web analytics
  

Surga Tersembunyi di Lampung

Kamis, 17 Desember 2020 02:05 WIB Netizen Fathi Rizqi Fawwaz
Netizen, Surga Tersembunyi di Lampung, Pulau Mahitam,Lampung,wisata,wisata alam,Pantai

Langit biru menghiasi Pulau Mahitam di siang hari. (Fathi Rizqi Fawwaz)

Fathi Rizqi Fawwaz

Mahasiswa Universitas Padjadjaran Fakultas Ilmu Komunikasi Program Studi Televisi dan Film.

AYOBANDUNG.COM -- Perlu kita ketahui, pantai adalah objek wisata yang paling terkenal di Provinsi Lampung. Di Lampung banyak sekali pantai yang indah dan patut untuk dikunjungi jika kita berlibur ke Lampung.

Adapun pantai-pantai yang terkenal seperti Pantai Mutun, Pantai Sari Ringgung, Pantai Mahitam, Pantai Pasir Putih, dan masih banyak lagi. Selain pantai, Lampung juga memiliki objek wisata yang tidak kalah indahnya yaitu pulau. Pulau yang paling terkenal dan menjadi favorit para wisatawan lokal maupun luar negeri adalah Pulau Pahawang. Salah satu dari banyaknya pantai dan pula di Lampung, ada satu pulau yang menarik perhatian dan dijuluki surganya para wisatawan yaitu Pulau Mahitam.

Pulau Mahitam atau Pulau Maitem terletak di Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung. Di pulau ini terdapat pantai yang bernama Pantai Mahitam. Pulau ini jauh dari pusat perkotaan sehingga pulau ini sangat cocok bagi kalian yang ingin bersantai dari bisingnya hiruk-pikuk ibukota. Meskipun pulau ini belum terkenal dan jarang disorot oleh media, pantai ini memiliki pemandangan indah berupa pulau-pulau yang berjejer, pasir yang putih, dan air laut yang biru memanjakan mata. Di pulau ini juga terdapat berupa pondok-pondok yang dapat disewa serta dapat juga menyewa villa untuk bermalam di Pulau Mahitam.

Jarak dari kota menuju pulau ini tidaklah terlalu jauh. Kita bisa menggunakan kendaraan apa saja untuk datang ke pantai ini. Selanjutnya perjalanan diteruskan menyeberang ke pulau menggunakan perahu yang disewakan.

Biaya untuk menyewa kapal lumayan mahal. Tarif untuk menyewa perahu yaitu sekitar Rp200.000–Rp350.000 untuk kapasitas 7-15 orang. Jika kamu menyewa perahu, maka kamu akan diajak jalan-jalan mengililingi pulau dan bersinggah di suatu spot berfoto si sebuah menara.

Selain memakai perahu, kita juga bisa berjalan kaki ke Pulau Mahitam melewati pasir timbul. Akan tetapi, pasir timbul di pulau ini tidak selalu muncul dan akan ada ketika air laut sedang surut. Pasir timbul di pulau ini sangatlah menawan dan cocok untuk dijadikan spot berfoto sehingga menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke pantai ini. Apalagi ditambah dengan birunya air laut membuat foto menjadi lebih estetik.

Perjalanan menaiki perahu saat menyebrang sangatlah seru dan dapat menenangkan pikiran. Kita bisa melihat flora dan fauna di laut yang indah sambil menikmati dinginnya ari dan sejuknya udara lautan lepas. Terdapat banyak hewan laut seperti penyu, bintang laut, dan ikan hias.

Terumbu karang dan rumput laut juga tumbuh dengan subur di dasar laut. Karena jernihnya air laut ini kita bisa melihat terumbu karang dengan mata telanjang dari atas perahu dan spot ini juga biasanya dijadikan tempat untuk snorkling.

Selain itu, di sekitar Pulau Mahitam juga memiliki spot lain untuk berfoto, yaitu Menara Pandang. Untuk mencapai ke spot foto ini, kita harus menempuhnya menggunakan perahu yang disewakan. Dari atas sini kita bisa menikmati indahnya lautan dan pulau-pulau di sekitar Pulau Mahitam. Akan tetapi, untuk naik ke atas Menara ini cukup menyeramkan menaiki ratusan anak tangga karena belum ada pegangan untuk naik ke atas apalagi ditambah dengan angin kencang membuat hati menjadi berdebar-debar. Ketika sudah di atas, rasa cemas dan takut seketika hilang karena langsung menikmati indahnya pemandangan dari ketinggian dan merasakan sejuknya angin laut. Disarankan untuk yang takut ketinggian dilarang untuk menaiki menara ini karena menara ini cukup tinggi. Jika diukur, Menara ini tingginya mencapai 30 meter.

Tempat wisata ini tidak hanya dikunjungi oleh wisatawan lokal, tetapi juga dikunjungi oleh wisatawan asing. Tidak heran banyak turis disini yang ikut menikmati indahnya air yang jernih di pantai ini. Akan tetapi, pantai bukan tempat yang cocok untuk surfing karena ombaknya yang tidak terlalu besar. Disini bisa menikmati sejuknya angin laut dan ditemani pohon-pohon kelapa yang sengaja ditanam oleh warga sekitar untuk berteduh untuk melindungi diri dari sengatnya matahari pada siang hari. Disini juga bisa memesan es kelapa apalagi meminumnya dibawah pohon-pohon sambil menikmati indahnya laut yang biru.

Selain pantai dan pulau yang indah, warga sekitar pulau ini juga ramah-ramah. Mereka menyambut para wisatawan dengan sopan. Warga disini bagaikan saudara karena kita bisa mengobrol dan bercanda dengan leluasa. Pelayanan warga disini juga sangat baik dan mengena di hati para wisatawan.

Di Pulau Mahitam juga terdapat penginapan untuk wisatawan yang ingin menghabiskan satu harinya menikmati pulau mahitam. Penginapan ini bisa diakses melalui situs online untuk jalan-jalan. Sebelum pulang meninggalkan Pulau Mahitam, ada baiknya kita tidak meninggalkan sampah dan membuang sampah pada tempatnya untuk menjaga kelestarian objek wisata yang indah ini.

Sekali lagi, objek wisata ini sangat cocok untuk warga ibukota yang bingung mencari tempat berwisata yang tidak terlalu ramai dan bisa bersantai dengan tenang sambil menikmati indahnya lautan lepas dari Pulau Mahitam.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: M. Naufal Hafizh

terbaru

Sektor Infokom Tumbuh Pesat di Tengah Pandemi

Netizen Jumat, 5 Maret 2021 | 09:25 WIB

Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia genap berusia setahun. Sejak ditemukan kasus perdana di awal Maret tahun 2020, h...

Netizen, Sektor Infokom Tumbuh Pesat di Tengah Pandemi, Infokom,COVID-19,PSBB

Kapan Situ Aksan Ada?

Netizen Kamis, 4 Maret 2021 | 14:25 WIB

Dalam Peta Topografi tahun 1904-1905, tempat yang kemudian menjadi Situ Aksan, masihlah perkampungan kecil.

Netizen, Kapan Situ Aksan Ada?, Sejarah,Kota Bandung,Topografi,Desa,Abad ke-20,Bandung Baheula

Tiga Terjemahan Pertama

Netizen Kamis, 4 Maret 2021 | 10:20 WIB

Pada 1872, Raden Kartawinata sudah bisa menerbitkan tiga judul terjemahan dari bahasa Belanda.

Netizen, Tiga Terjemahan Pertama, raden kartawinata,Sunda,Jawa,Bahasa,Penerjemah,Belanda,R.H. Moeh. Moesa,K.F. Holle,buku,Literatur,Literasi

Mencabut Industri Dosa Berkedok Perpres Investasi Miras

Netizen Rabu, 3 Maret 2021 | 14:15 WIB

Ada yang bilang bahwa industri dosa sejatinya merupakan usaha mentransfer dana publik ke tangan swasta dengan cara yang...

Netizen, Mencabut Industri Dosa Berkedok Perpres Investasi Miras, Minuman Keras (Miras),Perpres investasi miras,Presiden Joko Widodo,Indonesia,Investasi,World Health Organization (WHO),Papua,minuman beralkohol

Gang 'Sarebu Punten' Itu Disulap Jadi Kampung Kreatif

Netizen Rabu, 3 Maret 2021 | 13:40 WIB

Pada era tahun 90-an, jalan-jalan atau gang-gang kecil di daerah Cicadas juga terkenal dengan sebutan gang "sarebu punte...

Netizen, Gang 'Sarebu Punten' Itu Disulap Jadi Kampung Kreatif, Cicadas,Desa Kreatif,Bandung,Gang ,Kampung Kreatif

Khawatir Kini Kina Tinggal Nama

Netizen Selasa, 2 Maret 2021 | 15:00 WIB

Pohon kina peninggalan tahun 1855 itu sudah sangat tua, keadaannya sudah dalam posisi bungkuk atau miring, dan kini suda...

Netizen, Khawatir Kini Kina Tinggal Nama, Kina,Pohon,Bandung,Chincona,Chincon,Franz Wilhelm Junghuhn,Karl Justus Hasskarl

Virtual Police, Polisi Bahasa Gaya Baru

Netizen Selasa, 2 Maret 2021 | 13:50 WIB

Kita tidak boleh hanya menekankan kebenaran berbahasa yang diukur oleh kebakuan KBBI, tetapi harus memperhatikan situasi...

Netizen, Virtual Police, Polisi Bahasa Gaya Baru, Polisi,Bahasa,Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),Santun

Mengenal Wawacan dan Putri Sekar Arum

Netizen Selasa, 2 Maret 2021 | 10:54 WIB

Wawacan berjudul ‘Putri Sekar Arum’ jadi penanda utama bahwa, bahasa, sastra, dan budaya Sunda masih hidup

Netizen, Mengenal Wawacan dan Putri Sekar Arum , Putri Sekar Arum,Bahasa Sunda,Wawacan,Puisi Sunda

artikel terkait

dewanpers