web analytics
  

Warga Sunda Wiwitan Cireundeu, Kelompok Rentan yang Tangguh Hadapi Pandemi

Selasa, 1 Desember 2020 12:42 WIB Rizma Riyandi
Bandung Raya - Cimahi, Warga Sunda Wiwitan Cireundeu, Kelompok Rentan yang Tangguh Hadapi Pandemi, Cireundeu,Sunda Wiwitan,Kampung Adat Cireundeu,muslim,corona,zona merah,Kota Cimahi,ajaran leluhur

Gerbang Kampung Adat Cireundeu, Desa Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Jawa Barat. (Ayobandung.com/Rizma Riyandi)

CIMAHI, AYOBANDUNG.COM -- Pandemi mengguncang kehidupan masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Sektor kesehatan dan ekonomi porak-poranda diterpa badai Covid-19 yang tak kunjung reda. PHK terjadi di mana-mana. Banyak orang kehilangan pekerjaan hingga tak bisa makan.

Namun frasa tersebut hanya terdengar seperti dongeng belaka bagi masyarakat yang tinggal di balik lekuk 'lamping' perbukitan Cireundeu, Desa Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Jawa Barat. Permukiman yang dikenal sebagai Kampung Adat Cireundeu itu terasa aman dan damai meski pandemi melanda seluruh bagian negeri.

Warga muslim dan para penghayat sunda wiwitan di sana hidup saling berdampingan, tanpa kekurangan satu hal pun. Mereka terlihat sehat dengan wajah-wajah yang tampak lebih muda dari umur badan. Anak-anak pun berlarian penuh keceriaan menyusuri jalan setapak perkampungan.

Kaum wanitanya sibuk mengasuh bocah. Adapula yang mengerjakan urusan rumah. Sementara para lelaki, beberapa ada yang kerja di kebon, menanam singkong dan palawija lainnya. Sejumlah kecil ada yang terlihat berangkat kerja ke kantor atau pabrik menggunakan kendaraan beroda dua.

"Apa itu corona? Di sini mah tidak ada corona," ujar Ketua Adat Kampung Cireundeu Abah Emen Sunarya kepada Ayobandung.com, Senin (16/11/2020).

Sang tetua adat bertanya 'Apa itu corona?' bukan berarti dia tak tahu ada virus yang melanda dunia. Di rumahnya terdapat televisi, bahkan terpasang wifi. Tentu saja Abah Emen bisa mengakses informasi tentang virus corona yang sedang jadi perbincangan semua orang. Toh, dia adalah seseorang yang berpendidikan dan pernah menjadi guru di sekolah formal.

Namun dia memilih tak begitu memusingkan Covid-19. Alasannya, belum ada satupun warga di kampungnya yang terkena virus mematikan tersebut. Hingga saat ini mereka masih menjalani kehidupan yang normal. Padahal Kota Cimahi sempat beberapa kali berstatus zona merah dan memukul perekonomian di sana.

"Yang bekerja ya kerja, yang bertani ya tani," tutur Abah Emen.

Apalagi terkait sektor pangan dan perekonomian, pria berusia 84 tahun itu merasa tak ada perubahan yang berarti dengan adanya pandemi. Menurutnya pasokan makanan warga Kampung Adat Cireundeu masih aman-aman saja. Semua warga penghayat makan beras singkong seperti biasanya.

Tak ada lonjakan harga pangan yang mencekik warga. Karena warga menanam singkong dan mengolahnya sendiri.

Hal ini pun diakui salah seorang warga penghayat kampung Cireundeu, Sudrajat. Menurutnya, kehidupan warga Kampung Adat Cireundeu masih berjalan normal meski ada pandemi di luar.

Pria yang akrab disapa Jajat itu menuturkan, sebagian besar warga Cireundeu hidup bergantung pada sektor pertanian. Mereka mengolah lahan dan membuat sendiri bahan makanan. Namun ada pula yang bekerja di luar. Tapi untuk kebutuhan pangan, masyarakat yang bekerja di luar juga tetap mengandalkan produksi beras singkong dalam kampung.

"Ya, untuk ekonomi sih tidak terpengaruh apa-apa. Karena siklusnya kan hanya di dalam perkampungan saja. Di sini kita mengolah makanan sendiri, tidak mengandalkan pasokan dari luar," ungkap Jajat.

Meski Kampung Cireundeu juga kerap didatangi wisatawan, kehadiran tamu ke kampung tersebut tidak dijadikan sebagai mata pencaharian utama. Bisa dibilang, pemasukan dari kegiatan wisata hanya sebagai sampingan semata.

Walau corona tidak berdampak apapun bagi warga, untuk menjaga keamanan bersama dan mengikuti intruksi pemerintah, pengurus kampung adat juga menyediakan protokol kesehatan di area wisata. Seperti di Bale, disediakan tempat cuci tangan lengkap dengan sabun cuci tangan. Wisatawan juga diwajibkan memakai masker dan menjaga jarak saat berkunjung.

cireundeu-protokol-kesehatan.jpg" />
Salah satu tempat cuci tangan di Bale, Kampung Adat Cireundeu, Desa Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Jawa Barat. Pengurus kampung adat menyediakan sarana penunjang protokol kesehatan bagi warga maupun wisatawan. (Ayobandung.com/Rizma Riyandi)

 

Jajat mengakui pada 3 bulan awal pandemi melanda negeri, tidak ada satupun wisatawan yang berkunjung ke Kampung Adat Cireundeu. Bahkan rencana penelitian Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) Bandung terkait budaya 'Tari Ngayun' di Cireundeu juga ikut terhenti. Namun itu semua tak mempengaruhi kehidupan masyarakat, baik muslim maupun para penghayat.

Masyarakat muslim menjalankan salat dan ibadah lainnya seperti biasa. Para penghayat menjalankan ritual rutin seperti yang sudah mereka jalankan sebelumnya.

"Tapi sudah 3 bulan terakhir ini, tamu-tamu mulai datang lagi. Ada yang sambil joging dan ada yang khusus memang ingin berkunjung ke sini. Kalau sudah di sini biasanya suka beli olahan beras singkong, seperti nasi goreng singkong," kata Jajat.

Kunjungan wisatawan biasanya banyak dilakukan pada Sabtu-Minggu.

Silih Asuh Para Penghayat dan Muslim Cireundeu

Selain ketahanan warga terhadap pandemi, ada hal unik lain yang terdapat di Kampung Adat Cireundeu. Warga berbeda keyakinan di sana tampak guyub dan saling memaklumi satu sama lain. Hal ini terlihat jelas di rumah Ketua Adat Cireundeu Abah Emen Sunarya. Meski ia dan sang istri merupakan penghayat sunda wiwitan, menantu dan cucunya adalah muslim.

Mereka tinggal satu atap dan saling mengasihi. Abah Emen yang setia memakai iket, kontras dengan cucu perempuannya yang memakai jilbab. Begitu juga dengan keluarga lain di Kampung Adat Cireundeu. Hampir di setiap rumah pasti ditinggali bersama oleh muslim dan para penghayat.

"Sebenarnya kami (muslim dan penghayat) tidak ada bedanya dalam keseharian. Bedanya hanya pada ritual, dan para lelaki kami tidak disepitan (disunat)," tutur Abah Emen.

Dia mengatakan, ajaran sunda wiwitan tidak memaksa pengikutnya untuk terus memeluk keyakinan. Mereka juga tidak akan melarang para penghayat untuk hijrah menjadi muslim. Sebab penghayatan terhadap sunda wiwitan harus didasarkan pada kesadaran untuk mengikuti pitutur sepuh dan jangan sampai melanggar adat.

Abah Emen menjelaskan bahwa para penghayat diajarkan untuk menjaga ketentraman dan kedamaian. Sekalipun ada perselisihan mereka berusaha untuk mengalah demi kebaikan bersama. Meski saat ini jumlah para penghayat semakin sedikit lantaran banyak yang hijrah dan terpengaruh budaya barat, Abah Emen tidak merasa terancam sedikitpun. Karena dia yakin, penghayat akan selalu ada dan lestari dari jiwa orang-orang Sunda yang memegang teguh adat dan pitutur sepuh.

cireundeu-kerukunan.jpg" />
Penunjuk arah tempat beribadah warga muslim dan para penghayat Sunda Wiwitan di Kampung Adat Cireundeu, Desa Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Jawa Barat. Mereka saling berdampingan tanpa kekurangan satu hal pun. (Ayobandung.com/Rizma Riyandi)

Warga Penghayat Kampung Adat Cireundeu Rusmana membenarkan kata-kata Abah Emen. Menurutnya, untuk menjadi seorang penghayat dibutuhkan kesadaran terhadap ajaran leluhur.

"Tidak ada paksaan untuk menjadi penghayat. Itu mah kesadaran diri sendiri saja untuk tidak melanggar adat," katanya.

Dia menyampaikan, selama ini tidak pernah ada perselisihan antar-warga muslim dan penghayat di Cireundeu. Kedua umat beragama ini sudah saling memahami dan memaklumi atas kebiasaan masing-masing. Mereka hidup rukun dan guyub di tengah perkembangan zaman yang semakin canggih.

Baik muslim maupun penghayat di Cireundeu sama-sama tidak menolak perubahan zaman. Hal ini dibuktikan dengan penerimaan mereka terhadap teknologi dan pendidikan. Para penghayat di Cireundeu bahkan banyak yang mengenyam pendidikan sampai tingkat perguruan tinggi walaupun ada sedikit kendala pada pelajaran agama yang berlaku.

Keselarasan di Kampung Adat Cireundeu ini tentunya menjadi kebanggaan tersendiri bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi. Hal ini diakui Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Kepemudaan dan Olahraga Kota Cimahi Budi Raharja. Menurutnya nilai-nilai guyub di Kampung Adat Cireundeu harus selalu dijaga.

"Sejauh ini masyarakat kampung adat di Cireundeu memang guyub. Semoga selalu seperti itu, asalkan tidak ada yang memprovokasi," kata Budi.

Adapun Kampung Adat Cireundeu terdiri dari 1 Rukun Warga (RW) dan 3 Rukun Tetangga (RT). Setidaknya ada 270 Keluarga (KK) yang tinggal di sana, dengan komposisi penduduk adat atau penghayat sebanyak 65 KK. Hampir di setiap rumah para penghayat pasti terdapat warga muslim yang merupakan bagian dari keluarga mereka.

Walau sudah hidup guyub, para penghayat mengakui adanya diskriminasi dari pihak luar, khususnya dalam pelayanan dokumen kependudukan. Saat ini para penghayat belum bisa mencantumkan keyakinan sunda wiwitan di kolom agama KTP. Alhasil mereka memilih untuk mengosongkan kolom tersebut.

Para penghayat juga tidak mendapatkan bukti surat atau akta nikah yang menunjukkan perkawinan mereka sah di mata negara. Padahal pernikahan mereka sah secara adat dan bukan merupakan perbuatan zina.

Selain itu penghayat yang bertatus mahasiswa juga mengalami kendala dalam mata pelajaran agama. Karena perguruan tinggi belum bisa menyediakan pengajar agama bagi para penghayat, jadi mau tak mau mereka harus ikut mata kuliah agama yang ada. Meski begitu, para penghayat berusaha menjalani hidupnya sebagai warga negara NKRI yang baik.

Menanggapi hal ini Budi mengakui masih ada hak-hak warga Cireundeu yang belum terpenuhi, di antaranya terkait pelayanan dokumen kependudukan dan status tanah.

"Kalau terkait status tanah seperti sertifikat lahan itu kan kaitannya dengan BPN (Badan Pertanahan Nasional). Jadi memang agak sulit mengurusnya," tutur Budi.

Begitu juga urusan dokumen kependudukan, seperti kolom agama di KTP. Hal tersebut berkaitan dengan sistem di pemerintah pusat. Dengan begitu, Pemkot Cimahi tidak bisa berbuat banyak.

"Tapi soal KTP dan dokumen kependudukan ini kami menampung aspirasi masyarakat juga. Ke depannya akan kami sampaikan pada lembaga yang bersangkutan agar masyarakat penghayat di Cireundeu bisa mencantumkan Sunda Wiwitan sebagai agamanya dan mendapat hak lainnya," ujar Budi.

Adapun untuk urusan yang menyangkut budaya dan pariwisata, Pemkot Cimahi sepenuhnya memberikan dukungan bagi Kampung Adat Cireundeu. Budi menyampaikan, pihaknya selalu memberikan pendampingan bagi warga adat. Belum lama ini, Pemkot juga telah memberikan bantuan untuk membangun jalan menuju Puncak Salam, salah satu spot wisata di Cireundeu.

Cara Para Penghayat Memelihara Alam

Para penghayat bisa dibilang sangat dekat dengan alam. Mereka hidup dengan memanfaatkan alam secara bijak. Warga penghayat di Kampung Adat Cireundeu bahkan memiliki konsep pembagian lingkungan yang sangat jelas. Selain lembur atau perkampungan sebagai tempat mereka tinggal, para penghayat di Cireundeu memiliki tiga istilah leuweung (hutan).

Pertama, Leuweung Baladahan atau kebon yang bisa digunakan untuk bercocok tanam, luasnya mencapai kurang lebih 20 hektare. Di sana para petani mengolah tanah dengan menanam singkong dan berbagai tumbuhan lainnya.

Kedua, Leuweung Larangan, yakni wilayah yang tidak boleh disentuh dan mengalami perubahan apapun. Penyematan status Leuweung Larangan ini diberikan bukan berdasarkan pada mitos atau hal-hal mistik, melainkan pada upaya untuk menjaga pasokan air bersih.

Pengurus Kampung Adat Cireundeu Sudrajat menuturkan, fungsi Leuweung Larangan sendiri adalah sebagai penampung air. Maka itu vegetasinya berupa tanaman keras.

Ketiga, Leuweung Tutupan yang berfungsi sebagai bumper untuk mendukung keberadaan Leuweung Larangan. Leuweung Tutupan biasanya berupa gawir (tebing) atau lamping (lereng).

"Di Cireundeu ini sering terjadi kebakaran hutan kalau musim kemarau. Nah Leuweung Tutupan ini akan berfungsi melindungi Leuweung Larangan saat terjadi kebakaran," papar Sudrajat.

Dia menjelaskan, sebetulnya di Leuweung Tutupan juga ada beberapa wilayah larangan. Biasanya berupa mata air yang keberadaannya tidak boleh diganggu gugat. Adapun luas Leweung Larangan dan Tutupan semuanya sekitar 50 hektare. Sementara luas Cireundeu, termasuk hutan dan pemukiman sekitar 80 hektar.

Menurut Sudrajat, lahan tersebut dijaga secara turun-temurun oleh warga Cireundeu. Baik yang muslim maupun penghayat. Semua warga Cireundeu hidup dengan bertani, termasuk warga yang memiliki pekerjaan di luar kampung. Jika akhir pekan tiba, mereka pasti turun ke Leuweung Baladahan. Namun untuk warga yang benar-benar berstatus petani, saat ini berjumlah 35 orang.

Pembangunan di Kota Cimahi sebenarnya membuat warga Cireundeu khawatir dengan keberadaan leuweung di wilayah mereka. Pasalnya, bukan mustahil keberadaan hutan tersebut bisa musnah akibat pembangunan. Bahkan beberapa waktu lalu, sempat ada rencana pembangunan perumahan di atas bukit Cireundeu. Beruntung masyarakat sekitar sama-sama menolak dan menggelar demo sehingga pembangunan tersebut dihentikan.

Sudrajat dan masyarakat Cireundeu lainnya berharap pemerintah bisa memberikan kejelasan terhadap status lahan di sekitar Cireundeu. Misalkan dengan ditetapkannya ketiga Leuweung yang ada sebagai tanah adat.

"Sampai sekarang memang belum ada aturan yang jelas soal status leuweung ini. Kalau pun harus diurus kan ini soal tanah, ngurusnya ribet. Tapi belum lama memang kami sudah ketemu sedikit titik terang setelah ada pertemuan dengan Kementerian Kehutanan. Mungkin ke depannya leuweung di Cireundeu berpotensi ditetapkan dengan status sebagai RTH (Ruang Terbuka Hijau) tetap," kata Sudrajat.

"Tulisan ini bagian dari program Story Grant Pers Mainstream Jawa Barat yang digelar oleh Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) kerja sama dengan Friedrich-Naumann-Stiftung fur die Freiheit (FNF) dan Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia."

Editor: M. Naufal Hafizh

terbaru

Update Covid-19 Cimahi, Kasus di Cipageran Turun Drastis

Cimahi Rabu, 27 Januari 2021 | 13:57 WIB

Merujuk pada covid19.cimahikota.go.id yang dilihat Rabu (27/1/2021), ada penambahan 91 kasus sembuh di 5 kelurahan dan 2...

Bandung Raya - Cimahi, Update Covid-19 Cimahi, Kasus di Cipageran Turun Drastis, Covid-19 Cimahi,Update Covid-19 Cimahi,Informasi Covid-19 Cimahi,Data Covid-19 Cimahi

Pemadaman Bergilir PLN Cimahi, Jalan Kerkof Padam hingga Sore

Cimahi Rabu, 27 Januari 2021 | 10:39 WIB

Pemadaman dilakukan berkaitan dengan pekerjaan pemeliharaan gardu. Pemadaman berlangsung selama rentang waktu dari pukul...

Bandung Raya - Cimahi, Pemadaman Bergilir PLN Cimahi, Jalan Kerkof Padam hingga Sore, jadwal pemadaman listrik Cimahi,Pemadaman listrik Cimahi,PLN Cimahi,Berita Cimahi,PLN

Sanca Kembang Panjat Tiang Listrik, Damkar Cimahi Turun Tangan

Cimahi Senin, 25 Januari 2021 | 20:38 WIB

Tim Rescue Pemadam Kebakaran Kota Cimahi berhasil melakukan evakuasi seekor ular jenis sanca kembang  yang melata di ata...

Bandung Raya - Cimahi, Sanca Kembang Panjat Tiang Listrik, Damkar Cimahi Turun Tangan, Ular Sanca Kembang,Damkar Cimahi,Ular di kabel listrik

Update Covid-19 Cimahi, Kelurahan Leuwigajah Nol Kasus

Cimahi Senin, 25 Januari 2021 | 14:01 WIB

Merujuk pada covid19.cimahikota.go.id, seluruh kasus di kelurahan ini, yang berjumlah 96 kasus, seluruhnya berhasil semb...

Bandung Raya - Cimahi, Update Covid-19 Cimahi, Kelurahan Leuwigajah Nol Kasus, Covid-19 Cimahi,Update Covid-19 Cimahi,Informasi Covid-19 Cimahi,Data Covid-19 Cimahi

SIM Keliling Polres Cimahi 25 Januari 2021 Hadir di Alun-alun Cimahi

Cimahi Senin, 25 Januari 2021 | 08:47 WIB

SIM Keliling Polres Cimahi 25 Januari 2021 Hadir di Alun-alun Cimahi

Bandung Raya - Cimahi, SIM Keliling Polres Cimahi 25 Januari 2021 Hadir di Alun-alun Cimahi , Perpanjangan SIM Cimahi,Syarat perpanjangan SIM Cimahi,Syarat permohonan SIM Cimahi,SIM Keliling Online Polres Cimahi,SIM Online Cimahi

Viral Video Oknum Satpol PP Cimahi Pukul Sopir Truk

Cimahi Jumat, 22 Januari 2021 | 19:18 WIB

Beredar viral di media sosial yang memperlihatkan tindakan pemukulan oleh oknum anggota Satpol PP Kota Cimahi. Dalam vid...

Bandung Raya - Cimahi, Viral Video Oknum Satpol PP Cimahi Pukul Sopir Truk, Video Satpol PP Pukul Sopir Truk,Satpol PP Kota Cimahi

Komplotan Curanmor Lintas Daerah Ditembak Polisi Cimahi

Cimahi Kamis, 21 Januari 2021 | 22:30 WIB

Satreskrim Polres Cimahi menangkap 10 pelaku pencurian kendaraan bermotor (curanmor) dan penadah. Komplotan penjahat ini...

Bandung Raya - Cimahi, Komplotan Curanmor Lintas Daerah Ditembak Polisi Cimahi, Curanmor Cimahi,Polres Cimahi

Masih Banyak Pengendara ke Cimahi Tak Bawa Surat Bebas Covid-19

Cimahi Kamis, 21 Januari 2021 | 22:19 WIB

Petugas Dinas Perhubungan masih menemukan banyak pengemudi dari luar daerah yang masuk ke Kota Cimahi namun tidak membaw...

Bandung Raya - Cimahi, Masih Banyak Pengendara ke Cimahi Tak Bawa Surat Bebas Covid-19, Rapid Test Antigen,Dinas Perhubungan Cimahi,dinas kesehatan cimahi,surat keterangan bebas Covid-19

artikel terkait

dewanpers