web analytics
  

Peluang di Balik Ancaman Resesi

Selasa, 24 November 2020 11:35 WIB Netizen Muhamad Rikiansyah, S.Ikom
Netizen, Peluang di Balik Ancaman Resesi, Resesi Ekonomi,Data statistik,perekonomian Indonesia,Badan Pusat Statistik (BPS),Pandemi Covid-19

[Ilustrasi] Warga mengunjungi Bandung Indah Plaza (BIP), Jalan Merdeka, Kota Bandung, Minggu (15/11/2020). Pemerintah masih terus berupaya membuat Indonesia keluar dari zona resesi di tengah krisis kesehatan akibat pandemi Covid-19. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2020 minus 3,49% year on year, jumlah tersebut meningkat dibandingkan kuartal II-2020 minus 5,32%. (Ayobandung.com/Kavin Faza)

Muhamad Rikiansyah, S.Ikom

Humas di BPS Provinsi Jawa Barat

AYOBANDUNG.COM -- Resesi ekonomi menjadi hal yang diperbincangkan di seluruh dunia selain isu pandemi Covid-19. Ekonomi menjadi denyut nadi sebuah negara yang harus terus dijaga. Sehingga menjadi fokus utama seluruh negara untuk menjaga agar tidak terjadi resesi ekonomi. Data statistik menjadi salah satu indikator untuk melihat seperti apa kondisi perekonomian Indonesia saat ini.

Mencermati data statistik yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tercatat Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Oktober 2020 mengalami kenaikan atau inflasi sebesar 0,07 persen. Inflasi tahun berjalan atau year to date (ytd) hanya sebesar 0,95 persen dan inflasi tahunan year on year (yoy) sebesar 1,44 persen. Inflasi Oktober 2020 ini yang pertama setelah selama 3 (tiga) bulan berturut-turut mengalami deflasi. Masih menurut rilis dari Badan Pusat Statistik (BPS) pertumbuhan Ekonomi Indonesia triwulan III-2020 terhadap triwulan III-2019 mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 3,49 persen (y-on-y). Dari sisi produksi, Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan mengalami kontraksi pertumbuhan terdalam sebesar 16,70 persen. Dari sisi pengeluaran, Komponen Ekspor Barang dan Jasa mengalami kontraksi pertumbuhan terdalam sebesar 10,82 persen.

Terkait neraca perdagangan, BPS mencatat kinerja ekspor menunjukan tren perbaikan pada September 2020 dengan angka mencapai US$14,39 miliar atau naik sebesar 3,09 persen dibanding September 2020. Akan tetapi mengalami penurunan sebesar 3,29 persen jika dibanding Oktober 2019. Sementara nilai impor mengalami kenaikan sepanjang Oktober 2020 yaitu mencapai US$10,78 miliar. Angka ini turun sebesar 6,79 persen dibanding September 2020. Dan jika dibandingkan dengan Oktober 2019 turun drastis sebesar 26,93 persen. Penurunan dibanding tahun lalu menandakan belum membaiknya industri di Indonesia.

Surplus neraca perdagangan Indonesia tentu saja menggembirakan bagi sebagian kalangan. Akan tetapi jika diamati secara mendalam hal ini sebetulnya menandakan kondisi ekonomi kita yang masih sakit. Industri dalam negeri masih mengalami kontraksi. Banyak sektor usaha juga belum mengalami perbaikan signifikan. Industri pariwisata masih sangat terpukul. Walau banyak tempat wisata sudah dibuka dengan menerapkan protokol kesehatan, hal ini tidak terlalu signifikan mendongkrak devisa negara.

Sementara jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) secara kumulatif (Januari–September 2020), mencapai 3,56 juta kunjungan atau turun sebesar 70,57 persen jika dibandingkan dengan jumlah kunjungan wisman pada periode yang sama tahun 2019 yang berjumlah 12,10 juta kunjungan.

Jika melihat neraca perdagangan di atas yang menunjukkan surplusnya neraca perdagangan Oktober 2020, seharusnya menjadi sebuah hal menggembirakan. Tidak demikian menurut banyak pengamat ekonomi. Kondisi ekonomi negara-negara mitra dagang kita seperti Tiongkok lah yang membaik sehingga nilai ekspor kita naik. Tapi tidak dengan kondisi ekonomi dalam negeri. Turunnya nilai impor pada kondisi saat ini sangat tidak diharapakan. Karena penurunan nilai impor sekarang lebih dikarenakan industri kita mati suri, bukan karena kita berhasil menekan angka impor dengan penggunaan bahan baku dalam negeri.

Sebagai negara besar, Indonesia tidak patut berputus asa dengan keadaan ini. Membaiknya ekonomi negara lain harus menjadi penyemangat bagi Pemerintah untuk mendorong perbaikan perdagangan di dalam negeri. Pemerintah harus bisa mengambil kebijakan yang tepat, dan memanfaatkan momentum sebaik-baiknya. Sektor industri memerlukan stimulus agar mereka tetap semangat untuk beroperasi. Karena walaupun banyak yang mati suri tapi ada juga yang sudah mulai bangkit. Hal ini terlihat dari data impor, terjadi peningkatkan pada impor bahan baku dan barang modal. Ini menunjukkan adanya geliat pada sebagian kecil industri di tengah keterpurukan.

Sektor konsumsi juga perlu mendapat perhatian dan stimulus. Pemerintah harus meningkatkan penyerapan belanja negara semaksimal mungkin. Apalagi sekarang sudah masuk triwulan akhir tahun 2020. Karena bagaimanapun belanja negara menjadi salah satu penopang dan penggerak ekonomi. Akhir tahun seharusnya konsumsi sudah mulai meningkat yang diharapkan berimbas kepada pertumbuhan ekonomi. Ini juga perlu diimbangi dengan meningkatkan konsumsi dari hasil produksi dalam negeri. Karena sebagai salah satu negara dengan jumah penduduk terbanyak di dunia tentu ini menjadi potensi tersendiri. Ketika konsumsi rumah tangga dapat dipenuhi oleh sebagian besar dari produk dalam negeri, membuat daya tahan negara kita lebih kuat. Tidak terpengaruh oleh keadaan negara lain.

Pandemi Covid-19 telah menjadi kejadian luar biasa di tahun ini yang menghantam seluruh sektor kehidupan di hampir seluruh negara. Bahkan tidak memilih negara maju atau tidak. Ini terlihat dari sejumlah negara maju yang kini melaporkan terjadinya resesi ekonomi, mulai dari Korea Selatan, Jerman, Singapura, Perancis, Italia, hingga Amerika Serikat. Isu ekonomi ini mengemuka tanpa bermaksud mengesampingkan sektor kehidupan lainnya. Sektor kesehatan tentu saja mengkhawatirkan. Sebagaimana disebut pada laman bbc.com dimana covid-19 sudah menginfeksi lebih dari 30 juta orang, dan mengakibatkan kematian lebih dari 1 juta orang di seluruh dunia. Sektor sosial kemasyarakatan juga sangat terpengaruh. Saat ini terjadi social distancing dimana-mana. Masyarakat sulit berkumpul dan bercengkrama, yang mana ini adalah salah satu kebutuhan dasar manusia sebagai makhluk sosial.

Saat ini pergerakan masyarakat masih sangat terbatas. Sehingga roda ekonomi masih sangat terbatas juga dengan adanya pembatasan sosial di banyak daerah. Tapi bukan berarti kita boleh menyerah dengan keadaan. Kondisi sekarang memaksa kita mematuhi protokol kesehatan. Jika masyarakat disiplin menjalankanya maka sektor-sektor ekonomi bisa kembali bergerak. Ini terbukti dengan menggeliatnya usaha-usaha di berbagai daerah. Bahkan banyak inovasi-inovasi muncul karena keterbatasan ini. Tentu saja untuk kembali ke dalam situasi ekonomi normal masih sangat jauh. Tapi setidaknya kita tidak semakin terpuruk dengan berusaha memanfaatkan segala sumber daya yang ada. Dahulu kita merdeka karena perjuangan sendiri bukan pemberian negara lain. Maka saat ini pun kita akan berjuang dan menang melawan keadaan sesulit apapun hasil jerih payah sendiri…semoga.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: M. Naufal Hafizh

terbaru

Relevansi Penerapan Merdeka Belajar terhadap Pandemi Covid-19

Netizen Minggu, 24 Januari 2021 | 19:07 WIB

Akankah adanya kebijakan merdeka belajar--kampus merdeka relevan untuk diterapkan pada pendidikan tinggi teknik, khususn...

Netizen, Relevansi Penerapan Merdeka Belajar terhadap Pandemi Covid-19, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim,Merdeka Belajar,Pandemi Covid-19,pendidikan di masa pandemi covid 19,kebijakan merdeka belajar

Oleh-Oleh Tak Sekadar Barang Bawaan

Netizen Minggu, 24 Januari 2021 | 18:07 WIB

Oleh-oleh itu sendiri sebenarnya menunjukkan kekhasan daerah wisata yang sudah kita kunjungi pada kesempatan itu.

Netizen, Oleh-Oleh Tak Sekadar Barang Bawaan, oleh-oleh Bandung,Pedagang Oleh-oleh,Cemilan buat Oleh-oleh

Jalan Suryani, Pasar Loak Baru Segala Ada

Netizen Minggu, 24 Januari 2021 | 17:15 WIB

Kota Bandung dikenal dengan pasar loak Astanaanyar dan Cihapitnya, tapi dalam beberapa taun terakhir tepatnya empat taun...

Netizen, Jalan Suryani, Pasar Loak Baru Segala Ada, pasar loak Bandung,Pasar Loak Astana Anyar,Pasar loak Cilaki,pasar loak jalan suryani,pasar loak,Bandung Baheula

Ketika Ponsel Ketinggalan di Dalam Taksi Online

Netizen Minggu, 24 Januari 2021 | 14:23 WIB

Hal yang perlu diperhatikan adalah saat kita sedang bepergian. Berusahalah untuk selalu berhati-hati saat membawa atau m...

Netizen, Ketika Ponsel Ketinggalan di Dalam Taksi Online, Ponsel,kehilangan ponsel,bermain ponsel,ponsel ketinggalan,ketinggalan ponsel,menaruh ponsel

Menyoal Tantangan Sektor Pertanian di Era Pandemi

Netizen Minggu, 24 Januari 2021 | 13:47 WIB

Penyebab Turunnya Nilai Tukar Petani di Jabar

Netizen, Menyoal Tantangan Sektor Pertanian di Era Pandemi, nilai tukar petani,ntp jabar,BPS,tantangan pertanian,BPS Jabar,COVID-19,Pandemi Covid-19

Bersepeda, Menyehatkan atau Membahayakan?

Netizen Minggu, 24 Januari 2021 | 13:30 WIB

Olahraga Bersepeda, Menyehatkan atau Membahayakan?

Netizen, Bersepeda, Menyehatkan atau Membahayakan?, Bersepeda,jantung,olahraga pandemi,COVID-19,Bandung Hari Ini,jalan digunakan untuk sepeda

Kreasi dan Inovasi Mahasiswa Sistem Telekomunikasi pada Masa Pandemi

Netizen Sabtu, 23 Januari 2021 | 23:06 WIB

Kreasi dan Inovasi Mahasiswa Sistem Telekomunikasi pada Masa Pandemi

Netizen, Kreasi dan Inovasi Mahasiswa Sistem Telekomunikasi pada Masa Pandemi, COVID-19,Sistem Telekomunikasi

Covid-19 dan Peran Industri Telekomunikasi

Netizen Sabtu, 23 Januari 2021 | 22:57 WIB

Covid-19 dan Peran Industri Telekomunikasi

Netizen, Covid-19 dan Peran Industri Telekomunikasi, COVID-19,telekomun

artikel terkait

dewanpers