web analytics
  

Terburgh Mengusulkan Sistem Terpisah

Jumat, 22 Januari 2021 10:02 WIB Netizen ATEP KURNIA
Netizen, Terburgh Mengusulkan Sistem Terpisah, J. Th. Terburgh,vaksinasi cacar di Pulau Jawa,sistem sirkuler,riwayat hidup J. Th. Terburgh

J. Th. Terburgh (1868-1940), pengusul vaksinasi dengan sistem terpisah untuk menangani wabah cacar di Hindia Belanda. (Sumber: Loghem (1940))

ATEP KURNIA

Peminat literasi dan budaya Sunda.

AYOBANDUNG.COM -- Pada 1914, J. Th. Terburgh mengusulkan sistem terpisah (gescheiden vaccine-stelsel) untuk lebih mengefektifkan upaya vaksinasi cacar terhadap penduduk pribumi, khususnya di Pulau Jawa. Hal ini dilandasi oleh kurang efektifnya sistem sirkuler (kringen-stelsel) yang sudah diterapkan sejak pertengahan abad ke-19.

Sistem terpisah ini merupakan buah dari percobaan yang dilalukan Terburgh selama bertahun-tahun saat dia berdinas di Jawa Timur, terutama pada 1912 hingga 1915.

Sebelum sampai ke usulan dan bagaimana mekanisme kerja sistem yang baru tersebut, mari kita lihat serba sekilas riwayat hidupnya. Mengenai hayat dan karya dokter satu ini banyak orang yang menulisnya. Barangkali karena prestasi yang diterakannya selama berdinas di jawatan kesehatan Hindia Belanda, sebelum pensiun dan kembali ke tanah airnya.

Tulisan-tulisan yang membicarakan Terburgh dapat dibaca berkaitan dengan peringatan atas 40 tahun kariernya menjadi kedokteran (“40-Jarig Artsjubileum Dr. J. Th. Terburgh” karya P.A. de Wilde, dalam NTvG 75 [III. 29], 1931), liputan koran seperti Algemeen Handelsblad (6 November 1932) saat dia pensiun, liputan ulang tahunnya yang ke-70 (Het Vaderland edisi 13 Mei 1938), dan nekrologinya, seperti yang dapat diikuti dari Algemeen Handelsblad (12 Januari 1940), Het Vaderland (12 Januari 1940), Haagsche Courant (16 Januari 1940), dan tulisan J.J. van Loghem (“In Memoriam: Johannes Theodorus Terburgh, 14 Mei 1868-11 Januari 1940” dalam NTvG 84 [I. 3], 1940).

Bila saya ringkaskan barangkali jadi demikian. Johannes Theodorus Terburgh lahir pada 14 Mei 1868 di Leiden, Belanda. Sekolah dasar dan menengahnya juga dilaluinya di kota ini. Ia terdaftar sebagai mahasiswa Universiteit Leiden pada 1885, dan dipromosikan menjadi dokter pada 19 Juni 1891. Sebentar kemudian, pada 26 Oktober 1891 dia memperoleh gelar doktor dari Freiburg dengan disertasi bertajuk Ueber Leber -und Nierencysten.

Sejak 9 Juli 1891, saat menempuh program doktoral, ia sudah tercatat sebagai perwira kesehatan pada dinas ketentaraan Hindia Belanda, tetapi ia baru pergi ke tanah jajahan setelah gelarnya didapat. Pada 30 Desember 1899, Terburgh diangkat sebagai perwira kesehatan kelas satu. Beberapa tahun kemudian, antara April 1903-Agustus 1905, dia cuti panjang ke Belanda. Selama di sana, ia mempelajari teori dan praktik bakteriologi kepada Prof. Saltet di Amsterdam. Termasuk perjalanannya ke Italia dalam rangka penelitian pemberantasan malaria.

Pengetahuannya digunakan saat memberantas wabah malaria di Madura (1906) dan penyelidikan malaria di Karesidenan Semarang (1907). Di Semarang, ia sempat diangkat menjadi anggota dewan daerah (1907-1911) dan dewan Kota Semarang (1909-1911). Pada 1 Mei 1911, Terburgh berhenti dari dinas kemiliteran, tetapi langsung diangkat menjadi inspektur jawatan kesehatan masyarakat untuk Jawa Timur. Selama di Surabaya, dia mendirikan klinik mata, klinik persalinan bagi Bala Keselamatan (Leger des Heils), diangkat menjadi anggota dewan daerah dan dewan kota.

Ketika di Surabaya pula, dia harus menghadapi wabah cacar berikut penanganannya secara efektif, sehingga melahirkan gagasan sistem terpisah dan revaksinasi sistematis. Inti dari sistem tersebut adalah pemberian vaksinasi pertama dan vaksinasi ulangan yang tidak bersamaan waktunya. Kelahiran gagasan tersebut didedahkan oleh Terburgh dalam tulisannya yang bertajuk “De resultaten van het gescheiden vaccine-stelsel en van de systematische revaccinatie in de geneeskundige afdeeling Oost-Java gedurende de jaren 1912 tot en met 1915” (dalam GTvNI Deel LVI, 1916).

Pada awal tulisannya, Terburgh menyatakan mengenai pentingnya menjaga kondisi vaksin cacar agar selalu dalam keadaan baik untuk memberantas cacar di Hindia dan situasi vaksinasi yang tidak memuaskan. Untuk 1913 di Jawa Timur, dari 10,5 juta penduduknya tidak kurang dari 18.517 orang yang terkena cacar dan 5.101 di antaranya meninggal dunia. Dalam catatan kaki ditambahkan bahwa untuk 1914, di Jawa Barat ada 10.348 penderita cacar dan 1.935 di antaranya meninggal, sementara di Jawa Tengah ada 11.996 penderita dan merenggut kematian 1.909 orang.

Terburgh menilai paling tidak ada dua masalah mendasar yang harus dihadapi, yakni ketidakcakapan jurucacar saat menyelenggarakan vaksinasi dan kurangnya vaksinasi serta revaksinasi bagi penduduk. Untuk soal kedua, dia menyebutkan bahwa sistem vaksin yang berkembang sebelumnya adalah 2,5% dari total penduduk divaksinasi dan revaksinasi setiap empat bulan, sehingga setahun mencapai 10% penduduk dan sepuluh tahun 100% penduduk sudah tervaksinasi dan harus direvaksinasi. Menurutnya, metode tersebut tidak tepat, sebab setelah sepuluh tahun gambaran penduduknya akan berbeda dari awal. Orang yang divaksinasi bisa saja sudah meninggal dan banyak anak yang lahir dan harus divaksinasi.

Itu sebabnya ia menganggap penting untuk menyelenggarakan vaksinasi terpisah dari revaksinasi, dan harus memvaksinasi balita berumur 2-6 bulan, ditambah dengan 2,5% jumlah penduduk yang direvaksinasi. Untuk menghindari penolakan revaksinasi (sekaligus pemantauan revaksinasi) pada hari yang sama dengan vaksinasi, maka harus dilakukan secara terpisah. Itulah yang disebutnya sebagai sistem vaksin terpisah (gescheiden vaccine-stelsel). Untuk revaksinasinya, ia mengusulkan metode revaksinasi sistematis (systematische revaccinatie). Dengan metode tersebut, bukan penduduk dari desa-desa yang berbeda-beda yang harus direvaksinasi, melainkan dilakukan dari satu desa ke desa lainnya secara bergiliran.

Akhirnya logika sistem tersebut, menurut Terburgh, jadi tersebar, dan pada awal 1913 dia diminta untuk mengirimkan proposal untuk menguji-coba sistem terpisah di daerah-daerah yang masuk wilayah Jawa Timur.

Penjelasan lainnya mengenai sistem terpisah dapat diikuti dalam tulisan “Uittreksel uit het Verslag over den Burgerlij ken Geneeskundigen Dienst van 1911 t/m 1918 (Extract of the Report of the Civil Medical Service from 1911 to 1918 inclusive)” (dalam MDBG deel XI, 1920). Dari tulisan tersebut dapat diketahui bahwa Terburgh mengusulkan sistem barunya kepada jawatan kesehatan masyarakat pada 1914.

Menurut tulisan tersebut, sistem terpisah dapat diringkaskan sebagai berikut: Untuk vaksinasi (vaksinasi pertama pada bayi), sistem sirkuler tetap dipertahankan; kunjungan untuk vaksinasi dikurangi dari 13 menjadi 7-5 minggu. Sisa 5-6 minggu lainnya pada empat bulan tersebut digunakan untuk revaksinasi sistematis pada desa-desa yang didasarkan pada pembagian subdistrik. Bila dalam 5-7 dengan sistem baru tersebut dapat menyelesaikan revaksinasi sistematis di seluruh distrik vaksin, maka jurucacar harus memulai lagi.

Keuntungan sistem terpisah menurut laporan tersebut ada dua, yakni: karena vaksinasi dan revaksinasi tidak berbarengan, perhatian lebih ditujukan kepada vaksinasi anak kecil (balita), dan mustahil kekurangan vaccinandi dipenuhi oleh revaccinandi; dan karena setiap desa direvaksinsi selama beberapa hari dan selanjutnya bisa berlanjut ke desa lain, saat paling tidak 4/5 populasinya sudah direvaksinasi, tidak boleh penggantian untuk revaksinasi ini, agar tidak terjadi revaksinasi ganda. Selanjutnya, disebutkan bahwa sistem ini sudah diperkenalkan di beberapa resor Jawa Timur dan Jawa Barat, tetapi harus dihadiri oleh dokter-dokter pemerintah tingkat provinsi.

Salah satu contoh revaksinasi tersebut adalah kejadian merebaknya wabah cacar di Tasikmalaya pada catur wulan pertama tahun 1921. Menurut berita De Preanger-Bode (15 Juni 1921), di Afdeeling Tasikmalaya ada 28 kasus cacar dan 10 di antara penderitanya meninggal dunia. Atas temuan ini, yang dikedepankan adalah merevaksinasi penduduk terdampak, para penderita diisolasi di rumah mereka, rumahnya disemprot disinfektan dan diberi tanda silang, kemudian kontak dengan penderita dilarang.

Kembali ke riwayat Terburgh. Menurut Loghem (1940), selama hidupnya Terburgh tertarik pada pengendalian penyakit, terutama yang menular. Dia lebih menyukai pendekatan statistika untuk menghadapi masalah epidemologi. Pendekatan tersebut dijadikannya sebagai dasar untuk rencananya memerangi wabah yang terjadi. Pada 1917, sebagai inspecteur-souschef di jawatan kesehatan, Terburgh menyibukkan dirinya dengan analisis statistika mengenai kematian dan pengendalian cacar, terutama dengan mengimplementasikan sistem terpisah.

Pada Mei 1919, ia cuti kedua kalinya ke Belanda dan kembali pada 21 Agustus 1920. Sekembalinya ke Pulau Jawa, Terburgh dipromosikan menjadi inspektur kepala kesehatan (hoofdinspecteur van de Volksgezondheid) yang diembannya hingga Desember 1932, saat dia memasuki masa pensiun.

Setelah pensiun dia kembali ke Belanda, dan dipercaya untuk menjabat sebagai ketua panitia ujian diploma bagi Nederlandsch Genootschap voor geneeskundige gymnastiek en massage, anggota dewan kesehatan, serta beberapa posisi lainnya. Dan seperti di Hindia, dia tetap menulis. Ketika di Hindia dia menulis untuk Het Geneeskundig Tijdschrijt van Ned-Indie (GTvNI) sejak 1899 dan saat dia Belanda, tulisannya dimuat dalam Het Nederlandsch Tijdschrift voor Geneeskunde (NTvG).

Selama masa kerja antara 1891-1932, dia dianugerahi penghargaan berupa het Eereteeken voor belangrijke krijgsbedrijven Atjeh 1873-1896 en 1896-1900; Officier in de Orde van Oranje-Nassau sejak 1913; dan het Ridderkruis van den Nederlandschen Leeuw pada 1930. Peraih penghargaan tersebut akhirnya meninggal pada usia 71 tahun, pada 11 Januari 1940, di Den Haag. Dia dimakamkan di  Oud Eik en Duinen.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Dudung Ridwan

terbaru

Urgensi Integrasi Data

Netizen Jumat, 26 Februari 2021 | 15:52 WIB

“Kita harus ngomong apa adanya, ini tidak efektif”. Kegundahan Presiden Joko Widodo atas progres Pemberlakuan Pembatasan...

Netizen, Urgensi Integrasi Data, PPKM,Integrasi data,BPS Jabar

Acara Hiburan di Situ Aksan Tahun 1950-an dalam Iklan Koran

Netizen Jumat, 26 Februari 2021 | 09:29 WIB

Acara Hiburan di Situ Aksan Tahun 1950-an dalam Iklan Koran

Netizen, Acara Hiburan di Situ Aksan Tahun 1950-an dalam Iklan Koran, Situ Aksan,Sejarah Situ Aksan,Sin Ming,Iklan Situ Aksan,Sin Ming Hui Bandung

Penerjemah Sunda Pertama

Netizen Kamis, 25 Februari 2021 | 10:00 WIB

Raden Kartawinata menduduki posisi yang sebelumnya tidak ada dalam birokrasi kolonial di Tatar Sunda, menjadi penerjemah...

Netizen, Penerjemah Sunda Pertama, Penerjemah Sunda,raden kartawinata,K.F. Holle

Mengapa Orang India Sukses di Negara Lain?

Netizen Senin, 22 Februari 2021 | 15:08 WIB

Cerita ini terinspirasi dari pertanyaan, mengapa orang India mampu menduduki posisi-posisi penting di perbankan,  lembag...

Netizen, Mengapa Orang India Sukses di Negara Lain?, India,sukses,ekonomi

Problem Sampah yang Membuat Kita Sengsara

Netizen Sabtu, 20 Februari 2021 | 17:59 WIB

Beberapa waktu lalu, Indonesia disebut-sebut sebagai produsen sampah nomor dua terbesar di dunia.

Netizen, Problem Sampah yang Membuat Kita Sengsara, Sampah,Indoensia,Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN),Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK)

Sekolah di Sumedang

Netizen Sabtu, 20 Februari 2021 | 14:54 WIB

Pada 5 Juli 1867, Bupati Sumedang R.A. Soeria Koesoema Adinata alias Pangeran Sugih membuka sekolah yang diupayakan oleh...

Netizen, Sekolah di Sumedang, pengeran sugih,sekolah di sumedang,sejarah sekolah,kartawinata,pendopo sumedang,kabupaten sumedang

Menanti Internasionalisasi Persaingan Tajam Amerika Serikat-China

Netizen Sabtu, 20 Februari 2021 | 14:17 WIB

Manfaat Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) mulai diragukan setelah Uni Soviet bubar, juga ketika negara-negara pecah...

Netizen, Menanti Internasionalisasi Persaingan Tajam Amerika Serikat-China, NATO,Pakta Pertahanan Atlantik Utara,Joe Biden,Amerika Serikat,Australia,china,Presiden Cina Xi Jinping

Mencegah Kebakaran Sejak Dini

Netizen Sabtu, 20 Februari 2021 | 10:54 WIB

Mencegah Kebakaran Sejak Dini

Netizen, Mencegah Kebakaran Sejak  Dini, mencegah kebakaran,dinas kebakaran,cara mencegah kebakaran
dewanpers