web analytics
  

Kesepakatan Tak Tercapai, Israel-Saudi Tetap Bersekutu Melawan Iran

Kamis, 26 November 2020 14:35 WIB Netizen Sjarifuddin Hamid
Netizen, Kesepakatan Tak Tercapai, Israel-Saudi Tetap Bersekutu Melawan Iran, Joe Biden,Iran,Benyamin Netanyahu,Mohammed bin Salman,Palestina,Revolusi Islam

Ilustrasi. (Pixabay)

Sjarifuddin Hamid

Lulusan Jurusan Hubungan Internasional, FISIP-UI. Pernah bekerja pada beberapa surat kabar nasional.

AYOBANDUNG.COM -- Apa makna yang bisa ditarik dari pertemuan PM Israel Benyamin Netanyahu dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman di kota Neom, Arab Saudi pada Minggu, 22 November 2020? Suatu pertemuan yang makin memojokkan Iran dan berpeluang melemahkan magnitude masalah Palestina dalam hubungan kedua negara.

Badan Intelijen Saudi dan Israel sudah bertahun-tahun membangun hubungan tidak resmi. Keduanya saling berbagi infomasi, utamanya mengenai Iran dan dukungannya bagi gerakan perlawanan di Syria, Yaman, Lebanon, dan Irak.

Kerja sama intelijen itu menggarisbawahi pertemuan di Neom, dengan topik membahas hubungan diplomatik kedua negara dan perilaku Iran. Ternyata Ryadh tidak memberi respons memadai mengenai pembukaan hubungan diplomatik dan mengakui Israel sebagai sebuah negara, sebagaimana yang sudah dilakukan Bahrain, Oman, dan Uni Emirat Arab.

Perkembangan di atas menunjukkan Mohammad bin Sultan (MBS) sangat berhati-hati dan menyadari dia berstatus sebagai Putra Mahkota. Setiap keputusan terhadap Israel harus disetujui raja dan keluarga kerajaan. Keputusan harus berdasarkan konsensus karena mempertaruhkan keutuhan keluarga kerajaan.

Raja Salman bin Abdul Aziz disebut mendukung rakyat Palestina untuk memperoleh kemerdekaan dan mendirikan negara. Raja dikabarkan marah karena tidak diberitahu oleh MBS bahwa UAE sudah mencapai kesepakatan dengan Israel.

Dia lalu memerintahkan Menlu Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan al Saud untuk mendukung Palestina.

Sebaliknya, MBS sengaja tidak memberi tahu ayahnya karena khawatir akan menggagalkan kesepekatan. MBS menyukai Israel demi kepentingan bisnis serta membangun kerja sama menghadapi Iran.

Dalam perkembangan yang sama Kepala Mossad Yoshi Cohen, yang merintis hubungan diplomatik dengan Bahrain dan UAE yakin Arab Saudi suatu ketika akan turut bergabung. Kedua negara akan tetap bekerja sama dalam senyap.

Siapa beruntung?

Semenjak Revolusi Islam yang dipimpin Iman Khomeini dan tumbangnya Presiden Irak Saddam Hussein. Iran, yang mayoritas penduduknya berpaham Syiah, muncul sebagai pesaing Arab Saudi di Teluk Persia khususnya dan Timur Tengah pada umumnya.

Kecenderungan tersebut mencemaskan negara-negara di sekitar Teluk Persia, yang warga negaranya mayoritas Sunni. Selain didukung Amerika Serikat, mereka mengupayakan bantuan dari Israel. Bantuan dalam bentuk informasi intelijen dan teknologi di berbagai bidang.

Hubungan tidak harmonis itu setidaknya didasarkan kepada tiga aspek. Pertama, penguasaan atas pulau Abu Musa, Tunb Besar dan Tunb Kecil di mulut Teluk Persia.

Emirat Sharjah, berhasil mencapai kesepakatan tentang Abu Musa dengan Iran. Tetapi Emirat Rash Al Khaimah belum mencapai kesepakatan tentang Tunb Besar dan Tunb Kecil dengan Iran. Perlu diketahui Sharjah dan Ras al Khaimah adalah dua dari tujuh keemiratan yang tergabung dalam Uni Emirat Arab (UAE) yang beribukota Abu Dhabi.

Isu itu dewasa ini tidak terlalu mengemuka dibandingkan perbedaan paham Sunni dengan Syiah, keduanya merasa lebih benar dari yang lain. Perbedaan itu ‘dipelihara’ dan terus menyala sampai sekarang. Media-media Barat selalu menonjolkan aspek perbedaan itu. Mereka memojokkan Iran yang kritis terhadap Barat dan sebagian besar rakyatnya menganut faham Syiah.

Perbedaan itu sekarang meluas ke arah politik Iran mendukung pemerintah di Syria, gerakan perlawanan melawan Israel di Lebanon (Hisbullah) dan gerakan perlawanan di Yaman (Houthi) dan negara lain. Berkat bantuan Iran, mereka muncul menjadi kekuatan yang tangguh.

Militer Saudi terjun langsung di Yaman, tetapi ternyata kemampuannya kalah jauh. Bahkan pernah diberitakan, pesawat tempur Amerika Serikat harus berada di depan untuk membimbing pilot-pilot pesawat tempur Saudi melakukan pemboman.

Israel memerlukan Saudi cs untuk mengimbangi atau bahkan menahan pengaruh Teheran. Tak banyak pula yang mengetahui bahwa Tel Aviv juga membantu Azerbeijan dalam melawan Armenia. Azerbeijan berbatasan dengan Iran.

Dengan demikian bila Ryadh mau membuka hubungan dengan Tel Aviv, maka akan merupakan kemenangan besar bagi Israel. Tahap berikutnya adalah membuka hubungan diplomatik dengan Indonesia, negara dengan penduduk mayoritas Islam terbanyak di dunia.

Perang itu Bergeser

Medan konflik dunia dalam abad modern bergeser dari satu wilayah ke wilayah yang lain. Perang Dunia I dan II berlangsung di Eropa dan Asia. Disusul Perang Korea, Perang Vietnam, Timur Tengah, Afghanistan, Perang Teluk dan kembali ke Afghanistan.

Sekarang, Timur Tengah masih membara. Upaya buat menggesernya ke Laut China Selatan belum berhasil, namun belum berarti gagal.

Dari sekalian banyak peperangan itu, blok Barat terutama Amerika Serikat yang paling banyak memperoleh manfaat. Jargon demokrasi dan kemanusiaan serta dukungan media membuat Washington menjadi penguasa dunia.

Bagaimana Presiden Joe Biden menyikapi perkembangan di atas? Apakah melalui cara-cara yang mengundang konflik atau diplomasi? Namun China bukanlah lawan enteng. Negara ini sejak berabad-abad lalu menjadi lahan konflik antar kekaisaran.

China mempunyai Jenderal Sun Tzu, tahun 545 Sebelum Masehi-470 Sebelum Masehi, yang mengingatkan perang akan dimenangkan bila suatu negara memiliki kekuatan moral dan intelektual. Lebih jauh, suatu negara harus mempunyai kekuatan yang terdiri dari geostrategi, moralitas, power dan perhitungan yang matang.

Rakyat China masih ingat bagaimana mereka ditipu Inggris dalam perang Candu hingga harus menyerahkan Hong Kong dan Makau. Mereka merasa dipermalukan.

Hong Kong diserahkan kembali ke China pada 1997, berdasarkan kesepakatan bersama pada tahun 1984. Terkait soal ini, PM Margareth Thatcher dalam memoirnya The Downing Street Years, mengungkapkan pertemuan dengan pemimpin China Deng Xiao Ping di Balai Besar Rakyat, Beijing pada September 1982.

Ketika itu Thatcher mengisyaratkan Inggris belum akan menyerahkan Hong Kong, tetapi Deng menjawab, besok kami akan pergi ke sana dan menguasainya.  

Jelas China bukan lawan yang enteng sekalipun Joe Biden akan terus mengangkat ‘penindasan’ atas suku Uyghur di Xinjiang. Ini berarti Timur Tengah akan tetap dibuat membara dengan target Iran.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: M. Naufal Hafizh

terbaru

Hobi Bagaikan Harta Karun

Netizen Jumat, 7 Mei 2021 | 15:40 WIB

Setiap pekerjaan pasti merasakan suka dan duka. Tetapi, dengan dasar hobi, pekerjaan jadi terasa lebih menyamankan.

Netizen, Hobi Bagaikan Harta Karun, Hobi,Harta Karun,Pekerjaan,Menulis

Confident Humility, Hal yang Rumpang pada Masa Kini

Netizen Jumat, 7 Mei 2021 | 15:10 WIB

Jika kita terlalu percaya diri maka akan nampak arogan. Di lain sisi, jika tidak punya kepercayaan diri sama sekali maka...

Netizen, Confident Humility, Hal yang Rumpang pada Masa Kini, Confident Humility,Hal yang Rumpang,Masa Kini,Filosofi  Hidup,Kepercayaan Diri,Kerendahan Hati

Sawahkurung, Sawah Terakhir di Pusat Kota Bandung

Netizen Jumat, 7 Mei 2021 | 14:30 WIB

Bila ditelusuri, nama-nama geografi itu mengabadikan perkembangan kota, seperti halnya yang terjadi di Kota Bandung.

Netizen, Sawahkurung, Sawah Terakhir di Pusat Kota Bandung, Sawahkurung,Sawah Terakhir,Pusat Kota Bandung,Sejarah,Geografis

Pendidikan Seksual Bukan Hanya Tentang Seks dan Kontrasepsi

Netizen Kamis, 6 Mei 2021 | 15:36 WIB

Berbicara soal seks memang selalu menuai kontroversi dan selalu menjadi topik yang sensitif.

Netizen, Pendidikan Seksual Bukan Hanya Tentang Seks dan Kontrasepsi, Pendidikan Seksual,Seks,kontrasepsi,Oran Tua,Anak,Sex education

Ketika Rumahku Bukan Istanaku

Netizen Kamis, 6 Mei 2021 | 15:00 WIB

Apakah rumah memang tempat yang aman?

Netizen, Ketika Rumahku Bukan Istanaku, Rumahku Bukan Istanaku,Catatan Kelam Perempuan,Stress,KDRT,KDRT Secara Seksual,Perceraian

Sony Xperia, 'Limbah Jepang' yang Tak Pernah Sepi Peminat

Netizen Rabu, 5 Mei 2021 | 14:23 WIB

Walaupun secara resmi Sony sudah menarik peredaran ponselnya di tanah air, peminat dari ponsel ini justru tidak pernah s...

Netizen, Sony Xperia, 'Limbah Jepang' yang Tak Pernah Sepi Peminat, Sony Xperia,Ponsel,Teknologi,smartphone,Jepang

Anggota Perhimpunan Batavia Menulis Adat Bengang

Netizen Rabu, 5 Mei 2021 | 10:18 WIB

Apa saja kontribusi yang diberikan oleh Kartawinata selama menjadi anggota Perhimpunan Batavia?

Netizen, Anggota Perhimpunan Batavia Menulis Adat Bengang, Anggota Perhimpunan Batavia,Adat Bengang,Raden Kartawinata,Bataviasch Genootschap voor Kunsten en Wetenschappen (BGKW)

Mengapa Mudik?

Netizen Selasa, 4 Mei 2021 | 12:55 WIB

Meski kini pemerintah melarang mudik. tradisi mudik ini tidak akan pernah berhenti pada satu generasi.

Netizen, Mengapa Mudik?, Mudik,Larangan Mudik,Mengapa Mudik?

artikel terkait

dewanpers