web analytics
  

Penerapan Protokol Kesehatan di Objek Wisata, Jabar Bisa Tiru Yogya

Kamis, 17 Desember 2020 16:31 WIB Netizen 'Morgen' Indriyo Margono
Netizen, Penerapan Protokol Kesehatan di Objek Wisata, Jabar Bisa Tiru Yogya, COVID-19,wisata,Bandung,Yogya,Borobudur

Penerapan Protokol Kesehatan di Objek Wisata, Jabar Bisa Tiru Yogya (Morgen Indriyo Margono)

'Morgen' Indriyo Margono

'Morgen' Indriyo Margono Senior radio broadcaster dan public speaking trainer

AYOBANDUNG.COM -- Pemerintah sudah menetapkan jumlah libur akhir tahun dan juga prosedur saat pergi ke luar kota dengan rapid test untuk sejumlah moda transportasi umum, saat cuti bersama akhir tahun 2020. Sehubungan dengan libur akhir tahun di tengah pandemi Covid-19 ini, Gubernur Jawa Barat M Ridwan Kamil juga sudah mengimbau agar warga luar Jabar tidak berlibur di Jawa Barat dulu. Pun warga Jabar disarankan tidak mudik ke daerah asalnya, untuk mencegah penyebaran virus Covid-19.

Meski beragam alasan sudah disampaikan pemerintah untuk mencegah penyebaran Covid-19, namun faktanya pada beberapa cuti bersama lalu, bulan Juni dan akhir Oktober lalu, pergerakan warga luar daerah ke Jabar untuk berwisata belum bisa dibendung secara maksimal. Di Bandung, ibu kota Provinsi Jawa Barat, dan daerah penyangganya wisatawan cukup membludak. Ini terlihat dari kepadatan lalu lintas di akses wisata, akses keluar dan masuk Bandung jelang cuti bersama dan saat hari terakhir masa libur tersebut.

Urusan wisata memang sulit untuk ditahan karena sudah menjadi kebutuhan. Selain itu dampak ekonomi besar bila sektor wisata tidak direlaksasi imbas merebaknya Covid-19. Oleh karenanya agar juga tidak menciptakan kerumunan baru, penerapan protokol Kesehatan yang super ketat menjadi jawaban kekhawatiran sebagian pihak agar liburan tidak menciptakan cluster baru.

Jabar Bisa Tiru Yogya

Penerapan protokol kesehatan sejumlah obyek wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta bisa dijadikan role model. Setidaknya itu yang saya lihat selama berkunjung 4 hari ke Yogyakarta awal Desember lalu.

Prosedur yang ketat sudah dirasakan sejak pertama menginjakkan kaki di tempat parkir. Petugas tidak mengarahkan pada ticket box tapi meminta berkumpul di tenda yang sudah disediakan. Di tenda tersebut setelah dicek suhu, para wisatawan dikumpulkan per kelompok, minimal 10 orang untuk diberi pengarahan soal prosedur kunjungan selama merebaknya virus Corona.

Yang datang dengan kelompok kecil, 2 sampai 3 orang, yang datang secara personal, digabungkan dengan kelompok yang masih kurang dari jumlah maksimal 20 orang. Setelah diberikan pengarahan maka perwakilan kelompok dipersilakan membeli tiket, sementara anggota kelompok menunggu di tempat yang sudah disediakan.

Pembagian kelompok di objek wisata Tamansari dilakukan sejak sebelum membeli tiket. Sementara di Borobudur pembagian kelompok dilakukan saat akan menuju areal candi. Setiap kelompok didampingi 1 guide, dengan biaya 100 ribu. Pendampingan oleh guide selama masa pandemi Covid-19 ini, selain untuk menjelaskan titik-titik objek wisata yang dikunjungi, juga untuk berkoordinasi dengan petugas lain berkenaan dengan jumlah wisatawan yang berada di lokasi wisata sudah memenuhi batas maksimal pengunjung atau belum.

Guide juga memiliki tugas mengingatkan para pengunjung agar tetap menjaga jarak, tidak lepas dari kelompok, bahkan mengontrol kapan pengunjung bisa membuka masker dan kapan saat harus tetap menggunakan masker. Untuk mengontrol pola gerak pengunjung, pada radius tertentu ada juga pos-pos petugas lengkap dengan alat komunikasi. Sesekali pengeras suara berbunyi mengingatkan aturan atau pengumuman lain yang berkenaan dengan pengunjung. Di Borobudur, setiap beberapa jam sekali malah diberlakukan sterilisasi pengunjung. Istilah para guide untuk masuk ke areal candi diberlakukan sistem buka tutup.

Di Candi Prambanan, Keraton Ratu Boko, Candi Borobudur dan Tamansari bahkan tempat cuci tangan dan hand sanitizer bertebaran di setiap spot yang jadi tempat favorit pengunjung. Kemudian petugas yang berkeliling membawa pengeras suara tampak gesit dan sigap menghadapi beragam situasi yang dianggap tidak sesuai prosedur kunjungan di masa pandemi Covid-19 ini.

Apakah prosedur ini membuat pengunjung tidak nyaman? Justru sebaliknya, pengunjung merasakan servis plus diberikan oleh pengelola wisata. Terlebih gaya komunikasi para petugas sendiri yang enak didengar dan sesekali guide mengingatkan protocol Kesehatan pada pengunjung dengan humor yang menghibur.

Pola ini barangkali bisa ditiru Jawa Barat. Dengan pola ketat ini, para wisatawan benar-benar terkontrol. Selain itu, suasana nyaman tercipta dengan baik karena pengunjung tidak berdesak desakan dan tidak Nampak ramai sehingga mood berwisata akan lebih baik.

Penempatan beberapa pos untuk menunggu sebelum membeli tiket pun menambah tertibnya suasana. Yang lebih penting adalah jarak. Dari pengunjung menunggu dan menerima pengarahan, loket pembelian tiket dan gerbang masuk objek wisata memiliki rentang jarak yang cukup jauh. Inilah yang bisa memecah kemungkinan potensi kerumunan, sehingga dibentuk kelompok-kelompok pengunjung.

Pun kuota kunjungan dikontrol ketat sehingga bila sudah memenuhi kapasitas maksimal loket pembelian tiket benar-benar ditutup. Jam kunjungan pun berbeda dengan waktu sebelum merebaknya virus Corona.

Jawa Barat memiliki potensi wisata yang sangat besar. Meski saran warga luar Jabar agar tidak berkunjung dulu sudah disampaikan Pemprov Jabar, kemungkinan bertambahnya kunjungan wisatawan selama libur akhir tahun bisa saja terjadi. Ini sudah terbukti pada Juni dan akhir Oktober lalu

Setidaknya komitmen  pengelola wisata, terhadap kuota pengunjung harus benar-benar dipegang. Aparat keamanan pun harus berjaga secara ekstra, seperti yang saya lihat di Prambanan, Borobudur dan sejumlah objek wisata lainnya.

Selain bisa mengontrol situasi, bisa pula menciptakan rasa aman pengunjung selama merebaknya virus Corona ini. Petugas kesehatan harus standbye pula selama jam buka objek wisata. Bila ada pengunjung yang didapati melebihi suhu yang menjadi standar protocol kesehatan, Tindakan bisa segera diambil

Semoga saja hal ini bisa menjadi ikhtiar untuk menekan transmisi virus corona, dan juga tetap membuka peluang ekonomi dari sektor pariwisata saat pandemi Covid-19.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: M. Naufal Hafizh

terbaru

Kapan Situ Aksan Ada?

Netizen Kamis, 4 Maret 2021 | 14:25 WIB

Dalam Peta Topografi tahun 1904-1905, tempat yang kemudian menjadi Situ Aksan, masihlah perkampungan kecil.

Netizen, Kapan Situ Aksan Ada?, Sejarah,Kota Bandung,Topografi,Desa,Abad ke-20,Bandung Baheula

Tiga Terjemahan Pertama

Netizen Kamis, 4 Maret 2021 | 10:20 WIB

Pada 1872, Raden Kartawinata sudah bisa menerbitkan tiga judul terjemahan dari bahasa Belanda.

Netizen, Tiga Terjemahan Pertama, raden kartawinata,Sunda,Jawa,Bahasa,Penerjemah,Belanda,R.H. Moeh. Moesa,K.F. Holle,buku,Literatur,Literasi

Mencabut Industri Dosa Berkedok Perpres Investasi Miras

Netizen Rabu, 3 Maret 2021 | 14:15 WIB

Ada yang bilang bahwa industri dosa sejatinya merupakan usaha mentransfer dana publik ke tangan swasta dengan cara yang...

Netizen, Mencabut Industri Dosa Berkedok Perpres Investasi Miras, Minuman Keras (Miras),Perpres investasi miras,Presiden Joko Widodo,Indonesia,Investasi,World Health Organization (WHO),Papua,minuman beralkohol

Gang 'Sarebu Punten' Itu Disulap Jadi Kampung Kreatif

Netizen Rabu, 3 Maret 2021 | 13:40 WIB

Pada era tahun 90-an, jalan-jalan atau gang-gang kecil di daerah Cicadas juga terkenal dengan sebutan gang "sarebu punte...

Netizen, Gang 'Sarebu Punten' Itu Disulap Jadi Kampung Kreatif, Cicadas,Desa Kreatif,Bandung,Gang ,Kampung Kreatif

Khawatir Kini Kina Tinggal Nama

Netizen Selasa, 2 Maret 2021 | 15:00 WIB

Pohon kina peninggalan tahun 1855 itu sudah sangat tua, keadaannya sudah dalam posisi bungkuk atau miring, dan kini suda...

Netizen, Khawatir Kini Kina Tinggal Nama, Kina,Pohon,Bandung,Chincona,Chincon,Franz Wilhelm Junghuhn,Karl Justus Hasskarl

Virtual Police, Polisi Bahasa Gaya Baru

Netizen Selasa, 2 Maret 2021 | 13:50 WIB

Kita tidak boleh hanya menekankan kebenaran berbahasa yang diukur oleh kebakuan KBBI, tetapi harus memperhatikan situasi...

Netizen, Virtual Police, Polisi Bahasa Gaya Baru, Polisi,Bahasa,Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),Santun

Mengenal Wawacan dan Putri Sekar Arum

Netizen Selasa, 2 Maret 2021 | 10:54 WIB

Wawacan berjudul ‘Putri Sekar Arum’ jadi penanda utama bahwa, bahasa, sastra, dan budaya Sunda masih hidup

Netizen, Mengenal Wawacan dan Putri Sekar Arum , Putri Sekar Arum,Bahasa Sunda,Wawacan,Puisi Sunda

“Beberes" Solusi Atasi Kekumuhan Menjadi Keindahan

Netizen Senin, 1 Maret 2021 | 15:25 WIB

Salah satu problematika yang dihadapi warga Kota Bandung adalah soal sampah.

Netizen, “Beberes" Solusi Atasi Kekumuhan Menjadi Keindahan, Beberes,Kekumuhan,Bandung,Sampah,Keindahan

artikel terkait

dewanpers