web analytics
  

Adu Nasib Warga Salopa Tasikmalaya ke Pertambangan Luar Pulau

Selasa, 24 November 2020 06:34 WIB Irpan Wahab Muslim
Umum - Regional, Adu Nasib Warga Salopa Tasikmalaya ke Pertambangan Luar Pulau, Salopa Tasikmalaya,Berita Tasikmalaya,Tradisi merantau Tasikmalaya,Penambang Salopa Tasikmalaya

Monumen Lam Alif Kabupaten Tasikmalaya. (Ayotasik.com/Irpan Wahab Muslim)

TASIKMALAYA, AYOBANDUNG.COM -- Sudah puluhan tahun warga dari Kecamatan Salopa, Kabupaten Tasikmalaya, merantau ke berbagai daerah seperti Kalimantan dan Sulawesi untuk mengadu nasib menjalani profesi sebagai penambang.

Tidak sedikit dari mereka yang berhasil dan tidak sedikit pula yang harus pulang tinggal nama ke kampung halaman.

Misdar (40), warga Desa Mulyasari, Kecamatan Salopa, menuturkan, puluhan tahun sudah pemuda di desanya merantau ke berbagai daerah terutama Kalimantan untuk ikut melakukan penambangan. Biasanya, mereka berangkat berkelompok sebanyak 10 hingga 20 orang.

Biasana mah sakelompok sakelompok pak angkatna. Pemuda anu putus sekolah biasa anu ngahajakeun berangkat daripada di lembur nganggur (biasanya sekelompok-sekelompok berangkatnya. Pemuda yang putus sekolah biasa berangkat daripada nganggur di kampung), “ ucap Misdar kepada Ayotasik.com, Senin (23/11/2020).

Jika sedang beruntung, kata Misdar, para pemuda yang bekerja sebagai penambang itu bisa membawa uang belasan hingga puluhan juta rupiah. Biasanya, uang hasil kerja itu dibelikan tanah atau sawah.

Namun jika tidak beruntung, mereka harus rela kehilangan nyawa tertimbun tanah lubang galian seperti yang terjadi kepada 9 pemuda Kecamatan Salopa pekan lalu.

Sok kadang aya anu dianggo ngabangun bumi, meser motor. Istirahatnya paling didieu dua bulan, Angkat deui (Terkadang (uangnya) ada yang dipakai membangun rumah, membeli motor. Istirahatnya paling di sini dua bulan, kemudian berangkat lagi), “ ujar Misdar.

Sementara itu, Camat Salopa Fuad Abdul Azis menuturkan, tidak ada data pasti tentang jumlah warganya yang merantau ke Kalimantan untuk menjadi penambang emas. Namun tradisi merantau menjadi penambang sudah terjadi sejak puluhan tahun lalu.

"Kalau datanya kita tidak pegang, tapi memang banyak dari sini yang merantau untuk menambang. Banyak juga yang berhasil, tapi ada juga yang tidak beruntung,“ ujar Fuad.

Editor: Fira Nursyabani
dewanpers