web analytics
  

Demokrasi AS Tak Seindah yang Disangka

Kamis, 14 Januari 2021 16:06 WIB Netizen Sjarifuddin Hamid
Netizen, Demokrasi AS Tak Seindah yang Disangka, Demokrasi Amerika Serikat,Donald Trump,Joe Biden,Kamala Harris,Pemilu AS,Kerusuhan di Gedung Capitol

Ilustrasi. (Pixabay)

Sjarifuddin Hamid

Lulusan Jurusan Hubungan Internasional, FISIP-UI. Pernah bekerja pada beberapa surat kabar nasional.

AYOBANDUNG.COM -- Sebetulnya peristiwa serupa ini lazim terjadi di negara-negara berkembang. Calon yang tak terpilih marah. Pendukungnya ikut pundung. Mulanya sekadar protes, disusul perusakan.

Masyarakat dunia terhenyak sebab kali ini terjadi Amerika Serikat. Massa pendukung Donald Trump menyerbu dan menduduki gedung Kongres (Capitol Hill) di jantung Washington DC, 6 Januari 2021. Lima orang, termasuk seorang polisi, tewas. Puluhan ditahan.

Aksi anarki yang berupaya membatalkan sidang pengesahan Kongres atas kemenangan Joe Biden tersebut sangat mencoreng citra sebagai kampiun demokrasi. Lantaran ternyata orang Amerika sendiri tidak menerapkan asas taat konstitusi.

Alhasil para petinggi Amerika Serikat kelak sulit menjual sistem politik demokrasi yang sebelumnya diperkenalkan ke negara-negara lain dengan cara halus, kudeta, maupun intervensi militer. Apalagi masyarakat dunia sudah paham, di balik demokratisasi adalah menundukkan negara lain. Termasuk menguasai pasar domestik, sumber daya alam. Menerapkan sistem ekonomi liberal-kapitalis. Mendominasi ranah investasi. Membangun pangkalan militer.

Kecuali terhadap Venezuela, Iran, Rusia, Korea Utara dan China, Washington telah berhasil memaksakan kehendaknya. Banyak negara yang menerapkan sistem politik yang demokratis kemudian dijerat utang. Memakai sistem ekonomi liberal-kapitalis. Dibatasi kebebasan membeli produk negara lain, terutama alutsista.

Dengan penyerbuan gedung Capitol atau tempat anggota Kongres bersidang, maka ada kemungkinan mendorong para penguasa negara lain berpaling kepada sistem politik alternatif. Termasuk kembali ke sistem otoriter dengan alasan kestabilan politik-keamanan itu perlu guna kelancaran pembangunan.

Keliru Melihat?

Sejauh ini AS dilihat dari casing-nya saja. Terpukau dengan kelap kerlip New York atau Los Angeles. Terbius keanggunan Capitol Hill, Gedung Putih, patung Abraham Lincoln, Tugu Washington dan Thomas Jefferson Memorial di Washington DC. Lupa, AS juga punya masalah dalam partisipasi politik rakyat.

Di sana ada rakyat yang kurang pendidikan. Karyawan nonprofesional atau manajerial. Berpendapatan rendah. Tidak menyumbang dana kepada kandidat. Jarang menghubungi wakil legislatif dan sebagainya. Mereka pada pokoknya kurang peduli kepada politik.

Dalam pemilihan Presiden pada 2020, sejumlah 239 juta punya hak memilih tapi hanya 66,1% atau sekitar 158 juta pemilih yang menggunakan hak suara. Joe Biden meraih 81,3 juta suara, Trump 74,2 juta suara. Sisanya untuk kandidat lain.

Persentase yang ikut pemilihan tak jauh dari yang terjadi di negara berkembang. Menurut Komisi Pemilihan Umum, partipasi politik di Indonesia pada pemilihan presiden dan anggota legislatif tahun 2019, mencapai 77,5%.

Pemilihan presiden juga tidak demokratis. Di Amerika Serikat tak ada pemilihan langsung. Rakyat ke bilik suara untuk memberi suara kepada Presiden/Wakil Presiden dan anggota Electoral College (EC).

Jumlah anggota EC yang dipilih itu berbeda-beda. Pada negara bagian yang penduduknya banyak, maka jumlah wakilnya dalam EC juga banyak. Begitupun sebaliknya.

Dalam sistem ini, calon Presiden/Wakil Presiden belum tentu ditahbiskan sebagai pemenang sekalipun mayoritas rakyat memilihnya (popular vote). Yang menentukan adalah EC yang beranggotakan 538 pemilih (elector). Calon Presiden/Wapres menjadi pemenang bila meraih suara 270 elector.

Yang menyusun nama-nama elector adalah partai di negara bagian yang bersangkutan. Mereka bisa saja artis, tokoh masyarakat, ilmuwan, politisi atau sejawat calon presiden. Tidak semua elector tunduk kepada kemauan partai, mereka bisa saja membangkang.

Kemudian para elector dari seluruh negara bagian menggelar voting. Hasilnya dikirim ke Capitol Hill untuk dihitung dan disahkan. Nah, pada 6 Januari 2020 itulah pendukung Trump melakukan unjuk rasa yang anarkis.

Setelah memperoleh lebih banyak popular vote dari Trump, Biden juga mendapat 306 suara elector dan pesaingnya 232 suara. Dengan demikian Biden menang mutlak, hanya saja Trump sebelum periode kampanye sudah menyatakan kalau ia kalah maka berarti ada kecurangan.

Ucapannya itu dipandang lawan Trump sebagai hasutan, namun bagi pengikutnya merupakan petunjuk agar waspada. Bagi pihak yang netral, pernyataanya dapat dilihat sebagai sikap curiga dan egoisme.

Isu Psikologis

BBC menyatakan Trump kalah karena mengemukakan sesuatu yang orang lain enggan mau mengutarakannya. Faktor ini pula yang menjadi penyebab kemenangannya pada 2016. Bicara asal njeplak begitulah kira-kira.

Majalah Atlantic pada Juni 2016 memuat wawancara Mark Singer dengan Trump untuk majalah New Yorker.

“Do you consider yourself ideal company?” tanya Singer

“You really want to know what I consider ideal company?” Trump menjawab. “A total piece of ass.”

Pew Research Center yang baru-baru ini mengadakan survei mendapati, hanya 15% orang Amerika yang menyukai cara Presiden Trump berperilaku. 51% tidak menyukai. 31% lagi menyatakan sikap yang mendua.

Sebanyak 80% responden menilai Donald Trump egois. 59% lainnya menyatakan kerap mencurigai orang lain. 36% menilainya jujur dan 32% lagi menjunjung moral.

Selain ucapan dan perilaku Trump, mulai juga terungkap sejumlah keberatan dengan berbagai kebijaksanaan keuangan/moneter Trump akhir-akhir. Dia dinilai mengikis dominasi pihak-pihak tertentu.

Membuat Repot Biden

Donald John Trump dibesarkan dalam keluarga pengusaha. Dia sendiri lulusan Wharton School of Business, Universitas Pennsylvania. Lalu memimpin banyak perusahaan yang dihimpunnya dalam Trump Organization.

Lingkungannya itu membuatnya terbiasa tegas, berpandangan jauh ke depan dan berpikir ringkas. Contoh yang paling jelas bisa dilihat dalam film seri The Apprentice, ketika Trump berperan sebagai produser, merangkap pewawancara dan majikan jika kandidat itu terpilih untuk bekerja di perusahaannya.

Bila calon kandidat dinilainya tidak cakap, Trump dengan tegas menyatakan...Anda dipecat. You are fired! Sebelas kandidat dipecatnya, hanya untuk memilih seorang eksekutif.

Trump tidak akan peduli bila keputusan atau tindakannya menimbulkan reaksi negatif karena begitulah sikap top eksekutif perusahaan. Namun kali ini dia memimpin sebuah negara adidaya/adikuasa.

Joe Biden dan Kamala Harris bila menjadi presiden/wakil presiden akan menghadapi situasi sulit. Bagaimana mereka harus memperbaiki hubungan dengan China dan Eropa. Tak kurang penting, bagaimana negaranya ikut lagi dalam kesepakatan enam negara tentang kesepakatan perjanjian nuklir dengan Iran.

Keduanya juga tak bisa leluasa bicara tentang demokrasi.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: M. Naufal Hafizh

terbaru

Kultur Overwork Tak Manusiawi dan Tak Bagus untuk Hidup Kita

Netizen Selasa, 18 Mei 2021 | 17:25 WIB

Para pelaku overwork didominasi oleh golongan muda di bawah 40 tahun.

Netizen, Kultur Overwork Tak Manusiawi dan Tak Bagus untuk Hidup Kita, Overwork,Muda-mudi,Bahaya Laten Overwork,Kultur Overwork,Dehumanisasi

Suara dari Surau Kala Pandemi

Netizen Senin, 17 Mei 2021 | 18:25 WIB

Pandemi berdampak pada banyak hal dan berbagai sektor, salah satunya adalah pendidikan agama.

Netizen, Suara dari Surau Kala Pandemi , Pandemi,Pendidikan Agama,Al-Qur'an,Islam

Butuh Stamina dan Kesabaran Sebelum Berfoto di Warung Nasi Mang Ade

Netizen Minggu, 16 Mei 2021 | 13:30 WIB

DI kalangan para goweser, Warung Nasi  Mang Ade bukanlah nama yang asing.

Netizen, Butuh Stamina dan Kesabaran Sebelum Berfoto di Warung Nasi Mang Ade, Warung Nasi Mang Ade,Sepeda,MTB (mountain bike),Liburan,Jalan Raya Puncak,Kabupaten Bogor

Leuwipanjang, di Mana Leuwinya?

Netizen Jumat, 14 Mei 2021 | 08:43 WIB

Leuwipanjang, di Mana Leuwinya?

Netizen, Leuwipanjang, di Mana Leuwinya?, leuwipanjang,Terminal Leuwipanjang,leuwi,sejarah leuwipanjang,leuwipanjang adalah

Menjaga Tradisi, Merawat Ingatan Lebaran

Netizen Kamis, 13 Mei 2021 | 17:30 WIB

Sejatinya, agama (Islam) dan budaya (tradisi) hadir tidak untuk dipertentangkan (dibenturkan).

Netizen, Menjaga Tradisi, Merawat Ingatan Lebaran, Tradisi,Lebaran,Idulfitri,Sejarah,Islam,budaya

Pamali sebagai Pendidikan Karakter Masyarakat Sunda

Netizen Kamis, 13 Mei 2021 | 17:05 WIB

Pamali atau pemali adalah pantangan atau larangan (berdasarkan adat dan kebiasan).

Netizen, Pamali sebagai Pendidikan Karakter Masyarakat Sunda, Pamali,Pemali,Pendidikan Karakter Masyarakat Sunda,Sunda,Budaya,Tradisi,Takhayul

Menjadi Tangan Kanan Pangeran Suriaatmaja

Netizen Rabu, 12 Mei 2021 | 16:53 WIB

Bataviaasch Handelsblad dan Java-Bode edisi 8 Mei 1883 antara lain memuat kabar pelelangan barang-barang milik Raden Kar...

Netizen, Menjadi Tangan Kanan Pangeran Suriaatmaja, raden kartawinata,belanda,suriaatmaja,kabupaten sumedang

Lebaran yang Indonesia Banget dalam Lagu Pop

Netizen Selasa, 11 Mei 2021 | 12:01 WIB

Salah satu lagu yang lumayan utuh mendeskripsikan perayaan Lebaran adalah lagu karya komponis masyhur negeri ini, Ismail...

Netizen, Lebaran yang Indonesia Banget dalam Lagu Pop, Selamat Hari Lebaran,Ismail Marzuki,Lebaran,Lagu Lebaran,Lagu Selamat Hari Lebaran,Jangan Korupsi

artikel terkait

dewanpers