web analytics
  

Identitas Ganda Peserta Didik: Pelajar dan Pejuang Kemerdekaan

Selasa, 22 Desember 2020 12:06 WIB Netizen Yoggi Bagus Christianto
Netizen, Identitas Ganda Peserta Didik: Pelajar dan Pejuang Kemerdekaan, Laskar Kere,Sejarah,Pelajar,Pendidikan,COVID-19,Mayor Achmadi

Monumen Mayor Achmadi, Jalan Abdul Rahman Saleh, Setabelan, Banjarsari, Surakarta. (Yogi Bagus Christianto)

Yoggi Bagus Christianto

Mahasiswa FKIP UNS

AYOBANDUNG.COM -- Langit sudah suram dan wabah tak kunjung selesai. Dampaknya sungguh luar biasa hingga menjamah sistem pendidikan. Saat ini anak sekolah terpaksa harus mengadakan pendidikan melalui daring (dalam jaringan) sehingga juga berdampak pada situs cagar budaya yang tak mungkin dijamah oleh para siswa karena keadaan. Tidak sedikit pelajar mengalami kewalahan mengahadapi tugas yang bertubi-tubi menghampiri yang akan berakibat pada sifat malas pelajar karena sebuah tekanan.

Namun jika ditilik tahun 1945-1949 masih banyak pelajar yang kurang mendapat fasilitas yang layak, bahkan internet pun jarang. Lebih lagi para pelajar harus menjadi garda depan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Namun para pelajar memiliki semangat yang gigih demi cita-citanya.

Di samping para pelajar ikut berperang, mereka juga tak lupa akan semangatnya untuk belajar dibangku sekolah. Untuk menilik cagar budaya seperti candi-candi yang ditinggalkan oleh kerajaan-kerajaan yang pernah berdikari di Nusantara pun mereka tak sanggup. Cita-citanya hanyalah melalui balajar mereka dapat menimba ilmu yang nantinya akan dipakai untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan para pelajar juga mengangkat senjata untuk memperjuangkan kemerdekaan.

Beruntunglah sekarang bagi para pelajar yang hidup masa pasca-kemerdekaan sehingga musuh mereka bukanlah negara lain namun dirinya sendiri guna melawan kemalasan. Sehingga roh sejarah itulah yang perlu dibangkitkan melalui mindset yang ditanam dalam relung hati dan jiwa yang didapat ekspresi cagar budaya.

Indonesia memang bukanlah negara yang sangat terbelakang, masih banyak situs cagar budaya sebagai tolak ukur semangat mempertahankan ketentraman NKRI. Peninggalan itu yang ditinggalkan oleh para leluhur, mungkin mereka memang tidak berniat untuk meninggalkan berbagai artefak maupun relief namun mereka hanya ingin membuktikan jika mereka benar-benar hidup di masa lalu bukan suatu fiktif belaka.

Peninggalan tidak hanya berwujud pahatan batu saja namun peninggalan tersebut berbentuk roh semangat yang dinaungi Batara Kala yang diartikan roh semangatnya akan selalu ada dan tidak terikat oleh waktu, seperti yang para pahlawan yang telah berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Sebagai bentuk penghormatan pada leluhur maka dibuatkanlah sebuah monumen yang memiliki agar masyarakat tidak melupakan semangat para pahlawan.

Jawa Tengah memiliki banyak kota yang menjadi ikon budaya, terutama Solo yang memiliki budaya yang khas dan banyak peninggalan yang ditinggalkan oleh para leluhur.

Solo sebelum wabah masih berseri layaknya matahari di pagi hari yang menghangatkan kehidupan dan menghijaukan tumbuhan. Masyarakat masih berseri dan berfoto-foto diberbagai tempat wisata maupun peninggalan sejarah. Masih bisa bercengkrama dengan pasangannya maupun bergerombol layaknya kawanan domba yang sedang menari di ladang.

Namun ketika datangnya sang momok wabah Covid-19, kini tatanan sudah mulai banyak berubah yang ditandai dengan lubang hidung harus di-ungkep secarik kain, tangan tak boleh bersentuhan tanpa ada rasa gilo atau jijik, bergerombol namun harus dengan jarak sehingga kehangatan itu telah berganti menjadi dingin.

Mata masyarakat hanya berfokus pada kesehatan dirinya. Tempat-tempat wisata seperti candi, monumen, maupun museum sekarang sepi jarang ada yang mengunjungi, namun jika dibiarkan akan menggerogoti roh semangat sejarah.

Kota Solo dikenal memiliki sejarah dan budaya yang sangat berpengaruh pada negara. Namun di tengah Pandemi Covid-19 ini perhatian mata dunia layaknya memandang satu arah pada Covid-19 dan tidak seharusnya mengesampingkan sejarah lokal yang membawa dampak besar bagi kehidupan.

Dibangunkannya berbagai bangunan seperti monumen guna menjaga ingatan tentang sejarah lokal agar setiap terjadi sebuah peristiwa besar tidak sepatutnya melupakan sejarah atau narasi leluhur. Bung Karno mendeklarasikan “JAS MERAH” maksudnya Djangan sekali-kali meninggalkan Sedjarah.

Bukan peristiwa yang diulang namun roh sejarah itulah yang perlu diulang. Supaya Sejarah itu terus berangsur-angsur di hidupkan maka perlu dirawat dan dijaga bahkan hingga menghargai hasil perjuangan leluhur. Para tentara baik itu nasional maupun tentara tanpa pangkat (warga biasa) sudah mau mempertahankan kedaulatan Indonesia. Di Solo pada era pra maupun pasca kemerdekaan masih dikenal dengan para pelajar yang terjun langsung untuk mempertahankan kemerdekaannya.

Para pelajar ini bukan berarti mereka tidak bersekolah namun mereka belajar sekaligus berperang dan pimpinan mereka adalah Mayor Achmadi. Berbagai penghormatan di berikan atas perjuangan Mayor Achmadi seperti didirikannya sebuah Monumen.

Monumen Perjuangan Kota Solo Mayor Achmadi yang diresmikan tanggal 7 Agustus 2010 oleh mantan Panglima TNI Jend Joko Santoso dan Walikota Surakarta pada saat itu Ir. Joko Widodo. Di balik tanggal 7 Agustus, Kota Solo memiliki sejarah yang panjang dan semangat roh tersebut haruslah dimiliki oleh masyarakat Solo sekarang.

Bertepatan tanggal tersebut terjadi peristiwa penting pertempuran empat hari di Solo (7-10 Agustus 1949) yang digerilyakan salah satunya laskar pimpinan Mayor Achmadi yakni “Laskar Kere”.

Laskar Kere yang terdiri dari para tentara pelajar Solo yang mau mengorbankan nyawanya demi kepentingan bersama, yakni Indonesia Merdeka. Namun para tentara pelajar tersebut tidak mengesampingkan kepentingan pribadinya untuk bersekolah. Tangan dari para tentara pelajar silih berganti antara buku-buku dengan senjata. Mereka memiliki semangat yang tidak kalahnya dengan tentara pada umumnya, meskipun mereka hanya seorang pelajar yang duduk dibangku sekolah, terdiri dari Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Tinggi dan para mahasiswa. Para pelajar pada saat itu memegang peranan penting dalam mempertanahankan Indonesia. Para pelajar jua pelopor bagi pergerakan yang berjiwa nasionalisme.

Laskar Kere sendiri ada karena adanya niat cinta tanah air yang tinggi. Nama Laskar Kere juga karena mereka berjuang melawan penjajah dengan apa adanya bahkan mereka tidak punya apa-apa. Mereka berpakaian kumuh dan tidak punya uang layaknya wong Kere. Pasukan yang dipimpin oleh Moeslimin ini pada waktu beristirahat di Banjubiru mendapat ide untuk memberikan nama pasukannya yakni “Laskar Kere” karena melihat celana robek-robek yang dipakai oleh anggotanya yakni Gajah Suranto. Dalam Perkembangannya Laskar Kere ini mengikuti pertempuran di Jawa Tengah (Semarang) hingga pimpinan beralih pada Achmadi.

Ada sebuah narasi unik dalam Artikel Historia, Laskar Kere memperoleh perlengkapan keyker (keker) guna menjalankan tugas penyelidikan di Jembatan Sungai Tuntang. Laskar Kere merasa terjepit dan terpaksa harus melepaskan tembakan untuk mendekati jembatan. Namun kenyataannya sungai Tuntang sudah ditutup oleh Tentara Keamanan Rakyat (TKR), karena Laskar Kere berseragam tentara Jepang sehingga TKR mengira mereka adalah pasukan musuh dan bahkan disambut dengan tembakan senapan mesin. Laskar Kere menjadi panik dan terpaksa mereka harus berlindung dalam air dan menyeberang sungai hingga sampai di seberang sungai tanpa adanya darah yang tercurah atau tidak ada yang gugur. Ketika ditanya oleh tentara TKR, “Kalian laskar apa?”, kemudian salah satu pasukannya menjawab “Laskar Kere, Pak”. Kemudian mereka diantar kepada komandannya Mayor Achmadi. “Kita kan Laskar Kere Pak, melarat, tapi tidak kalah semangat,” ujar Achmadi.

Para pasukan pelajar ini walaupun tidak terdidik secara militer namun mereka memiliki loyalitas yang tinggi kepada pemimpin dan semangat solidaritas. Saat bertugas mereka disiplin dan menjaga sikap kepada komandannya, namun pada saat mereka tidak bertugas mereka bergaul layaknya temannya dengan panggilan mas atau adhik. Para pasukan pelajar yang pemberani ini masih berusia sangat muda sekisar 16-18 tahun yang sudah berani mendirikan pergerakan ilegal untuk melawan Jepang, karena pada saat itu memang mereka was-was terhadap pasukan Jepang karena masih kerap dilakukan penggeledahan tempat-tempat yang dicurigai oleh polisi rahasia Jepang. Bahkan masih ada tentara yang berusia 14-15 tahun yang ikut berjuang.

Mayor Achmadi memang seorang pemimpin yang pemberani dan menjadi pelopor semangat  seorang pelajar. Perjuangannya hanya bermodalkan semangat dan ingin mempertahankan Indonesia. Mayor Jendral Achmadi Hadisoemarto, lahir di Ngrambe, 5 Juni 1927. Pada usia 14 tahun, beliau dipindahkan ke Solo kemudian di usia 18 tahun beliau dipercayakan untuk memimpin Laskar Kere. Ia juga memimpin Seragan Umum Empat Hari di Solo yang cukup memukul tentara Belanda. Hingga beliau meninggal pada 2 Januari 1984 dan dimakamkan si Tempat Pemakaman Umum Tanah Kusir Jakarta.

Kiranya semangat laskar kere atau roh sejarah itu harus terus ada dan didalami oleh masyarakat era sekarang. Jiwa pemimpin Mayor Achmadi juga perlu diteladani. Era kehidupan masyarakat sekarang jangan membiarkan api semangat nasionalis itu padam justru dalam menghadapi persaingan dengan negara asing itulah perlu menilik dan mengambil roh sejarah. Keterpurukan sebuah negara itu terjadi jika roh sejarah itu dihilangkan. Maka dari itulah semangat Mayor Achmadi dan Laskar Kere perlu kita resapi, meskipun sebagai manusia yang tidak punya apa-apa tapi karena semangat solidarita itulah yang mampu mewujudkan visi dan misi bangsa. Musuh terbesar saat ini adalah diri kita sendiri.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: M. Naufal Hafizh

terbaru

Menilik Tradisi Tahlilan dari Perspektif Sosiologis

Netizen Selasa, 20 April 2021 | 14:23 WIB

Tahlil berasal dari kata hallala-yuhallilu, yang artinya membaca kalimat "laailaaha illallah".

Netizen, Menilik Tradisi Tahlilan dari Perspektif Sosiologis, Tradisi Tahlilan,Tradisi,Tahlilan,Nahdhatul Ulama

Momen Ramadan Semasa Kecil yang Selalu Dirindukan Generasi Z

Netizen Selasa, 20 April 2021 | 13:12 WIB

Hadir satu kali dalam setiap tahun, kedatangan bulan Ramadan selalu ditunggu oleh umat Muslim.

Netizen, Momen Ramadan Semasa Kecil yang Selalu Dirindukan Generasi Z, Ramadan,Muslim,generasi z

Menikah Bukan Kompetisi Ibadah

Netizen Selasa, 20 April 2021 | 11:42 WIB

Menikah merupakan ibadah terlama yang akan dijalan oleh dua insan. Jadi, persiapkan dengan baik.

Netizen, Menikah Bukan Kompetisi Ibadah, Menikah,Islam,Anjuran Menikah,Menikah menurut empat ulama mazhab,Alasan Utama Menikah,Ibadah

Daftar Terbaru Badan / Lembaga Penerima Zakat yang Diakui Ditjen Pajak

Netizen Senin, 19 April 2021 | 19:02 WIB

Direktorat Jenderal Pajak telah menetapkan Badan/Lembaga sebagai penerima zakat atau sumbangan keagamaan yang sifatnya w...

Netizen, Daftar Terbaru Badan / Lembaga Penerima Zakat yang Diakui Ditjen Pajak, Ditjen Pajak,Lembaga Penerima Zakat,Badan Penerima Zakat,Penitipan Zakat

Menakar Geliat Ekonomi di Bulan Ramadan 2021

Netizen Senin, 19 April 2021 | 11:32 WIB

Pandemi Covid-19 sudah setahun lebih membayang banyangi kehidupan kita

Netizen, Menakar Geliat Ekonomi di Bulan Ramadan 2021, Ekonomi,COVID-19,BPS

Bapak Ideologi Muhammadiyah Itu Menjadikan Puasa sebagai 'Kanopi Diri'

Netizen Minggu, 18 April 2021 | 19:10 WIB

Prof. Dr. K.H. Haedar Nashir, M.Si., Ketua Umum PP. Muhammadiyah, adalah kader otentik Muhammadiyah yang tidak ada irisa...

Netizen, Bapak Ideologi Muhammadiyah Itu Menjadikan Puasa sebagai 'Kanopi Diri', Prof. Dr. K.H. Haedar Nashir, M.Si.,Bapak Ideologi Muhammadiyah,Muhammadiyah

Merenungi Hikmah Puasa Ramadan

Netizen Jumat, 16 April 2021 | 10:35 WIB

Puasa akan melahirkan rasa cinta, kasih sayang, dan kelembutan kepada orang miskin.

Netizen, Merenungi Hikmah Puasa Ramadan, Puasa,Ramadan,Salat Tarawih,Hikmah Puasa,Merenungi Hikmah Puasa,puasa ramadan

Mengubah Peringatan Waspada Menjadi Rencana Tindakan

Netizen Jumat, 16 April 2021 | 09:16 WIB

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Rabu, 14 April 2021 sudah mengingatkan kepada masyarakat untuk...

Netizen, Mengubah Peringatan Waspada Menjadi Rencana Tindakan, BMKG,Cuaca ekstrem,cekungan bandung,Bencana Alam

artikel terkait

dewanpers