web analytics
  

Asep, Euis, Ujang, Neneng Tetap Nama yang Keren

Minggu, 17 Januari 2021 13:31 WIB Netizen Netizen
Netizen, Asep, Euis, Ujang, Neneng Tetap Nama yang Keren, asep,euis,nama sunda,nama khas Bandung,Sunda,Budaya Sunda,Paguyuban Asep Dunia,Kabar Netizen,Ayo Netizen

ilustrasi nama asep. (Flick)

AYOBANDUNG.COM -- William Shakespare mengatakan apalah arti sebuah nama. Tetapi nama mengandung doa dan harapan yang diberikan setiap orangtua kepada anaknya. Namun dalam khazanah Kesundaan khususnya warga Kota Bandung ada nama yang mengandung unsur tradisional tetapi memiliki kekhasan yang takkan tertandingi dalam kehidupan di atas dunia ini sekalipun.

Seiring perjalanan waktu, tren realita kehidupan saat ini para orangtua di dalam memberi nama kepada anaknya dipengaruhi oleh dua kutub yang begitu kuat. Pertama, kutub Barat dengan nama-nama seperti Ronald, Kevin, Magdalena, Angela. Kedua, kutub Timur yang diwakili dunia Arab maka muncul nama Nazhif, Nabila, Al Fatih atau Adawiyah. Dalam hal ini tak ada yang salah dan pemberian nama anak adalah hak mutlak kedua orangtuanya. Jadi memberi nama dari kutub mana pun bukanlah hal yang harus diperdebatkan.

Namun nama sebagai identitas dari sebuah suku yang ada di tanah air memiliki kekuatan yang tak terbatas karena memberi nama berarti memberikan identitas seumur hidup. Justru dengan memberi nama khas tatar Pasundan berarti sama artinya mempertahankan kultur Sunda itu sendiri. Sehingga jika pemilik nama tersebut berada di mana pun bukan saja tingkat lokal, nasional, regional sampai dunia internasional maka sudah dapat dipastikan menunjukkan identitas sebuah suku atau sebuah daerah. Jadi bagi mereka yang telah diberi nama terkait kekhasan tradisional Sunda adalah sebuah kebanggaan karena menjadi duta daerah secara tidak langsung.

Asep, Euis, Ujang dan Neneng adalah beberapa nama yang mewakili nama-nama khas yang dapat menjadi kebanggaan suku Sunda. Tak mengherankan jika seseorang berkenalan di manapun dengan menyebut empat nama tadi maka dipastikan orang yang diajak bicara akan mengenal jika lawan bicaranya adalah berasal dari suku Sunda. Dengan begitu, kita tetap bisa menyebut nama-nama itu tetap nama-nama yang keren. Sebagai contoh siapa yang tak kenal Euis Darliah atau Asep Sunandar Sunarya. Dua  seniman ini semakin memperjelas jika eksistensi nama-nama kesundaan terus dikenal di jagat nasional dan tidak tergantikan.

Bahkan pemilik nama Asep malah mempunyai inisiatif membentuk Paguyuban Asep Dunia. Hal ini membuktikan bahwa mereka yang bernama Asep yang jumlanya cukup banyak justru menjadi duta yang mampu mempertaankan kekhasan suku Sunda di manapun mereka berada.

Paguyuban Asep Dunia (PAD) pada awalnya bernama Paguyuban Asep (PA). Paguyuban ini digagas pertama kali oleh Asep Iwan Gunawan yang penasaran dengan membuat group: “How Many Asep There Are in Facebook?” pada tahun 2008 yang kemudian direspons positif oleh beberapa orang pemilik nama Asep yang ada di dalam jejaring social Facebook.

Berkat ide dan inisiatif Asep Kambali, seorang sejarawan yang juga pendiri Komunitas Historia Indonesia (KHI), dan didukung oleh Asep Iwan Gunawan, Asep Bambang Fauzi, Asep RS dan Asep Dudi, Paguyuban Asep (PA) lahir di Jakarta menjadi gerakan sosial yang masif dan kongkret pada tanggal 1 Agustus 2010. (https://paguyubanasep.com).

Nama Asep diambil dari bahasa Sunda, Sansekerta dan Indonesia. Dalam bahasa Sunda, Asep memiliki makna “kasep” atau tampan. Sementara dalam bahasa Sansekerta, Asep berarti “dupa wangi”. Dalam bahasa Indonesia, Asep berarti “spiritual, mistik, atau kepercayaan pada roh”. Ada hubungan atau tidak, ketiga makna itu memiliki kesamaan kesan sebagai sebuah kondisi yang beraura positif. Kasep atau tampan memberi sugesti dan doa bahwa seseorang yang diberi nama Asep diharapkan memiliki paras dan sikap yang rupawan dalam hidupnya, semakna dengan aura positif yang dikeluarkan oleh dupa wangi yang memberi kesan selalu ingin mewangikan lingkungan sekitarnya. (Tulisan Asep Gunawan, Dosen PTKIS Wilayah II Jawa Barat & Banten https://www.pasundanekspres.co).

Salah satu nama dari Bahasa Sunda yang katanya Sunda banget adalah Euis. Nama panggilan euis sepertinya hanya ada di sunda saja dan nama tersebut berdekatan dengan istilah geulis yang artinya cantik. Dalam artian yang lebih jauh lagi, jika merunut etimologi sejarah dan budaya Arab, Euis ternyata cukup berhubungan dengan istilah Aisy. Ustad Hanan Attaki dalam satu kajiannya mengiyakan bahwa nama Euis berasal dari kata Aisyah. Aisyah disini memilki arti cantik luar dalam. Dan ternyata bentuk akulturasi budaya Arab ini sudah sangat menyebar hingga ke budaya Sunda.(https://likalulu.tumblr.com).

Jika demikian adanya, rupanya nama-nama berciri khas Sunda ternyata memiliki makna yang begitu dalam. Kendati zaman semakin hari semakin maju tetap tak ada salahnya jika memberi nama khas Sunda. Identitas nama rupanya lebhi kuat dibanding bahasa yan ada sebab bahasa bisa jadi hilang karena nantinya banyak yan tidak menggunakan, sedangkan nama itu tetap tercantum pada identitas setiap orang. Jadi jika saat ini yang memiliki nama-mana dengan ciri kekhasan Sunda tak perlu gengsi karena nama yang disandang Anda adalah nama yang bisa menjadi kebanggaan daerah tempat Anda tinggal dan takkan pernah kalah karena memiliki arti yang bemakna indah dan mencerminkan sebuah harapan dari orangtua yang memberi nama tersebut.

Memang mungkin tidak setenar nama Verrel, Amanda, Andini atau Elsa tetapi mesti diingat pula jika nama Asep, Euis, Ujang dan Nenen tetap keren juga. Jangan khawatir nama-nama tersebut dianggap kuno alias jadul karena setiap nama yang diberikan tetap indah dan memiliki makna yang begitu besar. Jadi  ketika mendengar nama lain seperti Sutisna, Dadang, Adung, Eha, Lilis, Ichi tak perlu lagi minder tapi mestinya bangga karena nama-nama itu adalah ciri USA alias Urang Sunda Asli. Jadi intinya, siapa lagi yang akan ngamumule identitas Sunda kalau bukan kita sebagai orang Sunda di Tatar Pasundan ini.***

(Deffy Ruspiyandy/Penulis Artikel dan Penulis Ide Cerita di Televisi Swasta)

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Ananda Muhammad Firdaus

terbaru

Penyebab Makin Pedasnya Harga Cabai

Netizen Sabtu, 6 Maret 2021 | 20:13 WIB

Akhir-akhir ini di berbagai daerah, masyarakat mengeluhkan melambungnya harga cabai rawit merah hingga Rp.120.000, samp...

Netizen, Penyebab Makin Pedasnya Harga Cabai, Harga Cabai Naik,Harga Cabai Tanjung Naik,BPS

Sektor Infokom Tumbuh Pesat di Tengah Pandemi

Netizen Jumat, 5 Maret 2021 | 09:25 WIB

Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia genap berusia setahun. Sejak ditemukan kasus perdana di awal Maret tahun 2020, h...

Netizen, Sektor Infokom Tumbuh Pesat di Tengah Pandemi, Infokom,COVID-19,PSBB

Kapan Situ Aksan Ada?

Netizen Kamis, 4 Maret 2021 | 14:25 WIB

Dalam Peta Topografi tahun 1904-1905, tempat yang kemudian menjadi Situ Aksan, masihlah perkampungan kecil.

Netizen, Kapan Situ Aksan Ada?, Sejarah,Kota Bandung,Topografi,Desa,Abad ke-20,Bandung Baheula

Tiga Terjemahan Pertama

Netizen Kamis, 4 Maret 2021 | 10:20 WIB

Pada 1872, Raden Kartawinata sudah bisa menerbitkan tiga judul terjemahan dari bahasa Belanda.

Netizen, Tiga Terjemahan Pertama, raden kartawinata,Sunda,Jawa,Bahasa,Penerjemah,Belanda,R.H. Moeh. Moesa,K.F. Holle,buku,Literatur,Literasi

Mencabut Industri Dosa Berkedok Perpres Investasi Miras

Netizen Rabu, 3 Maret 2021 | 14:15 WIB

Ada yang bilang bahwa industri dosa sejatinya merupakan usaha mentransfer dana publik ke tangan swasta dengan cara yang...

Netizen, Mencabut Industri Dosa Berkedok Perpres Investasi Miras, Minuman Keras (Miras),Perpres investasi miras,Presiden Joko Widodo,Indonesia,Investasi,World Health Organization (WHO),Papua,minuman beralkohol

Gang 'Sarebu Punten' Itu Disulap Jadi Kampung Kreatif

Netizen Rabu, 3 Maret 2021 | 13:40 WIB

Pada era tahun 90-an, jalan-jalan atau gang-gang kecil di daerah Cicadas juga terkenal dengan sebutan gang "sarebu punte...

Netizen, Gang 'Sarebu Punten' Itu Disulap Jadi Kampung Kreatif, Cicadas,Desa Kreatif,Bandung,Gang ,Kampung Kreatif

Khawatir Kini Kina Tinggal Nama

Netizen Selasa, 2 Maret 2021 | 15:00 WIB

Pohon kina peninggalan tahun 1855 itu sudah sangat tua, keadaannya sudah dalam posisi bungkuk atau miring, dan kini suda...

Netizen, Khawatir Kini Kina Tinggal Nama, Kina,Pohon,Bandung,Chincona,Chincon,Franz Wilhelm Junghuhn,Karl Justus Hasskarl

Virtual Police, Polisi Bahasa Gaya Baru

Netizen Selasa, 2 Maret 2021 | 13:50 WIB

Kita tidak boleh hanya menekankan kebenaran berbahasa yang diukur oleh kebakuan KBBI, tetapi harus memperhatikan situasi...

Netizen, Virtual Police, Polisi Bahasa Gaya Baru, Polisi,Bahasa,Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),Santun

artikel terkait

dewanpers