web analytics
  

Bandung Pisan: Abah Enjoem, Pecinta Seni Reak yang Mendunia

Jumat, 19 Oktober 2018 07:46 WIB Andres Fatubun
Gaya Hidup - Komunitas, Bandung Pisan: Abah Enjoem, Pecinta Seni Reak yang Mendunia, Abah Enjoem, reak, manisi, cibiru

Abah Enjoem membawa bangbarongan di Sanggar Tibelat, Manisi, Kecamatan Cibiru. Rabu, 17/10/2018. (Siti Rahayu/ayobandung) (Siti Rahayu/ayobandung)

CIBIRU, AYOBANDUNG.COM -- Abah Enjoem adalah salah satu orang yang memiliki perhatian lebih terhadap seni reak, yang dipercaya merupakan tradisi peninggalan leluhur. Ia juga merupakan pendiri Sanggar Seni Tibelat sekaligus Komite Tradisi Dewan Kesenian Kota Bandung.

Karena kecintaannya terhadap seni reak, ia berhasil membawa reak ke kancah internasional. 

Pada 2017, Abah Enjoem dengan seniman asal Indonesia lainnya diberikan kesempatan memperkenalkan reak kepada penduduk Melbourne, Australia dengan membawa berbagai instrumen seni seperti bangbarongan dan dogdog. Tak hanya reak, ia dan seniman lainnya juga turut mengenalkan seni tari, karawitan, kawih, seni rupa, dan teater.

Saat ditemui di kediamannya, dengan menggunakan pakaian senada berwarna putih dan tak lupa ikat kepala khas sunda, ia bercerita kesenian reak ini bak magnet bagi berbagai kalangan. Tak hanya bagi warga lokal, namun warga internasional juga.

"Sudah ada beberapa turis yang datang untuk mengenal atau bahkan mempelajari kesenian reak, mulai dari New York, Australia, Lebanon, Denhaag, Jepang, dan Amerika," ujarnya saat diwawancari Ayobandung.com (17/10/2018).

Tak hanya itu, Sanggar Seni Tibelat juga diketahui telah mendapat penghargaan dari Balai Pelestarian Budaya (BPNB) pada 2014 serta mendapatkan bantuan sebesar Rp100 juta 

Menurut penuturan Abah Enjoem, hal tersebut menjadi tuntutan berat baginya. 

"Penghargaan yang diterima kami dapatkan dari masyarakat sehingga harus dirasakan kembali oleh masyarakat," tuturnya.

Ia juga bercerita tentang lika-liku mengembangkan seni reak

Pada tahun 90-an, seni reak sempat dilarang keberadaannya karena gempuran kebudayaan luar yang mulai masuk ke Indonesia. Walaupun rasa cintanya terhadap seni reak sudah tumbuh sejak ia kecil, ia baru mulai terjun sekaligus mendalami seni tersebut pada tahun 2000. Ia juga turut merangkul kalangan pemuda pada saat itu untuk turut membantu mendirikan sanggar Tibelat.

Abah Enjoem memiliki filosofisnya sendiri mengenai seni reak, terutama dalam instrumen musik yang mengiringinya. Terdapat lima alat waditra dogdog masing-masing memiliki sebutan yang berbeda, yakni tilingtit, tong, brung, bangplak,dan bedug. Jika kelima alat musik tersebut dimainkan, akan menghasilkan bunyi yang ditafsirkan olehnya ke dalam kalimat "gera indit tong embung gera tumamprak lamun bedug engges datang". Kalimat tersebut berarti seruan bagi umat muslim untuk salat.

Secara historis, eksistensi reak dimulai sejak abad ke-18 yang berasal dari wilayah Pantura, Indramayu, dan Cirebon. Reak mulai merambah ke Sumedang melalui para pedagang, kemudian masuk ke wilayah Cibiru pada tahun 1930-an dan mulai berkembang di tahun 1964. 

Kata reak berasal dari kata areak-eakan yang artinya suka cita. Oleh karena itu, tak heran jika pada saat itu reak sering dipakai untuk hajat lembur atau sebagai ritual ketika masyarakat panen padi sebagai bentuk syukur dan suka cita.

Seiring berkembangnya zaman, reak mulai ditampilkan di berbagai acara. Mulai dari hajatan, khitanan, atau bahkan festival seni dan budaya.

Tak heran jika sanggar yang digawangi oleh Abah Enjoem bisa puluhan kali pagelaran reak setiap tahunnya. Tak hanya reak, Sanggar Tibelat juga memadukan reak dengan tarian sebagai bentuk inovasi dari kesenian tersebut.

Abah Enjoem berharap agar pemerintah memberikan perhatian lebih demi keberlangsungan seni reak  Ia juga berharap dapat memberikan edukasi mengenai seni reak kepada semua orang, khususnya anak sekolah. 

"Mimpi saya, kesenian reak ini dapat menjadi pelajaran muatan lokal di sekolah sebagai wadah kreativitas anak-anak yang memiliki potensi untuk melestarikan kesenian reak," pungkasnya.

 

Editor: Andres Fatubun
dewanpers