web analytics
  

Positivity Rate Covid-19 Bandung Meningkat Drastis, Apa Artinya?

Kamis, 26 November 2020 12:27 WIB Nur Khansa Ranawati
Bandung Raya - Bandung, Positivity Rate Covid-19 Bandung Meningkat Drastis, Apa Artinya?, Covid-19 Bandung,Positivity Rate,Virus Corona Bandung,Update Covid-19 Kota Bandung,Sekretaris Daerah Kota Bandung Ema Sumarna

Warga beraktivitas di Kawasan Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Senin (23/11/2020). Pemerintah Kota Bandung akan memperketat pengawasan pelaksanaan Protokol Kesehatan (Prokes) Covid-19 guna mencegah kerumunan dengan jumlah besar dengan menutup ruang publik. (Ayobandung.com/Kavin Faza)

SUMUR BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Minggu ini, angka positivity rate kasus Covid-19 di Kota Bandung meningkat drastis hingga menyentuh 21,53%. Angka tersebut lebih tinggi empat kali lipat dari batas maksimal yang ditetapkan WHO, yakni 5%.

"Kita mencermati positivity rate Covid-19 di Kota Bandung sudah 21,53%. Artinya ada percepatan (sebaran kasus positif)," ungkap Sekretaris Daerah Kota Bandung Ema Sumarna di Balai Kota Bandung, Rabu (26/11/2020) sore.

Meskipun angka reproduksi kasus Covid-19 masih di bawah 1, yakni 0,81, Ema mengatakan hal tersebut tidak bisa dianggap remeh. Melejitnya angka positivity rate menunjukan tingginya transmisi lokal kasus Covid-19 di tengah masyarakat Kota Bandung.

"Angka reproduksi masih di bawah 1, tapi positivity rate seperti ini berarti transmisinya (tinggi). Ada percepatan transmisi karena yang kontak erat (dengan pasien positif Covid-19) semakin banyak," ungkap Ema.

Dalam dua pekan, peningkatan angka positivity rate Kota Bandung mencapai tiga kali lipat. Pada 11 November, Ema mengumumkan positivity rate Kota Bandung masih berada di angka 7,02%.

Warga beraktivitas di Kawasan Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Senin (23/11/2020). Pemerintah Kota Bandung akan memperketat pengawasan pelaksanaan Protokol Kesehatan (Prokes) Covid-19 guna mencegah kerumunan dengan jumlah besar dengan menutup ruang publik. (Ayobandung.com/Kavin Faza)

 

Bila merujuk pada pengertian yang dipaparkan John Hopkins Bloomberg School of Public Health melalui laman web-nya, angka positivity rate menjadi rujukan untuk mengetahui seberapa tinggi level transmisi lokal kasus Covid-19 di suatu daerah. Juga dapat dijadikan tolak ukur, apakah daerah tersebut sudah melalukan pengetesan Covid-19 yang memadai.

Angkanya didapat dari jumlah kasus positif dibagi jumlah tes PCR yang dilakukan, dan dikali 100%.

"Persentase-nya akan tinggi apabila jumlah kasus positif dari sebuah pengetesan terlalu tinggi, atau bila total jumlah pengetesan yang dilakukan masih terlalu rendah," tulis keterangan kampus Johns Hopkins dalam laman web jhsph.edu yang dilansir Kamis (26/11/2020).

Persentase yang tinggi, tulis keterangan tersebut, mengindikasikan bahwa ada transmisi penularan yang tinggi di daerah yang bersangkutan. Juga, masih banyak orang dalam lingkungan tersebut yang belum dites Covid-19.

Johns Hopkins menyebutkan, sebagai ukuran, persentase positivity rate disebut terlalu tinggi apabila melampaui 5%. Pada Mei 2020, WHO menyarankan sebuah daerah untuk menjaga positivity rate mereka berada di bawah 5% setidaknya selama dua minggu berturut-turut sebelum pemerintah melakukan relaksasi kegiatan warga.

"Persentase yang tinggi menunjukan bahwa pengetesan yang lebih banyak harus dilakukan, dan hal tersebut menunjukan bahwa bukan saat yang tepat untuk daerah yang bersangkutan melakukan relaksasi," tulisnya.

Kejar Testing dan Pembatasan Sosial
Hal senada juga diungkapkan Epidemiolog Universitas Padjajaran, Panji Fortuna. Ia mengatakan, Kota Bandung masih harus terus mengejar pengetesan Covid-19 massal.

Meski pengetesan Covid-19 terus dilakukan, namun jumlahnya masih lebih sedikit dibanding penambahan kasus positif yang terjadi. Bila kasus positif semakin meningkat, idealnya jumlah pelacakan dan pengetesan kasus juga terus ditambah.

"Positivity rate tinggi artinya kemungkinan besar penambahan jumlah testingnya tidak sebanding dengan penambahan jumlah kasus positif. Mungkin yang terjadi adalah kota tidak bisa mengidentifikasi kebanyakan kasus yang ada di masyarakat. Kemampuan deteksi kita masih kurang," ungkapnya pada Ayobandung.com belum lama ini.

Saat ini Pemerintah Kota Bandung memyebut bahwa jumlah pengetesan yang dilakukan telah memenuhi standar WHO, yakni 1% dari total jumlah populasi, namun hal tersebut belum cukup. Pasalnya, laju kenaikan kasus positif masih terus bertambah.

Hingga Rabu (25/11/2020), Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung Rita Verita menyebut jumlah pengetesan PCR di Kota Bandung berjumlah 45.779. Sementara tes rapid berjumlah 50.358.

"Saya rasa indikator WHO itu indikator minimum. Paling tidak harus mengetes dalam jumah segitu (1%), tapi kecukupannya tidak boleh hanya dilihat dari indikator itu saja," ungkapnya.

Agar kasus terkendali, ia mengatakan pengetesan Covid-19 harus terus dilakukan. Hal tersebut juga harus diiringi dengan kebijakan pencegahan penularan Covid-19 seperti pembatasan kegiatan masyarakat.

"Meskipun tes ditambah, kasus masih akan terus banyak. Agar positivity rate turun, sambil mengejar jumlah testing kita tetap harus mencegah penularan terus terjadi," jelasnya.

Pencegahan penularan tersebut, ia mengatakan, harus dikombinasikan dengan kebijakan pembatasan sosial. Sehingga, angka penularan dapat ditekan agar tidak terus bertambah.

"Hal yang harus dilakukan memang bukan hanya pilih salah satu, tapi kombinasi dari beberapa tindakan. Pertama, jumlah testing harus ditambah. Kedua, identifikasi kasus, contact tracing harus ditingkatkan," ungkapnya.

"Ketiga, kalau dirasa perlu, pembatasan sosial bisa kembali dilakukan," tambahnya.

Editor: Andres Fatubun

artikel terkait

dewanpers