web analytics
  

Kemendikbud: Harus Ada Reformasi Buku Besar-besaran

Kamis, 26 November 2020 20:39 WIB Redaksi AyoBandung.Com
Umum - Pendidikan, Kemendikbud: Harus Ada Reformasi Buku Besar-besaran, Kemendikbud,Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi),Reformasi Buku

Pameran Buku. (Irfan Al-Faritsi)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Dunia perbukuan mengalami disrupsi ganda, akibat perkembangan teknologi dan deraan pandemi Covid-19. Tak ada pilihan bagi industri perbukuan, selain melakukan perubahan agar tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Kepala Badan Litbang dan Perbukuan Kemendikbud, Totok Suprayitno, menilai buku-buku yang beredar saat ini, termasuk yang diterbitkan oleh Kemendikbud, belum cukup merefleksikan dinamika global.

"Harus ada reformasi besar-besaran supaya cocok dengan kebutuhan pembelajaran di masa depan," ujar Totok saat mengisi acara Munas Ke-19 Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) hari kedua, Kamis (26/11/2020) di Jakarta.

Menurut Totok, dinamika global telah melahirkan tantangan bagi dunia pendidikan, termasuk berimplikasi terhadap ekosistem perbukuan. Setahun lalu dinamika itu baru bersumber pada disrupsi teknologi. Dunia perbukuan harus bersiap dalam berbagai adaptasi, misalnya dengan pengembangan buku digital, mengombinasikan teks dengan video dan wahana lain yang bisa menjadi perangkat ajar yang jauh lebih menarik.

Pada 2020, pandemi memaksa percepatan adopsi teknologi terhadap semua aspek kehidupan masyarakat. Tuntutan pekerjaan berubah. Ada pekerjaan yang hilang, namun ada pekerjaan dan jenis kemampuan (skill) baru yang muncul. “Terlihat pergeseran tuntutan kompetensi orang yang bekerja,” kata Totok.

Totok berharap, buku-buku yang terbit saat ini merefleksikan perubahan tersebut. “Apakah  buku-buku kita sudah cukup untuk membekali anak-anak untuk pekerjaan yang emerging di masa depan,” ujarnya. Sebagaimana karakter pekerjaan yang bertahan di masa depan, buku juga harus mencerminkan pembelajaran berorientasi pada keterampilan berpikir tinggi (HOTS). Ciri-cirinya antara lain kemampuan menyelesaikan masalah yang kompleks, kemampuan interpersonal, kritis, kreatif, dan kemampuan beradaptasi terhadap ketidakpastian.

Menurut Totok, pendidikan harus menyiapkan anak-anak untuk menyambut masa depan, bukan menyiapkan anak-anak untuk pekerjaan yang akan hilang. Demikian pula buku untuk anak-anak sekolah, mengingat buku bagi banyak guru adalah representasi, penerjemahan, dan operasionalisasi kurikulum.

Kebijakan Kemendikbud, kata Totok, pada intinya adalah membangun sebuah ekosistem yang mendorong pembelajaran dengan paradigma baru, yaitu pembelajaran yang melengkapkan ragam berpikir anak sampai ke tahap HOTS. Sebagaimana juga menjadi acuan Programme for International Student Assesment (PISA), ragam berpikir anak mencakup kemampuan mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta. Untuk melihat refleksi di tingkat pemikiran kritis, anak-anak harus bisa menggali logika di balik teks dan bisa menjawab atau mencari solusi dari pertanyaan.

Untuk mendorong kemampuan berpikir kritis, menyelesaikan masalah, berkolaborasi, berkomunikasi, buku tamemberikan bekal pengetahuan konten belaka. Buku harus membawa anak-anak belajar di dunia nyata dan memberikan contoh konteks dunia nyata. Menurut Totok, Indonesia sangat beraneka ragam, sehingga tidak adil kalau buku dibuat seragam untuk seluruh negeri. Untuk anak-anak Papua, misalnya, tidak tepat gambaran buku yang “Jawa-sentris”, misalnya yang bercerita tentang jalan tol atau rel kereta. “Dalam rangka merdeka belajar, keragaman buku didorong, tidak dimonopol,” kata Totok.

Ia mendorong penerbitan buku muatan lokal yang mencerminkan keragaman konteks Indonesia. Kearifan lokal bisa diangkat, namun harus dengan cara kreatif. Isinya tidak hanya mencakup bahasa, melainkan bisa juga pengenalan seni, sejarah lokal, dan situs lokal yang membawa sejarah peradaban.

Totok prihatin rendahnya skor kemampuan literasi anak-anak Indonesia menurut PISA. “Andai saja anak-anak dibiasakan membaca, apa saja, dongeng yang baik secara value, majalah, koran, ini mampu menaikkan skor sampai 50 poin PISA,” katanya. Untuk meningkatkan nilai indek aktivitas literasi, saat ini yang penting anak-anak bisa membaca dulu, baru kemudian akses literasi ditingkatkan, dalam bentuk perpustakaan, sekolah, tenaga, juga buku.

Munas ke-19 Ikapi berlangsung 25-28 November 2020. Pada hari ketiga, Jumat pagi (27/11), akan berlangsung diskusi perbukuan dengan subtema “Menguatkan Industri Perbukuan dengan Program Literasi Nasional” yang menghadirkan Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpustakaan Nasional Ofy Sofiana MHum dan Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Desa, PDT, dan Transmigrasi Dr. Ivanovich Agusta. 

Editor: Dadi Haryadi

terbaru

Keluarga Jadi Kunci Tingkatkan Minat Baca saat Pandemi

Pendidikan Rabu, 27 Januari 2021 | 21:15 WIB

Media digital dinilai bisa menjadi pilihan andalan dalam pengembangan budaya membaca di masa pandemi Covid-19. Keluarga...

Umum - Pendidikan, Keluarga Jadi Kunci Tingkatkan Minat Baca saat Pandemi, Meningkatkan Minat Baca,budaya membaca,Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI),Minat Baca saat Pandemi,Membaca Buku

Dino Pati Djalal Pimpin Prodi Magister HI Unjani

Pendidikan Selasa, 26 Januari 2021 | 19:46 WIB

Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani) kini memiliki program studi (prodi) Magister Hubungan Internasional. Didaulat...

Umum - Pendidikan, Dino Pati Djalal Pimpin Prodi Magister HI Unjani, Unjani,Dino Patti Djalal,prodi Magister Hubungan Internasional

Kemendikbud: Asesmen Nasional (AN) Berbeda dengan Ujian Nasional (UN)

Pendidikan Selasa, 26 Januari 2021 | 15:19 WIB

AN mulai dilaksanakan tahun ini pada September dan Oktober 2021.

Umum - Pendidikan, Kemendikbud: Asesmen Nasional (AN) Berbeda dengan Ujian Nasional (UN), Asesmen Nasional (AN),Ujian Nasional (UN),Kepala Pusat Asesmen dan Pembelajaran Kemendikbud Asrijanty,penilaian karakter

Maya Nabila, Mahasiswi S3 Termuda ITB Berusia 21 Tahun

Pendidikan Selasa, 26 Januari 2021 | 13:10 WIB

Maya Nabila menjadi mahasiswi termuda pada jenjang pendidikan Strata-3 (S3) ITB pada PMB ITB Tahun Akademik 2021/2022. S...

Umum - Pendidikan, Maya Nabila, Mahasiswi S3 Termuda ITB Berusia 21 Tahun, Mahasiswa termuda S3 ITB,mahasiswa ITB,Mahasiswa termuda ITB,ITB,Maya Nabila

Mendikbud: SMKN 2 Padang Intoleran dan Langgar Pancasila

Pendidikan Minggu, 24 Januari 2021 | 13:57 WIB

Nadiem menilai aturan yang dibuat SMK Negeri 2 Padang sudah melanggar berbagai peraturan bahkan melanggar nilai-nilai Pa...

Umum - Pendidikan, Mendikbud: SMKN 2 Padang Intoleran dan Langgar Pancasila, SMKN 2 Padang,aturan pakaian siswi di SMKN 2,Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim,Intoleran dan Langgar Pancasila,Nadieum Makarim,intoleransi atas keberagaman

Khawatir Lost Learning, Sekolah yang Tidak Bisa Jalankan PJJ Harap Dib...

Pendidikan Jumat, 22 Januari 2021 | 16:23 WIB

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengimbau kepada seluruh pemerintah daerah agar segera memb...

Umum - Pendidikan, Khawatir Lost Learning, Sekolah yang Tidak Bisa Jalankan PJJ Harap Dibuka, pembelajaran jarak jauh (PJJ),kehilangan kemampuan dan pengalaman belajar,(Mendikbud) Nadiem Makarim,Sekolah Tatap Muka

Ini Jadwal Pelaksanaan Asesmen Nasional

Pendidikan Kamis, 21 Januari 2021 | 21:03 WIB

Pelaksanaan Asesmen Nasional (AN) diundur. Pengunduran jadwal Asesmen Nasional ini disampaikan Mendikbud dalam Rapat Ker...

Umum - Pendidikan, Ini Jadwal Pelaksanaan Asesmen Nasional, Asesmen Nasional (AN),Syarat Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB),Jadwal Asesmen Nasional

Tips Cepat dan Mudah Belajar Bahasa Inggris

Pendidikan Rabu, 20 Januari 2021 | 01:07 WIB

Di tengah kemudahan teknologi dan ramainya platform media massa, belajar bahasa Inggris kini tak harus selalu secara for...

Umum - Pendidikan, Tips Cepat dan Mudah Belajar Bahasa Inggris, Belajar Bahasa Inggris,Cara Mudah Belajar Bahasa Inggris,Cara Cepat Belajar Bahasa Inggris
dewanpers