data,BPS Jabar

Acara Hiburan di Situ Aksan Tahun 1950-an dalam Iklan Koran

Netizen Jumat, 26 Februari 2021 | 09:29 WIB

Acara Hiburan di Situ Aksan Tahun 1950-an dalam Iklan Koran

Netizen, Acara Hiburan di Situ Aksan Tahun 1950-an dalam Iklan Koran, Situ Aksan,Sejarah Situ Aksan,Sin Ming,Iklan Situ Aksan,Sin Ming Hui Bandung

Penerjemah Sunda Pertama

Netizen Kamis, 25 Februari 2021 | 10:00 WIB

Raden Kartawinata menduduki posisi yang sebelumnya tidak ada dalam birokrasi kolonial di Tatar Sunda, menjadi penerjemah...

Netizen, Penerjemah Sunda Pertama, Penerjemah Sunda,raden kartawinata,K.F. Holle

Mengapa Orang India Sukses di Negara Lain?

Netizen Senin, 22 Februari 2021 | 15:08 WIB

Cerita ini terinspirasi dari pertanyaan, mengapa orang India mampu menduduki posisi-posisi penting di perbankan,  lembag...

Netizen, Mengapa Orang India Sukses di Negara Lain?, India,sukses,ekonomi

Problem Sampah yang Membuat Kita Sengsara

Netizen Sabtu, 20 Februari 2021 | 17:59 WIB

Beberapa waktu lalu, Indonesia disebut-sebut sebagai produsen sampah nomor dua terbesar di dunia.

Netizen, Problem Sampah yang Membuat Kita Sengsara, Sampah,Indoensia,Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN),Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK)

Sekolah di Sumedang

Netizen Sabtu, 20 Februari 2021 | 14:54 WIB

Pada 5 Juli 1867, Bupati Sumedang R.A. Soeria Koesoema Adinata alias Pangeran Sugih membuka sekolah yang diupayakan oleh...

Netizen, Sekolah di Sumedang, pengeran sugih,sekolah di sumedang,sejarah sekolah,kartawinata,pendopo sumedang,kabupaten sumedang

Menanti Internasionalisasi Persaingan Tajam Amerika Serikat-China

Netizen Sabtu, 20 Februari 2021 | 14:17 WIB

Manfaat Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) mulai diragukan setelah Uni Soviet bubar, juga ketika negara-negara pecah...

Netizen, Menanti Internasionalisasi Persaingan Tajam Amerika Serikat-China, NATO,Pakta Pertahanan Atlantik Utara,Joe Biden,Amerika Serikat,Australia,china,Presiden Cina Xi Jinping

Mencegah Kebakaran Sejak Dini

Netizen Sabtu, 20 Februari 2021 | 10:54 WIB

Mencegah Kebakaran Sejak Dini

Netizen, Mencegah Kebakaran Sejak  Dini, mencegah kebakaran,dinas kebakaran,cara mencegah kebakaran

artikel terkait

dewanpers