web analytics
  

Sri Edi Swasono: "Deklarasi Juanda" Membukakan Cakrawala Besar bagi Indonesia

Minggu, 13 Desember 2020 13:56 WIB Dudung Ridwan
Umum - Nasional, Sri Edi Swasono: "Deklarasi Juanda" Membukakan Cakrawala Besar bagi Indonesia, Deklarasi Juanda,Peringatan Deklarasi Juanda,Prof. Dr. Sri Edi Swasono,Panitia Kongres Sunda

Ir. Juanda Kartawijaya (istimewa)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM – Setiap tanggal 13 Desember diperingati sebagai Hari Nusantara. Hari Nusantara ditetapkan secara resmi oleh Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri lewat Keputusan Presiden (Keppres) No.126/tahun 2001.

Tanggal itu dipilih bertepatan dengan “Deklarasi Juanda”, 13 Desember 1957.

Apa Itu "Deklarasi Juanda"?

Tanggal 13 Desember diperingati untuk mengenang jasa Perdana Menteri Juanda Kartawijaya, salah satu putra terbaik dari Sunda, yang menyatakan kepada dunia bahwa laut Indonesia adalah termasuk laut sekitar, di antara dan di dalam kepulauan Indonesia menjadi satu kesatuan wilayah NKRI.

Sebelum adanya deklarasi itu, wilayah negara Republik Indonesia masih mengacu pada Ordonansi Hindia Belanda 1939, yaitu Teritoriale Zeeën en Maritieme Kringen Ordonantie 1939 (TZMKO 1939).

Dengan aturan itu, kapal-kapal asing bebas berlayar di Laut Jawa, Laut Makassar, Laut Banda atau Laut Arafuru yang berada di dalam wilayah RI.

Saat itu Juanda menegaskan, Indonesia menganut prinsip negara kepulauan (Archipelagic State) yang ketika itu mendapat pertentangan besar dari beberapa negara, sehingga laut-laut antarpulau pun merupakan wilayah Republik Indonesia dan bukan kawasan bebas.

Deklarasi Juanda selanjutnya diresmikan menjadi UU No.4/PRP/1960 tentang Perairan Indonesia. Akibatnya luas wilayah Republik Indonesia berganda 2,5 kali lipat dari 2.027.087 km² menjadi 5.193.250 km² dengan pengecualian Irian Jaya yang walaupun wilayah Indonesia, tetapi waktu itu belum diakui secara internasional.

Berdasarkan perhitungan 196 garis batas lurus (straight baselines) dari titik pulau terluar (kecuali Irian Jaya ), terciptalah garis maya batas mengelilingi RI sepanjang 8.069,8 mil laut. Namun setelah melalui perjuangan panjang, Deklarasi Juanda baru diakui dan ditetapkan dalam konvensi hukum laut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau United Nations Convention On the Law of the Sea/UNCLOS 1982.

Selanjutnya, delarasi ini dipertegas kembali dengan UU Nomor 17 Tahun 1985 tentang pengesahan UNCLOS 1982 bahwa Indonesia adalah negara kepulauan. Isi dari Deklarasi Juanda yang ditulis pada 13 Desember 1957, menyatakan:

  1. Bahwa Indonesia menyatakan sebagai negara kepulauan yang mempunyai corak tersendiri
  2. Bahwa sejak dahulu kala kepulauan nusantara ini sudah merupakan satu kesatuan.
  3. Ketentuan ordonansi 1939 tentang Ordonansi, dapat memecah belah keutuhan wilayah Indonesia.

Adapun tujuan yang hendak dicapai Deklarasi Juanda meliputi, pertama, mewujudkan bentuk wilayah kesatuan Indonesia yang utuh dan bulat. Kedua, menentukan batas-batas wilayah negara Republik Indonesia yang sesuai dengan azas negara kepulauan, dan ketiga, mengatur pelayaran yang lebih menjamin keamanan dan keselamatan negara Republik Indonesia.

Siapa Juanda Kartawijaya?

Insinyur lulusan ITB itu lahir di Tasikmalaya, 14 Januari 1911. Bapaknya Raden Kartawijaya adalah seorang mantri guru.

Semasa mudanya Juanda hanya aktif dalam organisasi non politik, yaitu Paguyuban Pasundan dan anggota Muhammadiyah, dan pernah menjadi pimpinan sekolah Muhammadiyah.

Karier selanjutnya dijalaninya sebagai pegawai Departemen Pekerjaan Umum provinsi Jawa Barat, Hindia Belanda sejak tahun 1939.

Namun karier politik Insinyur teknik sipil ini naik pesat. Setelah Kabinet Ali Sastraamijaya jatuh lewat mosi tidak percaya, Presiden Sukarno menunjuk Ir. Juanda yang tidak berpartai politik sebagai Perdana Menteri hingga lahirnya Dekrit Presiden 5 Juli 1959.

JJuanda adalah Perdana Menteri ke-10 sejak Indonesia merdeka, dan jabatan yang dipegangnya selama 2 tahun relatif lama dibandingkan ke-9 perdana menteri sebelumnya.

Setelah tidak menjabat Perdana Menteri, Presiden Sukarno pun masih memercainya memegang jabatan Menteri Keuangan dalam Kabinet Kerja I.

Sumbangan terbesar selama menjabat Perdana Menteri adalah Deklarasi Juanda 1957. Namanya juga diabadikan sebagai nama Bandar Udara Internasional di Surabaya, Jawa Timur, karena sosok ini dianggap turut merintis berdirinya bandara terbesar ketiga setelah Sukarno-Hatta dan Ngurah Rai itu.

Selain itu, namanya juga diabadikan untuk nama hutan raya di Bandung dengan nama Taman Hutan Raya Ir. H. Juanda. Di taman itu ada museum dan monumen Ir. H. Juanda. Namanya juga diabadikan sebagai nama jalan di sejumlah kota besar Indonesia, dan nama stasiun commuter line di Jakarta Pusat, tepatnya memang di Jl. Juanda.

Juanda wafat di Jakarta 7 November 1963 karena serangan jantung dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata.

Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No.244/1963 Ir. H. Juanda Kartawijaya diangkat sebagai tokoh nasional/pahlawan kemerdekaan nasional. Dan pada 19 Desember 2016, atas jasa jasanya, Pemerintah Republik Indonesia, mengabadikan Juanda di pecahan uang kertas rupiah baru NKRI, pecahan Rp50.000.

Peringatan Deklarasi Juanda

Untuk memperingati Hari Nusantara pada 13 Desember 2020, Panitia Kongres Sunda mengadakan Sawalamaya yang bertemakan “Reaktualisasi Pemikiran Kebangsaan dan Kenegaraan Sang Perdana Menteri NKRI dari Pasundan, Ir. Juanda Kartawijaya”, Minggu 13 Des 2020.

Prof. Dr. Sri Edi Swasono yang merupakan salah satu keynote speaker menyebut, Deklarasi Juanda merupakan suatu deklarasi yang cermat, hebat, dan monumental. “Dengan dikeluarkannya Deklarasi Pemerintah RI 13 Desember 1957, Ordonansi tahun 1930 tidak berlaku lagi di Indonesia dan garis teritorial laut Indonesia yang sebelumnya 3 mil menjadi 12 mil,” katanya.

Wilayah kedaulatan Indonesia yang semula 1,9 juta kilometer persegi menjadi lebih luas 2,5 kali lipat, dari 2.027.087 kilometer persegi menjadi 5.193.250 kilometer persegi, tidak termasuk Irian Barat.

Selanjutnya Deklarasi Pemerintah RI yang disebut Deklarasi Juanda, 13 Desember 1957 yang konseptornya adalah Mochtar Kusumaatmadja itu dituangkan dalam UU No. 4/Prp Tahun 1960 tentang Perairan Indonesia.

Konsep yang kemudian dikenal sebagai “Wawasan Nusantara” yang memandang Indonesia sebagai kesatuan wilayah bangsa Indonesia dan negara yang utuh, darat, dan lautnya tidak terpisah, diperjuangkan Mochtar Kusumaatmadja pada konferensi-konferensi PBB tentang hukum laut internasional. Peran Mochtar Kusumaatmadja sangat menentukan.

Deklarasi Juanda membukakan cakrawala besar bagi Indonesia. Indonesia ibarat menjadi segar-bugar. Saya sendiri sebagai anggota Pokja GBHN pada WANHANKAMNAS merasakan ada pengaruh yang besar terhadap kalangan perumus draf GBHN yang harus dipersiapkan oleh WANHANKAMNAS,” kata Edy.

Dari Wawasan Nusantara itu, dapat lebih lanjut dirumuskan perwujudan Kepulauan Nusantara sebagai Kesatuan Politik; Kesatuan Ekonomi; Kesatuan Sosial Budaya; dan Kesatuan Pertahanan Keamanan, masing-masing dengan uraiannya yang cukup mendalam.

Editor: Dudung Ridwan

terbaru

6 Faedah Sholat Dhuha, Salah Satunya Pengganti Sedekah

Nasional Jumat, 22 Januari 2021 | 06:34 WIB

Sholat Dhuha pagi hari sampai jelang siang hari mempunyai banyak keutamaan

Umum - Nasional, 6 Faedah Sholat Dhuha, Salah Satunya Pengganti Sedekah, Waktu sholat Bandung,Sholat Bandung,sholat Dhuha,manfaat sholat Dhuha,bacaan sholawat dhuha

Wacana Kapolri Listyo Sigit Prabowo Dinilai Rentan Langgar HAM

Nasional Jumat, 22 Januari 2021 | 06:05 WIB

Koalisi Reformasi Sektor Keamanan mengkritisi pemaparan rencana Kapolri terpilih Komjen Listyo Sigit Prabowo dalam uji k...

Umum - Nasional, Wacana Kapolri Listyo Sigit Prabowo Dinilai Rentan Langgar HAM, Kapolri Listyo Sigit,Kapolri Baru,Kebijakan Listyo Sigit,Rencana Kapolri Rentan Langgar HAM,Pelanggaran HAM,Listyo Sigit Prabowo

Membaca Sayyidul Istighfar Ini Dijamin Masuk Surga

Nasional Jumat, 22 Januari 2021 | 05:58 WIB

Bacaan sayyidul istighfar dalam dzikir pagi dan petang jika dibaca dengan penuh keyakinan, disebut akan menjamin pembaca...

Umum - Nasional, Membaca  Sayyidul Istighfar  Ini Dijamin Masuk Surga, Sayyidul Istighfar,keutamaan  Sayyidul Istighfar,bacaan  Sayyidul Istighfar,Sayyidul Istighfar  jamin masuk surga,masuk surga,cara masuk surga

Positif Covid-19 Usai Divaksin Sinovac, Ini Penjelasan Bupati Sleman

Nasional Jumat, 22 Januari 2021 | 05:18 WIB

Bupati Sleman mengatakan kekebalan dari vaksin belum terbentuk karena baru disuntik sekali.

Umum - Nasional, Positif Covid-19 Usai Divaksin Sinovac, Ini Penjelasan Bupati Sleman, COVID-19,bupati sleman,Vaksin Sinovac,Vaksin Covid-19

Kangen Keluarga, Edhy Prabowo Minta Bantuan Yasonna Laoly

Nasional Kamis, 21 Januari 2021 | 22:34 WIB

Eks Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo mengungkapkan selama dua bulan didalam penjara belum dapat bertemu kelu...

Umum - Nasional, Kangen Keluarga, Edhy Prabowo Minta Bantuan Yasonna Laoly, Edhy Prabowo,Menkumham Yasonna Laoly,Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)

Gempa Magnitudo 7,1 Guncang Sulawesi Utara, Tidak Berpotensi Tsunami

Nasional Kamis, 21 Januari 2021 | 20:45 WIB

Gempa bumi dengan kekuatan magnitudo 7,1 mengguncang Sulawesi Utara pada Kamis (21/1/2021) malam pukul 19:23 WIB. Namun...

Umum - Nasional, Gempa Magnitudo 7,1 Guncang Sulawesi Utara, Tidak Berpotensi Tsunami, Gempa Sulawesi Utara,Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)

Positif Covid-19 di Indonesia Bertambah 11.703 Orang

Nasional Kamis, 21 Januari 2021 | 20:42 WIB

Data Satuan Tugas Penanganan Covid-19 pada hari ini memperlihatkan penambahan kasus baru sebanyak 11.703 orang. Dengan p...

Umum - Nasional, Positif Covid-19 di Indonesia Bertambah 11.703 Orang, Covid-19 di Indonesia,Satgas Covid-19

Indonesia Cetak Rekor Baru Angka Kematian Covid-19

Nasional Kamis, 21 Januari 2021 | 16:54 WIB

Indonesia Cetak Rekor Angka Kematian Covid-19

Umum - Nasional, Indonesia Cetak Rekor Baru Angka Kematian Covid-19, Update Corona Covid-19 Indonesia,Update Covid-19 Indonesia,Covid-19 Indonesia,Positif Covid-19 Indonesia,Sembuh Covid-19 Indonesia

artikel terkait

dewanpers