web analytics
  

Bukan Jalan Belakang Factory

Kamis, 21 Januari 2021 11:41 WIB Netizen T Bachtiar
Netizen, Bukan Jalan Belakang Factory, Jl Belakang Factory,Sejarah Jl Belakang Factory.,Sejarah Jl Belakang Factory Kota Bandung,Sejarah Kota Bandung,T Bachtiar,Perubahan nama jalan di Bandung,Nama Jalan di Bandung Baheula

Peta Lokasi Jl Belakang Factorij (Dok: T Bachtiar)

T Bachtiar

Anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung.

AYOBANDUNG.COM -- Di Kota Bandung, nama jalan yang memakai kata “belakang” itu sudah lazim, dan ada contohnya, seperti Jl Belakang Factory. Jalan sepanjang 114 m ini dapat dicapai dari Jl Banceuy dan Jl Cikapundung Barat.

Contoh lainnya Jl Belakang Pasar di Kelurahan Kebonjeruk, Kecamatan Andir, yang melintang barat – timur sepanjang 535 m antara Jl Pasar Barat dan Jl Pasirkaliki.

Ada juga Jl Belakang Pasar Kosambi yang berada di belakang Pasar Kosambi di Kelurahan Kebonpisang, Kecamatan Sumurbandung. Jalan sepanjang 137,5 m ini antara Jl Baranangsiang dan Jl Kosambi.

Di belakang Pasar Sadangserang, Kelurahan Sadangserang, Kecamatan Coblong, ada Jl Belakang Pasar Sadangserang. Panjang jalannya 118 m, dapat dicapai dari Jl Intanraya dan Jl Sadangserang.

Ada juga Jl Belakang Pa(k)gade, bisa masuk dari Jl Jendral Sudirman atau Jl Cibadak melalui Jl Sutur dan Gang Kote. Jalan sepanjang 135 m ini salah penulisannya menjadi Jl Belakang Bp Ade dalam Street Atlas Bandung 2004-2005 (Periplus, 2004).

Secara resmi, nama Jl Belakang Factory belum ditulis dalam buku Perubahan Nama Djalan-djalan di Bandung yang diterbitkan dan dikeluarkan oleh AID De Preangerbode. Dalam jilid bukunya dituliskan, bahwa nama-nama jalan itu telah ditetapkan dalam sidang Perwakilan Rayat Kota Bandung tanggal 3 Maret 1950 dan 28 April 1950.

Demikian juga dalam buku Petundjuk Nama Djalan2 Berikut Peta Terbaru Kota Bandung, yang diterbitkan dan dicetak oleh P.N. Fadjar Bhakti (1953), nama Jalan Belakang Factory belum ditulis. Tapi dalam Peta Bandung yang menjadi lampiran buku ini sudah ada, ditulis Dj. Belakang Factory.

Tidak adanya nama Jalan Belakang Factorij itu dapat dipahami, karena buku ini berisi nama-nama jalan hasil perubahan dari nama-nama jalan zaman kolonial ke nama-nama jalan pascakemerdekaan. Bila ditelusuri dalam peta-peta kolonial, seperti peta yang terbit tahun 1921, 1924, 1934, 1940, dan 1943, semuanya tidak mencantumkan nama Jalan Belakang Factorij, sehingga ketika ada perubahan nama-nama jalan pada tahun 1950, nama jalan itu tidak dicantumkan.

Peta Lokasi kantor Factorij dalam Kaart van De Gemeente Bandoeng (1953). (Dok T. Bachtiar)

Dalam Peta Bandung (PN Fadjar Bhakti, 1953), merupakan peta pertama yang mencantumkan nama Dj Belakang Factory, walaupun salah dalam penulisannya. Seharusnya ditulis Dj. Belakang Factorij. Pembuat peta keliru menduga bahwa factorij sama dengan factory. Padahal keduanya mempunyai makna yang berbeda.  

Akibat kesalahan menulis nama jalan tersebut, kesalahan itu terus berlanjut pada pembuat peta Bandung berikutnya, seperti yang terdapat dalam Peta Jalan Bandung Raya (PT Damai Insan Cinta, 2002), Street Atlas Bandung 2004-2005 (Periplus, 2004), dan Bandung Raya Map & Street Guide (PT Bhuana Ilmu Populer, 2009), ketiganya menulis Jl Belakang Factory.

Masyarakat Bandung sejak zaman kolonial dan awal kemerdekaan, menyebut jalan itu Jalan Belakang Factorij, karena jalan itu berada di belakang kantor Faktorij, sebutan untuk kantor NV Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM NV), Perusahaan Dagang Belanda.

Peta Lokasi Jl Belakang Factory Tahun 1921. (Dok T Bachtiar)

Gedung atau kantor Factorij itu terdapat dalam Kaart van De Gemeente Bandoeng (1921). Lokasinya di utara Alunalun, di sana terdapat tiga gedung yang menghadap ke selatan, ke Groete Postweg, yaitu (dari barat ke timur): (Gedung) NIE Escompto Mij, Nillmij, dan NH Mij (Factorij). Gedung yang paling timur, jelas ditulis Factorij. Inilah yang menjadi sebab, mengapa jalan yang berada di sebelah utara atau di belakang kantor Factorij tersebut oleh warga Bandung disebut Jalan Belakang Factorij, walaupun dalam peta-peta resmi zaman kolonial belum ditulis.

Menurut Olivier Johannes RAAP, penulis buku Kota di Djawa Tempo Doeloe (2015), dalam komunikasi pribadi (18 dan 19/1/2021), untuk mengucapkan ij, jangankan orang Indonesia, bagi orang Belanda sendiri tetap sulit. Untuk lidah orang Indonesia, paling optimal factorij diucapkan faktorai.

Sejak kebangkrutan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie), Perserikatan Dagang Hindia Timur atau kompeni tahun 1799, Kerajaan Belanda mengambil alih seluruh aset dan tanggung jawab, kemudian membuka perwakilan wilayah NV Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM NV), yang dalam praktek dagangnya mengikuti pola yang dilakukan oleh VOC. NHM NV mendirikan banyak koloni perdagangan, termasuk di Bandung.

Dalam bukunya Hindia Belanda 1930 (edisi Bahasa Indonesia, 2018), Dr J Stroomberg menulis bahwa, kebangkrutan VOC atau kompeni yang memiliki hak monopoli perdagangan dari Asia Selatan ke Timur, juga hak menangani perang, menaklukkan negara-negara, hukum, dan membuat mata uang, lambat laun kehilangan keuntungannya. Profit yang mudah diperoleh telah mengurangi kukuatan Kompeni. Perdagangan swasta, meskipun dengan keras dilarang, namun berlangsung dalam perdagangan gelap yang aktif, bahkan para pegawai Kompeni, yang menerima gaji sangat sedikit, juga sering terlibat.

VOC yang berjaya sejak tahun 1602, mengawali kegiatannya dengan membangun markas sebagai perwakilan kongsi perdagangannya. Markas-markas itu dibangun di kota-kota pelabuhan, seperti di Batavia dan Cirebon. Wilayah Priangan semula masuk factorij Cirebon. Karena hasil buminya yang sangat menguntungkan, seperti dari perkebunan kopi, teh, dan kina, maka setelah kebangkrutan VOC, di Kota Bandung dibuka kantor NHM NV pada tahun 1912. Gedung ini dirancang oleh biro arsitek dan insinyur Fermont – Cuypers.

Olivier menjelaskan, Kantor Perserikatan Dagang Hindia Timur (VOC) biasa disebut Factorij, dan manajer kantornya disebut Factoor. Ketika VOC bangkrut kemudian diganti NHM NV, dan membuka perwakilan di beberapa daerah, ini merupakan upaya untuk menghidupkan kembali kegiatan VOC dalam perdagangan yang sudah terhenti. Kantor NHM NV tetap disebut Factorij, yang bermakna pos perdagangan atau kantor wilayah perdagangan.

Setelah dinasionalisasi pada Desember 1960, mulai tanggal 2 Oktober 1998, gedung atau kantor bekas NV Nederlandsche Handel-Maatschappij (Factorij) menjadi milik Bank Mandiri. Tahun 2018, gedung ini ditetapkan menjadi bangunan cagar budaya Kota Bandung yang dimuat dalam Perda Pengelolaan Cagar Budaya No. 7 Tahun 2018.

Gedung ini pun sudah terdaftar dalam Sistem Registrasi Cagar Budaya No REGNAS: RNCB.20100108.02.000900, dengan SK Menteri No PM.04/PW.007/MKP/2010. Pada Desember 2019, Pemerintah Kota Bandung memberikan penghargaan kepada manajemen Bank Mandiri yang telah penjaga, merawat, dan melestarikan cagar budaya gedung Bank Mandiri Jalan Asia Afrika Nomor 61, Kota Bandung, dengan sepenuh hati.

Jl Belakang Factory (seharusnya Jl Belakang Factorij), bila diselisik asal-usul namanya, akan terkait dengan sejarah Kota Bandung dan politik kolonial, politik Eropa, perdagangan, perbankan, ekspor-impor, tanampaksa, kolonisasi, sampai pada masa pascakemerdekaan.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Dudung Ridwan

terbaru

Urgensi Integrasi Data

Netizen Jumat, 26 Februari 2021 | 15:52 WIB

“Kita harus ngomong apa adanya, ini tidak efektif”. Kegundahan Presiden Joko Widodo atas progres Pemberlakuan Pembatasan...

Netizen, Urgensi Integrasi Data, PPKM,Integrasi data,BPS Jabar

Acara Hiburan di Situ Aksan Tahun 1950-an dalam Iklan Koran

Netizen Jumat, 26 Februari 2021 | 09:29 WIB

Acara Hiburan di Situ Aksan Tahun 1950-an dalam Iklan Koran

Netizen, Acara Hiburan di Situ Aksan Tahun 1950-an dalam Iklan Koran, Situ Aksan,Sejarah Situ Aksan,Sin Ming,Iklan Situ Aksan,Sin Ming Hui Bandung

Penerjemah Sunda Pertama

Netizen Kamis, 25 Februari 2021 | 10:00 WIB

Raden Kartawinata menduduki posisi yang sebelumnya tidak ada dalam birokrasi kolonial di Tatar Sunda, menjadi penerjemah...

Netizen, Penerjemah Sunda Pertama, Penerjemah Sunda,raden kartawinata,K.F. Holle

Mengapa Orang India Sukses di Negara Lain?

Netizen Senin, 22 Februari 2021 | 15:08 WIB

Cerita ini terinspirasi dari pertanyaan, mengapa orang India mampu menduduki posisi-posisi penting di perbankan,  lembag...

Netizen, Mengapa Orang India Sukses di Negara Lain?, India,sukses,ekonomi

Problem Sampah yang Membuat Kita Sengsara

Netizen Sabtu, 20 Februari 2021 | 17:59 WIB

Beberapa waktu lalu, Indonesia disebut-sebut sebagai produsen sampah nomor dua terbesar di dunia.

Netizen, Problem Sampah yang Membuat Kita Sengsara, Sampah,Indoensia,Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN),Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK)

Sekolah di Sumedang

Netizen Sabtu, 20 Februari 2021 | 14:54 WIB

Pada 5 Juli 1867, Bupati Sumedang R.A. Soeria Koesoema Adinata alias Pangeran Sugih membuka sekolah yang diupayakan oleh...

Netizen, Sekolah di Sumedang, pengeran sugih,sekolah di sumedang,sejarah sekolah,kartawinata,pendopo sumedang,kabupaten sumedang

Menanti Internasionalisasi Persaingan Tajam Amerika Serikat-China

Netizen Sabtu, 20 Februari 2021 | 14:17 WIB

Manfaat Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) mulai diragukan setelah Uni Soviet bubar, juga ketika negara-negara pecah...

Netizen, Menanti Internasionalisasi Persaingan Tajam Amerika Serikat-China, NATO,Pakta Pertahanan Atlantik Utara,Joe Biden,Amerika Serikat,Australia,china,Presiden Cina Xi Jinping

Mencegah Kebakaran Sejak Dini

Netizen Sabtu, 20 Februari 2021 | 10:54 WIB

Mencegah Kebakaran Sejak Dini

Netizen, Mencegah Kebakaran Sejak  Dini, mencegah kebakaran,dinas kebakaran,cara mencegah kebakaran
dewanpers