web analytics
  

Mantan Rektor Unpar Bandung Benedictus Suprapto Brotosiswojo Tutup Usia

Kamis, 26 November 2020 15:15 WIB Tri Joko Her Riadi
Umum - Pendidikan, Mantan Rektor Unpar Bandung Benedictus Suprapto Brotosiswojo Tutup Usia, Benedictus Suprapto Brotosiswojo,Unpar Bandung,Universitas Katolik Parahyangan

Benedictus Suprapto Brotosiswojo, mantan rektor Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung, tutup usia di Bandung, Kamis (26/11/2020) dini hari. (http://unpar.ac.id/)

CIDADAP, AYOBANDUNG.COM -- Benedictus Suprapto Brotosiswojo, mantan rektor Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung, tutup usia di Bandung, Kamis (26/11/2020) dini hari. Menjabat rektor dari 1998 hingga 2002, ia berhasil membawa Unpar mengarungi periode kritis bangsa pascapemerintahan Orde Baru. Pada tahun 2000, Unpar dipercaya sebagai perguruan tinggi swasta pertama penyelenggara Program Doktor di Indonesia.

Sebagai akademisi, Benny, panggilan akrab Benedictus Suprapto Brotosiswojo, aktif mengembangkan bidang ilmu fisika, terutama komputasi kuantum. Selain kinerjanya di berbagai jabatan strategis, tercatat setidaknya terbit tiga buku yang ia tulis tentang keilmuan yang ia tekuni ini, yaitu Fisika Kuantum (2004), Pengantar Teori Komputasi Kuantum (2005), serta Merentang Permodelan Matematika Gejala Alam dengan Bantuan Mesin Komputer (2006). Benny juga menerbitkan buku otobiografi Catatan 70 Tahun.

Dengan pengalaman dan sumbangannya yang merentang bagitu panjang, Benny tetap dikenal sebagai sosok yang “ramah, murah senyum, dan rendah hati” oleh para koleganya. Dalam wawancara yang diterbitkan di buletin Sancaya, ia membagikan pengalamannya ketika memimpin Unpar di tahun-tahun menentukan itu.

“Pada waktu itu ada eforia tentang pentingnya transparansi. Ini terkait erat dengan awal krisis besar yang dialami Bangsa Indonesia pada waktu itu. Persisnya adalah krisis pemerintahan. Ketika itu Suharto digulingkan dari jabatannya sebagai Presiden. Ada tuntutan transparansi dan keterbukaan dalam hal informasi dan komunikasi pada waktu itu,” tutur Benny dalam wawancara yang dijuduli "Pendidikan yang Mendewasakan" itu.

Lahir di Yogyakarta pada 20 Mei 1934, Benny menyelesaikan studi doctorandus di Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam (FIPIA) Universitas Indonesia di Bandung (sekarang Institut Teknologi Bandung/ITB) pada 1960. Empat tahun kemudian ia berhasil mempertahankan disertasinya di Departement of Physics and Astronomy, Purdue University, Indiana, Amerika Serikat.

Benny aktif terlibat di Pengurus Yayasan Unpar sejak 1968. Ia dipercaya sebagai Ketua Yayasan Unpar periode 1989-1998. Di masa itulah, tepatnya pada 1993, Unpar membuka Fakultas Teknologi Industri (FTI) dan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) yang kini bersalin nama menjadi Fakultas Teknologi Informasi dan Sains (FTIS). Dua tahun kemudian, dibuka Program Magister.

Kiprah Benny di bidang keilmuan tidak terbatas di lingkungan Unpar. Ia memegang banyak posisi strategis. Diantaranya, Direktur Lembaga Fisika Nasional (LFN) periode 1964-1974, Associate Member The Abdus Salam International Center for Theoretical Physics (ICTP) periode 1971-1975, serta pengurus Himpunan Fisika Indonesia yang didirikan pada 1973. Benny juga tercatat pernah berkarier di birokrasi pemerintah pusat sebagai Direktur Pendidikan Menengah Umum (Dikmenum) Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (P&K) Republik Indonesia periode 1976-1988 lalu Direktur Pendidikan Menengah Kejuruan (Dikmenjur) periode 1988-1992. Ia juga menjabat Rektor (Kedua) Universitas Terbuka periode 1992-1996.

Pada 2007, Benny terpilih sebagai satu dari 14 Guru Besar ITB penerima Anugerah Sewaka Winayaroba dari Pemerintah Indonesia. Pada 2013, giliran Yayasan Unpar memberikan Anugerah Arntz-Geise atas jasa besarnya mengembangkan Unpar.

Misa requiem dan upacara penghormatan terakhir bagi Benny akan dilangsungkan Jumat (27/11/2020) mulai pukul 10.00 WIB di Lobby Gedung Rektorat Unpar, Jalan Ciumbuleuit Bandung. Kegiatan ini akan ditayangkan lewat layanan streaming di akun Youtube Unpar.

Editor: Tri Joko Her Riadi
dewanpers