web analytics
  

Positivity Rate Tinggi, Epidemiolog Minta Kota Bandung Terus Tes Masif

Senin, 23 November 2020 15:03 WIB Nur Khansa Ranawati
Bandung Raya - Bandung, Positivity Rate Tinggi, Epidemiolog Minta Kota Bandung Terus Tes Masif, positive rate,Corona Bandung,Covid-19 Bandung,Penyebaran Virus Corona,Rasio Tes Covid-19

Calon penumpang menjalani rapid test di Pintu Utara Stasiun Bandung, Jalan Kebon Kawung, Kota Bandung, Rabu (19/8/2020). (Ayobandung.com/Kavin Faza)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Saat ini, angka positivity rate Covid-19 di Kota Bandung masuk ke dalam kategori tinggi. Persentasenya melampaui angka maksimal yang ditetapkan WHO untuk masuk ke dalam kategori kasus terkendali.

Hingga 11 November 2020, Sekretaris Daerah Kota Bandung Ema Sumarna menyebutkan positivity rate Kota Bandung berada di angka 7,02%. Sementara WHO menetapkan batas maksimal positivity rate sebesar 5%.

Positivity rate secara umum menggambarkan persentase kasus positif yang didapatkan dalam setiap pengetesan Covid-19 yang dilakuakan di suatu daerah. Angka ini menjadi rujukan untuk mengetahui seberapa tinggi level transmisi lokal kasus Covid-19 di suatu daerah, dan apakah daerah tersebut sudah melalukan pengetesan yang memadai.

Persentase yang tinggi mengindikasikan adanya transmisi penularan yang tinggi di daerah tersebut, dan banyak orang yang belum mendapat tes Covid-19. Alias masih banyak kasus positif Covid-19 yang belum terdeteksi.

Menanggapi hal ini, Epidemiolog Unpad Panji Fortuna mengatakan Kota Bandung masih harus terus mengejar pengetesan massal. Meski pengetesan Covid-19 terus dilakukan, namun jumlahnya masih lebih sedikit dibanding penambahan kasus positif yang terjadi.

"Positivity rate tinggi artinya kemungkinan besar penambahan jumlah testingnya tidak sebanding dengan penambahan jumlah kasus positif. Mungkin yang terjadi adalah kota tidak bisa mengidentifikasi kebanyakan kasus yang ada di masyarakat. Kemampuan deteksi kita masih kurang," ungkapnya ketika dihubungi Ayobandung.com belum lama ini.

Meskipun saat ini Pemerintah Kota Bandung meyebut jumlah pengetesan yang dilakukan telah memenuhi standar WHO, yakni 1% dari total jumlah populasi, namun hal tersebut belum cukup. Pasalnya, laju kenaikan kasus positif masih terus bertambah.

"Saya rasa indikator WHO itu indikator minimum. Paling tidak harus mengetes dalam jumah segitu (1%), tapi kecukupannya tidak boleh hanya dilihat dari indikator itu saja," ungkapnya.

Agar kasus terkendali, ia mengatakan pengetesan Covid-19 harus terus dilakukan. Hal tersebut juga harus diiringi dengan kebijakan pencegahan penularan Covid-19 seperti pembatasan kegiatan masyarakat.

"Meskipun tes ditambah, kasus masih akan terus banyak. Agar positivity rate turun, sambil mengejar jumlah testing kita tetap harus mencegah penularan terus terjadi," jelasnya.

Ia mengatakan, kebijakan yang diambil harus berupa kombinasi dari penambahan jumlah tes dengan pengendalian kasus. Sehingga, angka penularan dapat ditekan agar tidak terus bertambah.

"Hal yang harus dilakukan memang bukan hanya pilih salah satu, tapi kombinasi dari beberapa tindakan. Pertama, jumlah testing harus ditambah. Kedua, identifikasi kasus, contact tracing harus ditingkatkan," ungkapnya.

"Ketiga, kalau dirasa perlu, pembatasan sosial bisa kembali dilakukan," tambahnya.

Editor: Fira Nursyabani

artikel terkait

dewanpers