web analytics
  

Jadi Aktivis Itu Keren. Tapi, Jangan Pernah Berharap Materi dan Tidak Perlu Radikal!

Kamis, 17 Desember 2020 17:04 WIB Netizen Djoko Subinarto
Netizen, Jadi Aktivis Itu Keren. Tapi, Jangan Pernah Berharap Materi dan Tidak Perlu Radikal!, aktivis,materi,keterampilan,komunikasi

Ilustrasi. (Pixabay/Sonia Mertens)

Djoko Subinarto

Penulis lepas, bloger, mukim di Cimahi

AYOBANDUNG.COM -- Di samping kegiatan di lingkungan kampus dan juga tempat kerja (bagi yang telah bekerja), sesungguhnya masih banyak kegiatan lain yang bermanfaat yang bisa kita lakukan. Menjadi aktivis adalah salah satunya. Banyak lembaga swadaya yang bergerak di bidang sosial-kemasyarakatan yang bisa kita masuki, jika memang tertarik.

Untuk menjadi seorang aktivis, kita tidak harus memiliki ijazah khusus. Tidak ada sekolah formal yang mencetak aktivis. Begitupun tidak ada gelar khusus yang diperlukan untuk menjadi seorang aktivis. Semangat, dedikasi, dan kemauan untuk terus belajar serta berbagi pengetahuan dengan orang lain serta cinta perubahan jauh lebih diperlukan untuk menjadi seorang aktivis ketimbang ijazah dan gelar segambreng.

Sifat kreatif sangat boleh jadi dibutuhkan pula bagi seorang aktivis. Bagaimanapun, aktivis akan harus melakukan semacam gerakan kampanye untuk bidang yang disuarakannya. Agar gerakan kampanye ini bisa memikat publik dan sampai sasarannya diperlukan gagasan-gagasan yang kreatif.

Seorang aktivis juga perlu supel dan lihai berkomunikasi. Seorang aktivis dalam aktivitasnya cenderung akan berhubungan dengan berbagai pihak dan lapisan masyarakat. Hal ini menuntut keterampilan komunikasi personal yang baik.

Hal lain yang dibutuhkan oleh seorang aktivis adalah sifat tidak kenal lelah dan pantang menyerah. Pekerjaan sebagai aktivis tidak mengenal jam kerja. Seorang aktivis harus siap untuk bergerak kapanpun ketika dibutuhkan. Sementara semangat pantang menyerah dibutuhkan karena kampanye atau gerakan yang diusung aktivis tidak jarang menemui hambatan pada tataran praktiknya.

Jangan berharap materi

Saat kita memutuskan untuk menjadi seorang aktivis, buang jauh-jauh pikiran mengenai imbalan materi apa yang nanti akan didapat. Menjadi aktivis artinya harus lebih banyak memberi dan berbagi. Memberi dan berbagi di sini bisa dalam bentuk materi, ilmu, pemikiran maupun tenaga.

Jadi, kalau target awalnya adalah untuk mendapatkan materi sebanyak mungkin atau kepingin cepat kaya, maka sebaiknya urungkan niat untuk menjadi aktivis. Lebih baik memilih bidang kegiatan lain yang memang jelas-jelas orientasinya menghasilkan keuntungan materi.

Ingat, prinsip yang harus dipegang oleh seorang aktivis, sebagaimana pernah disampaikan oleh Teddy Roosevelt, adalah "Do what you can, where you are, with what you have." Prinsip seperti ini menuntut kita harus siap memberi dan bukannya diberi.

Santun dan konsisten

Menurut Elizabeth May,  yang pernah menjabat sebagai Direktur Eksekutif Sierra Club Canada, untuk menjadi aktivis kita tidak perlu radikal apalagi anarkis. Sikap santun dan konsisten justru yang sebaiknya dimiliki oleh seorang aktivis. Demikian petuah Elizabeth May.

Banyak aktivis yang kemudian menjadi figur sangat berpengaruh dan disegani. Namanya harum dan dihormati. Ambil contoh, Martin Luther King, Mahatma Gandhi, Nelson Mandela, Elie Wiesel, Cesar Chavez, Ronald Takaki, Dalai Lama, Amartya Senm Rosa Parks, Patsy Minks, Greta Thunberg dan masih banyak lagi.

Agar kiprah kita sebagai aktivis dapat lebih didengar masyarakat, kita tentu saja perlu dekat dengan media. Untuk itu, galanglah ikatan dengan sejumlah media, baik itu media cetak, elektronik maupun media online.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: M. Naufal Hafizh

terbaru

Penyebab Makin Pedasnya Harga Cabai

Netizen Sabtu, 6 Maret 2021 | 20:13 WIB

Akhir-akhir ini di berbagai daerah, masyarakat mengeluhkan melambungnya harga cabai rawit merah hingga Rp.120.000, samp...

Netizen, Penyebab Makin Pedasnya Harga Cabai, Harga Cabai Naik,Harga Cabai Tanjung Naik,BPS

Sektor Infokom Tumbuh Pesat di Tengah Pandemi

Netizen Jumat, 5 Maret 2021 | 09:25 WIB

Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia genap berusia setahun. Sejak ditemukan kasus perdana di awal Maret tahun 2020, h...

Netizen, Sektor Infokom Tumbuh Pesat di Tengah Pandemi, Infokom,COVID-19,PSBB

Kapan Situ Aksan Ada?

Netizen Kamis, 4 Maret 2021 | 14:25 WIB

Dalam Peta Topografi tahun 1904-1905, tempat yang kemudian menjadi Situ Aksan, masihlah perkampungan kecil.

Netizen, Kapan Situ Aksan Ada?, Sejarah,Kota Bandung,Topografi,Desa,Abad ke-20,Bandung Baheula

Tiga Terjemahan Pertama

Netizen Kamis, 4 Maret 2021 | 10:20 WIB

Pada 1872, Raden Kartawinata sudah bisa menerbitkan tiga judul terjemahan dari bahasa Belanda.

Netizen, Tiga Terjemahan Pertama, raden kartawinata,Sunda,Jawa,Bahasa,Penerjemah,Belanda,R.H. Moeh. Moesa,K.F. Holle,buku,Literatur,Literasi

Mencabut Industri Dosa Berkedok Perpres Investasi Miras

Netizen Rabu, 3 Maret 2021 | 14:15 WIB

Ada yang bilang bahwa industri dosa sejatinya merupakan usaha mentransfer dana publik ke tangan swasta dengan cara yang...

Netizen, Mencabut Industri Dosa Berkedok Perpres Investasi Miras, Minuman Keras (Miras),Perpres investasi miras,Presiden Joko Widodo,Indonesia,Investasi,World Health Organization (WHO),Papua,minuman beralkohol

Gang 'Sarebu Punten' Itu Disulap Jadi Kampung Kreatif

Netizen Rabu, 3 Maret 2021 | 13:40 WIB

Pada era tahun 90-an, jalan-jalan atau gang-gang kecil di daerah Cicadas juga terkenal dengan sebutan gang "sarebu punte...

Netizen, Gang 'Sarebu Punten' Itu Disulap Jadi Kampung Kreatif, Cicadas,Desa Kreatif,Bandung,Gang ,Kampung Kreatif

Khawatir Kini Kina Tinggal Nama

Netizen Selasa, 2 Maret 2021 | 15:00 WIB

Pohon kina peninggalan tahun 1855 itu sudah sangat tua, keadaannya sudah dalam posisi bungkuk atau miring, dan kini suda...

Netizen, Khawatir Kini Kina Tinggal Nama, Kina,Pohon,Bandung,Chincona,Chincon,Franz Wilhelm Junghuhn,Karl Justus Hasskarl

Virtual Police, Polisi Bahasa Gaya Baru

Netizen Selasa, 2 Maret 2021 | 13:50 WIB

Kita tidak boleh hanya menekankan kebenaran berbahasa yang diukur oleh kebakuan KBBI, tetapi harus memperhatikan situasi...

Netizen, Virtual Police, Polisi Bahasa Gaya Baru, Polisi,Bahasa,Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),Santun
dewanpers