web analytics
  

Kuliner Bandung, Kenikmatan Sate Jando Lembut dan Kenyal

Jumat, 4 Desember 2020 09:54 WIB Redaksi AyoBandung.Com
Gaya Hidup - Kuliner, Kuliner Bandung, Kenikmatan Sate Jando Lembut dan Kenyal , Sate jando,Kuliner Bandung,Kuliner Bandung Unik,Nama-nama unik kuliner Bandung,Gedung Sate

Sate Jando terbuat dari bagian dalam payudara sapi. (Ani Siti Nur'aeni Wahidah)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Jangan mengaku penggemar satai kalau kalian belum pernah coba yang unik satu ini. Sate Jando!

Lapak Sate Jando terletak di Jalan Cimandiri, persis di belakang Gedung Sate. Sate Jando ini sudah terkenal sejak puluhan tahun lalu. Tak heran jika pembelinya harus rela antre hingga berjam-jam hanya untuk menikmati kelezatan. Padahal tempatnya sendiri hanya terletak di trotoar jalan yang banyak dilewati kendaraan bermotor.

Lalu, apa sih Sate Jando itu? 

Jando merupakan bagian dalam payudara sapi. Memang jarang sekali orang yang menyajikan bagian tubuh sapi tersebut. Tapi jangan salah, rasa dan teksturnya yang unik akan membuat kita rindu dan ingin kembali untuk makan satai ini.

Sate Jando ini disajikan dengan bumbu kacang dan lontong. Jando yang menyerupai lemak ini ketika dimakan dalam keadaan hangat akan lumer di mulut kita, teksturnya lembut dan sangat kenyal. Rasa bumbu kacangnya sendiri sangat istimewa. Terbuat dari kacang yang tidak ditumbuk terlalu halus, sehingga masih bisa menikmati tekstur kacangnya. Selain itu, lontongnya dibuat dengan sangat lembut. Sungguh perpaduan yang sangat sempurna. 

Satu porsi Sate Jando dan lontong ini bisa dinikmati hanya dengan Rp24.000 saja. Harganya cukup ramah di kantong. Selain satai jando, terdapat juga satai ayam dan sapi yang tak kalah lezatnya dan wajib untuk dicoba. 

Sate Jando buka mulai pukul 9 pagi hingga jam 2 siang. Lalu kembali berjualan di sore hingga malam hari. Di akhir minggu, mereka buka dari pukul 7 pagi dan sudah habis pada jam 12 siang. 

Tempat duduk di Sate Jando terbatas, jadi pembeli harus bersiap antre dengan duduk di trotoar jalan di tengah asap pembakaran satai yang tak pernah padam. (Ani Siti Nur'aeni Wahidah / Magang)

Editor: Andres Fatubun

artikel terkait

dewanpers