web analytics
  

Pandemi Mengepung, Bandung Berkebun

Senin, 30 November 2020 19:15 WIB Nur Khansa Ranawati
Bandung Raya - Bandung, Pandemi Mengepung, Bandung Berkebun, Urban Farming Bandung,Bandung Berkebun,Ketahanan Pangan Bandung

Theodorus Primaxylxla Jodimarlo (26) menunjukkan produk jus pakcoy hasil urban farming di pekarangan keluarganya di CisarantenKulon, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung, Rabu (23/9/2020). Selama pandemi, gerakan urban farming tumbuh di banyak lokasi di Kota Bandung. (AyoBandung/Kavin Faza)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Sebuah pekarangan di Jalan Cisaranten Kulon, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung terlihat rimbun oleh tanaman sayur. Suasananya demikian kontras dibandingkan rumah dan pekarangan di sekitarnya yang kerontang.

Deretan pakcoy menyembul dari pipa-pipa paralon putih bertingkat. Tidak jauh dari instalasi itu terdapat greenhouse yang menaungi tanaman-tanaman pakcoy berukuran lebih kecil.

Di sebelah greenhouse, berdiri bangunan satu lantai yang bagian atapnya digunakan untuk menampung jajaran tanaman dalam polybag hitam. Sebagian besar adalah cabai. "Jodirexa Building", begitu tulisan yang terpampang di sana.

Banting stir dari bisnis travel, keluarga Joseph (52) memanfaatkan lahan pekarangan mereka untuk memulai urban farming. (AyoBandung/Kavin Faza)

 

"Di sini seharusnya ada beberapa unit mobil shuttle untuk perjalanan wisata. Tapi kami enggak sanggup bayar leasing. Jadi ya sudah, (mobil) kami kembalikan saja, daripada ditagih debt collector," kata Joseph Sugeng Irianto (52), si pemilik bangunan, ketika AyoBandung.com mengunjunginya akhir September 2020 lalu.

Pekarangan yang sudah penuh dengan tanaman pakcoy itulah yang dimaksud Joseph sebagai lokasi pakir mobil shuttle. Sebanyak 10 unit minibus bisa tertampung di sana.

Gedung dengan deretan polybag berisi tanaman cabai itu pun, yang baru tuntas dibangun awal tahun ini, awalnya diniatkan sebagai kantor utama jasa perjalanan wisatanya.  

Rex Tours and Travel, yang dirintis Josep bersama sang anak Theodorus Primaxylxla Jodimarlo (26) sejak 2014 lalu, menawarkan jasa perjalanan wisata ke sejumlah destinasi wisata di Indonesia. Pelanggannya datang bukan hanya dari Bandung dan kota-kota lain di Indonesai, tapi juga dari Singapura, Malaysia, dan Tiongkok.

Bisnis yang berkembang pesat membuat bapak dan anak ini bisa menyisihkan keuntungan untuk membeli sebidang tanah di Arcamanik itu. Di sana, mereka hendak mendirikan kantor pusat karena selama ini semua usaha masih dioperasikan di rumah pribadi.

Namun apa daya, semua rencana rontok dihantam pandemi Covid-19. Pada pertengahan Maret, ketika isu Covid-19 mulai membesar, Joseph kehilangan seluruh pelanggan yang telah memesan layanan perjalanan wisata di sepanjang tahun 2020.

"Banyak grup minta cancel dan refund. Wisatawan Singapura, Taiwan, Malaysia, cancel semua. Sampai Februari, kami masih melayani puluhan wisatawan. Setelah itu stop sama sekali, tidak ada lagi," ungkap Joseph yang telah malang-melintang menggeluti dunia pariwisata sejak 1988 silam.

Joseph terpaksa merumahkan 13 karyawannya sampai waktu yang tidak ditentukan. Kantor barunya kosong melompong tanpa kedatangan pelanggan. Pekarangan yang seharusnya sibuk dengan lalu-lalang mobil shuttle pun lengang.

Gara-gara Video YouTube

Pada April 2020, Joseph menemukan video tentang bercocok tanam hidroponik di kanal YouTube. Tidak membutuhkan tanah yang luas, cara menanam ini baginya terlihat relatif mudah dan menarik untuk dipraktikkan. Semua jenis tanaman sayur dicoba, mulai dari bayam, cabai, kangkung, sampai pakcoy.

Joseph, yang disokong penuh oleh keluarganya, mulanya bereksperimen dengan potongan botol air mineral yang diberi air dan sumbu kain sebagai media tanam. Jumlah pakcoy yang ditanam terus bertambah dari waktu ke waktu. Kantong-kantong polybag mulai berjajar di sudut-sudut lahan, tak terkecuali di atap gedung. Lahan parkir yang sepi akibat pandemi itu berubah menjadi kebun sayur yang asri.

Rasa frustasi akibat bisnis yang merosot mulai pudar, berganti kegembiraan. Pakcoy yang mereka tanam rupanya memiliki nilai ekonomi tak sembarangan. Diblender dengan buah-buahan lain, dengan campuran madu, daun pakcoy menghasilkan jus yang nikmat di lidah. Inilah awal kelahiran “Rexfarm”, bisnis baru keluarga Joseph menggantikan jasa perjalanan wisata yang tiarap dihantam pandemi.

Bersama Jodi, sang anak, Joseph mengemas jus pakcoy ke dalam botol ukuran 350 mililiter. Setiap kemasan dihargai Rp 15.000. Pelanggan pertama mereka adalah para tetangga yang sebelumnya dibuat penasaran dan kaget dengan lebatnya daun-daun pakcoy di pekarangan bekas tempat parkir minibus itu.

Jodi (26) mengemas jus pakcoy yang dibanderol dengan harga Rp 15.000 per botol. (AyoBandung/Kavin Faza)

 

Selain jus pakcoy, pelanggan yang datang ke Arcamanik bisa membeli pakcoy secara batangan. Juga tersedia berbagai jenis tanaman sayur lainnya, seperti cabai, kangkung, dan bayam, yang bisa dipetik langsung.

Kebun sayur milik keluarga Joseph ini hanya selang satu bangunan dengan masjid terdekat. Sekali sepekan mereka memberikan 100 botol jus pakcoy gratis bagi warga muslim yang melaksanakan ibadah salat Jumat. Sebuah aksi solidaritas di masa-masa sulit di tengah pandemi.

“Jus itu akhirnya jadi barang paling dicari. Bahkan banyak yang kontak saya untuk nitip jus. Beberapa warga kan ada yang berdoa lebih lama dari yang lain. (Mereka) Takut diambil anak-anak," ungkap Joseph seraya tertawa.

Komunitas Bergerak

Tidak hanya di bekas lahan parkir milik keluarga Joseph di Arcamanik. Gerakan tani di lahan terbatas perkotaan atau urban farming tumbuh di banyak lokasi di Kota Bandung. Tidak hanya dilakukan secara personal atau tingkat keluarga, tidak sedikit kegiatan berkebun digerakkan juga oleh komunitas.

Di RW 03 Kelurahan Sarijadi, Kecamatan Sukasari, Kelompok Wanita Tani (KWT) Kebun Sauyunan sudah menanam bersama warga sejak 2016. Ada 100 jenis tanaman di sini.

Di Kelurahan Karasak, Kecamatan Astanaanyar, KWT Kurdi Asri bahkan sudah mengelola kebun sayur sejak 2014 lalu. Berbasis kesukarelawanan, komunitas ini memanfaatkan setiap ruang tersisa di kampung mereka yang begitu padat penduduknya. Gang-gang sempit dimanfaatkan sebagai media tanam.

Selain sayur, KWT Kurdi Asri juga memelihara tanaman obat keluarga dan mengelola kolam ikan. Produk unggulan yang mereka jual adalah manisan terong dan minuman dari campuran serai, daun jeruk, gula, dan madu.

"Alhamdulillah kami jadi nggak perlu ke warung kalau sekadar untuk nyambel," kelakar Eva, Ketua KWT Kurdi Asri, Maret 2020 lalu.

Anak-anak muda Bandung tidak kalah gesit. Selama pandemi, lahir gerakan Solidaritas Sosial Bandung yang di jagat media sosial menggaungkan hashtag #gerakansosialbandung. Beragam organisasi nirlaba bergabung menggulirkan banyak program pemberdayaan warga. Termasuk urusan pangan.

Diinisiasi pada April 2020, Solidaritas Sosial Bandung per Juli 2002 telah berhasil mendirikan 14 posko dapur umum di berbagai wilayah. Dapur umum menjadi pusat kegiatan berbagi kebutuhkan dasar, yakni makanan, kepada warga yang paling membutuhkan.

Tidak cukup mengoperasikan dapur umum, gerakan ini juga berhasil menginisiasi 11 kebun dan 4 kolam budidaya ikan.

Gerakan sosial ini dijalankan dengan gaya khas anak muda: kreatif dan inovatif. Memanfaatkan media sosial, mereka menggalang solidaritas warga untuk terlibat dengan menyumbangkan bahan makanan, bibit tanaman, atau alat berkebun.

Sebuah kajian Pemkot Bandung menyebut gerakan urban farming yang bermunculan di tengah warga ini “mampu menekan 5-6 persen ketergantungan masyarakat terhadap produk pangan dari luar Kota Bandung”.

90 Persen Lebih dari Luar

Pandemi Covid-19, terutama di bulan-bulan awalnya, menyodorkan persoalan serius terkait isu ketahanan pangan ke hadapan warga dan pemerintah Kota Bandung. Sebuah isu penting yang sebelumnya nyaris tidak pernah dibahas dan dirumuskan secara sungguh-sungguh. Ketika bahan-bahan menjadi langka, orang baru memikirkannya secara serius.

Dengan jumlah penduduk yang terus bertambah, mencapai 2,5 juta orang menurut survei Badan Pusat Statistik (BPS) per 2019, Bandung menghadapi persoalan akut terkait keterbatasan lahan. Memilih sebagai kota jasa dan wisata, Ibu Kota Jawa Barat ini menggantungkan pemenuhan hampir 96 persen kebutuhan pangan warganya dari pasokan luar.

Merujuk data Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung per 2019, pada kondisi normal warga kota membutuhkan 120 ton telur per hari. Lebih dari 90 persen dari kebutuhan itu dicukupi oleh pasokan dari Priangan Timur, dan bahkan Blitar, Jawa Timur. Demikian juga kebutuhan daging ayam, yang mencapai 600.000 ekor per hari, yang dikirim dari wilayah Priangan Timur.

Kondisi serupa ditemui di komoditas sayuran. Semua didatangkan dari kabupaten tetangga. Termasuk, kebutuhan 175,84 ton kangkung per minggu, 88,73 ton tomat, 118, 56 ton bayam, 56,90 ton cabai rawit, serta 1,36 ton cabai merah.

Kebutuhan daging sapi, sekitar 80 ekor per hari, sama halnya. Hampir 97 persen di antaranya didatangkan dari Australia. 

Komoditi beras tak jauh beda ceritanya. Bandung punya aset sawah abadi seluas sekitar 45 hektare. Namun produksi sawah ini hanya mampu mencukupi tak lebih dari 5 persen dari total kebutuhan beras warga Bandung yang mencapai 600 ton setiap harinya.

"Bisa dibayangkan bila suatu saat pasokan distribusi terganggu akan seperti apa. Terutama di masa pandemi seperti ini di mana setiap daerah juga sedang mengamankan pasokan untuk daerah masing-masing," kata Kepala Dinas Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Bandung Gingin Ginanjar, Kamis (2/10/2020).

Salah satu masalah serius yang dekat dengan urusan ketahanan pangan suatu daerah adalah mutu gizi warganya. Data balita (bawah lima tahun) stunting bisa menjadi parameter. Di Bandung, masalah ini masih jauh dari tuntas. Per pertengahan 2020 lalu, tercatat masih ada 8.121 balita stunting. Dari jumlah tersebut, 2.700 di antaranya berusia di bawah dua tahun (batuta).

Di luar itu, sekitar 50 ribu penduduk Kota Bandung disebut masuk dalam kategori rawan stunting. Prevalensi stunting tercatat masih di angka 21,92 persen.  

Anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Kurdi Asri merawat sayuran dan buah di kawasan pemukiman padat di Astanaanyar, Kota Bandung, Rabu (18/11/2020). (AyoBandung.com/Kavin Faza)

 

Masalah Indonesia

Ketahanan pangan bukan hanya isu serius yang dihadapi Kota Bandung atau wilayah urban lainnya. Indonesia secara keseluruhan juga mengalami masalah serupa. Ketika pandemi menghantam, topik ini disadari oleh semakin banyak pihak sebagai persoalan sangat serius yang harus segera ditindaklanjuti.  

Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Tahlim Sudaryanto menyatakan, bidang pangan sangat terdampak pandemi Covid-19 terutama dalam hal ketersediaan dan penyaluran produk-produknya. Namun pada saat bersamaan, sektor pangan atau pertanian terbukti menjadi satu dari sedikit sektor yang tumbuh di masa-masa sulit ini. Tahlim menyebut sektor ini sebagai penyelamat ambruknya ekonomi nasional.

Secara khusus Tahlim juga menyoroti isu ketahanan pangan yang harus segera menjadi prioritas kebijakan pemerintah. Maraknya gerakan menanam di lahan terbatas perkotaan atau urban farming ia puji sebagai sesuatu yang positif.

“Kalau semakin banyak orang melakukannya, itu adalah alternatif. Yang menggunakan lahan-lahan tersisa di perkotaan, di pinggir rel kereta api. (Kegiatan) Ini hal positif,” tuturnya dalam webinar “Ketahanan Pangan di Masa Pandemi Covid-19”, 26 Oktober 2020.

Dalam daftar Indeks Ketahanan Pangan Global per 2019 lalu, Indonesia berada di posisi ke-62. Terjadi perbaikan dibandingkan data tahun sebelumnya yang menempatkan Indonesia di posisi ke-65. Meski demikian, Indonesia kalah jauh dari Singapura yang ada di pucuk daftar tersebut. Padahal, negara tetangga tersebut mendatangkan mayoritas bahan pangannya dari luar.

Prevalensi stunting di Indonesia juga dilaporkan mengalami tren perbaikan, dari 30,8 persen pada 2018 menjadi 27,67 persen pada 2019.

Mimpi Bersama 

Gerakan menanam di keterbatasan lahan kota atau urban farming sudah sejak lama menjadi perhatian Pemerintah Kota Bandung. Beberapa program digulirkan untuk menyokong gerakan ini. Namanya bergonta-ganti. Yang terkini, Pemkot Bandung menggulirkan program “Buruan SAE”. SAE kependekan dari Sehat, Alami, dan Ekonomis.

Program Buruan SAE mendorong tiap-tiap RW memiliki sumber pasokan pangannya masing-masing meski dalam skala kecil. Warga dalam satu RW diajak mengelola lahan yang bisa menghasilkan sayur-sayuran, ikan, atau tanaman obat keluarga. Dari lingkungan kecil inilah, Bandung memupuk mimpinya memperjuangkan ketahanan pangan.

"Pandemi ini sebenarnya ada hikmahnya. Banyak kelompok-kelompok tani baru yang awalnya tidak pernah kepikiran untuk bercocok tanam mulai tertarik. Kami malah sempat kewalahan melayani permintaan pendampingan tersebut," ungkap Kepala Dispangtan Kota Bandung Gingin Ginanjar.

Dimulai sejak akhir 2019, program Buruan SAE diklaim saat ini telah diterapkan di 128 titik yang tersebar di 151 Kelurahan yang ada di Kota Bandung. Pemkot memberikan sokongan berupa pendampingan teknis dan pemberian berbagai piranti bercocok tanam atau budidaya ikan. Juga penyediaan bibit dan pupuk.

Warga merawat sayuran yang ditanam di Buruan SAE (Sehat Alami Ekonomis) Sauyunan RW 09, Kelurahan Sadang Serang, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, Sabtu (14/11/2020). (AyoBandung.com/Irfan Al-Faritsi)

 

Wali Kota Bandung Oded M. Danial tidak sedang bercanda ketika menjadikan program terkait isu pangan sebagai salah satu prioritas di masa pemerintahannya. Ia sendiri menyulap kawasan Pendopo, yang jadi rumah dinasnya, sebagai percontohan praktik urban farming. Bersama keluarga besarnya, Oded menanam berbagai jenis sayur.

“Mimpi saya ke depan sangat sederhana. Saya mau membangun Bandung agar warga punya kemandirian pangan,” kata Oded dalam sebuah wawancara pada Juni 2020. “Mungkin orang mah bingung, kumaha bisa mandiri pangan da urang teu boga sawah (bagaimana bisa mandiri pangan, kan kita tidak punya sawah)?”

Di Bandung, mimpi memperjuangkan ketahanan pangan itu tidak hanya dihidupi Sang Wali Kota. Warga dan komunitas telah memulainya dengan cara dan gayanya sendiri-sendiri. Tanpa iming-iming, tanpa diperintah.

Editor: Tri Joko Her Riadi

terbaru

Pemkot Bandung dan BNN Dorong Kelurahan Bersih Narkoba

Bandung Jumat, 22 Januari 2021 | 20:24 WIB

Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung berkolaborasi dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) Republik Indonesia mendorong percep...

Bandung Raya - Bandung, Pemkot Bandung dan BNN Dorong Kelurahan Bersih Narkoba, Pemkot Bandung,Badan Narkotika Nasional (BNN),Kelurahan Bersih Narkoba (Bersinar)

Oded Punya Formula Khusus Menekan Peredaran Narkoba

Bandung Jumat, 22 Januari 2021 | 19:28 WIB

Wali Kota Bandung, Oded M. Danial mempunyai formula khusus menekan peredaran narkoba. Formula itu adalah memperkuat keta...

Bandung Raya - Bandung, Oded Punya Formula Khusus Menekan Peredaran Narkoba, Wali Kota Bandung, Oded M. Danial,Menekan Peredaran Narkoba,ketahanan keluarga

Ini Jurus Pemkot Bandung Cetak ASN Berkualitas

Bandung Jumat, 22 Januari 2021 | 18:40 WIB

Badan Pelatihan dan Pendidikan (BKPP) Kota Bandung bakal menggelar program Manajemen Talenta pada tahun 2021 ini. Progra...

Bandung Raya - Bandung, Ini Jurus Pemkot Bandung Cetak ASN Berkualitas, Pemkot Bandung,ASN Kota Bandung,BKPP Kota Bandung

4.761 Nakes Kota Bandung Telah Divaksin Covid-19

Bandung Jumat, 22 Januari 2021 | 15:57 WIB

Total sementara nakes dan tenaga penunjang yang akan divaksinasi di tahap pertama sebanyak 25.000 orang.

Bandung Raya - Bandung, 4.761 Nakes Kota Bandung Telah Divaksin Covid-19, Tempat vaksinasi Covid-19 Bandung,Puskesmas vaksinasi Covid-19 Bandung,Cara vaksinasi Covid-19 Bandung,Vaksinasi Covid-19 Bandung

Kasus Covid-19 di Bandung Naik, Kesembuhan Turun

Bandung Jumat, 22 Januari 2021 | 15:43 WIB

Persentasi kematian menurun hingga 2,19% di bawah nasional.

Bandung Raya - Bandung, Kasus Covid-19 di Bandung Naik, Kesembuhan Turun, Covid-19 Bandung,Update Covid-19 Kota Bandung,tren positif Covid-19 Kota Bandung,Informasi Covid-19 Kota Bandung

25 Orang Positif Covid-19 di DPRD Kota Bandung, Oded: Mengagetkan

Bandung Jumat, 22 Januari 2021 | 13:00 WIB

Operasional kantor saat ini dihentikan dan pegawai yang positif telah diisolasi.

Bandung Raya - Bandung, 25 Orang Positif Covid-19 di DPRD Kota Bandung, Oded: Mengagetkan, Ketua DPRD Kota Bandung Positif Covid-19,DPRD Kota Bandung Covid-19,DPRD Kota Bandung,Wali Kota Bandung Oded M. Danial,Klaster DPRD Kota Bandung

PPKM Jawa-Bali Diperpanjang, PSBB Kota Bandung Dilanjut

Bandung Jumat, 22 Januari 2021 | 12:26 WIB

Di Kota Bandung, PPKM tersebut diterjemahkan menjadi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Proporsional.

Bandung Raya - Bandung, PPKM Jawa-Bali Diperpanjang, PSBB Kota Bandung Dilanjut, PSBB Bandung dilanjutkan,PSBB Bandung,PPKM Jawa-Bali,PPKM Jawa-Bali Diperpanjang, PSBB Proporsional Bandung

Pemkot Bandung Bahas Keputusan Perpanjangan PSBB Proporsional Hari Ini

Bandung Jumat, 22 Januari 2021 | 09:29 WIB

Perpanjangan akan dilakukan selama dua pekan ke depan terhitung setelah 25 Januari 2021.

Bandung Raya - Bandung, Pemkot Bandung Bahas Keputusan Perpanjangan PSBB Proporsional Hari Ini, PPKM Bandung,Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM),PPKM Jawa-Bali,PPKM Kota Bandung,Jadwal PPKM Kota Bandung,PSBB Bandung, PSBB Proporsional Bandung
dewanpers