web analytics
  

Gelombang Pesepeda dari Tengah Pandemi

Senin, 30 November 2020 06:41 WIB Eneng Reni Nuraisyah Jamil
Bandung Raya - Bandung, Gelombang Pesepeda dari Tengah Pandemi, sepeda,Komunitas sepeda Bandung,jalur sepeda Bandung,Sepeda Lipat Bandung,Sepeda Lipat Brompton,boseh

Sejumlah pesepeda melintasi Jalan Ir. H. Djuanda (Dago), Kota Bandung, Minggu (27/09/20). Ditiadakannya Car Free Day (CFD) Dago, tidak membuat masyarakat lupa untuk menghabiskan aktivitas di kawasan tersebut. Sejumlah pelintas jalan, terlihat tertib mematuhi protokol kesehatan dengan memakai masker, namun masih banyak yang abai akan hal itu. (Ayobandung.com/Ryan Suherlan/Magang)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Dewi Rahmawati (45) adalah satu dari sekian banyak pesepeda ‘dadakan’ yang baru mulai rutin menggowes ketika pandemi Covid-19 melanda Kota Bandung Maret 2020 lalu. Bersama anak-anaknya yang dirundung bosan karena dipaksa banyak tinggal di dalam rumah, dia terlihat asyik menjelajahi Jalan Ir. H. Djuanda atau Dago di tiap akhir pekan.

"Kami sekeluarga ke sini (Dago-Cipakayang) setiap Minggu karena anak kan di rumah terus bosan, jadi pengin keluar. Kami akhirnya memilih bersepeda," kata Dewi saat berbincang dengan AyoBandung.com di Taman Cikapayang, Dago pertengahan Oktober 2020 lalu.

Sebelum kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) diberlakukan di Bandung pada akhir April 2020 lalu, bersepeda tidak pernah masuk dalam daftar kegiatan Dewi. Ia kesulitan melonggarkan waktu karena tanggung jawabnya sebagai seorang tenaga pengajar.

Setelah beberapa bulan bersepeda secara rutin, Dewi menemukan kegemaran baru. Selain menjaga kebugaran fisik, bersepeda menyegarkan pikiran yang terkungkung dalam tembok-tembok rumah. Apalagi, aktivitas luar ruangan ini memungkinkan dia dan keluarganya tetap berdisiplin protokol kesehatan.

Di jalan-jalan Kota Bandung, Dewi menyaksikan semakin banyak jumlah orang yang bersepeda. Lebih-lebih di akhir pekan. Bukan hanya laki-laki, tidak sedikit kaum hawa menggenjot sepeda.

Warga bersepeda di Jalan Ir. H Djuanda, Kota Bandung, Jumat (23/10/2020). 

 

Empat Tahun Bersepeda

Cerita Dedi Setiadi (43) punya cerita berbeda. Ia sudah bersepeda secara rutin jauh sebelum pandemi. Tepatnya sejak sekitar empat tahun lalu. Tidak hanya dalam kota, ia sering menjelajahi rute-rute menantang di daerah-daerah tetangga.

"Bareng anak-anak, saya bersepeda tiap akhir pekan. Kalau ama istri mah hampir tiap hari bersepeda. Jadi (bersepeda) bukan hal baru sebenernya," kata Dedi yang tinggal di perbatasan antara Kota Bandung dan Kota Cimahi.

Dedi mengatakan, ia mengajak ketiga anaknya untuk sadar hidup sehat sejak dini. Salah satunya dengan rutin bersepeda. Ini bukan urusan mudah. Butuh waktu dan kesabaran untuk mendorong anak terbiasa menjalani hidup sehat. 

"Biar mereka tahu aja, hidup sehat itu kayak gimana. Diajarin dari sekarang, jadinya (mereka) nanti terbiasa," ujar bapak tiga anak ini.

Toko dan Bengkel Ketiban Rezeki

Selama pandemi, kegiatan ekonomi melambat. Tidak sedikit yang berhenti total. Namun tidak dengan toko dan bengkel sepeda di Bandung. Gelombang pesepeda yang muncul di tengah pandemi merupakan berkah bagi para pemilik dan pekerja toko serta bengkel sepeda.

Kawasan Veteran tidak pernah sepi dari pengunjung. Bukan hanya di akhir pekan atau hari libur, deretan parkir kendaraan warga terlihat sepanjang waktu. Beberapa kali petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Bandung terpantau melakukan pengawasan dan sosialisasi penerapan protokol kesehatan di kawasan tersebut. 

Yanti, salah satu pemilik toko sepeda di Jalan Veteran, Kota Bandung, mengungkapkan, permintaan sepeda sangat tinggi sejak pandemi Covid-19. Transaksi penjualan naik 3 kali lipat dibandingkan hari-hari sebelum pandemi. Dalam sehari Yanti kini bisa menjual hingga 30 unit sepeda. Yang paling banyak dicari orang adalah jenis sepeda lipat atau Folding.

"Folding selain simpel juga mudah dibawa ke mana-mana. Dia juga bisa dipakai semua kalangan, semua umur," katanya.

Yanti menyediakan sepeda jenis Folding dengan kisaran harga bervariasi, mulai dari Rp 2 juta hingga lebih dari Rp 5 Juta per unit. Yang paling laku adalah jenis sepeda dengan harga di bawah Rp 3 juta per unit.

Eka Komalasari, pemilik salah satu bengkel sepeda di Jalan Veteran, juga kebanjiran konsumen. Dia bahkan mengaku sampai harus membuat daftar tunggu. Sedikitnya 50 unit sepeda diservis setiap hari. Beberapa yang lain terpaksa diinapkan.

“Stok suku cadang yang biasanya habis untuk jangka 3 bulan, bisa habis dalam 1 bulan. Kita juga gak ada persiapan, gak tahu. Di awal PSBB kan (konsumen) turun banget. Bahkan gak ada. Tahu-tahu melonjak drastis banget," katanya.

Bersepeda Ke Tempat Kerja, Berani?

Bermacam-macam alasan orang menggowes sepedanya. Ada yang berniat mengusir bosan karena banyak dikurung di rumah selama pandemi Covid-19. Ada juga yang melihat aktivitas bersepeda sebagai alternatif menjalani pola hidup sehat.

Wini Andriani (43), seorang karyawan swasta, telah rutin bersepeda ke tempat kerja sejak 3 tahun lalu. Dalam seminggu, dia rata-rata 2-3 kali bersepeda ke kantornya. 

"Saya seminggu paling 2-3 kali, jadi selang-seling. Apalagi di musim hujan yang lagi gede banget, kadang saya bersepeda, kadang enggak. Gak tiap hari cuma diusahain seminggu itu ada," kata Wini.

Jarak rumah Wini di Gedebage ke tempat kerjanya di kawasan Wastukencana sekitar 15 kilometer. Dia biasanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk perjalanan berangkat kerja dan 45 menit sampai 1 jam untuk perjalanan pulang.

Untuk bisa rutin bersepeda ke tempat kerja dibutuhkan perjuangan tidak sedikit. Peralatan dan bekal ganti pakaian harus disiapkan Wini di malam sebelumnya. Tiba di kantor, dia mandi dan bersalin baju kerja.

"Di kantor ada dua orang yang baru mulai bersepeda gara-gara tren gowes ini. Alhamdulillah sih, jadi nambah teman. Asalnya dulu saya cuman sendiri," ucapnya.

Sejumlah pesepeda melintasi Jalan Ir. H. Djuanda (Dago), Kota Bandung, Minggu (27/09/20). (Ayobandung.com/Ryan Suherlan/Magang)

 

Infrastruktur Belum Layak

Di Bandung, sebagian warga yang secara rutin bersepeda ke tempat kerja bergabung dalam komunitas Bike to Work (B2W) Kota Bandung. Ketuanya, Satiya Adi Wasana, 2-3 kali seminggu mengayuh sepeda dari rumahnya di Kopo ke kantor di di Parongpong, Bandung Barat.

Tiyo, panggilan akrabnya, sudah 15 tahun menggunakan sepeda sebagai alat transportasi utama dalam aktivitas sehari-harinya. Tak terkecuali berangkat kerja. Ia bergabung dengan Bike to Work pada tahun 2007 lalu.

"Kampanye kami adalah mengajak warga bersepeda ke tempat kerja, ke kampus, dan ke sekolah," katanya.

Menurut Tiyo, lajur sepeda di Kota Bandung saat ini masih didesain untuk kepentingan bersepeda di akhir pekan. Orientasinya belum memfasilitasi mereka yang menggunakan sepeda secara rutin ke kantor atau sekolah, meski sudah ada beberapa perubahan dalam lima tahun terakhir.

Euforia warga Bandung bersepeda di tengah pandemi mestinya menjadi momentum untuk mengubah kondisi itu. Pemerintah harus secara nyata memberikan dukungan pada tren positif tersebut.

"Ketika animo masyarakat bersepeda sedang tinggi, berikan fasilitasnya, misal lajur yang aman bagi pesepeda dan komunitas sepeda. Di mal-mal, adakan tempat parkir yang aman untuk sepeda,” kata Tiyo.

Tiyo berpendapat, kota yang humanis adalah kota yang aman dan nyaman bagi pejalan kaki dan pesepeda. Pembangunan kota jangan hanya fokus pada pengembangan infrastruktur bagi kendaraan bermotor saja. Kaum pesepeda dan pejalan kaki pun harus difasilitasi dengan layak sehingga semakin banyak masyarakat yang tergerak untuk semakin sering menggunakan sepeda.

Tanpa fasilitas layak, warga bukan hanya merasa tidak nyaman bersepeda. Mereka tidak aman karena sewaktu-waktu bisa dipepet atau bahkan diserempet mobil atau angkutan kota. Semakin sering bersepeda berarti semakin besar pula risiko mendapat kecelakaan.

Kota Bandung pernah memiliki lima jalur sepeda, yakni sepanjang Jalan Asia-Afrika, dari Balai Kota ke Saparua, sepanjang Jalan Dago, sepanjang Jalan Dipatiukur, dan serta Jalan Buah Batu. Namun sebagian di antaranya sudah mati suri.  

Pemkot Bandung, menurut Tiyo, sangat berkepentingan dengan budaya bersepeda yang tumbuh di tengah warga ini. Alat transportasi ini ramah lingkungan. Tidak ada emisi karbon yang dihasilkan. Dalam ukuran tertentu, bersepeda juga berkontribusi pada upaya pengurangan kemacetan kota.

Kemacetan merupakan salah satu masalah kronis yang dihadapi Bandung selama bertahun-tahun. Kajian terbaru Asian Development Bank (ADB) yang terbit akhir September 2019 lalu menyebut Kota Bandung lebih macet dibandingkan Jakarta. Dibandingkan dengan kota-kota besar lain di Asia, Bandung menempati posisi ke-14, sementara Jakarta, yang diyakini banyak orang sebagai kota paling macet se-Indonesia, berada di posisi ke-17.

Sebagai pusat ekonomi dan jasa, kota berpenduduk 2,5 juta orang ini menjadi incaran para pencari kerja yang tinggal di daerah-daerah tetangga, seperti Cimahi dan Kabupaten Bandung. Dinas Perhubungan Kota Bandung pernah menerbitkan angka perkiraan jumlah komuter tersebut sebanyak 1 juta orang. 

Untuk memberikan keselamatan bagi para pesepeda, Pemerintah Kota Bandung mewacanakan aturan di tingkat daerah menyusul adanya Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 59 Tahun 2020 tentang keselamatan pesepeda di jalan. (Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)

 

Dukungan Pemerintah

Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung mencatat peningkatan jumlah pesepeda secara signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Berdasarkan survei, di awal penerapan PSBB tercatat ada sekitar 8.400 pesepeda pada akhir pekan. Dalam sebuah acara kampanye kegiatan bersepeda di Taman Cikapayang tercatat 7 ribuan pesepeda dalam kurun tiga jam. 

Kepala Seksi Manajemen Transportasi Dinas Perhubungan Kota Bandung Sultoni menyatakan, dukungan pemerintah terhadap budaya bersepeda bukan tiba-tiba muncul di tengah pandemi. Sudah ada beberapa program dan kegiatan yang digulirkan Pemkot Bandung. Di antaranya, program Jumat Bersepeda dan kegiatan Bandung Night Ride.

Pemkot Bandung juga telah menyediakan layanan bike sharing atau penyewaan sepeda, dinamai Bike on The Street Everybody Happy (Boseh), sejak 2018 lalu. Siapa pun yang ada di Kota Bandung, baik warga maupun pelancong, bisa memakainya. Cukup dengan mengisi formulir yang disediakan oleh pengelola. Layanan Boseh bahkan dilengkapi dengan jasa pemandu wisata dan penyewaan sepeda yang bisa dipesan dengan sistem pemesanan (booking).

Layanan Boseh ini sudah tersedia di 30 titik. Selama pandemi, tercatat penambahan 4.500-an anggota baru. Besarnya minat warga untuk bersepeda ini menjadi dorongan bagi Pemkot Bandung untuk segera memperbaiki fasilitas bersepeda, termasuk pembuatan jalur sepeda dan penambahan unit sepeda.

Di masa pandemi, menyimak lonjakan jumlah warga yang bersepeda, Dishub Bandung menggelar sosialisasi rutin setiap Minggu pagi. Selain keselamatan bersepeda di jalan raya, juga diselipkan materi protokol kesehatan di masa pandemi.

Meski sudah menggulirkan beberapa program pro-pesepeda, Sultoni mengakui bahwa fasilitas bersepeda di Bandung belum terlampau mumpuni. Belum banyak jalur yang dibuat khusus untuk sepeda. Yang paling anyar adalah reaktivasi jalur sepeda di sekitaran rumah dinas Wakil Wali Kota Bandung ke Balai Kota, kawasan Lapangan Saparua, serta Jalan Sukabumi di depan gedung DPRD Kota Bandung ke Balai Kota. Juga muncul rencana reaktivasi jalur sepeda di sepanjang Jalan Ahmad Yani.

"Kemarin sempat ada masukan dari rekan-rekan pesepeda. Mereka minta jalur sepedanya ditambah. Kita tampung, dan animonya banyak positifnya akhirnya oke lah ke depan kita permanenkan," katanya.

Sultoni mengatakan, jumlah jalur sepeda yang semakin banyak diharapkan bisa membuat Bandung lebih humanis sekaligus ramah lingkungan. Pengendara sepeda yang selama ini termarginalisasi atau dikalahkan oleh raja jalanan seperti sepeda motor dan mobil, kini diberi tempat yang lebih longgar.

Kunci lainnya ada pada pembangunan budaya disiplin berlalu lintas. Salah satunya lewat penegakan aturan. Sultoni mencontohkan banyaknya pelanggaran di jalur sepeda di Jalan Riau. Pemkot Bandung mewacanakan pembuatan peraturan khusus.

Sumbangan untuk Udara Bersih

Di Kota Bandung, gas buang kendaraan bermotor merupakan penyumbang terbesar polusi udara. Kemacetan yang tidak kunjung terurai bakal membuat sumbangan ini semakin besar dari tahun ke tahun.

Selama pandemi Covid-19, terutama ketika pembatasan mobilitas warga diperketat, kualitas udara di Bandung membaik. Namun begitu PSBB diganti dengan AKB, kualitas udara kembali turun meski masih dalam kategori baik. Kota Bandung memiliki empat titik Sistem Pemantauan Kualitas Udara (Air Quality Monitoring System (AQMS), yakni PDAM Kota Bandung Dago Pakar, Mesjid Habiburahman Komplek Lanud PT Dirgantara Indonesia, Kantor Kecamatan Ujungberung, serta Kantor Dinas Perhubungan Gedebage.

"Di Ujungberung, bahkan terjadi peningkatan kembali sampai kategori sedang, sementara di lokasi lain mutu udara masih dalam kategori baik," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung Kamalia Purbani.

Selama pemberlakuan PSBB yang memaksa orang lebih banyak berdiam di rumah dari 22 April hingga 29 Mei 2020 lalu, tercatat hanya ada 157 ribu unit kendaraan yang masuk ke Kota Bandung. Begitu PSBB berakhir dan masa AKB diberlakukan, dalam dua pekan jumlah kendaraan yang masuk ke kota melonjak menjadi 304.000 unit.

Kamalia menaruh harapan tren bersepeda bakal awet, dan bahkan terus membesar menjadi budaya baru. Melibatkan semakin banyak orang dan dikerjakan secara rutin, aktivitas bersepeda bakal memberikan sumbagan signifikan pada usaha memelihara kualitas udara.

Pengamat Transportasi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Sony Sulaksono Wibowo menyambut baik gelombang pesepeda yang lahir di masa pandemi. Aktivitas bersepeda semakin dilirik sebagai alternatif untuk berwisata sekaligus berolah raga. Harapan lebih jauh lagi, animo bersepeda bisa lebih signifikan memberikan dampak pada upaya mengurai kemacetan sekaligus pada saat bersamaan meningkatkan kualitas lingkungan.

"Ini momentum yang bagus. Memang harus kita coba dorong agar kebiasaan bersepeda ini menjadi kebiasaan untuk aktivitas sehari-hari. Kalau kita berkaca di tren yang sama di Eropa, atau di beberapa kota besar di Amerika, ternyata bersepeda itu mengurangi ancaman terhadap penularan di angkutan umum. Di sini kita harus terus mendorong agar sepeda menjadi transportasi sehari-hari, bukan sekadar rekreasi," katanya.

Agar menjadi kebiasaan baru, bahkan budaya baru, dibutuhkan komitmen banyak pihak. Kehadiran komunitas sepeda, yang banyak jumlahnya di Bandung, sangat membantu. Namun sokongan pemerintah juga sama pentingnya. Terutama terkait penyediaan infrastruktur dan regulasi yang pro-pesepeda.

"Masyarakat tidak hanya ingin melihat dari wacana, ngomong sana-sini. Mereka cuman lihat 'sok kalau mendukung pesepeda mana bentuk fisiknya', jalur pesepeda diperbaiki tidak? Parkir buat pesepeda diperbaiki gak?" tutur Sony.

Ketika warga telah memulai inisiatif baik, sudah sepantasnya pemerintah memberikan sokongan penuh. Pengembangan jalur sepeda harus diwujudkan lewat pemrioritasan anggaran. Juga penyediaan regulasi untuk memberikan rasa aman bagi warga yang bersepeda.  

Sejumlah pesepeda melintasi Jalan Ir. H. Djuanda (Dago), Kota Bandung, Minggu (27/09/20).(Ayobandung.com/Ryan Suherlan/Magang)

 

Editor: Tri Joko Her Riadi

terbaru

Pemkot Bandung dan BNN Dorong Kelurahan Bersih Narkoba

Bandung Jumat, 22 Januari 2021 | 20:24 WIB

Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung berkolaborasi dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) Republik Indonesia mendorong percep...

Bandung Raya - Bandung, Pemkot Bandung dan BNN Dorong Kelurahan Bersih Narkoba, Pemkot Bandung,Badan Narkotika Nasional (BNN),Kelurahan Bersih Narkoba (Bersinar)

Oded Punya Formula Khusus Menekan Peredaran Narkoba

Bandung Jumat, 22 Januari 2021 | 19:28 WIB

Wali Kota Bandung, Oded M. Danial mempunyai formula khusus menekan peredaran narkoba. Formula itu adalah memperkuat keta...

Bandung Raya - Bandung, Oded Punya Formula Khusus Menekan Peredaran Narkoba, Wali Kota Bandung, Oded M. Danial,Menekan Peredaran Narkoba,ketahanan keluarga

Ini Jurus Pemkot Bandung Cetak ASN Berkualitas

Bandung Jumat, 22 Januari 2021 | 18:40 WIB

Badan Pelatihan dan Pendidikan (BKPP) Kota Bandung bakal menggelar program Manajemen Talenta pada tahun 2021 ini. Progra...

Bandung Raya - Bandung, Ini Jurus Pemkot Bandung Cetak ASN Berkualitas, Pemkot Bandung,ASN Kota Bandung,BKPP Kota Bandung

4.761 Nakes Kota Bandung Telah Divaksin Covid-19

Bandung Jumat, 22 Januari 2021 | 15:57 WIB

Total sementara nakes dan tenaga penunjang yang akan divaksinasi di tahap pertama sebanyak 25.000 orang.

Bandung Raya - Bandung, 4.761 Nakes Kota Bandung Telah Divaksin Covid-19, Tempat vaksinasi Covid-19 Bandung,Puskesmas vaksinasi Covid-19 Bandung,Cara vaksinasi Covid-19 Bandung,Vaksinasi Covid-19 Bandung

Kasus Covid-19 di Bandung Naik, Kesembuhan Turun

Bandung Jumat, 22 Januari 2021 | 15:43 WIB

Persentasi kematian menurun hingga 2,19% di bawah nasional.

Bandung Raya - Bandung, Kasus Covid-19 di Bandung Naik, Kesembuhan Turun, Covid-19 Bandung,Update Covid-19 Kota Bandung,tren positif Covid-19 Kota Bandung,Informasi Covid-19 Kota Bandung

25 Orang Positif Covid-19 di DPRD Kota Bandung, Oded: Mengagetkan

Bandung Jumat, 22 Januari 2021 | 13:00 WIB

Operasional kantor saat ini dihentikan dan pegawai yang positif telah diisolasi.

Bandung Raya - Bandung, 25 Orang Positif Covid-19 di DPRD Kota Bandung, Oded: Mengagetkan, Ketua DPRD Kota Bandung Positif Covid-19,DPRD Kota Bandung Covid-19,DPRD Kota Bandung,Wali Kota Bandung Oded M. Danial,Klaster DPRD Kota Bandung

PPKM Jawa-Bali Diperpanjang, PSBB Kota Bandung Dilanjut

Bandung Jumat, 22 Januari 2021 | 12:26 WIB

Di Kota Bandung, PPKM tersebut diterjemahkan menjadi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Proporsional.

Bandung Raya - Bandung, PPKM Jawa-Bali Diperpanjang, PSBB Kota Bandung Dilanjut, PSBB Bandung dilanjutkan,PSBB Bandung,PPKM Jawa-Bali,PPKM Jawa-Bali Diperpanjang, PSBB Proporsional Bandung

Pemkot Bandung Bahas Keputusan Perpanjangan PSBB Proporsional Hari Ini

Bandung Jumat, 22 Januari 2021 | 09:29 WIB

Perpanjangan akan dilakukan selama dua pekan ke depan terhitung setelah 25 Januari 2021.

Bandung Raya - Bandung, Pemkot Bandung Bahas Keputusan Perpanjangan PSBB Proporsional Hari Ini, PPKM Bandung,Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM),PPKM Jawa-Bali,PPKM Kota Bandung,Jadwal PPKM Kota Bandung,PSBB Bandung, PSBB Proporsional Bandung

artikel terkait

dewanpers