web analytics
  

Dewi Sartika dan Kartini: Pelopor Kesadaran Perempuan akan Emansipasi

Rabu, 2 Desember 2020 05:32 WIB Dudung Ridwan
Bandung Raya - Bandung, Dewi Sartika dan Kartini: Pelopor Kesadaran Perempuan akan Emansipasi, Dewi Sartika,R.A. Kartini,Pahlawan nasional Dewi Sartika,Buku Kautamaan Istri,Sakola Kautamaan Istri

Dewi Sartika (istimewa)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Dua pahlawan perempuan nasional ini--R.A. Kartini dan Raden Dewi Sartika—mau tidak mau sering disandingkan. Keduanya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kesamaannya, keduanya punya peran yang sama pentingnya sebagai pelopor kesadaran perempuan akan emansipasi manusia pada umumnya, khususnya perempuan.

Kartini dan Dewi Sartika hidup satu zaman. Malah, menurut W.S. Rendra dalam pengantar buku Raden Dewi Sartika sang Perintis, karya Yon Daryono, Dewi Sartika pernah berkunjung kepada R.A. Kardinah di Kendal, kakak R.A. Kartini. Namun, pada waktu itu Kartini sudah wafat.

Hal ini dibenarkan juga oleh Ibu Dinny Dewi (cucu Dewi Sartika) ketika ditemui Ayobandung.com, Minggu, 29/11/20 di rumah kediamannya di daerah Pasteur.

Cucu Dewi Sartika, Dinny Dewi, saat ditemui ayobandung di kediamannya di Babakan Jeruk. Kecamatan Sukajadi. (ayobandung/Dudung Ridwan. )

“Ya, memang Ibu Dewi dan Kartini itu tidak jauh umurnya. Malah, kakak Kartini yang lain, Dokter Sosrokartono, suka main ke rumah Dewi Sartika dan berteman baik dengan Raden Agah, suami Bu Dewi. Bahkan, menurut saya, Dokter Sosrokartono itu ‘menaruh hati’ pada anak tertua Ibu Dewi,” katanya.

Kunjungan Dewi Sartika ke Kendal bukan sekadar konsolidasi jaringan, tetapi ia benar-benar belajar lmu membatik untuk kembali diajarkan kepada murid-muridnya di Bandung. Stamina Dewi Sartika untuk membina diri sungguh tidak ada habisnya.

Perbedaan Usia

Usia Kartini dan Dewi Sartika tidak berbeda jauh, cuma berbeda lima  tahun. Kartini lebih tua. Kartini lahir di Jepara pada 21 April 1879. Kartini tidak berusia panjang, meninggal pada usia 25 tahun, di Rembang, 17 September 1904.

Sementara Dewi Sartika lahir di Cicalengka, Bandung, pada 4 Desember 1884. Dewi Sartika meninggal pada 11 September 1947, pada usia 63 tahun, di Cineam, Tasikmalaya.

Keningratan

R.A. Kartini berasal dari kalangan priyayi, atau kelas bangsawan Jawa. Ia merupakan putri pertama dari istri pertama Raden Adipati Ario Sosroningrat. Ayah dari R.A. Kartini merupakan putra Pangeran Ario Tjondronegoro IV. Meskipun ibu dari R.A. Kartini merupakan istri pertama, ibu dari R.A. Kartini ini bukan istri yang utama.

Ibu dari R.A. Kartini bernama MA Ngasirah. Beliau adalah seorang Kiyai di Telukawur, Surabaya. MA Ngasirah sendiri bukan merupakan putri keturunan bangsawan. Padahal, di masa kolonial Belanda terdapat peraturan jika seorang Bupati harus menikah dengan sesama keturunan bangsawan.

Itulah penyebab ayah R.A. Kartini menikahi Raden Adjeng Woerjan yang merupakan keturunan bangsawan dari Raja Madura. Setelah pernikahan tersebut, ayah R.A. Kartini kemudian diangkat menjadi Bupati Jepara tepat setelah R.A. Kartini dilahirkan.

Kakek dari R.A Kartini adalah bupati pertama yang sudah memberikan pendidikan Barat kepada anak-anaknya. Sedangkan R.A. Kartini merupakan merupakan anak ke-5 dari 11 bersaudara, baik kandung maupun tiri. R.A. Kartini sendiri merupakan putri tertua di antara saudara sekandungnya.

Raden Dewi Sartika berpose bersama para guru di Sakola Kautamaan Istri setelah menerima bintang penghargaan. (Dokumen keluarga. )

Sementara itu, Dewi Sartika berasal dari sebuah keluarga ternama di tanah Sunda. Dewi Sartika merupakan anak kedua dari lima bersaudara pasangan Raden Rangga Somanegara dengan Raden Ayu Raja Permas.

Raden Rangga Somanegara saat itu menjabat Patih Afdeling Mangunreja, Tasikmalaya. Jabatan patih pada masa itu merupakan jabatan yang cukup tinggi dan penting karena menempati urutan kedua setelah jabatan Bupati.

Sedangkan Raden Ayu Rajapermas adalah seorang putri dari Raden Aria Adipati Wiranata kusumah IV yang pernah menjadi Bupati Bandung periode 1846-1847. Selama menjabat sebagai Bupati Bandung, Raden Aria Adipati Wiranatakusumah IV dijuluki “Dalem Bintang” karena pernah mendapat bintang penghargaan dari pemerintah kolonial.

Aktivis vs Sastrawan

Dewi Sartika lebih kepada seorang aktivis. Ia memiliki integritas kepribadian yang tinggi, sekaligus naluri yang tajam terhadap strategi dan keseimbangan di dalam totalitas aksi-reaksi-kontemplasi.

Aktvis di sini bukanlah sekadar orang yang aktif mengerjakan kewajiban sehari-hari di kantor, di tempat bekerja atau di rumah tangganya, melainkan seorang yang berbuat sesuatu di masyarakat dan untuk masyarakat dengan tujuan memperbaiki dan memajukan masyarakat berdasarkan idealismenya, serta di dalam kegiatannya itu menyangkut mobilisasi orang banyak.

Dalam usia 18 tahun, Dewi Sartika merasakan keterbatasan eksistensi sebagai seorang perempuan karena ikatan tradisi masyarakat yang berlaku. Seakan-akan tujuan hidup kaum perempuan hanyalah untuk menikah, bersuami. Ia bereaksi terhadap hal-hal ini. Ia pun lalu berkontemplasi.

Ia membaca buku-buku dan daya cerna pikirannya mulai bekerja. Ia berpendapat bahwa kaum perempuan harus bisa mandiri dalam mencari nafkah. Oleh karena itu, mereka harus bersekolah.

Sebaliknya, R.A. Kartini rupanya tidak memiliki naluri seorang aktivis. Ia lebih tepat sebagai sastrawan dari sastra surat. Nilai sastra yang tekandung dalam surat-suratnya sangat tinggi. Menguasai metapora yang mencerminkan kedalaman penghayatan batin dan ketelitian dalam pengamatan terhadap lingkungan. Surat-suratnya adalah kumpulan esai yang indah.

Kartini memiliki gaya bahasa yang menyentuh dan juga berapi-api dalam suratnya. Lembut, terkadang mendayu-dayu, namun tajam dan sarat arti. 

Seperti dalam suratnya kepada Nona Zeehandelaar pada 9 Januari 1901. "Akan datang jua kiranya keadaan baru dalam dunia bumi putra. Kalau bukan oleh karena kami, tentu oleh karena orang lain," tulisnya.

Atau suratnya pada tanggal 8 Agustus 1902, kepada tuan E.C Abendanon. "Amatlah banyak barang yang indah, jelita, dan berharga kepada kami melalui perantara post. Mutiara, intan permata bagi otak dan hati," tuturnya.

Gaya bahasanya itulah yang membuat cita-cita Kartini dalam tulisannya menggerakkan banyak pihak untuk menyadari pentingnya akses pendidikan bagi perempuan.

Tentang Perjodohan

Kartini pernah menulis bahwa ia tidak ingin menikah dan juga mengutuk pernikahan yang jodohnya tidak berdasarkan pilihannya, tetapi berdasarkan pilihan orangtua yang harus diturutnya. Namun, pada kenyataannya ia menikah juga dengan lelaki yang bukan pilihannya.

Sementara Dewi Sartika menolak dijodohkan dengan lelaki yang bukan pilihannya sambil tidak peduli kepada kehebohan yang ditimbulkan oleh sikapnya itu. Dan pada waktunya ia kawin dengan lelaki duda dari derajat biasa, tetapi yang pintar, penuh pengertian, dan ia cintai.

Tentunya hal ini menimbulkan heboh yang lebih besar lagi. Tetapi ternyata Dewi Sartika mampu menghadapi tantangan dari dalam keluargannya dan dari masyarakat yang luas demi keteguhan akan pendirian dan sikap hidupnya.

Editor: Dudung Ridwan
dewanpers