web analytics
  

Baru 8 Kelurahan di Kota Bandung yang Bebas BAB Sembarangan

Selasa, 24 November 2020 14:52 WIB Nur Khansa Ranawati
Bandung Raya - Bandung, Baru 8 Kelurahan di Kota Bandung yang Bebas BAB Sembarangan, bebas buang air besar (BAB),Open Defecation Free (ODF),sanitasi Kota Bandung

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Bandung Sony Adam (Ayobandung.com/Nur Khansa Ranawati)

SUMUR BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Dari total 151 kelurahan di Kota Bandung, baru 8 di antaranya yang masuk dalam kategori bebas buang air besar (BAB) sembarangan atau Open Defecation Free (ODF). Predikat tersebut menunjukkan kondisi ketika 100% individu dalam suatu wilayah memiliki sanitasi yang memadai.

Kedelapan kelurahan tersebut adalah Kelurahan Rancanumpang, Kelurahan Cihapit, Kelurahan Paledang, Kelurahan Ciateul, Kelurahan Manjahlega, Kelurahan Citarum, dan Kelurahan Antapani Tengah, dan Kelurahan Derwati. Dengan begitu, belum ada satu kecamatan pun di Kota Bandung yang dinyatakan bebas BAB sembarangan.

Bila dihitung dalam presentase individu, saat ini baru 68,8% warga Kota Bandung yang masuk dalam kategori ODF alias sudah memiliki akses pada sanitasi yang layak dan sesuai aturan.

"Masih ada yang belum punya sanitasi yang sesuai aturan. Ini harus diperbaiki perlahan. Cepat atau lambat memang harus diperbaiki," ungkap Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Bandung Sony Adam di Balai Kota Bandung, Selasa (24/11/2020).

Dia mengatakan, permasalahan utama yang menghambat berbagai wilayah di Kota Bandung menjadi ODF adalah keterbatasan lahan. Banyak wilayah yang rumah-rumahnya tidak memiliki lahan memadai untuk membangun septic tank sendiri.

"Kota Badung itu padat, jadi kendala ODF adalah lahan. Ini jadi permasalahan untuk membangun septic tank," ungkapnya.

Padahal, septic tank memiliki peran vital untuk menjaga lingkungan yang bersangkutan tetap sehat. Bila tidak ada septic tank, atau septic tank yang dibangun tidak sesuai aturan, hal tersebut dapat mengacam kesehatan penduduknya.

Dia menyebutkan, hal tersebut menjadi penting mengingat 49% derajat kesehatan seseorang ditentukan oleh kebersihan lingkungannya. Salah satu permasalahan yang kerap ditimbulkan sanitasi yang tidak baik adalah munculnya penyakit-penyakit pencernaan seperti diare.

"Paling banyak adalah diare, dan ini banyak menyerang anak balita. Diare disebabkan masuknya bakteri E Coli pada tubuh manusia. Bakteri ini ada di dalam feses. Kalau sudah diare kan gizi dari makanan jadi tidak terserap karena gangguan di dinding usus," paparnya.

Selain itu, tidak adanya sanitiasi juga menyebabkan lingkungan tercemar karena muncul kecenderungan warga untuk membuang tinja di sembarang tempat. Dia mencontohkan daerah di bantaran sungai sebagai salah satu kawasan rawan terkait limbah tinja manusia.

"Yang jadi prioritas adalah bantaran sungai. Di sana paling umum orang membuang feses ke sungai. Ini akan sangat merugikan untuk penduduk di hilir sungai," ungkapnya.

Oleh karenanya, pihaknya telah menyiapkan 80 orang petugas sanitasi untuk melakukan sosialisasi dan pendampingan di kewilayahan terakit pembuaan septic tank yang sesuai aturan. Selain itu, program septic tank komunal saat ini juga tengah diupayakan untuk mengatasi keterbatasan lahan.

"Ada septic tank komunal bekerja sama dengan DPKP3 (Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman, Pertanahan dan Pertamanan) Kota Bandung. Kita juga bekerja sama dengan regulator yang mengeluarkan IMB (Izin Mendirikan Bangunan), dimana suatu bangunan baru bisa didirikan apabila ada septic tank-nya," ungkapnya.

Dalam satu septic tank komunal, kewilayahan hanya perlu menyediakan satu lahan yang bisa digunakan untuk memfasilitasi kebutuhan septic tank hingga 100-an warga. Tempatnya dapat dikerjasamakan dengan pihak-pihak swasta di wilayah yang bersangkutan.

"Misalnya dikerjasamakan degan pom bensin yang biasanya punya lahan luas. Bisa diyakinkan bahwa septic tank tersebut tidak akan menganggu aktvitas di atasnya," ungkapnya.

Dia juga menyebutkan septic tank sebenarnya bisa dibuat di ruang mana saja di rumah, termasuk ruang tamu, bila dikelola dengan baik dan benar. Bila sesuai aturan, septic tank disebut tidak akan mengganggu aktivitas penghuni rumah karena baunya.

"Klau prosesnya baik, tidak akan mengganggu pemilik rumah. Septic tank hanya untuk mengelola feses. Kalau sampai di dalamnya ada sampah dapur, maka septic tank tidak akan bekerja. Saluran air rumah tangga dan septic tank disatukan, itu yang menjadikannya bau," ungkapnya.

Ke-80 petugas sanitasi tersebut dapat membantu mendampingi masyarakat untuk membangun septic tank dengan layak. Caranya dengan bertanya ke puskesmas terdekat terkait layanan pendampingan tersebut.

"Mereka akan menjelaskannya dengan senag hati," ungkap Sony.

Editor: M. Naufal Hafizh
dewanpers