web analytics
  

Era Komunikasi Digital, Orang Tua dan Anak Harus Saling Belajar

Selasa, 1 Desember 2020 20:48 WIB Erika Lia
Umum - Regional, Era Komunikasi Digital, Orang Tua dan Anak Harus Saling Belajar, Era digital,Diskominfo Provinsi Jabar,Media sosial (medsos),orang tua,Anak

Orang tua dan anak bermain gawai. (thinkstockphotos)

CIREBON, AYOBANDUNG.COM -- Era digital saat ini telah menimbulkan adiksi terhadap gawai. Sebagai lingkungan sosial terkecil, keluarga menjadi ujung tombak dalam membangun komunikasi yang efektif.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Jawa Barat Setiaji menyebut, era digital telah membuat penggunaan gawai (gadget) sebagai salah satu kebutuhan primer di masa kini. Media sosial (medsos) menjadi salah satu isi pada gawai yang banyak menarik atensi penggunanya.

“Media sosial kadang membuat kita lupa pada sekitar. Bangun tidur, langsung lihat hp (handphone), sehingga gawai seolah jadi kebutuhan primer,” katanya dalam webinar bertema “Budaya Komunikasi Cerdas Bermedia Sosial dalam Keluarga” yang digelar Dharma Wanita Persatuan (DWP) Diskominfo Provinsi Jabar, dikutip dari Ayocirebon.com, Selasa (1/12/2020).

Di era pandemi, ketergantungan pada gawai semakin meningkat, termasuk bagi anak-anak yang harus belajar secara daring. Kondisi itu membuka ruang dan waktu lebih lebar bagi mereka untuk mengakses medsos.

Sayangnya, medsos tak melulu berisi materi aman. Informasi bohong (hoaks) menjadi salah satu hal negatif yang berseliweran di dunia maya.

“Tahun ini. Sekitar 5.000 hoaks di Jabar sudah kami tangkal. Ketika pandemi, 40% hoaks yang beredar berkaitan dengan Covid-19,” bebernya.

Kaum ibu yang tergabung dalam DWP pun diminta berperan aktif menangkal hoaks dan hal negatif lainnya. Peranan itu terutama dapat dilakukan di keluarga masing-masing, melalui pemahaman atas komunikasi di era digital serta hal-hal yang harus ditangkal.

Dia memandang, pemahaman atas komunikasi di era digital pada gilirannya akan meningkatkan literasi digital keluarga secara khusus, maupun masyarakat Jabar pada umumnya.

“Peningkatan literasi digital di Jabar juga akan menaikkan indeks kebahagiaan masyarakat Jabar,” cetusnya.

Ketua DWP Jabar Dwina Roosmini dalam kesempatan itu menyatakan, budaya komunikasi sejatinya terus berkembang sepanjang peradaban manusia. Cara-cara komunikasi dipengaruhi teknologi yang ada pada saat itu.

“Cara komunikasi dipengaruhi perubahan teknologi, kondisi dan situasi. Maka, kita harus belajar,” tuturnya.

Dia menyontohkan, di masa lalu, penggunaan kata “aku” untuk penyebutan diri dinilai tak sopan. Namun kini, kaum ibu pun sebaiknya memahami kata itu lazim berlaku.

Dia mengakui, tak mudah bagi orang tua untuk menerima perubahan komunikasi. Namun, dia mengingatkan orang tua tak boleh menjadi korban dari perkembangan zaman dan harus tetap menyuplai nilai-nilai positif di keluarga.

“Kita dibombardir beragam informasi, tanpa tahu mana yang benar dan mana yang salah. Karena itu, sebaiknya filter setiap informasi supaya seimbang dan kita tak terlalu terpengaruh informasi yang salah,” tegasnya.

Dari sisi teknologi, imbuhnya, orang tua justru sebaiknya banyak belajar dari anak-anak. Dia mengingatkan orang tua untuk sama-sama mengetahui apa yang diketahui anak-anak.

Dalam hal ini, kedekatan keluarga perlu dijaga. Selain itu, sekalipun dimungkinkan orang tua mengalami kesalahan dalam memahami komunikasi yang berkembang di era digital ini, mereka dituntut untuk mengurangi sensitivitas atau ketersinggungan atas perubahan pola komunikasi maupun sikap anak-anak.

“Jangan terlalu sensi dan sedikit-sedikit melarang supaya anak-anak enggak kapok komunikasi dengan kita. Upayakan kita jadi tempat ternyaman bagi anak-anak untuk bercerita dan berbagi apa saja,” katanya.

Dia menyarankan orang tua untuk tak terlalu cepat menilai segala sesuatu secara negatif. Apapun yang disampaikan anak sebaiknya didengarkan lebih dulu, mengingat persepsi seseorang, dalam hal ini anak maupun orang tua, atas sesuatu bisa jadi berbeda satu sama lain.

Nyaris senada dengan Dwina, salah satu pembicara yang merupakan Program Studi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Nenden Rani Rinekasari menyebut, suatu komunikasi dapat terkendala persepsi.

“Dalam keluarga juga begitu. Pada kondisi ini, penguat komunikasi yang baik adalah pemimpin keluarga, dalam hal ini suami sebagai penentu pola komunikasi,” paparnya.

Dia mengingatkan orang tua untuk mengenali pola komunikasi yang menyesuaikan dengan usia anak. Komunikasi orang tua dengan anak berusia dini, tentu berbeda dengan komunikasi bersama anak berusia remaja.

“Komunikasi paling efektif adalah secara konkret yang disesuaikan usia anak. Misal, kita bilang kepada anak“jangan lari” karena takut anak kita jatuh saat berlari di lantai licin. Kata “jangan” itu istilah abstrak karena pada situasi yang berbahaya misalnya, anak harus lari,” terangnya.

Di era digital, dia menyebut, keluarga telah kehilangan dimensi fisik dan kini kehadirannya diambil alih dimensi virtual. Dengan kata lain, dalam keluarga digital, interaksi dan komunikasi tatap muka kini diambil alih oleh komunikasi yang dimediasi teknologi informasi.

"Yang memprihatinkan, teknologi datang dengan cepat, tapi pendidikan menggunakannya masih harus kita kejar. Proses perubahan informasi cepat sekali sehingga memengaruhi keluarga,” bebernya.

Nenden menyarankan orang tua menaruh kepercayaan kepada anak. Tak jarang, orang tua merasa paling benar sehingga menyebabkan anak justru kesulitan bersikap terbuka.

Dalam menciptakan budaya cerdas berkomunkasi dalam keluarga di era digital, orang tua di antaranya perlu mengajak anak berpikir kritis atas informasi yang diperoleh dan tak menyebarluaskan informasi yang tak jelas sumbernya.

Orang tua juga harus menghindari tayangan-tayangan yang berdampak negatif. Etika berkomunikasi positif di medsos pula harus ditanamkan.

“Perhatikan pengaturan informasi pribadi dalam media digital, khususnya medsos,” ujarnya.

Selain itu, tambah Nenden, manfaatkan tayangan untuk memperluas wawasan, pengetahuan, dan mendiskusikannya bersama anak-anak.

Dalam kesempatan itu, Nenden pula menyarankan orang tua tak berkomunikasi dengan anak menggunakan bahasa gaul dalam keseharian. Penyaringan kata oleh anak tetap harus dilakukan untuk memastikan ketepatan dan ketidaktepatan kata.

“Jangan sampai komunikasi dengan bahasa gaul yang diterapkan anak bersama kita, jadi membuat komunikasi anak dengan orang lain, seperti guru, akhirnya justru membuat komunikasi mereka tak berjalan baik,” cetusnya.

Namun begitu, orang tua diusulkan untuk tetap mempelajari bahasa-bahasa gaul untuk memastikan komunikasi dengan anak berjalan baik. Secara umum, dia menyerahkan penggunaan bahasa gaul sebagai hak setiap orang tua, tapi mengingatkan pengelolaan harus dilakukan dengan baik.

Sementara, Content Strategist Jabar Saber Hoaks, Saraswati Puteri mengajak kaum perempuan, termasuk kalangan ibu, bertindak sebagai pahlawan keluarga dengan gemar melakukan cek fakta.

"Hoaks menjadi salah satu hal negatif pada media sosial, selain hate comment, bullying, dan pornografi," katanya.

Untuk ini, dia menyebutkan 7 cara mengidentifikasi hoaks dengan salah satu cirinya menggunakan judul yang bombastis. Selain itu, alamat website yang digunakan pun mirip dengan media besar (mainstream).

Ciri lain menggunakan unsur cocok-cocokan ("cocoklogi") dan tidak mencantumkan nama penulis artikel. Tak hanya itu, ciri hoaks berupa artikel yang ditampilkan terlalu bagus atau terlalu muluk untuk diwujudkan (too good to be true).

"Misalnya, informasi bawang putih bisa sembuhkan corona. Itu terlalu mudah dan terlalu bagus untuk terwujud, sementara penelitian soal ini belum diketahui pasti," jelasnya.

Hoaks juga berciri adanya permintaan untuk disebarkan atau diviralkan. Ciri terakhir yakni adanya praktik manipulasi foto dan keterangan gambar, contohnya artikel berjudul "Ih Fotonya Lucu, Badannya Ikan, Kepalanya Manusia" dan sejenisnya.

Saraswatie menyarankan orang tua untuk tak membiarkan anak terlalu lama di depan layar gawai atau alat elektronik lain. Pedoman screen time pada anak balita dari WHO bahkan tak menyarankan sama sekali anak-anak usia di bawah 1 tahun mengakses gawai.

Sementara, screen time pada anak usia 2-5 tahun tak boleh lebih dari 1 jam/hari. Meski gawai tak ditampik memiliki efek positif di antaranya dapat melatih kognitif pada anak, dia mengingatkan pula dampak buruknya.

"Dampak negatif saat anak kecanduan gawai, di antaranya sulit konsentrasi, istirahat terganggu hingga membuat anak agresif, hingga kreativitas menurun akibat paparan radiasi berlebih," paparnya.

Editor: Dadi Haryadi

terbaru

Monyet Resahkan Warga Ditangkap Damkar Cianjur

Regional Rabu, 27 Januari 2021 | 21:05 WIB

Warga Kampung Tegalega Desa Limbangansari Kecamatan Cianjur bisa tenang, lantaran monyet jenis Macaca Fascicularis yang...

Umum - Regional, Monyet Resahkan Warga Ditangkap Damkar Cianjur, Monyet Resahkan Warga Cianjur,Damkar Cianjur

Desa di Cianjur Siapkan Rumah Isolasi Mandiri

Regional Rabu, 27 Januari 2021 | 20:48 WIB

Sejumlah desa di Kabupaten Cianjur menyatakan sudah siap menyediakan tempat isolasi bagi warga yang dinyatakan terkonfir...

Umum - Regional, Desa di Cianjur Siapkan Rumah Isolasi Mandiri, Rumah Isolasi Mandiri,Desa di Cianjur,Pasien Covid-19 di Cianjur

Besok, Cianjur Mulai Vaksinasi Covid-19

Regional Rabu, 27 Januari 2021 | 20:30 WIB

Pemerintah Kabupaten Cianjur akan melakukan penyuntikan Vaksin Covid-19 perdana dengan secara simbolis dilakukan di Pend...

Umum - Regional, Besok, Cianjur Mulai Vaksinasi Covid-19, Vaksinasi Covid-19 Cianjur,Pemkab Cianjur,Vaksin Covid-19,Vaksin Sinovac

Kesadaran Prokes Kaum Milenial di Cianjur Masih Rendah

Regional Rabu, 27 Januari 2021 | 20:15 WIB

Kaum milenial Cianjur dinyatakan paling banyak melanggar protokol kesehatan. Rata-rata mereka tidak taat memakai masker...

Umum - Regional, Kesadaran Prokes Kaum Milenial di Cianjur Masih Rendah, milenial Cianjur,Pelanggar Prokes di Cianjur

7 Kecamatan di Cianjur Beresiko Tinggi Penyebaran Covid-19

Regional Rabu, 27 Januari 2021 | 19:57 WIB

Sebanyak tujuh kecamatan di Kabupaten Cianjur memiliki jumlah kasus terkonfirmasi positif Covid-19 paling tinggi dibandi...

Umum - Regional, 7 Kecamatan di Cianjur Beresiko Tinggi Penyebaran Covid-19, Satgas Covid-19 Cianjur,Kecamatan Covid-19 di Cianjur,PSBB Proporsional Cianjur

Lokasi Syuting Sinetron Ikatan Cinta Bakal Digerebek Satpol PP, Kenapa...

Regional Rabu, 27 Januari 2021 | 18:24 WIB

Satpol PP Kabupaten Bogor akan melakukan pengecekan ke lokasi syuting sinetron Ikatan Cinta di wilayah Gunung Geulis, Su...

Umum - Regional, Lokasi Syuting Sinetron Ikatan Cinta Bakal Digerebek Satpol PP, Kenapa?, Sinetron Ikatan Cinta,Satpol PP Kabupaten Bogor,Syuting Ikatan Cinta,Arya Saloka,Amanda Manopo

Diduga Terpapar Covid-19, Seorang Pria Meninggal di Bus Budiman

Regional Rabu, 27 Januari 2021 | 18:10 WIB

Seorang penumpang bus Budiman jurusan Tasikmalaya - Cikarang ditemukan meninggal di kursi bus saat tiba di pul bus Budim...

Umum - Regional, Diduga Terpapar Covid-19, Seorang Pria Meninggal di Bus Budiman, Pria Meninggal di Bus,Bus Budiman,Bus jurusan Tasikmalaya - Cikarang

Vaksinasi Covid-19 di Kota Tasik Akan Dilaksanakan Hari Jumat

Regional Rabu, 27 Januari 2021 | 14:33 WIB

Pemerintah Kota (Pemkot) Tasikmalaya berencana melakukan vaksinasi pada Jumat (29/1/2021). Vaksinasi tahap pertama di Ko...

Umum - Regional, Vaksinasi Covid-19 di Kota Tasik Akan Dilaksanakan Hari Jumat, Vaksinasi Covid-19,vaksin corona,Vaksin Covid-19,COVID-19

artikel terkait

dewanpers