web analytics
  

Covid-19 dan Peran Industri Telekomunikasi

Sabtu, 23 Januari 2021 22:57 WIB Netizen Hana Suraya Khairunnisa
Netizen, Covid-19 dan Peran Industri Telekomunikasi, COVID-19,telekomun

Ilustrasi telekomunikasi (Hana)

Hana Suraya Khairunnisa

Mahasiswa Prodi S1 Sistem Telekomunikasi di Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Purwakarta, semester 2.

AYOBANDUNG.COM--Awal mula munculnya virus Corona berasal dari kelelawar. Saat itu, masyarakat mengkonsumsi kelelawar yang terkena virus Corona, yang berakibatkan menularnya virus tersebut ke tubuh manusia. 

Kasus Covid-19 di Indonesia yang pertama kali muncul pada 2 Maret 2020 membuat publik was - was. Sejak diumumkan banyak terjadinya kasus Covid-19, masyarakat lebih memperhatikan keadaan sekitar dan menjaga dirinya masing-masing.

Hingga akhirnya pada 16 Maret 2020, mulai dari perusahaan, sekolah, sampai universitas mengumumkan untuk bekerja dan belajar dari rumah. Tentu saja kabar ini diumumkan secara amat mendadak. Masyarakat sedang beraktivitas seperti biasa, namun secara tiba-tiba harus melakukan semua pekerjaannya dari rumah.

Pada akhir Maret 2020, Presiden Jokowi mengumumkan secara resmi Indonesia harus melaksanakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sebagai respons terhadap kasus Covid-19 yang membludak. Presiden Jokowi menetapkan kasus Covid-19 ini sebagai bencana nasional atau pandemi.

Terkait dengan adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), masyarakat melakukan semua pekerjaannya dari rumah. Hingga lahirlah istilah work from home (WFH) dan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Dalam hal ini, telekomunikasi sangat diperlukan dalam kehidupan saat ini. Para karyawan yang biasanya melakukan aktivitas pekerjaan di kantor seperti meeting dan mengerjakan suatu proyek terpaksa harus dilaksanakan secara online atau daring.

Meeting dilaksanakan secara online melalui aplikasi konferensi online seperti Zoom, Google Meet dan lain-lain. Pada awal pandemi, terjadi lonjakan pengunduhan aplikasi ini di seluruh dunia. Begitu pula dengan para pelajar ataupun mahasiswa. Mereka sedang di tengah proses pembelajaran, bahkan untuk siswa di tingkat akhir sedang melaksanakan ujian terpaksa harus melakukannya secara online.

Dalam proses pembelajaran, sama halnya dengan karyawan, pelajar ataupun mahasiswa menggunakan aplikasi tersebut agar proses pembelajaran tetap berlanjut. Untuk pengumpulan tugas ataupun penyampain materi, para pelajar dan tenaga pendidik menggunakan aplikasi Google Classroom dan website instansi masing-masing.

Pernah sesekali aplikasi layanan dari Google terjadi error sehingga banyak sekali yang terhambat dalam proses pembelajaran.

Berkaitan dengan masyarakat yang melakukan pekerjaan secara online tentu berdampak pada industry telekomunikasi. Lonjakan penggunaan yang terjadi pdaa awal pandemi sangat menguntungkan. Tentu tidak hanya dari pihak pengembang aplikasi konferensi online saja, tetapi juga dari pihak penyedia layanan telekomunikasi. Di awal pandemi, masyarakat berbondong-bondong memasang WiFi di rumah untuk keperluan pekerjaan.

Menurut Siti Choiriana, Direktur Consumer Service PT Telkom penggunaan Indihome naik dalam beberapa aspek, untuk aspek edukasi naik hingga 60% dan e-commerce naik hingga 18%.  Untuk akses ke media berita turun -5% yang mungkin disebabkan oleh masyarakat yang takut melihat berita mengenai Covid-19. Pandemi Covid-19 yang menyebabkan masyarakat banyak beraktivitas di rumah terpantau lonjakan akses dari pagi hingga malam hari.

Pemerintah mengungkapkan traffic internet naik antara 5% sampai dengan 10% selama masa pandemi Covid-19.  Di sisi lain, operator seluler memberikan banyak penawaran kepada masyarakat. Mereka menawarkan mulai dari bonus kuota gratis hingga harga pembelian paket data yang sedikit lebih murah.

Mereka juga menawarkan paket data yang berisikian kuota untuk work from home (WFH) atau PJJ ini, salah satu contohnya adalah paket kuota conference, dimana paket ini hanya berlaku untuk zoom meeting dan aplikasi lain yang berhubungan dengan conference meeting. Tidak hanya itu, ditawarkan juga paket kaum pelajar untuk mengakses aplikasi belajar ataupun platform universitas atau sekolah.

Pemerintah melihat masyarakat telah mengeluarkan banyak sekali pengeluaran untuk membeli Wi-Fi ataupun paket data. Mereka tidak hanya membeli Wi-Fi dan paket data saja, tetapi juga membeli handphone dan laptop baru untuk menunjang proses pembelajaran.  Dalam sekali pembelian paket data atau Wi-Fi saja masyarakat sudah menghabiskan ratusan ribu rupiah.

Oleh karena itu, di pertengahan tahun 2020, pemerintah memberikan bantuan kuota. Sebelum memberikan bantuan kuota, pemerintah sudah terlebih dahulu melaksanakan survey. Mereka meminta kaum pelajar ataupun mahasiswa untuk mengisi data diri di sekolah atau universitas masing-masing. Pemerintah memberikan subsidi kuota internet sebesar Rp7.2 triliun untuk pelajar, mahasiswa,dan tenaga pendidik.

Untuk tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) diberikan bantuan kuota belajar sebesar 20 GB/bulan. Untuk tingkat Sekolah Dasar (SD) , Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) diberikan bantuan kuota belajar sebesar 35 GB/bulan. Untuk tenaga pendidik PAUD-SMA diberikan bantuan kuota belajar sebesar 42 GB/bulan. Sedangkan untuk mahasiswa dan dosen diberikan bantuan kuota belajar sebesar 50 GB/bulan.

Namun tidak semuanya merupakan kuota belajar, 5 GB dari kuota yang diberikan merupakan kuota utama yang bisa dipakai untuk mengakses apapun.  Dari bantuan kuota belajar ini terbagi menjadi tiga, yaitu kuota Pendidikan, kuota conference, dan kuota chat. Kuota Pendidikan meliputi Google Classroom, Zenius, Rumah Belajar, Quipper, Cakap, Bahaso, AyoBlajar, Kippin School 4.0, Sekolahmu, Udemy, Duolingo, video meeting edukasi Birru, Ruangguru, Kelas Pintarr, dan aplikasi pembelajaran lainnya yang diikuti situs e-learning sekolah dan perguruan tinggi.

Kuota conference meliputi Zoom, Google Meet, Cisco, Webex, UMeetMe, dan Microsoft Teams. Sedangkan untuk kuotaa chat meliputi aplikasi WhatsApp.

Selain berperan dalam sektor Pendidikan, telekomunikasi juga memiliki peranan penting bagi sektor perekonomian. Di awal pandemi,  pertumbuhan ekonomi di Indonesia sempat  menurun hingga di bawah 0 persen. Pada saat itu, masker medis dan hand sanitizer sangat langka ditemukan dan harganya pun melambung tinggi.

Masker medis harga normal di bawah Rp10.000, namun karena adanya virus Corona masyarakat terkena panic-buying, mereka takut akan stock masker medis dan hand sanitizer akan habis. Tidak hanya kebutuhan medis saja, harga kebutuhan pokok seperti bahan pangan pun melonjak tinggi. Sama seperti apa yang terjadi dengan kebutuhan medis, masyarakat panik membeli bahan-bahan pokok takut apabila nanti benar-benar tidak bisa keluar rumah untuk berbelanja lagi.

Tidak hanya kebutuhan saja yang berdampak pada sektor perekonomian, virus Corona yang menyebabkan banyak karyawan yang harus bekerja dari rumah bahkan ada yang sampai terkena PHK. Hal ini mengakibatkan turunnya pendapatan masyarakat. Untuk mengatasi hal ini, masyarakat yang terkena PHK beralih untuk berdagang guna memenuhi kebutuhan hidup.

Mulai dari pakaian, makanan, minuman, kosmetik, tanaman, dan lain-lain. Memanfaatkan teknologi, telekomunikasi dan jejaring social memudahkan mereka untuk berjualan. Mereka dapat menjualkan dan mempromosikan dagangan mereka di Instagram, WhatsApp, Tiktok, Twitter, Shopee, Tokopedia, dan lain-lain. Hal yang ingin dipromosikan atau diiklankan pun harus menarik, masyarakat yang terkena rasa bosan akibat terlalu lama di rumah membutuhkan sesuatu yang baru dan unik.

Telekomunikasi selain berperan dalam sektor Pendidikan dan ekonomi, juga sangat berpengaruh dalam sektor social. Walaupun sebelum datangnya pandemi Covid-19 ini masyarakat sudah menggunakan teknologi dengan baik, tetapi dengan adanya pandemi ini telah banyak ditemukannya fitur-fitur baru di jejaring sosial ataupun aplikasi lainnya. Seperti adanya aplikasi Zoom Meeting, walaupun aplikasi ini mirip seperti Skype namun kapasitas dan fitur yang dimiliki oleh Zoom Meeting lebih bagus.

Telekomunikasi benar-benar memudahkan masyarakat dalam menjalani kehidupan sehari-hari, kita dapat berjumpa secara virtual dengan saudara atau teman kita yang jauh dengan kita. Seperti contohnya pada Hari Raya, yang biasanya kita berkumpul dengan keluarga besar kita, makan bersama, dan berbincang mengenai topik yang hangat pun sekarang dengan terpaksa hanya bisa dilakukan secara virtual (online). Kita hanya bisa melihat keluarga melalui layar dan berdoa agar semuanya tetap diberikan Kesehatan dan terjaga dari virus Corona ini.

Walaupun Indonesia termasuk dalam negara yang paling banyak terpapar virus Corona, Indonesia perlahan mulai bangkit. Sektor ekonomi yang pada awal pandemi terancam krisis sekarang perlahan sudah mulai membaik.

Begitu pula dengan sektor Pendidikan, sudah mulai banyak aplikasi pembelajaran yang diciptakan oleh orang Indonesia dan bahkan beberapa ada yang gratis. Hal ini bertujuan agar para pelajar yang terkendala dalam biaya bisa tetap menambah ilmu, demi memajukan bangsa. Semoga keadaan ini cepat berlalu agar kita dapat hidup normal seperti biasa lagi tanpa ada yang harus dirugikan.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Adi Ginanjar Maulana

terbaru

Kapan Situ Aksan Ada?

Netizen Kamis, 4 Maret 2021 | 14:25 WIB

Dalam Peta Topografi tahun 1904-1905, tempat yang kemudian menjadi Situ Aksan, masihlah perkampungan kecil.

Netizen, Kapan Situ Aksan Ada?, Sejarah,Kota Bandung,Topografi,Desa,Abad ke-20,Bandung Baheula

Tiga Terjemahan Pertama

Netizen Kamis, 4 Maret 2021 | 10:20 WIB

Pada 1872, Raden Kartawinata sudah bisa menerbitkan tiga judul terjemahan dari bahasa Belanda.

Netizen, Tiga Terjemahan Pertama, raden kartawinata,Sunda,Jawa,Bahasa,Penerjemah,Belanda,R.H. Moeh. Moesa,K.F. Holle,buku,Literatur,Literasi

Mencabut Industri Dosa Berkedok Perpres Investasi Miras

Netizen Rabu, 3 Maret 2021 | 14:15 WIB

Ada yang bilang bahwa industri dosa sejatinya merupakan usaha mentransfer dana publik ke tangan swasta dengan cara yang...

Netizen, Mencabut Industri Dosa Berkedok Perpres Investasi Miras, Minuman Keras (Miras),Perpres investasi miras,Presiden Joko Widodo,Indonesia,Investasi,World Health Organization (WHO),Papua,minuman beralkohol

Gang 'Sarebu Punten' Itu Disulap Jadi Kampung Kreatif

Netizen Rabu, 3 Maret 2021 | 13:40 WIB

Pada era tahun 90-an, jalan-jalan atau gang-gang kecil di daerah Cicadas juga terkenal dengan sebutan gang "sarebu punte...

Netizen, Gang 'Sarebu Punten' Itu Disulap Jadi Kampung Kreatif, Cicadas,Desa Kreatif,Bandung,Gang ,Kampung Kreatif

Khawatir Kini Kina Tinggal Nama

Netizen Selasa, 2 Maret 2021 | 15:00 WIB

Pohon kina peninggalan tahun 1855 itu sudah sangat tua, keadaannya sudah dalam posisi bungkuk atau miring, dan kini suda...

Netizen, Khawatir Kini Kina Tinggal Nama, Kina,Pohon,Bandung,Chincona,Chincon,Franz Wilhelm Junghuhn,Karl Justus Hasskarl

Virtual Police, Polisi Bahasa Gaya Baru

Netizen Selasa, 2 Maret 2021 | 13:50 WIB

Kita tidak boleh hanya menekankan kebenaran berbahasa yang diukur oleh kebakuan KBBI, tetapi harus memperhatikan situasi...

Netizen, Virtual Police, Polisi Bahasa Gaya Baru, Polisi,Bahasa,Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),Santun

Mengenal Wawacan dan Putri Sekar Arum

Netizen Selasa, 2 Maret 2021 | 10:54 WIB

Wawacan berjudul ‘Putri Sekar Arum’ jadi penanda utama bahwa, bahasa, sastra, dan budaya Sunda masih hidup

Netizen, Mengenal Wawacan dan Putri Sekar Arum , Putri Sekar Arum,Bahasa Sunda,Wawacan,Puisi Sunda

“Beberes" Solusi Atasi Kekumuhan Menjadi Keindahan

Netizen Senin, 1 Maret 2021 | 15:25 WIB

Salah satu problematika yang dihadapi warga Kota Bandung adalah soal sampah.

Netizen, “Beberes" Solusi Atasi Kekumuhan Menjadi Keindahan, Beberes,Kekumuhan,Bandung,Sampah,Keindahan

artikel terkait

dewanpers