web analytics
  

Pengorbanan Seorang Ibu

Senin, 28 Desember 2020 12:04 WIB Netizen Sam Edy Yuswanto
Netizen, Pengorbanan Seorang Ibu, pengorbanan,orang tua,ibu

Ilustrasi (Pixabay)

Sam Edy Yuswanto

Penulis lepas, tulisannya tersebar di berbagai media, lokal hingga nasional.

AYOBANDUNG.COM -- Ayah dan ibu merupakan dua orang yang sangat berjasa besar dalam kehidupan kita. Perjuangan dan pengorbanan mereka, khususnya seorang ibu, mulai mengandung selama sembilan bulan, melahirkan dengan taruhan nyawa, merawat, mendidik, sekaligus membesarkan kita hingga menjadi manusia dewasa, begitu besar dan tak bisa dibayar atau diganti dengan apa pun. Bahkan harta seisi dunia pun saya rasa tak akan pernah sanggup untuk menebus jasa mulia seorang ibu terhadap anak-anaknya.

Oleh karenanya, menghormati orang tua, terlebih ibu, adalah menjadi keniscayaan bagi kita semua. Menghormati di sini tentu sangat luas cakupan maknanya. Misalnya tidak gemar menyakiti hatinya. Jangan membantah ucapannya. Selalu berusaha menuruti setiap nasihat dan perintahnya. Pengecualian seandainya ada orang tua menyuruh kita berbuat hal-hal negatif atau kemaksiatan. Maka kita tak perlu melakukannya. Namun, dalam menolaknya, kita pun tetap harus menggunakan cara-cara yang santun dan jangan sampai mengasarinya.

Ada sebuah kisah menarik sarat perenungan tentang pengorbanan seorang ibu terhadap anaknya yang pernah saya baca dalam buku 1001 Alasan Kamu Harus Sayangi Ibumu, karya Monde Arista. Dikisahkan, seorang ibu merasa sangat sedih ketika melahirkan bayi laki-laki yang memiliki kekurangan fisik. Bayi tersebut tak memiliki daun telinga. Namun, sang ibu tetap berusaha merawat dan menyayanginya hingga besar. Beliau juga berusaha menghibur sang anak ketika diolok-olok oleh temannya di sekolah karena fisiknya yang tak sempurna itu.

Berkat didikan positif sang ibu, akhirnya ia tumbuh menjadi anak cerdas dan berprestasi. Sehingga mampu menutupi segala kekurangan dirinya. Sang anak mampu mengembangkan bakatnya di bidang musik dan kepenulisan. Keahliannya bermusik itulah yang menjadikan ia disegani dan disukai oleh teman-temannya. Hingga pada suatu hari, ayah si anak bertemu seorang dokter yang bisa membantu mencangkokkan telinga kepada anaknya.

Singkat cerita, si anak pun menerima tawaran ayahnya untuk melakukan operasi pencangkokan telinga. Katanya, ada seseorang yang dirahasiakan yang rela memberikan telinga kepadanya. Hingga pada suatu hari, terbongkarlah rahasia tentang siapa sesungguhnya sosok yang telah merelakan telinganya dipotong untuk didonorkan kepadanya. Rahasia itu terkuak ketika ibu si anak meninggal dunia. Ternyata selama ini ibu memanjangkan rambutnya untuk menutupi daun telinganya yang telah didonorkan kepada putra tercintanya. Mengetahui hal tersebut, meledaklah tangis sang anak. Betapa pengorbanan sang ibu terhadapnya begitu besar dan tak bisa diganti dengan apa pun. Kisah ini begitu membekas dalam ingatan saya dan bisa menjadi renungan bagi siapa saja agar jangan sekali-kali mendurhakai orang tua.

Berbicara tentang pengorbanan seorang ibu, memang seolah tiada akan pernah ada habisnya. Terkadang, bahkan sering, ia rela jika dirinya sendiri hidup menderita, asalkan anak-anaknya hidup dalam lingkup kebahagiaan. Seorang ibu bahkan rela tak makan, asal perut anak-anaknya bisa kenyang. Intinya, seorang ibu rela melakukan apa saja demi kebahagiaan anak-anaknya.        

Saya jadi teringat, ketika ibu saya masih hidup, ia adalah sosok yang sangat perhatian dan menyayangi anak-anaknya. Saat ibu menghadiri pengajian atau acara-acara hajatan, biasanya ibu membawa pulang makanan ringan (bahkan terkadang nasi lengkap dengan lauk) yang tak ia makan saat di lokasi acara. Makanan ringan atau snack tersebut sengaja dibawa pulang untuk diberikan kepada saya. Ini adalah salah satu bukti nyata bahwa beliau sangat menyayangi dan memperhatikan anaknya. Bisa jadi beliau tak peduli dengan kondisi perutnya sendiri, yang penting anak-anaknya bisa makan dan kenyang.

Ketika mengetahui anak sedang sakit, orang tua khususnya ibu, biasanya akan sangat mencemaskan kesehatan anaknya. Saya masih ingat, ketika saya sedang sakit, meski hanya sakit panas atau demam biasa, ibu terlihat begitu khawatir dan diam-diam menyuruh kakak saya untuk memanggilkan bidan (di desa saya biasanya bidan, selain membuka praktik untuk membantu para ibu melahirkan, juga menerima pasien dengan kondisi sakit ringan, semisal terserang demam, sakit perut, dan gatal-gatal).

Kebetulan, sudah sejak lama keluarga kami memiliki bidan langganan yang rumahnya berada di desa sebelah, dan akan selalu siap sedia dipanggil bila ada anggota keluarga kami sedang sakit panas atau demam. Biasanya sih, yang sudah-sudah, penyakit ringan yang kami alami berangsur sembuh usai minum obat yang diberikan oleh ibu bidan tersebut.

Tentu, masih banyak pengorbanan (yang tak bisa saya jelaskan secara rinci di sini) yang dilakukan seorang ibu terhadap anak-anaknya. Maka, satu-satunya cara untuk membalas jasa atau pengorbanan orang tua terhadap kita adalah berusaha mempergaulinya dengan baik. Jangan mudah terpancing emosi saat terjadi perbedaan pandangan dengan orang tua. Berusahalah berbicara dengan santun dan jangan sekali-kali mengasarinya.

Selanjutnya, ketika usia orang tua semakin beranjak sepuh (tua), perhatian kita terhadapnya harus lebih ditingkatkan. Selain merawat, berusahalah untuk memperhatikan dan memenuhi segala kebutuhannya. Saya yakin, orang tua tidak akan meminta balasan apa pun dari kita. Melihat anak-anaknya bisa hidup bahagia, saya yakin mereka sudah merasa lega dan senang. Yang seharusnya pengertian adalah kita, anak-anaknya, yang mestinya bisa secara rutin menyisihkan penghasilan kita untuk diberikan kepada orang tua kita. Jangan malah terus-terusan selalu menjadi beban orang tua. Karena setahu saya, ada sebagian anak yang meskipun sudah dewasa dan hidup berumahtangga, tapi ironisnya dia masih gemar merepotkan orang tuanya, masih minta ini-itu, dan lain sebagainya.

Mudah-mudahan, tulisan sederhana dan singkat ini dapat menjadi renungan bersama, khususnya bagi diri saya pribadi, dan para pembaca sekalian. Wallahu a’lam bish-shawaab.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: M. Naufal Hafizh

terbaru

Peran Psikolog Forensik dalam Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Anak

Netizen Senin, 14 Juni 2021 | 22:15 WIB

Lalu apa saja peran yang dapat dilakukan oleh Psikolog Forensik saat melakukan pendampingan anak korban kekerasan seksua...

Netizen, Peran Psikolog Forensik dalam Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Anak, Psikolog Forensik,Kasus,kekerasan seksual,Anak,anak di bawah umur

Menolak Lupa, Paket Album Super Junior Mamacita yang Dicurigai Berisi...

Netizen Jumat, 11 Juni 2021 | 13:05 WIB

Pada Oktober 2014, sebuah laporan menyatakan ada penemuan paket diduga bom di Jatinegara, Jakarta Timur.

Netizen, Menolak Lupa, Paket Album Super Junior Mamacita yang Dicurigai Berisi Bom, Paket Album Super Junior,Mamacita,Bom,Super Junior,ELF

Menurunkan Angka Kematian Ibu

Netizen Kamis, 10 Juni 2021 | 17:15 WIB

Permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini berkaitan dengan kaum ibu adalah masih tingginya angka kematian ibu...

Netizen, Menurunkan Angka Kematian Ibu, Angka Kematian Ibu,AKI,Ibu

Menyoal Penggantian Nama Jalan Tol Japek

Netizen Kamis, 10 Juni 2021 | 14:40 WIB

Penggantian nama jalan Tol Japek (Jakarta— Cikampek) jadi hal yang patut diperdebatkan.

Netizen, Menyoal Penggantian Nama Jalan Tol Japek, Penggantian Nama Jalan Tol Japek,Tol Japek,Tol Japek (Jakarta— Cikampek),Jalan Layang Syeikh Mohammed Bin Zayed,Jalan Tol Layang Japek

Menikahkan Anak

Netizen Rabu, 9 Juni 2021 | 13:55 WIB

Dua tahun setelah diangkat menjadi zelfstandig patih Sukabumi, Raden Kartawinata mulai menikahkan anak-anaknya.

Netizen, Menikahkan Anak, Raden Kartawinata,Raden Kartawinata mulai menikahkan anak-anaknya,Raden Soeria Karta Negara,Soeria Karta Legawa

Sinetron Televisi Indonesia: Antara Impian dan Kenyataan Masyarakat Ki...

Netizen Selasa, 8 Juni 2021 | 15:15 WIB

Sinetron adalah impian tertinggi masyarakat kita. Sinetron juga gambaran realitas yang ada di masyarakat.

Netizen, Sinetron Televisi Indonesia: Antara Impian dan Kenyataan Masyarakat Kita, Sinetron Televisi Indonesia,Sinetron,Badan Pusat Statistik (BPS),Garis Kemiskinan (GK),Hasil survei BPS,Impian,Kenyataan

Menlu Mochtar Kusumaatmadja dalam Kenangan

Netizen Senin, 7 Juni 2021 | 11:29 WIB

Menlu Mochtar Kusumaatmadja terbaring sakit. Segera terbayang wajah pejabat dengan latar belakang akademisi yang mumpun...

Netizen, Menlu Mochtar Kusumaatmadja dalam Kenangan, Mochtar Kusumaatmadja,Mochtar Kusumaatmadja wafat,dubes ri

Monyet Emas

Netizen Sabtu, 5 Juni 2021 | 17:42 WIB

Monyet Emas

Netizen, Monyet Emas, lutung,monyet emas,hewan,Hewan Langka

artikel terkait

dewanpers