web analytics
  

Oleh-Oleh Tak Sekadar Barang Bawaan

Minggu, 24 Januari 2021 18:07 WIB Netizen Deffy Ruspiyandy
Netizen, Oleh-Oleh Tak Sekadar Barang Bawaan, oleh-oleh Bandung,Pedagang Oleh-oleh,Cemilan buat Oleh-oleh

Toko oleh-oleh yang menjual kuliner tahu di jalan Pasteur Kota Bandung (31/10-2020) (Deffy Ruspiyandy)

Deffy Ruspiyandy

Penulis Artikel dan Penulis Ide Cerita di SCTV.

AYOBANDUNG.COM -- Bagi mereka yang seringkali melakukan perjalanan wisata, selain yang bersangkutan mampu menikmati keindahan tempat yang didatangi atau mendapatkan hal-hal unik di dalamnya, tak bisa dipungkiri pula oleh-oleh yang dibawa ketika pulang adalah semacam bentuk riil yang bisa diperlihatkan kepada orang lain jika kita telah melakukan perjalanan wisata ke sebuah daerah. Oleh-oleh itu sendiri sebenarnya menunjukkan kekhasan daerah wisata yang sudah kita kunjungi pada kesempatan itu.

Bukan itu saja, ternyata oleh-oleh adalah hal pertama yang akan orang tanyakan ketika bertemu dengan kita. Ada semacam tuntutan yang tak bisa dielakan agar kita selalu memberikannya. Kalaupun ada cerita menarik di balik kisah perjalanan yang dilakukan ternyata itu menjadi nomor dua karena cindera mata itulah yang kemudian menegaskan kalau kita telah melakukan perjalanan wisata. Mereka tidak memaksa agar kita memberikannya namun tak elok kalau kita tak memberikannya.

Jika demikian adanya, jelas ini sangat menarik dan bisa menjadi renungan bagi kita kalaulah kita pergi ke tempat-tempat wisata tentu harus ada uang lebih karena hal inilah. Jadi, membeli oleh-oleh setelah pulang dari perjalanan wisata bukan untuk pamer namun demi menyenangkan orang yang bertemu dengan kita.

Siapa pun hatinya akan merasa senang jika mendapatkan oleh-oleh padahal yang kita beli untuk diberikan bukanlah barang atau manakan yang mahal harganya, tetapi itulah yang bisa menyentuh hati orang yang bertemu kita setelah berwwisata.

Kekhasan daerah pun akan terlihat dari oleh-oleh yang dibawa. Biasanya bertumpu kepada kuliner, pakaian dan pernak-pernik dalam bentuk barang. Orang yang datang ke Bandung pasti selalu kepikiran tentang peuyeum. Ingat Jogjakarta selain gudeg juga pasti suka juga bakpia pathok. Ada juga Garut yang oleh-olehnya adalah dodol, atau Semarang dengan wingkonya. Sementara di Sumedang ada tahu dan Malang dengan apelnya. Tak mengherankan jika hal-hal semacam ini kemudian yang menjadi bagian terpenting dalam pengembangan daerah tujuan wisata sebuah daerah.

Yang pasti potensi ekonomi dari penyediaan oleh-oleh di tempat wisata ini tidak bisa dianggap kecil karena mampu memacu roda ekonomi daerah tersebut. Tidak sedikit selain pengusaha besar, pengusaha kecil pun kecipratan rezeki dari hal ini.

Sungguh negeri ini memang dianugerahi Tuhan dengan beragam kekhasan sehingga masing-masing daerah memiliki keunggulan tersendiri dalam urusan oleh-oleh yang satu ini. Hal ini menjadi bukti bahwa oleh-oleh bukan sekadar barang bawaan, tetapi memiliki makna tersendiri dalam perspektif yang begitu beragam.

Tak mengherankan jika hampir semua pemerintah daerah atau emerintah Kota/Kabupaten yang memiliki tepat wisata strategis sudah dapat dipastikan tentu akan melakukan strategi jitu untuk pengembangan urusan oleh-oleh ini dan tak jarang berani mengelontorkan dana untuk pemngembangan urusan yang satu ini.

Mengapa hal ini dilakukan? Karena oleh-oleh bisa dianggap sebagai duta wsiata secara tidak langsung karena orang akan ngeh dengan makanan atau barang tentu dan tahu pasti dari sana jika seseorang telah pulang daerah wisata tertentu.  Tak heran banyak artis pun yang menerjuni dunia bisnis oleh-oleh ini.

Toko yang menjual beragam oleh-oleh yang bisa dibawa pulang ke rumah (31/10-2020). (Deffy Ruspiyandy)

 

Memang oleh-oleh hanyalah barang atau sekumpulan makanan yang terbungkus plastik, namun tak bisa dipungkiri jika hal itu terwujud dari proses untuk menyenangkan hati pengunjung yang datang ke sebuah obyek wisata. Bohong besar, jika kita mendarat atau sampai di sebuah tempat wisata lantas tidak terpikir kira-kira oleh-oleh apa yang akan dibawa pulang yang disesuaikan dengan keuangan yang ada.

Jadi, oleh-oleh itu memang unik dan selalu menggelitik hati mereka yang melakukan perjalaln wsiata. Pembuatnya berharap jika oleh-oleh bisa dibeli dan dinikmati oleh pembelinya terserah mau dinikmati sendiri atau diberikan kepada orang lain. Yang jelas jika yang dijualnya habis, maka akan mendapatkan untung besar.

Tentu saja adanya pandemi apalagi setelah ada larangan dari pemerintah ketika dilakukan PSBB untuk tidak mengunjungi tempat wisata sama artinya para penjual oleh-oleh jelas tak memiliki pemasukan.

Sejalan dengan dibukanya kembali beberapa tempat wisata setelah mendapat izin bisa dikunjungi oleh pemerintah tentunya dengan protokol kesehatan yang ketat maka hal ini menjadi angin segar bagi para penjual oleh-oleh karena ada kesempatan untuk mendapatkan pemasukan dari barang-barang atau makanan yang dijualnya.

Memang keunikan oleh-oleh ini bisa mengena sampai ke hati. Sehingga hal ini tak bisa dianggap sepele karena oleh-oleh sendiri memiliki nilai. Karena itulah, membeli oleh-oleh bukan saja menyenangkan bagi orang yang bertemu kita setelah pulang sesudah melakukan perjalanan wsiata, namun dengan membelinya pula sama artinya membantu kepada penjualnya, pembuatnya, dan juga orang-orang yang ada di dalamnya.

Dampak positif dari kenyataan itu membuat daerah tujuan wisata yang dimaksud semakin populer dan banyak dikenal publik. Oleh sebab itu, mengemas oleh-oleh secara baik dan menarik tentu harus menjadi perhatian serius bagi mereka yang terjun memngelola hal ini.

Oleh-oleh sepertinya sepele karena kita hanya tinggal membelinya. Namun meski diakui jika proses untuk menghasilkan sebuah bentuk oleh-oleh yang kita lihat selama ini bukanlah persoalan mudah. Namun, untuk bisa menciptakan hal itu, butuh perjuangan yang tidak bisa dianggap kecil. Makanya kita sebagai pembeli, ya sangat diuntungkan karena tinggal membeli saja dan tak perlu memikirkan bagaimana oleh-oleh itu dibuat. Entengnya, kalau punya duit beli aja nggak usah pake mikir lagi. Gitu aja kok repot.

Jadi, dalam urusan oleh-oleh ini janganlah kita menyepelekannya karena hal itu terkait dengan dunia pariwisata itu sendiri. Oleh-oleh adalah bagian penting dari semua itu. Maka tanpa ada kesan ketika kita berkunjung ke sebuah tempat wisata jika tak ada oleh-olehnya.

Oleh sebab itu, jika mendatangi sebuah tempat wisata, jangan lupa beli oleh-olehnya dan chating-an itu masuk ke handphone milikku ketika mereka tahu jika aku sedang jalan-jalan.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Dudung Ridwan

terbaru

Urgensi Integrasi Data

Netizen Jumat, 26 Februari 2021 | 15:52 WIB

“Kita harus ngomong apa adanya, ini tidak efektif”. Kegundahan Presiden Joko Widodo atas progres Pemberlakuan Pembatasan...

Netizen, Urgensi Integrasi Data, PPKM,Integrasi data,BPS Jabar

Acara Hiburan di Situ Aksan Tahun 1950-an dalam Iklan Koran

Netizen Jumat, 26 Februari 2021 | 09:29 WIB

Acara Hiburan di Situ Aksan Tahun 1950-an dalam Iklan Koran

Netizen, Acara Hiburan di Situ Aksan Tahun 1950-an dalam Iklan Koran, Situ Aksan,Sejarah Situ Aksan,Sin Ming,Iklan Situ Aksan,Sin Ming Hui Bandung

Penerjemah Sunda Pertama

Netizen Kamis, 25 Februari 2021 | 10:00 WIB

Raden Kartawinata menduduki posisi yang sebelumnya tidak ada dalam birokrasi kolonial di Tatar Sunda, menjadi penerjemah...

Netizen, Penerjemah Sunda Pertama, Penerjemah Sunda,raden kartawinata,K.F. Holle

Mengapa Orang India Sukses di Negara Lain?

Netizen Senin, 22 Februari 2021 | 15:08 WIB

Cerita ini terinspirasi dari pertanyaan, mengapa orang India mampu menduduki posisi-posisi penting di perbankan,  lembag...

Netizen, Mengapa Orang India Sukses di Negara Lain?, India,sukses,ekonomi

Problem Sampah yang Membuat Kita Sengsara

Netizen Sabtu, 20 Februari 2021 | 17:59 WIB

Beberapa waktu lalu, Indonesia disebut-sebut sebagai produsen sampah nomor dua terbesar di dunia.

Netizen, Problem Sampah yang Membuat Kita Sengsara, Sampah,Indoensia,Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN),Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK)

Sekolah di Sumedang

Netizen Sabtu, 20 Februari 2021 | 14:54 WIB

Pada 5 Juli 1867, Bupati Sumedang R.A. Soeria Koesoema Adinata alias Pangeran Sugih membuka sekolah yang diupayakan oleh...

Netizen, Sekolah di Sumedang, pengeran sugih,sekolah di sumedang,sejarah sekolah,kartawinata,pendopo sumedang,kabupaten sumedang

Menanti Internasionalisasi Persaingan Tajam Amerika Serikat-China

Netizen Sabtu, 20 Februari 2021 | 14:17 WIB

Manfaat Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) mulai diragukan setelah Uni Soviet bubar, juga ketika negara-negara pecah...

Netizen, Menanti Internasionalisasi Persaingan Tajam Amerika Serikat-China, NATO,Pakta Pertahanan Atlantik Utara,Joe Biden,Amerika Serikat,Australia,china,Presiden Cina Xi Jinping

Mencegah Kebakaran Sejak Dini

Netizen Sabtu, 20 Februari 2021 | 10:54 WIB

Mencegah Kebakaran Sejak Dini

Netizen, Mencegah Kebakaran Sejak  Dini, mencegah kebakaran,dinas kebakaran,cara mencegah kebakaran
dewanpers