web analytics
  

Kota Bandung Kembali Masuk Zona Merah Covid-19

Senin, 23 November 2020 17:18 WIB
Bandung Raya - Bandung, Kota Bandung Kembali Masuk Zona Merah Covid-19    , Zona Merah Covid-19,zona merah,Bandung Zona Merah

Warga beraktivitas di Kawasan Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Senin (23/11/2020). Pemerintah Kota Bandung akan memperketat pengawasan pelaksanaan Protokol Kesehatan (Prokes) Covid-19 guna mencegah kerumunan dengan jumlah besar dengan menutup ruang publik. (Ayobandung.com/Kavin Faza)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Kota Bandung kembali masuk ke zona merah level kewaspadaan Covid-19. Wakil Wali Kota Bandung Yana Mulyana mengatakan, ini terjadi karena kedisiplinan masyarakat terus berkurang.

"Dari pemerintah provinsi indeks kita sudah di bawah 1,80, jadi sudah masuk zona merah," kata Yana di Kota Bandung, Senin (23/11/2020).

Ia menilai tingkat kepatuhan masyarakat menurun terhadap protokol kesehatan. Berdasarkan pantauannya, masyarakat di ruang publik masih banyak yang tidak menggunakan masker.

Meski begitu, menurutnya, pengawasan dari Pemerintah Kota Bandung tidak pernah menurun. Sehingga, hal ini harus menjadi perhatian seluruh pihak.

"Kuncinya pengawasan, secara regulasi dan secara aturan peraturan wali kota itu sudah cukup lah, memang kuncinya pengawasan, harapan saya bukan hanya pemerintah saja, tapi oleh masyarakat juga," kata Yana.

Selain itu, tingkat penyebaran Covid-19 di Kota Bandung juga meningkat, terlihat dari meningkatnya keterisian tempat tidur isolasi di sejumlah rumah sakit yang semakin mengkhawatirkan.

"Keterisian tempat tidur isolasi mencapai 86 persen  pada pekan lalu, sekarang mungkin sudah di atas 90 persen," katanya.

Berdasarkan data Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Kota Bandung, secara kumulatif angka terkonfirmasi Covid-19 di Kota Bandung mencapai 2.884 orang. Dari jumlah tersebut, 2.404 orang dinyatakan sembuh, 370 orang masih berstatus terkonfirmasi Covid-19 aktif, dan 110 orang meninggal dunia.

Positivity Rate di Atas Batas Maksimal WHO

Di tempat terpisah, Sekretaris Daerah Kota Bandung Ema Sumarna menyebutkan bahwa positivity rate Kota Bandung berada di angka 7,02%. Sementara WHO menetapkan batas maksimal positivity rate sebesar 5%.

Positivity rate secara umum menggambarkan persentase kasus positif yang didapatkan dalam setiap pengetesan Covid-19 yang dilakuakan di suatu daerah. Angka ini menjadi rujukan untuk mengetahui seberapa tinggi level transmisi lokal kasus Covid-19 di suatu daerah, dan apakah daerah tersebut sudah melalukan pengetesan yang memadai.

Persentase yang tinggi mengindikasikan adanya transmisi penularan yang tinggi di daerah tersebut, dan banyak orang yang belum mendapat tes Covid-19. Alias masih banyak kasus positif Covid-19 yang belum terdeteksi.

Menanggapi hal ini, Epidemiolog Unpad Panji Fortuna mengatakan bahwa Kota Bandung masih harus terus mengejar pengetesan massal. Meski pengetesan Covid-19 terus dilakukan, namun jumlahnya masih lebih sedikit dibanding penambahan kasus positif yang terjadi.

"Positivity rate tinggi artinya kemungkinan besar penambahan jumlah testingnya tidak sebanding dengan penambahan jumlah kasus positif. Mungkin yang terjadi adalah kota tidak bisa mengidentifikasi kebanyakan kasus yang ada di masyarakat. Kemampuan deteksi kita masih kurang," ungkapnya ketika dihubungi belum lama ini.

Meskipun saat ini Pemerintah Kota Bandung meyebut bahwa jumlah pengetesan yang dilakukan telah memenuhi standar WHO, yakni 1% dari total jumlah populasi, namun hal tersebut belum cukup. Pasalnya, laju kenaikan kasus positif masih terus bertambah.

"Saya rasa indikator WHO itu indikator minimum. Paling tidak harus mengetes dalam jumah segitu (1%), tapi kecukupannya tidak boleh hanya dilihat dari indikator itu saja," ungkapnya.

Agar kasus terkendali, ia mengatakan pengetesan Covid-19 harus terus dilakukan. Hal tersebut juga harus diiringi dengan kebijakan pencegahan penularan Covid-19 seperti pembatasan kegiatan masyarakat.

"Meskipun tes ditambah, kasus masih akan terus banyak. Agar positivity rate turun, sambil mengejar jumlah testing kita tetap harus mencegah penularan terus terjadi," jelasnya.

Ia mengatakan, kebijakan yang diambil harus berupa kombinasi dari penambahan jumlah tes dengan pengendalian kasus. Sehingga, angka enularan dapat ditekan agar tidak terus bertambah.

"Hal yang harus dilakukan memang bukan hanya pilih salah satu, tapi kombinasi dari beberapa tindakan. Pertama, jumlah testing harus ditambah. Kedua, identifikasi kasus, contact tracing harus ditingkatkan," ungkapnya.

"Ketiga, kalau dirasa perlu, pembatasan sosial bisa kembali dilakukan," tambahnya.

Kota Bandung Pernah Zona Merah
Kota Bandung sebelumnya pernah masuk zona merah pada awal Oktober 2020. Hal itu diumumkan oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil pada Senin (5/10/2020).

Selain Kota Bandung, keempat daerah lainnya yang masuk zona merah di Jabar yaitu Kabupaten Bandung Barat, Kota Bogor, Kota Bekasi dan Kabupaten Bekasi.

Pengumuman masuknya Bandung ke zona merah penularan Covid-19 itu mengagetkan banyak orang. Tidak terkecuali para pejabat Pemkot. 

Wali Kota Oded M. Danial menyebut pandemi di kota berpenduduk 2,5 juta orang ini masih terkendali. Belum sampai pada tingkat mengkhawatirkan.

"Soal zona mah, itu kan memang template. Parameternya kan bukan seperti itu lah. Saya yakin Bandung masih terkendali," katanya.

Menutup Jalan dan Mini Lockdown
Meski tidak sepakat masuk kategori zona merah, Pemerintah Kota Bandung melakukan beberapa kebijakan ekstra dalam penanganan pandemi pekan ini. Skema buka-tutup jalan yang sudah digulirkan sejak pemberlakuan AKB Diperketat beberapa pekan sebelumnya dilanjutkan. Alasannya, langkah tersebut dinilai efektif membatasi kerumunan.

“Buka tutup jalan akan terus kami lanjutkan. Karena berdasarkan penelitian dan pengalaman, cara itu yang paling efektif untuk mengurangi kerumunan. Intinya pengetatan di lingkup kota akan ditingkatkan,” ujar Oded.

Operasi yustisi juga diperketat di seluruh wilayah kota. Selain aparat Pemkot, yang terdiri dari Satpol PP, Dinas Perhubungan, dan linmas kewilayahan, turut bergabung dalam operasi-operasi itu petugas polisi dan TNI.

Ruas-ruas jalan di Kota Bandung yang ditutup mencakup mulai dari Simpang Otista - Suniaraja s/d Otista - Asia Afrika, mulai dari Simpang Asia Afrika - Tamblong s/d Asia Afrika - Cikapundung Barat, mulai dari Purnawarman - Riau s/d Purnawarman – Wastukencana, mulai dari Merdeka - Riau s/d Merdeka – Aceh, serta mulai dari Merdeka - Aceh s/d Merdeka – Jawa.

Waktu penutupan jalan dilakukan 3 kali sehari, yakni pukul 09.00 WIB-11.00 WIB, dilanjutkan pukul 14.00 WIB-16.00 WIB, kemudian pukul 21.00-06.00 WIB.

Penutupan ruas-ruas jalan sejak pekan pertama September 2020 ini bukannya tanpa keluhan dan protes. Sebelumnya, ratusan pedagang di Pasar Baru menyebut penutupan Jalan Otista sebagai penyebab hilangnya pendapatan. Lebih dari separuh pedagang ada di ambang kebangkrutan.  

"Para pedagang Pasar Baru saat ini sedang mencoba untuk mengatasi kesulitan-kesulitan mereka akibat dari pemberlakuan PSBB berkali-kali di bulan-bulan yang lalu. Itu sangat memukul telak para pedagang Pasar Baru dan sekitarnya," ucap Ketua Himpunan Pedagang Pasar Baru Iwan Suhermawan kepada Ayobandung.com, Selasa (22/9/2020).

Selain penutupan jalan, Pemkot Bandung juga menggulirkan skema PSBM atau mini lockdown berbasis Rukun Warga (RW). Ada juga yang menyebutnya Pembatasan Sosial Berskala Kampung (PSBK). Mini lockdown adalah pembatasan akses dan mobilitas di kampung yang terkonfirmasi memiliki kasus positif Covid-19 aktif.

Ketua Harian Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Bandung Ema Sumarna menyatakan, PSBK tidak berarti penutupan total akses keluar-masuk dan aktivitas dalam satu kelurahan. Pembatasan aktivitas dilakukan di lingkungan RW atau bahkan RT.

"Bukan berarti sekelurahan merah. Tapi bisa jadi hanya satu RW. Nanti RW itu saja yang akan menerapkan PSBM. Polanya seperti itu," ungkapnya.

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Suara.com.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

Editor: Andres Fatubun

artikel terkait

dewanpers