web analytics
  

Saatnya Memasifkan Budidaya Kawung

Senin, 7 Desember 2020 06:02 WIB Netizen Djoko Subinarto
Netizen, Saatnya Memasifkan Budidaya Kawung, kawung,aren,karet,Kementerian Pertanian

Warga sedang menyadap aren di Kampung Manglid, Desa Cicadas, Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat. (Djoko Subinarto)

Djoko Subinarto

Penulis lepas, bloger, mukim di Cimahi

AYOBANDUNG.COM – Meskipun memiliki manfaat ekonomi dan ekologi yang menjanjikan, aren (Arenga pinnata Merr) masih belum dibudidayakan secara masif dan intensif. Di banyak daerah, pembenihan aren masih bergantung pada pola pembenihan alamiah, yakni dengan mengandalkan bantuan hewan seperti luwak atau musang.

Aren -- atau kawung, dalam bahasa Sunda -- adalah tanaman multifungsi. Nyaris semua bagian dari tanaman ini bermanfaat. Dengan akarnya yang menghujam kuat ke dalam tanah, pohon aren dapat diandalkan sebagai pencegah erosi maupun longsor. Adapun daunnya yang cukup lebat dan batangnya yang tertutup balutan injuk membuat tetesan-tetesan air hujan, sederas apa pun, tidak pernah langsung bisa menggerus permukaan tanah.

Pohon aren tersebar di berbagai provinsi di Indonesia. Mulai dari Aceh, Banten, Bengkulu, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Maluku, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Papua, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sumatera Utara hingga Sumatera Barat.

Aren dapat tumbuh di hampir semua lahan, termasuk di lahan yang kering dan kurang subur. Pohon ini dapat tumbuh pada ketinggian mulai dari 9 meter hingga 1.400 meter di atas permukaan laut. Namun, yang paling baik bagi pertumbuhan pohon aren adalah pada ketinggian 500 meter hingga 800 meter di atas permukaan laut, dengan curah hujan lebih dari 1.200 milimeter setahun.

Selain kolang-kaling (cangkaleng), salah satu produk makanan yang dihasilkan dari aren yang paling kita kenal dewasa ini adalah gula aren. Gula aren ini dihasilkan dari nira hasil sadapan pohon aren. Sebelum mewujud sebagai gula, nira dipekatkan dengan cara dipanaskan hingga kadar airnya sangat rendah (kurang dari 6 persen).

Sebagian besar produk gula aren di negeri ini masih dihasilkan lewat proses pengolahan tradisional dan merupakan produk home industry alias industri rumahmtangga.

Gula aren mengandung berbagai nutrisi seperti potassium, antioksidan, kalsium, zinc maupun zat besi. Peluang pasar gula aren cukup bagus. Permintaan ekspor produk gula aren tergolong besar. Banyak negara meminati produk gula aren Indonesia. Sayangnya, permintaan ekspor yang besar itu belum sepenuhnya dapat dipenuhi karena terkendala oleh keterbatasan hasil produksi selama ini.

Selain gula, pohon aren juga dapat menghasilkan produk berupa tepung. Bahan baku utama tepung aren yaitu batang pohon aren, yang telah berusia sekitar 15 tahun. Tepung aren banyak dipakai untuk keperluan bahan campuran pembuatan bakso, hunkwe, mi, bihun, kerupuk, cendol dan aneka makanan lainnya.

Di luar produk makanan, pohon aren memiliki potensi lain yaitu sebagai sumber energi alternatif berupa bioetanol. Sebuah kajian menyebut, dua puluh liter nira dapat menghasilkan satu liter bioetanol.

Kendatipun mempunyai banyak manfaat serta memiliki nilai tambah bagi perekonomian masyarakat, budidaya aren di negara kita masih mengkhawatirkan. Hal tersebut dikatakan oleh Ketua Asosiasi Aren Indonesia (AAI), Djoko Widardjo, seperti dikutip kantor berita Antara, pertengahan November silam.

Faktanya, hingga kini belum ada daerah di negara kita yang secara masif melakukan pembudidayaan aren. Hal ini berbeda dengan sawit atau karet, misalnya, yang sejumlah daerah telah membudidayakannya secara masif.

Oleh sebab itu, sungguh tepat apabila Kementerian Pertanian (Kementan) bersama Asosiasi Aren Indonesia (AAI) berupaya merumuskan langkah-langkah strategis untuk membangkitkan budi daya tanaman aren. Tujuannya selain untuk meningkatkan produksi aren, juga untuk meningkatkan produk-produk dari olahan aren yang memiliki kualitas ekspor.Kita tentu saja berharap Kementerian Pertanian dan Asosiasiasi Aren Indonesia mampu segera menghasilkan langkah-langkah strategis yang berguna untuk mengerek budi daya aren secara berkelanjutan di negara kita. Dengan begitu, manfaat aren bakal semakin terasakan, baik secara ekonomi maupun secara ekologi.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: M. Naufal Hafizh

terbaru

Butuh Kemauan dan Kreativitas Untuk Perubahan

Netizen Selasa, 9 Maret 2021 | 13:30 WIB

Juga dibutuhkan kebersamaan dalam bergerak sehingga apa yang dilakukan bisa seragam.

Netizen, Butuh Kemauan dan Kreativitas Untuk Perubahan, Kota Bandung,Kreativitas,Perubahan,Ayo Netizen

Kisah Cinta Kaesang-Felicia Tak Segetir Kegagalan Si Nyonya Tua

Netizen Selasa, 9 Maret 2021 | 12:00 WIB

Dibandingkan dengan beragam kisah romansa yang dialami oleh para Juventini, nasib tragis yang dialami Mbak Felicia tak a...

Netizen, Kisah Cinta Kaesang-Felicia Tak Segetir Kegagalan Si Nyonya Tua, Cinta,Kisah,Kaesang Pangarep,Felicia Tissue,juventus,Liga Champions,Si Kuping Besar,Si Nyonya Tua,Bianconeri

Istilah “Ghosting” yang Mendadak Viral

Netizen Selasa, 9 Maret 2021 | 11:37 WIB

Istilah “Ghosting” yang Mendadak Viral

Netizen, Istilah “Ghosting” yang Mendadak Viral  , Istilah Ghosting,Ghosting,Apa itu ghosting,pengertian ghosting,ghosting Kaesang

Penyebab Makin Pedasnya Harga Cabai

Netizen Sabtu, 6 Maret 2021 | 20:13 WIB

Akhir-akhir ini di berbagai daerah, masyarakat mengeluhkan melambungnya harga cabai rawit merah hingga Rp.120.000, samp...

Netizen, Penyebab Makin Pedasnya Harga Cabai, Harga Cabai Naik,Harga Cabai Tanjung Naik,BPS

Sektor Infokom Tumbuh Pesat di Tengah Pandemi

Netizen Jumat, 5 Maret 2021 | 09:25 WIB

Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia genap berusia setahun. Sejak ditemukan kasus perdana di awal Maret tahun 2020, h...

Netizen, Sektor Infokom Tumbuh Pesat di Tengah Pandemi, Infokom,COVID-19,PSBB

Kapan Situ Aksan Ada?

Netizen Kamis, 4 Maret 2021 | 14:25 WIB

Dalam Peta Topografi tahun 1904-1905, tempat yang kemudian menjadi Situ Aksan, masihlah perkampungan kecil.

Netizen, Kapan Situ Aksan Ada?, Sejarah,Kota Bandung,Topografi,Desa,Abad ke-20,Bandung Baheula

Tiga Terjemahan Pertama

Netizen Kamis, 4 Maret 2021 | 10:20 WIB

Pada 1872, Raden Kartawinata sudah bisa menerbitkan tiga judul terjemahan dari bahasa Belanda.

Netizen, Tiga Terjemahan Pertama, raden kartawinata,Sunda,Jawa,Bahasa,Penerjemah,Belanda,R.H. Moeh. Moesa,K.F. Holle,buku,Literatur,Literasi

Mencabut Industri Dosa Berkedok Perpres Investasi Miras

Netizen Rabu, 3 Maret 2021 | 14:15 WIB

Ada yang bilang bahwa industri dosa sejatinya merupakan usaha mentransfer dana publik ke tangan swasta dengan cara yang...

Netizen, Mencabut Industri Dosa Berkedok Perpres Investasi Miras, Minuman Keras (Miras),Perpres investasi miras,Presiden Joko Widodo,Indonesia,Investasi,World Health Organization (WHO),Papua,minuman beralkohol
dewanpers