web analytics
  

Beratnya Pemulihan Ekonomi saat Pandemi Covid-19

Rabu, 30 Desember 2020 14:18 WIB Netizen Hentiek Puspitawati, S.ST., M.Si.
Netizen, Beratnya Pemulihan Ekonomi saat Pandemi Covid-19, Ekonomi Indonesia,UMKM,Pandemi Covid-19,Resesi,Daya Beli Masyarakat

Ilustrasi -- Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Minus. (Pixabay)

Hentiek Puspitawati, S.ST., M.Si.

Fungsional Statistisi Madya, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi D.I. Yogyakarta

AYOBANDUNG.COM -- Mengakhiri tahun 2020, pemerintah Indonesia masih dihadapkan pada masalah kesehatan dan ekonomi. Bagaimana tidak, saat ekonomi Indonesia perlu pemulihan akibat pandemi Covid-19, namun diwaktu yang bersamaan juga terjadi lonjakan penderita Covid-19.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia sempat mengalami kontraksi dikarenakan adanya kebijakan pemerintah dalam pembatasan aktivitas masyarakat baik untuk bepergian maupun untuk bekerja,dan aktivitas lainnya. Imbauan untuk melakukan aktivitas dari rumah seperti bekerja, belajar maupun lainnya saat pandemi COVID-19 mulai menyerang Indonesia juga turut berdampak pada perekonomian Indonesia. Kebijakan yang lebih ketat di masa pandemi seperti pembatasan aktivitas masyarakat di area publik, pembatasan bepergian, hingga kebijakan bekerja dari rumah membuat aktivitas perekonomian terganggu.

Perekonomian Indonesia pada triwulan pertama tahun 2020 tumbuh sebesar 2,97 persen (year on year). Pada akhir triwulan pertama, serangan COVID-19 baru masuk ke Indonesia. Begitu masuk di triwulan kedua hingga triwulan ketiga pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi terus. Pada triwulan kedua, ekonomi Indonesia minus 5,32 persen dan di triwulan ketiga juga belum menunjukkan peningkatan yang berarti sehingga masih minus 3,49 persen.

Pertumbuhan ekonomi sampai dengan triwulan III masih mengalami kontraksi, meskipun pertumbuhan ekonomi triwulan III-2020 lebih baik dibanding triwulan II-2020. Hal ini tercermin dari beberapa indikator yang mengalami peningkatan dalam beberapa bulan terakhir. Namun perbaikan ini masih terhambat dengan tingginya kasus COVID-19.

Dampak COVID-19 ke dunia usaha

Dampak resesi yang terjadi saat ini sangat dirasakan oleh berbagai pihak, mulai dari pelaku usaha yang merugi, tingkat pengangguran meningkat, hingga jumlah orang miskin yang bertambah, bahkan kinerja pasar modal pun tidak setinggi kondisi sebelum pandemi Covid-19. Beberapa lapangan usaha yang berpotensi terdampak cukup parah akibat pandemi COVID-19 adalah penyedia akomodasi, dan makanan dan minuman, perdagangan, transportasi dan pergudangan, konstruksi, industri pengolahan, dan jasa lainnya.

Dari pertumbuhan sektor usaha di triwulan III-2020, penyedia akomodasi dan makan minum mengalami kontraksi sebesar 11,86 persen. Dikarenakan belum pulihnya kunjungan wisatawan yang menyebabkan tingkat kunjungan ke hotel dan restoran masih rendah. Dan semakin banyaknya kegiatan rapat/training yang dahulu dilaksanakan di hotel sekarang berubah menjadi virtual.

Perdagangan pun turut terkontraksi sebesar 5,03 persen dikarenakan pemberlakuan PSBB dibeberapa wilayah yang menyebabkan omzet perdagangan menurun dan minat masyarakat untuk mengunjungi pusat perbelanjaan belum sepenuhnya pulih. Dikarenakan pembatasan mobilitas karena adanya pandemi COVID-19 maka transportasi juga mengalami kontraksi sebesar 16,70 persen, namun kontraksi pertumbuhan triwulan III-2020 tidak sedalam pada triwulan II-2020 disebabkan karena adaptasi kebiasaan baru atau pelongaran PSBB yang meningkatkan kinerja lapangan usaha transportasi dan pergudangan.

Sektor lainnya yang terdampak adalah Industri pengolahan yang terkontraksi 4,31 persen, kecuali industri kimia, farmasi dan obat tradisional mampu tumbuh sebesar 14,96 persen. Hal ini didukung oleh peningkatan produksi obat-obatan, multivitamin dan suplemen untuk memenuhi permintaan domestik dalam menghadapi wabah COVID-19. Sedangkan Konstruksi mengalami kontraksi sebesar 4,52 persen. Ini disebabkan oleh penurunan realisasi pengadaan semen dan penurunan impor bahan bangunan seperti barang dari besi dan baja dasar, kaca dan barang dari kaca.

Dampak COVID-19 bagi Masyarakat

Pandemi COVID-19 juga turut membuat daya beli masyarakat menurun. Untuk melihat penurunan daya beli masyarakat, deflasi dapat dilihat sebagai salah satu indikator. Deflasi menunjukkan menurunnya permintaan domestik, artinya daya beli masyarakat turut terdampak. BPS mencatat Indonesia mengalami deflasi tiga kali berturut-turut tahun ini pada Juli-September. Sejak awal tahun hingga September, pergerakan inflasi umum di 90 kota cenderung fluktuatif dengan tren menurun. Deflasi ini disebabkan penurunan harga yang menunjukan daya beli masyarakat yang belum pulih di tengah pandemi.

Dampak COVID-19 yang dirasakan masyarakat saat pendapatan kelompok masyarakat menengah dan bawah turun secara signifikan akibat kebijakan pembatasan aktivitas diberlakukan. Dengan menurunnya pendapatan mereka yang bekerja disektor informal, maka dikhawatirkan jumlah orang miskin akan semakin banyak. Kondisi ini juga diperparah dengan adanya migrasi pengangguran akibat gelombang PHK massal dari perkotaan kedaerah asal mereka diperdesaan. Dengan kondisi seperti ini, maka masyarakat akan cenderung berhemat membeli barang sekunder maupun tersier, karena lebih fokus pada pemenuhan kebutuhan pokok dan kesehatan saja.

Resesi yang terjadi juga berimbas pada penduduk yang sedang mencari pekerjaan. Angkatan kerja baru akan makin sulit bersaing, karena jumlah lowongan pekerjaan menurun. Sementara, perusahaan kalaupun akan melakukan proses rekruitmen, akan memprioritaskan karyawan yang sudah berpengalaman. Hal ini berdampak pada tingginya tingkat pengangguran dan konflik sosial akibat ketimpangan yang melebar.

Peran Pemerintah

Situasi seperti ini seharusnya bisa menjadi informasi dasar bagi penentu kebijakan dalam menyusun strategi yang efektif, terutama cara menanggulangi masalah yang timbul akibat pandemi COVID-19. Ada dua hal yang sangat penting dalam peningkatan ekonomi disaat resesi seperti ini, diantaranya sebagai berikut?

Pertama, peningkatan konsumsi masyarakat. Penurunan konsumsi masyarakat menjadi salah satu faktor dominan penyebab resesi Indonesia tahun 2020 ini. Peran Pemerintah sangat diperlukan untuk mengenjot konsumsi masyarakat yang memegang peranan paling besar dalam struktur ekonomi. Selain peningkatan konsumsi, pemerintah juga perlu mengupayakan peningkatan investasi yang sempat menurun. Konsumsi pemerintah pusat memang memegang peranan cukup penting dalam struktur perekonomian. Walaupun kontribusinya hanya sekitar 8 persen dari total PDB, namun efek multiplier yang ditimbulkannya dapat menggenjot konsumsi masyarakat, seperti penyaluran dana bantuan sosial, subsidi, hingga bantuan untuk UMKM. Hal inilah yang harus menjadi fokus pemerintah dalam menjaga dan mengawasi pemberian paket-paket bantuan maupun subsidi agar tepat waktu dan tepat sasaran.

Kedua, peningkatan investasi. Pemerintah perlu meningkatkan permintaan dalam negeri dan dunia usaha tergerak untuk berinvestasi. Dalam mengembangkan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), pemerintah perlu mempercepat penyaluran dana bantuan produktif UMKM dan pinjaman super lunak Kredit Usaha Rakyat (KUR), super mikro untuk pekerja yang terkena PHK dan ibu rumah tangga yang berusaha. Dan perlunya menjalin kerjasama dengan negara lain agar tergerak untuk berinvestasi di Indonesia.

Kedua indikator ini akan menjadi objek pemulihan yang utama. Berbagai instrumen mulai dari bantuan sosial (bansos) hingga strategi memulihkan kepercayaan diri investor memang perlu digenjot.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: M. Naufal Hafizh

terbaru

Ketahanan Pangan di Tengah Pandemi COVID-19

Netizen Senin, 25 Januari 2021 | 10:06 WIB

Mewujudkan ketahanan pangan berkelanjutan menjadi isu dan agenda prioritas dalam berbagai pertemuan yang diselenggarakan...

Netizen, Ketahanan Pangan di Tengah Pandemi COVID-19, Ketahanan Pangan,ketahanan pangan di masa pandemi,isu ketahanan pangan,jaminan ketersedian pangan

Relevansi Penerapan Merdeka Belajar terhadap Pandemi Covid-19

Netizen Minggu, 24 Januari 2021 | 19:07 WIB

Akankah adanya kebijakan merdeka belajar--kampus merdeka relevan untuk diterapkan pada pendidikan tinggi teknik, khususn...

Netizen, Relevansi Penerapan Merdeka Belajar terhadap Pandemi Covid-19, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim,Merdeka Belajar,Pandemi Covid-19,pendidikan di masa pandemi covid 19,kebijakan merdeka belajar

Oleh-Oleh Tak Sekadar Barang Bawaan

Netizen Minggu, 24 Januari 2021 | 18:07 WIB

Oleh-oleh itu sendiri sebenarnya menunjukkan kekhasan daerah wisata yang sudah kita kunjungi pada kesempatan itu.

Netizen, Oleh-Oleh Tak Sekadar Barang Bawaan, oleh-oleh Bandung,Pedagang Oleh-oleh,Cemilan buat Oleh-oleh

Jalan Suryani, Pasar Loak Baru Segala Ada

Netizen Minggu, 24 Januari 2021 | 17:15 WIB

Kota Bandung dikenal dengan pasar loak Astanaanyar dan Cihapitnya, tapi dalam beberapa taun terakhir tepatnya empat taun...

Netizen, Jalan Suryani, Pasar Loak Baru Segala Ada, pasar loak Bandung,Pasar Loak Astana Anyar,Pasar loak Cilaki,pasar loak jalan suryani,pasar loak,Bandung Baheula

Ketika Ponsel Ketinggalan di Dalam Taksi Online

Netizen Minggu, 24 Januari 2021 | 14:23 WIB

Hal yang perlu diperhatikan adalah saat kita sedang bepergian. Berusahalah untuk selalu berhati-hati saat membawa atau m...

Netizen, Ketika Ponsel Ketinggalan di Dalam Taksi Online, Ponsel,kehilangan ponsel,bermain ponsel,ponsel ketinggalan,ketinggalan ponsel,menaruh ponsel

Menyoal Tantangan Sektor Pertanian di Era Pandemi

Netizen Minggu, 24 Januari 2021 | 13:47 WIB

Penyebab Turunnya Nilai Tukar Petani di Jabar

Netizen, Menyoal Tantangan Sektor Pertanian di Era Pandemi, nilai tukar petani,ntp jabar,BPS,tantangan pertanian,BPS Jabar,COVID-19,Pandemi Covid-19

Bersepeda, Menyehatkan atau Membahayakan?

Netizen Minggu, 24 Januari 2021 | 13:30 WIB

Olahraga Bersepeda, Menyehatkan atau Membahayakan?

Netizen, Bersepeda, Menyehatkan atau Membahayakan?, Bersepeda,jantung,olahraga pandemi,COVID-19,Bandung Hari Ini,jalan digunakan untuk sepeda

Kreasi dan Inovasi Mahasiswa Sistem Telekomunikasi pada Masa Pandemi

Netizen Sabtu, 23 Januari 2021 | 23:06 WIB

Kreasi dan Inovasi Mahasiswa Sistem Telekomunikasi pada Masa Pandemi

Netizen, Kreasi dan Inovasi Mahasiswa Sistem Telekomunikasi pada Masa Pandemi, COVID-19,Sistem Telekomunikasi

artikel terkait

dewanpers